Sang Jurnalis

Sang Jurnalis
Part 78 : Musim Dingin di London


__ADS_3

Setelah cukup lama berjalan di ketidakpastian, aku pun kini telah sampai di penghujung lelahku. Pada akhirnya aku hanya bisa memunguti perasaan ini dan mengenang layaknya sebuah kisah klasik.


Mina-chan, kau dan kenangan ini mencukupkan aku untuk berhenti mengingat kisah kita ....


.


.


.


Keesokan harinya, aku mendatangi kantor tempatku bekerja seperti biasa. Ada yang beda hari ini, beberapa karyawan tampak mengemas barang-barang mereka. Ada pula meja-meja yang telah kosong seolah tak berpemilik. Aku pun bertanya pada rekan sejawatku yang duduk di samping meja kerjaku. Kepadaku dia menjelaskan bahwa ada banyak karyawan yang mulai mengundurkan diri dan melamar ke media lain begitu mengetahui perusahaan ini sedang krisis keuangan. Mereka hanya tak mau diPHK lebih dulu.


Mendengar itu, aku hanya bisa miris. Bukan salah mereka jika ingin menyelamatkan diri masing-masing. Sejak media kami tersangkut kasus pencemaran nama baik, tak hanya kehilangan pemasukan dari iklan, para investor pun turut menarik diri. Daya cetak surat kabar kami menurun untuk menutupi biaya produksi.


Aku menoleh ke ruangan pimpinan kami. Semenjak keputusan pengadilan memenangkan penuntut, pimpinan sudah tak pernah terlihat lagi. Seketika, aku bergegas meninggalkan gedung ini dan menunggangi motor kesayanganku dengan kecepatan di atas rata-rata. Aku pergi ke bank untuk melakukan penarikan simpananku selama ini. Dari bank, aku menuju ke kediaman pimpinanku. Setibanya di sana, aku malah mendapati pria paruh baya yang masing singgel itu tengah berkemas seolah hendak berangkat.


"Shachoo, Anda akan ke mana?" tanyaku.


(Shachoo: kepala pimpinan)


"Aku akan meninggalkan Jepang."


"Kenapa? Apa Anda ingin melarikan diri?


"Aku telah menjual seluruh sahamku ke perusahaan Jnews tv."


"Hah? Kenapa Anda melakukan itu? Apa Anda menyerah begitu saja?"


"Justru ini caraku menyelamatkan perusahaan dan orang-orang di dalamnya, termasuk ... dirimu."


Aku meletakkan koper uang di atas meja samping tempat kami berdiri. "Saya punya sedikit uang untuk denda yang harus kita bayarkan. Mohon terimalah!" pintaku sambil membungkuk.


"Ayano ...."


"Mohon terima uang ini! Saya memberinya bukan karena rasa bersalahku, tapi ini sebagai ucapan terima kasih saya pada Anda. Jika waktu itu saya tak membaca koran dari media Anda, saya tak akan memulai langkah besar dalam hidup saya sebagai seorang jurnalis. Anda adalah guru bagi saya."

__ADS_1


Pimpinanku menatapku sambil tersenyum. "Ayano, terima kasih!"


Karena masih banyak yang harus kukerjakan, aku pun berpamitan padanya. Ini menjadi perpisahan kami.


Dia menahan bahuku. "Teruslah menjadi dirimu sendiri!"


Aku terdiam dan hanya bisa memandangnya dengan tak berdaya.


Hatiku merasa luar biasa lega karena bisa membantunya. Meski niat awalku untuk menolong Ameena mungkin akan semakin sulit tercapai.


Selang beberapa bulan kemudian, perusahaan ini akhirnya diakuisisi oleh perusahaan pertama tempatku bekerja di mana aku sempat menjadi reporter dan jurnalis medan perang serta sebagai pembawa berita. Ini cukup melegakan karena aku sendiri telah mengenal jajaran petinggi perusahaan tersebut.


