
Ahmed mengajakku menuju ke ruang makan yang luasnya hampir menyamai sebuah aula. Anak-anak sudah duduk rapi dengan makanan yang tersaji di meja masing-masing. Sementara orang dewasa duduk melantai di bagian belakang. Mataku langsung tertuju pada Ameena yang baru saja duduk bersimpuh sambil membawa sepiring buah-buahan pencuci mulut.
Tanpa sadar, kakiku melangkah menuju padanya, seolah ada medan magnet yang membawaku bergerak cepat ke sana. Aku langsung memosisikan duduk di sampingnya hingga membuatnya terperanjat.
"Mina-chan, aku senang kita bisa bertemu lagi di sini! Kukira waktu itu menjadi pertemuan kita yang terakhir. Dengar, aku sudah lancar berbahasa arab, meski aksen dan pengucapannya mungkin terdengar aneh."
Bukannya menjawab pertanyaanku, Ameena malah menundukkan pandangannya seraya mengepal kedua tangannya. Di saat bersamaan, aku mendengar suara dehaman keras yang terlempar di sekitarku.
Aku lantas menoleh ke barisan kiri samping tempatku duduk saat ini. Semua yang duduk adalah perempuan! Lalu aku menoleh ke barisan samping kanan tempat Ameena duduk. Perempuan juga! Ternyata hanya aku satu-satunya pria di barisan ini. Sialnya posisi dudukku saat ini berada di tengah-tengah mereka.
Aku lalu menoleh ke depan, di hadapanku para lelaki memandang diam ke arahku dengan ekspresi tajam. Seolah mata mereka adalah busur yang siap melesat ke arahku.
Ahmed buru-buru menghampiriku dari arah belakang, sambil berkata dengan sopan, "Maaf, Tuan, Anda sebaiknya duduk di depan sana!"
"Maaf, permisi!" ucapku kaku. Ah, aku benar-benar tidak tahu kalau mereka membedakan tempat antara pria dan wanita.
Dengan lututku, aku beringsut pelan ke depan. Berpindah ke tempat para lelaki duduk. Namun, posisiku membuat aku dan Ameena kini saling berhadapan. Mengingat semua hal yang diungkap Khalila, membuatku tak bisa menahan senyum.
Tak lama kemudian, seseorang mengabari pada kami kalau tuan Ali telah datang. Beberapa orang langsung berdiri dan keluar menyambut kedatangan ayah Khalila sekaligus pemilik yayasan ini. Melihat Ameena juga turut bergegas keluar, aku pun tak bisa menahan rasa penasaran untuk mengetahui sosok pria dermawan yang sangat dihormati di desa ini.
Tepat saat aku keluar dari pintu tempat ini, mataku terpukau melihat sosok lelaki bertubuh tinggi besar dalam balutan gamis putih dan sorban yang menutupi kepalanya yang membuat penampilannya tampak bersahaja. Wajahnya sangat berseri meski dagu dan area sekitar rahangnya dipenuhi bulu lebat. Benar-benar mewakili level ketampanan pria di negara ini.
"Abii ...." (Ayah)
Aku bisa melihat Khalila berlari ke arah pria itu. Pria yang disebut tuan Ali lantas menggendongnya. "Alhamdulillah, kau sudah pulang. Kau baik-baik saja, kan?" tanya tuan Ali sambil memeriksa tubuh anaknya dengan penuh kekhawatiran, "Ameena, lihat Khalila sudah pulang! Allah menolongnya!"
Ameena mengangguk dengan wajah yang diliputi rasa senang. Melihat mereka bertiga yang tampak serasi sebagai figur keluarga, semangatku mendadak menyusut. Entah kenapa, tubuhku seolah mengerdil. Hanya dengan melihat pria itu, sudah membuat kepercayaan diriku runtuh. Secara usia, pria itu terlihat jauh lebih dewasa dariku. Bahkan terasa cocok bersanding dengan Ameena.
Ameena lalu memandangku yang hanya bisa berdiri bodoh di depan pintu. Rupanya mata tuan Ali turut mengikuti arah pandangnya.
"Pria itu ...." Tuan Ali memicing ke arahku.
"Dia Kakak Pirang! Orang yang sudah menyelamatkan aku dan membawaku ke sini," tutur Khalila.
"Masya Allah!"
Tuan Ali menghampiriku. Kami saling berjabat tangan sambil memperkenalkan diri masing-masing.
"Terima kasih telah menyelamatkan Khalila, menjaganya dan juga berusaha mengantarkan ke tempat ini. Semoga keberkahan senantiasa terlimpah padamu," ucap pria itu.
__ADS_1
"Ah, tidak ... Anda terlalu menyanjung, Tuan. Ini hal biasa yang dilakukan sesama manusia," ucapku menundukkan kepala.
"Apa kalian sudah menyajikan jamuan makan malam untuk pemuda ini?" tanya tuan Ali pada pengurus yayasan.
"Tentu, Tuan. Kami tinggal menunggu Anda."
Kami pun kembali masuk untuk menikmati hidangan makan malam. Tuan Ali mengambil posisi duduk di sampingku dan melayani langsung makanan untukku. Suatu kehormatan besar bagiku mendapat sambutan yang begitu hangat dari orang-orang di tempat ini.
"Siapa tadi namamu?" tanya tuan Ali.
"Ayano Kei, kalian bisa memanggilku Ayano atau Kei."
"Kudengar kau seorang jurnalis Jepang?"
"Iya. Aku sudah berada setahun di sini untuk berburu berita."
"Hah, kami tidak mengizinkan Anda meliput apa pun di sini!" Suara lantang terdengar dari seorang pria yang berperawakan lebih tua dari pria-pria yang ada di sini.
