
Tak betah hanya berdiam diri di rumah, aku mengambil motorku kemudian mengendarainya menuju kantor departemen kehakiman di mana pamanku menjabat sebagai menteri. Paman Matsumoto adalah adik dari ibuku. Dibanding dengan ayahku yang tegas, ia lebih memanjakanku. Ini karena ia tak memiliki anak lelaki. Oleh karena itu, aku ingin menemui paman dan membujuknya sekali lagi.
Sesampainya di sana, aku dicegat petugas keamanan karena berusaha menerobos masuk. Aku tak peduli dan malah membuat keributan dengan mereka yang mencoba menghalangiku.
"Biarkan aku masuk! Aku ingin bertemu pamanku, Matsumoto-san," teriakku sambil membebaskan diri dari sergapan mereka.
"Lancang! Bisa-bisanya orang macam kau mengaku sebagai keponakan menteri!" Mereka tak memercayaiku hanya karena melihat penampilanku yang sedikit kumal.
Di waktu yang sama, paman keluar dari lift beserta para rombongannya. Aku nekad memanggilnya meski dalam penahanan para petugas. Ia terkesiap melihatku. Para petugas lantas melepasku ketika paman menghampiriku.
"Kei, kenapa kau datang ke sini?" tanyanya.
"Aku ingin bicara pada Paman."
"Nanti saja. Kau tampak belum sembuh. Datanglah ke rumah ketika kau sudah pulih! Paman akan menghadiri rapat para menteri." Setelah berkata, paman meninggalkanku dan keluar dari gedung bersama para rombongan.
Aku berusaha mengejar paman sambil berkata, "Paman, tolong katakan pada Perdana Menteri untuk mengubah kebijakan suaka. Hanya Jepang satu-satunya negara maju yang menolak suaka. Negara kita sangat kaya, kenapa bisa kalah dengan negara-negara kecil dan miskin yang mau menampung pengungsian?"
"Jepang telah menjadi negara penyumbang dana kemanusiaan terbesar kedua untuk negara itu. Perdana Menteri membuat kebijakan karena ada alasan. Masih banyak permasalahan negara yang harus diutamakan sebelum menerima imigran. Apalagi kami tengah fokus menanggulangi krisis angka kelahiran," jelas pamanku.
Aku kembali menahan paman ketika ia hendak masuk ke dalam mobil yang telah dipersiapkan.
"Setidaknya berikan saja satu jatah suaka untuknya! Bantu aku menyelamatkannya! Dia dalam bahaya di sana," ucapku penuh permohonan.
Paman menatap staf-staf yang ada di sekelilingnya dengan sungkan, kemudian memandang lekat ke arahku. "Kei, berhentilah membuat dirimu tampak menyedihkan di mata orang-orang. Sebaiknya berkonsultasilah ke psikiater! Pemerintah telah memberi subsidi pada tentara dan jurnalis yang baru pulang dari negara perang untuk memeriksa mental mereka."
Sama seperti dokter, paman malah menganggap aku mengalami guncangan mental. Meski paman telah masuk ke dalam mobil, ku masih mengetuk-ngetuk jendelanya. Nyatanya, paman sama sekali tak bisa membantu di saat aku menaruh harapan besar padanya.
Dari gedung kementerian kehakiman, aku memacu motorku menuju tempat kerjaku. Kemunculanku di sana membuat rekan-rekan jurnalis terkejut. Pasalnya, mereka mengira aku masih dalam perawatan intensif pasca selamat dari tawanan kelompok ekstremis. Mengabaikan cecaran pertanyaan mereka, aku justru bertanya balik pada semua rekan sejawatku.
"Siapa yang bertugas menyiarkan informasi perang di Suriah? Bagaimana perkembangan negara itu sekarang?"
Seorang jurnalis senior menyahutiku. "Perang semakin tak terkendali. Bukan hanya dari kubu pemerintah dan pemberontak saja, tapi kelompok ekstremis juga. Negara itu sudah tak punya harapan."
Aku lalu dipanggil pimpinan direksi. Kepada pimpinan direksi, aku menyatakan siap bertugas dan meminta untuk kembali dikirimkan ke negara Suriah. Kupikir ini adalah satu-satunya cara agar aku bisa menyelamatkan Ameena.
"Tidak ada lagi jurnalis yang akan kami kirim ke sana. Ketiga rekanmu akan dipulangkan dalam waktu beberapa hari."
Aku tergemap. "Kenapa begitu? Bukankah kita butuh meliput informasi secara langsung di sana? Aku juga bersedia ditempatkan kembali ke sana meski hanya seorang diri!" ucapku menggebu-gebu.
