
Kami tak sama baik secara prinsip, ideologi, budaya atau pun keyakinan. Aku menyadari itu! Kami begitu berbeda dalam semua hal kecuali perasaan. Mina-chan, bolehlah aku berpikir perasaan kita selalu sama?
.
.
.
Setelah bertemu Ameena, aku dipanggil tuan Ali untuk menemuinya. Ahmed pun membawaku menemui pria yang merupakan kakak kandung dari mendiang suami Ameena itu. Aku tersentak karena melihat perempuan bermata biru itu juga sudah berada di sana.
Untuk beberapa detik, aku dan Ameena saling menatap dalam kebisuan. Aku sontak teringat kebersamaan kami beberapa puluh menit yang lalu.
Tuan Ali menyerahkan sebuah kotak kecil dengan aksen ukiran di setiap sisi sudutnya. Di dalam kotak tersebut ada dua batang emas murni.
"Ini hadiah untukmu. Terimalah sebagai ucapan terima kasihku karena telah menyelamatkan putriku."
Aku terbelalak. Tanganku secara spontan menunjukkan penolakan.
"Ah, eng ... Anda tidak perlu seperti ini!"
"Terimalah! Hadiah ini tidak seberapa dengan nyawa Khalila."
"Menyelamatkan nyawa manusia bukanlah sebuah prestasi yang patut diberikan hadiah, tapi adalah sebuah keharusan sebagai sesama umat manusia. Saya tidak bisa menerima ini. Tolong maafkan saya!" Aku membungkuk berkali-kali.
Tuan Ali terdiam sejenak, kemudian mengulas senyum sambil bertanya, "Adakah sesuatu yang kau inginkan? Katakan saja! Aku akan berusaha memenuhinya untukmu!"
"Tidak ada, Tuan!" jawabku spontan.
"Jangan terlalu terburu-buru. Pikirkanlah sebelum kau pulang," balas tuan Ali sambil kembali tersenyum.
Tuan Ali mengajakku berkeliling ke lokasi peternakan miliknya sebelum aku pulang ke Damaskus. Kami berjalan di atas hamparan rumput hijau yang dipenuhi beberapa kelompok domba-domba kecil. Di tanah yang luasnya berhektar-hektar ini, tuan Ali menunjukkan padaku macam-macam hewan ternak miliknya sembari didampingi Ameena, Ahmed dan juga beberapa pengurus lainnya.
Sepanjang jalan, tuan Ali terus mengajakku mengobrol. Ini menguntungkan bagiku karena membuatku leluasa memandang Ameena yang berdiri di belakang pundak pria itu.
"Ah, berapa usiamu? Kau masih terlihat sangat muda."
"Beberapa bulan lagi akan mencapai dua puluh enam tahun."
Tuan Ali menoleh ke arah Ameena lalu berkata, "Ternyata kalian seumuran!"
"Sepertinya Khalila juga sangat dekat dengannya, Tuan. Sama seperti dia menyukai saudari Ameena." Seorang wanita paruh baya menyambung obrolan kami.
Tuan Ali tertawa renyah. "Aku iri dengan kalian berdua. Kalian bisa mengambil hati putriku dengan cepat. Saat ibunya meninggal, dia bahkan tidak mau kupeluk."
Aku dan Ameena kembali saling berpandangan.
Selain menjadi tuan tanah, ternyata pria itu juga seorang pengusaha sukses di bidang peternakan. Penjualan dombanya menembus pasar ekspor hingga ke Uni Emirat Arab. Kuda-kuda miliknya dulunya sering disewa untuk pertunjukan balap kuda. Selain itu, ia juga memproduksi susu setiap harinya dari ratusan sapi perah miliknya. Susu itu kemudian dibagikan cuma-cuma ke kamp-kamp pengungsian setiap harinya.
"Apa kau mau mencoba memerahnya?" Tuan Ali menawarkan aku untuk mencoba memerah susu langsung.
Aku berjongkok dan mulai memerah susu sesuai petunjuk yang diajarkan pekerjanya. Ini pengalaman pertamaku. Rasanya cukup menyenangkan.
"Apa kau punya hewan peliharaan?" tanya tuan Ali.
__ADS_1
"Tidak."
"Oh, kau tidak suka binatang?"
"Suka."
"Ada alergi?"
"Kurasa tidak."
"Lalu? Suka binatang dan tidak alergi, tapi enggan memelihara binatang. Bukankah orang yang mengklaim dirinya penyuka atau pencinta binatang akan memiliki paling sedikit satu hewan peliharaan?"
Aku tersenyum tipis, lalu menjawab, "Bagiku ... cara terbaik mencintai hewan dengan tetap membiarkan mereka berada di habitatnya. Aku sibuk bekerja, tak akan sempat mengurus mereka. Pada akhirnya aku hanya akan terlihat seperti menyiksa binatang."