"Tuan Umair, Anda terlalu berlebihan," tegur tuan Ali dengan intonasi biasa, "Saudara Kei, tolong maafkan beliau. Beliau hanya terlalu berhati-hati pada orang luar. Mungkin Anda sudah bisa menebak kami berada di wilayah kekuasaan yang berseberangan dengan pemerintah. Semoga Anda bijak sebagai seorang jurnalis," ucap tuan Ali.
"Ah, tidak apa-apa. Aku mengerti. Jangan khawatir. Aku tidak sedang bertugas dan tak membawa misi apa pun selain mengantar putri tuan Ali. Besok pagi saya juga akan segera balik ke Damaskus."
"Terima kasih." Aku menundukkan kepala di hadapan mereka semua.
"Oh, iya, kita terlalu asyik mengobrol sampai lupa untuk menyantap hidangan." Tuan Ali lalu mempersilakan semua orang untuk menikmati menu yang tersaji.
Sama seperti yang lain, aku mulai mencicipi menu yang tersaji. Jujur, aku kurang menikmati hidangan di tempat ini. Meski sudah setahun bertugas, lidahku masih perlu menyesuaikan untuk menyantap makanan dengan campuran rempah yang kuat. Sebagai orang Jepang pada umumnya, aku menyukai rasa asli pada makanan tanpa campuran apa pun. Itulah kenapa kami menyukai olahan makanan mentah yang segar, karena kami ingin merasakan keaslian dari makanan tersebut.
"Ameena, makanlah yang banyak! Khalila telah kembali dalam keadaan sehat, kau harus mengembalikan selera makanmu!"
Ucapan tuan Ali yang penuh perhatian kepada Ameena, membuatku mematung sesaat. Aku menaikkan pandanganku. Secara bersamaan, mataku dan mata Ameena bersirobok. Mendadak, aku teringat perkataan Ahmed tentang tuan Ali yang sedang mempertimbangkan untuk mempersunting Ameena.
Selepas jamuan makan malam itu, Khalila mengantarkan aku ke sebuah kamar yang telah dipersiapkan untukku.
"Kakak Pirang, besok kau harus janji padaku untuk bangun lebih awal agar kita bisa bermain lebih dulu sebelum kau pulang!" ucap Khalila.
"Siap! Asal kau mau membantuku agar bisa bertemu langsung dengan ibumu. Ada hal yang ingin kutunjukkan padanya," balasku sambil menyodorkan jari kelingking.
Khalila turut menautkan jari kelingkingnya. "Tentu saja! Kita ini kan berteman. Teman harus saling membantu!"
__ADS_1
"Ya, kita adalah teman!" ucapku sambil menggoyang jari kelingking kami yang saling bertautan.
Aku pun masuk ke dalam kamar. Kamar itu tidak terlalu luas dan hanya memakai lampu yang remang, tapi sangat bersih dan rapi. Baru saja meletakkan tas ransel di lantai, pintu kamar itu mendadak terketuk dari luar.
Aku cepat-cepat membuka pintu, berharap Ameena datang menemuiku. Sayangnya, yang muncul di hadapanku saat ini adalah Ahmed. Pria itu membawakan segelas minuman berwarna hijau pekat.
"Ini limonana¹ minuman pencuci mulut khas negara kami. Silakan coba!" Ahmed menyodorkan nampan berisi minuman tersebut.
"Terima kasih. Anda tidak perlu repot-repot seperti ini."
"Ah, tidak! Ini dari saudari Ameena, dia membuatkan khusus untukmu dan memintaku mengantar langsung padamu."
Mataku melebar seketika. Buatan Ameena? Tak perlu berpikir panjang, aku langsung mengambil nampan itu dari tangan Ahmed. Aku meletakkan nampan itu di atas meja kecil, lalu mengangkat gelas minuman untuk mencicipinya.
Eh? Aku terhenyak melihat sebuah kertas yang terlipat kecil di bawah gelas yang baru kuangkat. Aku langsung membuka kertas kecil itu dan melihat tulisan dari arab gundul. Karena aku belum terlalu bisa membaca tulisan dari huruf tersebut, maka aku memakai mesin penerjemah otomatis di ponselku.
^^^Maaf kalau makan malamnya kurang sesuai di lidahnya. Sebagai gantinya, semoga kau menyukai minuman ini.^^^
Napasku mendadak tertahan. Bagaimana bisa Ameena mengetahui aku kurang menikmati hidangan mereka? Apakah selama makan tadi dia terus memerhatikanku? Apa ekspresiku terlalu jelas?
Aku langsung membanting tubuh di atas kasur dan menyembunyikan wajahku di bawah bantal. Perasaan apa ini? Ada sensasi malu dan canggung tapi juga di sisi lain merasa senang.
Aku mengangkat kepalaku, lalu mengambil posisi tengkurap dengan kedua tangan yang bertopang di dagu. Sambil tersenyum, mataku mengarah pada segelas minuman yang dibuat olehnya. Aku mengambil kameraku, lalu memotret minuman tersebut lengkap dengan tulisan Ameena yang kupajang di bawah gelas. Kubuka kembali file kumpulan foto-foto langit yang kuambil setahun lalu tepat setelah kami berpisah. Aku harus memperlihatkan koleksi foto ini pada Ameena. Semoga Khalila bisa membantuku.
Aku mulai mencicipi minuman tersebut. Aroma mint yang menyegarkan berpadu rasa yang manis, memancingku untuk menghabiskan minuman itu. Aku menatap pergerakan jam dinding. Rasanya, tak ingin malam ini berakhir. Sebab, begitu menjumpai esok, kami harus kembali berpisah.
.
.
Jejak kaki 🦶🦶
Limonana: minuman khas Timur Tengah merupakan kombinasi lemonade dan mint sebagai bahan dasar utama.
visual Tuan Ali
__ADS_1