
Otak manusia dirancang untuk dapat menampung memory melebihi canggihnya sebuah komputer. Sayangnya, ingatan manusia mulai menurun ketika memasuki usia dua puluhan. Ada masa-masa yang tak bisa kita ingat lagi atau istilah simpelnya adalah terlupakan. Jika normalnya saja seperti itu, maka untuk kasus yang dialami Yuna bukan tak mungkin ia benar-benar tak bisa memulangkan ingatannya lagi.
Setelah mengetahui yang terjadi pada Yuna, aku mengambil langkah untuk mundur dari kehidupannya. Aku memutuskan tak muncul lagi di hadapannya. Aku juga tak berusaha membuatnya mengingat hubungan kami. Dia selamat dari ancaman nyawa dan tak cacat fisik seperti korban lainnya, sudah menjadi sebuah kesyukuran bagiku. Mengembalikan dia ke pelukan keluarganya adalah caraku menebus rasa bersalah. Rasa bersalah karena membuatnya harus menyusulku ke tempat ini. Apalagi, aku sempat memikirkan wanita lain dan mengesampingkan dirinya.
"Tolong jaga Yuna untukku!" Aku membungkuk penuh di hadapan Yoshizawa. "Yuna Sakurai ... bukan wanita yang manja dan merepotkan. Alih-alih ingin dimengerti, dia lebih memilih mengerti keadaan orang di sekitarnya lebih dulu. Dia tidak pilih-pilih makanan. Bahkan cenderung menyukai apa yang kita sukai, seperti berusaha menjadikan hobi kita sebagai hobinya juga," ucapku dengan mata yang sedikit berkabut, "jadi ..."
Aku menarik napas panjang, kemudian berusaha tetap tersenyum agar tak terlihat menyedihkan.
"Berjanjilah untuk memberikan perhatian lebih banyak dari caraku memberikan perhatian padanya. Berjanjilah untuk selalu menjaganya lebih baik dari caraku menjaganya. Dan ... berjanjilah untuk terus mencintainya lebih besar dari caraku mencintainya."
"Aku berjanji," balas Yoshizawa tanpa keraguan.
Sebenarnya ada banyak yang ingin kukatakan padanya. Hanya saja, kata-kata itu seolah tertelan kembali. Sebagai seorang pria, aku sudah menurunkan ego dengan datang mencarinya hanya untuk mengatakan semua ini. Karena tak ingin mengganggunya, aku pun segera pergi.
"Ayano-san!"
Langkahku terhenti sejenak. Kupalingkan kembali kepalaku ke arahnya.
Yoshizawa tampak ragu untuk berkata. "Jika ... suatu saat nanti ingatan Yuna kembali, bisakah kau tak kembali padanya?"
Aku mengangguk kecil. "Jangan khawatir. Perlakukan saja dia sebaik mungkin, dengan begitu, meski ingatan itu kembali ... tak akan ada artinya lagi baginya."
Yoshizawa adalah pria baik, selalu berterus terang dan berdedikasi tinggi. Sangat pantas jika ayah Yuna memilih pria itu sebagai calon pendamping putri kesayangannya. Aku mendukungnya agar terus mendampingi Yuna melewati masa-masa kesembuhan dan juga menjadi lelaki yang menempati hatinya menggantikan diriku.
Aku kembali ke markas. Saat membuka pintu, sebuah balon berisi potongan kertas metalik dan serbuk emas meledak dan jatuh tepat di atas kepalaku. Beriringan dengan itu, Aoba, Eiji dan So keluar sambil menyambutku dengan riang.
"Ada apa ini?" Aku terkesiap menerima kejutan dari mereka.
"Ayano-san, kita sedang berpesta. Ayo duduk!" So menarikku ke meja bundar tempat kami menyusun berita.
Di atas meja tersebut terdapat beberapa botol arak khas Timur Tengah. Ada juga aneka makanan khas negara ini. Eiji menyodorkan sebuah gelas besar padaku, sedang Aoba segera menuang penuh arak tersebut. Mereka memperlakukanku seperti tamu istimewa.