"Masya Allah! Sepertinya kau adalah seorang pemikir yang selalu mengambil keputusan dengan penuh pertimbangan."
"Anda terlalu memuji, Tuan!" ucapku menundukkan kepala sebagai penghormatan.
"Ah, tunggu, Anda bukan seorang vegan, kan? Aku tidak terlalu paham dengan budaya dan agama di Jepang, tapi aku hanya khawatir makanan yang kami sajikan semalam mungkin tidak sesuai dengan aliran agama yang Anda anut."
"Bukan. Jangan khawatir, untuk saat ini ... aku tidak menganut agama tertentu."
Seketika, semua orang memandangku dengan ekspresi terkejut.
"Apa kau atheis?" tanya seseorang.
"Tidak. Aku masih memercayai Tuhan itu ada. Lebih tepatnya aku seorang agnostik. Masih memiliki kepercayaan pada Tuhan, tapi tidak menganut agama apa pun" jelasku.
Mereka saling berpandangan satu sama lain. Mungkin mereka menganggapku aneh. Timur Tengah menjadi tempat lahirnya tiga agama samawi terbesar di dunia yaitu Yahudi, Kristen, dan Islam. Selain itu, masih banyak pula beberapa ajaran agama lainnya. Tak heran jika mereka kaget mendengar aku tak memeluk agama apa pun.
"Menurutku, menjadi penganut suatu agama itu sedikit merepotkan. Setiap hari kita harus sibuk menghitung pahala dan dosa, atau mengkhayalkan indahnya surga dan horornya neraka. Aku ingin melakukan sebuah kebaikan tanpa berharap imbalan pahala, seperti menolong sesama manusia, tidak merusak tanaman yang hidup di alam bebas, atau sesederhana menuangkan gula di sudut ruangan untuk dimakan semut. Aku yakin seluruh makhluk hidup di dunia ini layak untuk ditolong, dikasihi dan dihormati keberadaannya. Aku berusaha menghindari tindakan buruk dan keji karena aku sadar itu tak pantas untuk dilakukan, bukan karena ditakuti oleh hal semacam dosa dan neraka."
"Masya Allah! Sangat jarang menemukan orang tulus yang tidak berharap imbalan dari Tuhan atau pun sesama manusia. Tidak heran kalau kau bisa menyelamatkan Khalila. Maaf kalau aku bertanya begini, kau terlihat seperti pria religius. Jika suatu saat kau masuk ke agama tertentu, pasti kau akan menjadi penganut yang taat. Konsep surga dan neraka memang rumit untuk dijelaskan, serumit kita menjelaskan tentang Tuhan dan takdir pada orang-orang atheis. Beragama hanya menuntutmu memercayai itu semua dan menjalankan kehidupan sesuai anjuran kitab," jelas tuan Ali.
Alih-alih mengajak berdebat, tuan Ali justru terlihat menghormati prinsip yang kukemukakan. Dia sangat berbeda dengan beberapa penganut agama yang kutemui di mana mereka akan mudah menghakimi pilihan hidup seseorang atau mungkin berusaha mendoktrin pikiranku. Dari sini, aku mengagumi sosok tuan Ali yang sangat tenang, bijak dan menghargai pendapat orang lain.
Seseorang lalu datang dan mengabari bahwa mobil yang akan mengantarku pulang telah siap.
"Alhamdulillah! Saudara Kei, Anda sudah boleh pulang. Tapi maaf, mereka hanya bisa mengantarmu sampai di Aleppo. Penjagaan di perbatasan Damaskus sungguh ketat."
Pada saat ini, pandanganku langsung tertuju pada Ameena. Aku bisa melihat sinar matanya meredup saat manik mata kami saling bertemu. Kami sudah biasa seperti ini. Berbicara tanpa kata, tanpa suara, karena semua bahasa hanya tersalur lewat kontak mata kami masing-masing.
Ahmed mendekat lalu berkata, "Saudara Kei, bersiap-siaplah mengemas barang-barangmu!"
Aku mengangguk kecil dengan tatapan yang masih tertancap pada Ameena. Entah kenapa, kakiku sungguh berat untuk melangkah melewatinya yang diam terpaku.
Saat berjalan menuju ke kamar, aku tersentak melihat Khalila yang duduk meringkuk di pintu kamarku. Aku lantas menghampirinya, matanya tampak sembab seperti habis menangis.
"Adik, kau kenapa?" tanyaku.
Khalila langsung memelukku. "Apakah kau akan pergi sekarang?"
"Ya," jawabku lemah.
__ADS_1
"Apakah kita masih bisa bisa bertemu lagi?"