Aku terkesiap kenapa karyawan biasa sepertiku diundang mengikuti rapat seluruh investor perusahaan. Aku semakin terkejut ketika mereka membacakan pemegang saham, di mana namaku disebut di sana sebagai calon pemilik lima persen saham di perusahaan media terbesar di Jepang ini.


"Ayano-san, kami telah berkomunikasi dengan kuasa hukum Anda untuk pembelian saham ini. Selanjutnya mohon bertemu secara pribadi untuk melakukan tanda tangan persetujuan sebagai investor."


Setelah rapat selesai, aku langsung menghubungi pimpinanku sebelumnya.


"Shachoo, apa kau bisa menjelaskan ini? Aku terdaftar sebagai investor di perusahaan ini. Apakah Anda yang ...."


"Kenapa? Bukankah aku memberinya padamu?" tanyaku tak mengerti.


"Justru karena kau memberikan padaku, maka aku bebas melakukan apa pun pada uang itu.


"Tapi bagaimana dengan uang denda yang harus Anda bayarkan di pengadilan?"


Dia justru terkekeh mendengar kegusaranku. "Justru itulah imbalannya. Kau memberikan uang padaku dan aku memberikan sisa sahamku padamu."


"Eh?"


"Dengan memiliki saham di perusahaan tempatmu bekerja, kau tidak hanya mendapatkan keuntungan dari uang yang kau investasikan, tapi juga kau akan memiliki sedikit kuasa atas perusahaan itu. Ini bisa membantumu dalam mewujudkan harapan sebagai jurnalis," jelasnya. Tak ada keraguan dari nada suaranya.


Aku tertegun. Jangan pernah ragu menolong orang lain. Tak ada kebaikan yang tak bermanfaat. Mungkin inilah hikmah dari keputusan besar yang kuambil waktu itu.


Aku kembali tampil di layar kaca setelah memiliki program gelar wicara sendiri dengan mengundang para pejabat politik. Ini menjadikan diriku semakin dikenal luas masyarakat karena acara yang kupandu berada di jam utama siaran televisi setiap harinya.

__ADS_1


Enam bulan setelahnya, aku memutuskan memperkaya wawasan dengan mendalami hukum media di London. Karena aku aktif bersuara bermedia sosial, aku perlu tahu cara mengantisipasi jika ada yang mencoba memperkarakan tulisanku. Selain itu, kupikir di London aku bisa lebih leluasa mencari tahu informasi tentang perang Suriah. Sebab, hingga saat ini pemerintah Jepang masih melarang warganya untuk bepergian di negara berkonflik itu.


Suatu hari, aku berdiri di pinggir jalan kota London. Langit kota itu terlihat sendu karena musim dingin yang tengah berlangsung. Meski begitu, tak menenggelamkan kemeriahan orang-orang yang menyambut Natal. Tak jauh dari tempatku berpijak, kelompok musisi jalanan tengah memainkan saksofon untuk menghibur pejalan kaki.



sumber : nationalgeographic


Kuamati setiap bulir salju yang turun. Butiran kapas putih yang menerjangku itu membuatku sadar bahwa ini sudah menuju akhir tahun. Sebentar lagi akan memasuki tahun keenam perpisahanku dengannya. Sampai di tahun ini pun aku masih aktif mengirim email padanya hanya untuk menanyakan kabarnya.


Di waktu yang sama, aku menerima berita internasional terbaru dari siaran berlangganan di gawaiku. Berita tersebut tentang situasi Suriah yang semakin memanas. Pasukan militan pemerintahan di negara itu melakukan serangan udara pada setiap wilayah yang dikuasai kelompok ekstremis. Mereka juga menyerang setiap penjara yang dibuat oleh kelompok itu. Jutaan nyawa melayang. Korbannya adalah rakyat sipil dan para tawanan kelompok ekstremis. Tak hanya itu, dikabarkan pula jika pimpinan dari kelompok ekstremis tersebut tewas terbunuh.