"Arigatou. Maaf, aku telah banyak merepotkan kalian semua. Aku pernah menghilang, kalian tak kenal lelah mencariku. Aku ingin membuat berita investigasi, kalian turut membantuku. Dan sekarang, aku tahu kalian berusaha menghiburku dari masalah pribadi yang menghantamku. Kalian sungguh rekan yang baik," ucapku pelan sambil menundukkan kepala.
__ADS_1
"Ayano, kau terlalu formal! Ayo kita minum saja, tapi jangan banyak-banyak!" So mengajak kami semua untuk bersulang.
Aku mengeluarkan ponsel dari saku celana. Kucoba membuka e-mail. Ternyata ada banyak pesan masuk dari Zaheera. Ya, sejak Yuna kecelakaan, ada banyak hal yang kuabaikan termasuk pesan darinya.
Zaheera: Assalamualaikum, Nissa apa kau baik-baik saja? Sudah berhari-hari kau tak membalas pesanku. Semoga Allah senantiasa melindungimu.
Itu hanya satu dari tumpukan pesan yang dikirimkan padaku. Bukannya tak ingin membalas pesannya, aku hanya bingung dan belum menemukan solusi untuk berita yang kujanjikan.
"Hei, apa kalian sudah mendengar tentang perseteruan Amerika dan media Al Jazeera?" Aoba tiba-tiba membuka topik pembicaraan.
"Memangnya ada apa?" tanya So sambil meneguk arak langsung dari botol.
"Media Al Jazeera berani menulis kritikan keras terhadap kehadiran tentara Amerika yang mereka anggap sebagai tindakan militerisasi di sejumlah negara berkonflik," jelas Aoba.
"Berani juga, ya, mereka?"
"Bukannya media Al Jazeera memang dari dulu terkenal paling berani? Mereka bahkan pernah menayangkan rekaman Osama bin Laden yang membuat gempar seluruh dunia, kan?"
Mendengar obrolan mereka, tiba-tiba saja aku teringat dengan Kamal Malek. Ya, Kamal Malek adalah salah satu jurnalis yang bekerja di bawah naungan media tersebut. Dia mungkin bisa membuat berita ini rilis.
"Apa kau yakin Ayano? Jika kau memberikan berita ini pada orang lain, namamu tidak akan tercatut di sana dan orang yang mengambil berita ini akan dianggap sebagai pelepor terungkapnya kasus ini," ucap Aoba memeringatiku.
"Tujuanku murni hanya untuk membantu para wanita yang tertindas di bumi perang ini," jawabku tanpa keraguan, "jangan khawatir, untuk uang kalian yang terpakai selama membantuku mencari informasi akan kuganti!"
Eiji, Aoba dan So saling melirik. Eiji lalu berkata padaku, "Ayano, kami mengikutimu. Jika kau menganggap tak masalah jika berita itu diberikan cuma-cuma pada media lain. Kita ini satu tim, kau tak perlu sungkan seperti itu pada kami."
Setelah merelakan Yuna, aku harus kembali melepaskan berita berharga yang berhasil kami ungkap. Dengan berat hati, artikel pertamaku tentang investigasi kejadian sekitar, harus kuserahkan pada orang lain. Aku tak mau usaha kami menjadi sia-sia. Terutama Zaheera yang telah banyak membantuku dalam mengumpulkan data di tempat pengungsian. Aku tak mau mematahkan harapannya yang juga menjadi harapan para penyintas.
Lagi pula, Kamal Malek adalah seorang wartawan sekaligus jurnalis dari media ternama Timur Tengah. Sudah tepat jika aku meminta bantuannya untuk menaikkan berita ini. Aku membawa artikel beserta data dan bukti yang kumiliki padanya. Dia menerima berita ini dengan senang hati. Ya, bagi kami yang menjadi jurnalis, berita yang belum terendus laksana mutiara tersembunyi.
Seperti dugaan kami semua, berita itu benar-benar meledak seperti bom. Hanya kurang dari lima hari sejak masuk ke berita utama media tersebut, berita itu mampu menyedot perhatian internasional. Banyak kepala negara yang mengecam tindakan amoral tersebut. PBB pun angkat bicara dengan mengakui secara jujur terkait info yang beredar dan menyampaikan permintaan maaf mereka serta akan mengusut tuntas kasus itu.