"Pasti bisa. Buktinya, aku dan ibumu bisa bertemu lagi berkat kau," ucapku sambil mengusap kepalanya."
"Apa kau tidak sedih akan kembali berpisah dengan ibuku?"
Aku tertegun. Bola mataku bergerak ke atas, menatap nanar langit-langit ruangan.
Aku masuk ke dalam kamar untuk mengemas barang-barang. Entah kenapa, mendadak terbesit ide gila agar bisa kembali ke tempat ini. Aku membuka topi yang terpasang di kepala lalu meletakkannya dalam laci nakas. Ah, tidak! Sepertinya topi terlalu murah untuk dijadikan alasan mengambil barang yang tertinggal.
Aku mengambil topi itu kembali dan menggantikannya dengan kacamata yang kupakai. Ah, tidak! Ini juga masih tak cukup alasan untukku datang jauh-jauh mengambilnya. Aku membuka tas untuk mencari sesuatu yang bisa kutinggal di kamar ini, tapi apa? Mana mungkin ponsel pribadiku!
Mataku tertuju pada satu benda termahal yang kubawa saat ini. Kamera! Ya, kamera! Mungkin ini satu-satunya benda yang cocok kujadikan alasan. Aku pun sengaja meninggalkan kamera yang menjadi penunjang pekerjaanku ke dalam laci tersebut. Kugunakan trik klise ini agar bisa mencari alasan untuk kembali ke tempat ini. Demi bertemu Ameena, aku sampai mempertaruhkan kamera mahalku di tempat ini.
Aku menoleh ke arah Khalila yang duduk di sisi ranjang sambil memandang lara ke arahku.
"Adik, aku menaruh kameraku di sini. Tolong jaga kameraku! Jangan sampai hilang, ya?"
"Kalau Kakak Pirang takut hilang, kenapa kameranya kau taruh di sana? Kenapa tidak kau bawa saja?" tanyanya bingung.
Aku buru-buru berjongkok di depannya. "Aku sengaja meletakkannya di sini agar bisa balik ke sini lagi."
Mata Khalila membesar. "Benarkah kau akan ke sini lagi?"
"Sstt ... jangan bilang siapa-siapa. Ini rahasia kita berdua." Aku menyodorkan kelingkingku.
Dia mengangguk patuh sambil ikut menautkan jari kelingkingnya. Aku menggendong tas ransel kemudian keluar dari tempat itu. Di halaman panti, tuan Ali dan beberapa pengurus berkumpul untuk mengantar kepergianku. Namun, aku tak melihat Ameena di sana.
"Bagaimana? Apa kau sudah memikirkan permintaanmu."
Aku menggeleng pelan. "Kurasa tidak ada, Tuan. Aku senang bisa bertemu dengan kalian semua. Terima kasih telah menerimaku dengan hangat di sini."
"Tolong jangan menulis sesuatu yang aneh tentang tempat ini! Desa ini satu-satunya tempat aman yang tidak bisa dijamah oleh kelompok luar, beruntunglah kau bisa masuk dan keluar dari tempat ini dengan aman!" sahut bapak-bapak tua yang waktu itu sempat bersikap sinis padaku.
"Jangan khawatir, Tuan. Seperti yang kukatakan sebelumnya, aku tidak membawa misi apa pun di tempat ini."
"Ayo, kita pergi! Mobil menunggu kita di luar," ajak Ahmed yang ditugaskan mendampingiku.
Aku mengedarkan pandangan sesaat untuk mencari keberadaan Ameena. Tidak ada! Aku bahkan sampai berusaha menoleh ke dalam rumah.
"Saudara Kei, ada apa? Apa ada sesuatu yang tertinggal?" tanya Ahmed memandangku heran.
Aku menggeleng kaku, kemudian berbalik pelan dan berjalan selangkah demi selangkah meninggalkan tempat ini. Hingga kakiku keluar dari batas pintu gerbang, Ameena masih tak terlihat.
"Khai! Khai!"
Aku menutup mata dalam-dalam dengan tangan yang mengepal ke atas saat Ameena memanggilku dengan nada tergesa-gesa. Menghela napas sesaat, aku lalu berbalik ke arahnya. Aku sempat melihat tangannya yang memegang sesuatu refleks bersembunyi di belakang tubuhnya.
Dengan ragu, dia mengangkat sebelah tangannya lalu melambai ke arahku.
"Jaa ne!" (Sampai jumpa)"
Seketika, mataku serasa memancarkan kilauan kehangatan. Seutas senyum pun tersungging di bibirku.
__ADS_1
"Jaa mata ne!"
Mina-chan, tunggulah sebentar! Aku akan kembali lagi menemuimu besok!