__ADS_1
"Kau bodoh atau gila? Hilangnya dirimu saat itu sudah membuat seluruh Jepang gempar. Perusahaan berita mana pun di negeri ini kini tak mau mengambil risiko dengan mengorbankan para jurnalisnya. Hanya jurnalis lepas yang mau ke sana dan bersedia menyetor nyawanya. Bahkan sekalipun kau ingin berangkat, sudah tak ada lagi penerbangan menuju ke negara itu!"
Aku kembali terpukul. Apakah sudah tak ada jalan bagiku untuk menyelamatkan Ameena?
"Oh, iya ...." Pimpinan melanjutkan ucapannya. "Karena kau mengaku siap bertugas, maka mulai bulan depan kau akan menjadi pembawa berita untuk program pagi dan malam hari. Kau tampan dan lancar berbahasa asing. Tugas itu sangat cocok untukmu. Tapi ...." Ia melihat rambutku sambil berkata, "tolong hitamkan rambutmu! Penonton berita rata-rata para orangtua, mereka akan risi melihat rambutmu yang seperti ini."
Aku keluar dari ruangan pimpinan redaksi dengan wajah layu. Berharap bisa kembali ditugaskan di negara itu, justru mendapat tugas baru yang tak bisa kutolak. Ya, seharusnya aku bahagia ditempatkan sebagai pembawa berita. Dengan begitu, karirku naik satu tingkat setelah menjadi reporter selama dua tahun.
Meski telah membeli ponsel baru, aku tak bisa menghubungi Kamal Malek. Ini karena aku kehilangan kontaknya. Aku lalu mencoba mencari tahu informasi tentangnya di internet. Ternyata, Kamal Malek menjadi salah satu jurnalis yang berstatus hilang. Aku tidak tahu apakah dia juga disandera oleh kelompok ekstremis. Aku tidak tahu ....
Berhari-hari aku terombang-ambing dihantam lautan nestapa. Memburu berita terkini negara itu menjadi hal wajib yang kulakukan. Aku juga berusaha mengontak kedutaan besar Suriah untuk mencari tahu keberadaan Ameena dan meminta bantuan hukum untuknya. Sialnya, statusnya sebagai simpatisan pemberontak membuat namanya tak terdaftar dalam kependudukan. Semua usahaku untuk menyelamatkan Ameena gagal. Sementara berita-berita tragis wanita yang menjadi tawanan kelompok ekstremis semakin membuatku frustrasi.
Malam-malam kulewati dengan merutuki diri. Aku pulang ke rumah dalam keadaan yang mabuk berat. Tubuhku roboh tepat saat kaki ini melangkah masuk. Melihatku seperti ini, tentu ayahku semakin berang. Ibu mencoba membantuku bangun. Namun, aku terlalu tak berdaya untuk melakukannya. Detak jantungku melemah kesakitan. Sesak mencekik dengan erat.
"Aku ... tidak bisa menyelamatkannya! Tidak ada yang bisa membantuku menyelamatkannya!" Aku meracau sembari memukul-mukul lantai.
"Kau tidak bertanggung jawab pada keselamatan seseorang. Jadi, berhentilah melakukan tindakan bodoh seperti ini!" Ayahku menggeram. "Suruh dia pindah ke apartemennya! Dia bukan lagi anak remaja yang baru mengenal cinta! Benar-benar memalukan!" perintah ayah pada ibuku.
Ibuku menggenggam tanganku yang dingin. "Kei-chan, okaasan mengerti dengan perasaanmu, tapi apakah wanita itu akan senang jika melihatmu seperti ini? Apakah dia menginginkan kau menyiksa diri begini? Apa kau benar-benar memahaminya selama ini?"
Aku yang saat ini, tidak mampu berpikir untuk menjawab kalimat ibu. Namun, seketika aku teringat pertemuan yang terjadi antara aku dan Ameena dari awal hingga akhir.
"Kau harus berterima kasih padanya, jika bukan karena dia memohon pada ketua kami, kau tidak akan bernapas seperti sekarang ini! Selain itu, ketua kami juga mempertimbangkan kau telah menyelamatkan dia. Kami membawanya untuk memenuhi amanat dari mendiang suaminya. Sudah, cepat turun!"
Saat perang di desanya meletus, dia memintaku membawa Khalila untuk pergi dari desa itu meski dia harus menetap di sana.
"Bawalah Khalila sekarang juga! Bawa dia pergi bersamamu! Bawa dia menjauh dari tempat ini!"
"Lalu, bagaimana denganmu?"