Mengetahui kabar tersebut, jantungku terpukul seketika. Aku terduduk di atas trotoar. Seperti mendapatkan hantaman batu besar hingga membuat tubuhku lunglai detik itu juga. Pahit. Sesak. Hancur. Itulah yang kurasakan. Aku bahkan merutuki diriku sendiri. Sebelah tanganku merambat ke dada, memukul berkali-kali di tempat yang sama. Aku tak ingin menerka apa pun yang terjadi pada Ameena. Aku sungguh tak ingin memikirkan yang tidak-tidak. Namun, hatiku lebih dulu rapuh.


Salju turun kian lebat. Dingin seolah menggigit kulitku. Aku masih membeku diam di tengah lalu lalang pejalan kaki. Kubiarkan rambutku memutih. Anak sungai pun telah membanjiri kedua pipiku. Entah sudah berapa lama aku seperti ini. Seolah tengah menghukum diriku sendiri. Akibatnya, aku mengalami serangan hipotermia.


Aku dirawat di salah satu Rumah Sakit London selama beberapa hari. Seorang pria bertubuh gempal menghampiriku lalu duduk di sisi ranjang.


"Aku sudah memeriksa korban wanita yang tewas saat penyerangan. Ada banyak tahanan wanita bernama Ameena di sana. Masalahnya, kita tak mengetahui nama lengkapnya atau setidaknya nama ayahnya yang biasa tersemat di belakang nama aslinya. Tapi satu yang pasti, semua bernama Ameena tewas terkena serangan udara," jelas pria itu. Dia adalah detektif swasta terkenal di kota London yang kusewa untuk mencari tahu keadaan Ameena. Ia juga menyerahkan foto-foto dari tempat kejadian. Foto-foto tanpa sensor itu begitu mengerikan karena menampilkan deretan mayat yang telah terkoyak hingga sulit diidentifikasi.


"Bagaimana dengan wanita-wanita yang menjadi istri pemimpin kelompok itu?" tanyaku dengan suara nyaris berbisik.


"Tak satu pun dari mereka yang bernama Ameena," jawabnya.


"Apakah kemungkinan dia dibebaskan atau melarikan diri sebelum kejadian ini?" tanyaku berharap.


"Aku rasa ... itu hanya tipis kemungkinan. Mengingat kelompok ekstremis sangat tak berbelas kasih. Wanita yang dibebaskan selalu dalam keadaan merenggang nyawa."


Aku memalingkan wajahku. Tak ada lagi suara yang kukeluarkan. Binar harapan yang kumiliki memudar perlahan. Hanya lelehan bening yang terus mengalir di sudut mata. Enam tahun ... bukankah cukup lama hanya untuk mendapatkan kabar memilukan ini?


Sejak saat itu, aku berhenti mencari tahu tentang dirinya. Bukan karena menyerah. Bukan! Aku hanya belum siap menerima kemungkinan jika Ameena menjadi salah satu dari korban penyerangan itu. Aku tak siap mengaku telah gagal memenuhi janjiku padanya. Aku tak siap untuk terus berhadapan dengan kesakitan dan penyesalanku.


Aku tahu, aku kuat menyimpan kesedihan yang berlarut. Aku mampu bertahan untuk waktu yang lebih lama. Namun, sekuat-kuatnya aku, jiwaku ringkih jika dihadapkan kemungkinan-kemungkinan yang menakutkan. Logika memaksaku untuk menang melawan hati dan perasaanku. Pada akhirnya kuputuskan untuk menyimpan semua harapan-harapan gila tentangnya. Tak menutup kemungkinan, di suatu waktu nanti, ingatan tentang peristiwa yang kualami bersama Ameena akan terkubur dengan sendirinya.


Aku kembali ke Tokyo setelah menyelesaikan pendidikan. Kepulanganku dari kota yang dijuluki rumah Big Ben itu, telah mengubah diriku sepenuhnya. Aku menjadi pria yang dingin dan ambisius. Sementara, organ lunak bernama hati ini telah mengeras.

__ADS_1



__ADS_2