Efek dari hebohnya artikel itu memancing para media di seluruh dunia ikut merilis berita yang sama. Aku membaca artikel yang kini berada di urutan teratas berita paling dicari. Tulisan ini masih murni dariku, tak ada penambahan atau pun penghapusan dari editor mereka. Ini membuatku senang, meski hal pahit tetap terasa saat melihat di pojok bawah artikel itu tertulis nama Kamal Malek bukan namaku.
__ADS_1
Di tengah gelombang pemberitaan yang memanas dengan terungkapnya sejumlah fakta baru, Kamal Malek menerima penghargaan Pulitzer¹ dan penghargaan Freedom of speech karena dianggap berani mengungkap kasus kemanusiaan ini.
Munafik rasanya jika aku mengaku tak sedih karena penghargaan yang diimpikan banyak jurnalis perang itu kini jatuh padanya atas kerja keras aku dan rekanku. Naluri alami manusia adalah mudah menyesal seperti yang kualami saat ini. Namun, rasa terpurukku tak berlangsung lama begitu menerima pesan ucapan terima kasih dari Zaheera.
"Tolong sampaikan juga pesanku pada jurnalis yang telah membantu kasus ini terungkap. Berkat berita itu, dunia mulai menaruh kepedulian dan memberi perlindungan kepada kami. Dia benar-benar telah menjadi pahlawan keadilan banyak wanita di negeri ini," tulis Zaheera disertai lambang hati.
"Ya, akan kusampaikan pesanmu padanya," balasku seadanya.
"Jadi, sahabatmu itu adalah jurnalis Mesir yang bekerja di media Al-Jazeera?" Ia kembali membalas pesanku.
Tampaknya Kamal Malek begitu terkenal hingga Zaheera pun langsung mengetahuinya. Pilihan untuk memberikan artikel itu pada Kamal Malek sudah tepat. Sebab, jika berita itu dirilis pertama kali oleh media Jepang dan mencatut namaku sebagai penulis, mungkin Zaheera akan menganggap aku berbohong karena mengatakan tak mengenali satu pun jurnalis Jepang.
"Iya. Dialah yang sudah membantu kita," jawabku. Bahkan kepada Zaheera pun aku tak mampu mengaku sebagai penulis asli berita tersebut.
"Menurutku, jurnalis adalah profesi yang tak kalah hebat dari profesi lainnya yang ada di muka bumi ini. Mungkin tak membuat orang menjadi kaya atau terkenal mendadak. Tapi profesi ini ditakuti dan disegani pebisnis, mafia, tokoh politik, bahkan sang penguasa di setiap negara. Bagiku pekerjaan jurnalis seperti sebuah bintang di atas langit yang selalu diyakini ada meski tak bersinar," ungkap Zaheera dalam pesan selanjutnya.
Aku terenyuh membaca sepotong pesannya. Seperti mendapat sebuah energi baru.
Dalam keheningan malam yang mencekam, aku menatap langit pekat di mana tak satu pun bintang terlihat di sana. Sontak, aku langsung teringat ucapan Zaheera.
Aku sempat berpikir bahwa aku adalah manusia gagal. Sebagai jurnalis, aku tidak bisa menyuarakan secara langsung suara orang-orang yang tertindas. Sebagai pria, aku terlalu lemah dan terombang-ambing dengan perasaanku yang labil. Dan sebagai kekasih, aku telah gagal mempertahankan cintaku. Namun dari semua kegagalan yang kualami, aku pun mencapai suatu kesimpulan bahwa perjalanan hidup seseorang tak ada yang benar-benar mulus. Karena kehidupan tak sama seperti naskah fiktif yang banyak menjual mimpi.
.
.
.
catatan kaki 🦶🦶🦶
Penghargaan Pulitzer: penghargaan tertinggi dan paling bergengsi dalam bidang jurnalistik untuk jurnalis dengan karya tulis terbaik.
__ADS_1
seperti yang pernah gua singgung dalam narasi, jadi jurnalis perang ini adalah kasta tertinggi dari jurnalistik gays. Karena tugas mereka yang beresiko, mereka banyak dianugerahi penghargaan yang gak kaleng-kaleng dari internasional.