"Aku tidak bisa ikut dengan kalian ...."
"Tidak! Aku juga tak akan pergi jika kau tidak ikut bersama kami!"
"Jangan pedulikan aku! Aku bisa menyelamatkan diriku sendiri!"
Merasa tak memenuhi amanatnya, aku berniat menebus kegagalan itu dengan nyawaku. Namun, dia mencegatku dan membiarkan tangannya terkena tusukan pisau yang kuarahkan ke perutku.
"Jika kau bunuh diri, maka kau juga membunuh orang-orang yang mencintaimu."
__ADS_1
Lalu, di saat aku berkeinginan untuk tinggal bersamanya dan bersedia meninggalkan segala yang kumiliki, dia justru meminta agar aku pulang dan melanjutkan karirku.
"Kenapa ... kenapa kau memintaku pergi?"
"Karena aku ingin terus melihatmu sebagai seorang jurnalis. Aku ingin kau membantu banyak suara masyarakat yang tak bisa di dengar dunia luar. Jika kau memilih bersama kami, maka kau akan kehilangan profesi itu. Selain itu ... tidakkah kau merasa ada yang sedang menunggumu dengan cemas di sana? Kau pernah dinyatakan hilang karena mengantarku ke pengungsian dan sekarang ini seakan terulang kembali. Pikirkan juga orang-orang yang tengah menunggu kabarmu saat ini."
Karena terlalu keras kepala, aku justru datang padanya lagi. Namun, dia malah memintaku bersembunyi dan menghadapi kelompok ekstremis seorang diri.
"Khai, bersembunyilah di sini! Kita tidak bisa melarikan diri lagi! Mereka membawa senjata. Mudah bagi mereka untuk menembak kita."
"Lalu bagaimana dengan kalian? Apa kalian mau menyerahkan diri?!"
"Jika kami tertangkap, seburuk-buruk yang akan kami hadapi hanyalah dibawa ke tempat mereka untuk dijadikan bagian dari pendukung mereka. Tapi, jika kau yang tertangkap, mereka akan menyiksamu bahkan membunuhmu!"
Terakhir, dia hampir tak pernah memberi jawaban pasti ketika aku mengajaknya untuk ikut bersamaku. Namun, hari itu ia mendadak mengiyakan permintaanku di detik-detik perpisahan kami.
"Bagaimana dengannya? Kalian akan membebaskannya juga, kan?"
"Negosiasi ini hanya untuk dirimu. Tentu saja dia akan menetap di sini bersama kami. Lagi pula dia penduduk sini."
"Mina-chan, ikutlah bersamaku ke Jepang! Hanya itu cara agar kau bisa keluar dari sini! Aku akan bicara pada pamanku untuk membantumu bebas. Tolong katakan, Ya! Tolong ...."
"Ya, aku ingin ikut denganmu, Khai."
"Tunggulah sebentar saja! Setelah bertemu pamanku aku akan menjemputmu. Aku pasti akan menyelamatkanmu! Kita akan bersama-sama berangkat ke Jepang."
"Ya, aku akan menunggumu, Khai!"
Mungkinkah ... sebenarnya jawaban yang ia berikan agar aku tak berubah pikiran untuk keluar dari tempat itu? Nyatanya, setelah menerima jawaban itu, aku melangkah meninggalkannya tanpa ragu.
Kilas balik perjalana aku dengannya berputar layaknya roll film. Sederet ingatan itu membuatku sadar bahwa dia selalu mengutamakan keselamatanku di atas keselamatannya. Aku yang tak cukup memahaminya, merasa dia terus mendorongku agar menjauh darinya. Padahal semua yang dia lakukan adalah bentuk pengorbanan dan kepeduliannya padaku. Tak hanya itu, dia kerap memikirkan orang-orang di sekelilingku di saat aku bahkan seakan melupakan mereka.
Cairan bening lantas mengalir di sudut mataku. Dengan terbata-bata, aku berkata pada ibu, "Aku ... hanya ingin menyelamatkannya. Bahkan ... jika setelah itu dia tak mau ikut denganku ke Jepang, tidak apa-apa. Aku ... hanya ingin ... menyelamatkannya. Itu saja!"
.
.
.
__ADS_1
Btw, tentang Jepang yang menolak suaka dan imigran dari Suriah itu benar ya. Jadi ini kebijakan yang dibuat oleh mendiang perdana Mentri terdahulu (yang tewas ditembak itu loh). Alasannya di tahun itu, memang angka kelahiran di negara itu menurun drastis. Jadi isu jepang kurang angka kelahiran, engga baru-baru ini aja ya, tapi dah sejak lama