
Aku menggunakan seluruh tenaga untuk mengejar mobil mereka yang belum jauh. Dengan keadaan tubuh yang masih menahan nyeri, wajah yang mungkin dipenuhi lebam, dan darah yang masih menetes di sela-sela gigi, aku terus memacu kaki selebar mungkin. Berlari seperti ini, seolah kembali ke masa-masa berada di kamp pelatihan Pasukan Bela-diri Jepang. Ya, Tuhan membuktikan tidak ada yang salah dari setiap peristiwa yang kita lalui. Berkat sempat menjadi pasukan angkatan darat, fisikku lebih terlatih seperti saat ini.
Sedikit lagi. Ya, sedikit lagi. Kulihat punggung pria yang berdiri di kabin terbuka itu. Untung saja dia terus menatap lurus ke depan dengan kedua tangan yang disandarkan ke atap mobil, sehingga tak menyadari aku mengejar mereka dari belakang. Karena mereka mengendarainya dengan cukup pelan, aku hampir bisa mencapai ekor mobil itu.
Tinggal sejengkal lagi! Aku mengulurkan tangan hendak menggapai belakang mobil itu. Sial, tidak sampai! Mobil itu kembali menjauh dariku.
"Kei, tetaplah bertahan!" Jiwaku terus memberi semangat. Tak ada yang bisa kupikirkan selain menyelamatkan Ameena segera mungkin.
Aku terus mengejar. Mata serasa dipenuhi debu. Peluh menetes deras di wajah. Lutut pun mulai gemetar dan melemah. Bagaimanapun, aku tidak boleh jatuh!
Kuulurkan tanganku sekali lagi. Masih tidak sampai. Aku memejamkan mata seraya berhenti sejenak untuk mengatur napas. Kubuka mata dengan pandangan yang tajam. Aku kembali mengayunkan tangan seraya berlari kencang. Saat jarak tubuhku dengan mobil hanya tinggal semeter, aku langsung meloncat tinggi.
Berhasil! Kakiku sukses mendarat masuk ke dalam kabin. Pria itu berbalik kaget. Namun, kalah cepat dariku yang langsung menyerangnya. Satu pukulan berhasil membuat pria itu tersungkur. Aku berdiri di antara tubuhnya, kemudian sedikit membungkuk untuk menarik kerah lehernya. Kepalan tanganku kembali beradu dengan pipinya. Kuhajar tanpa ampun. Membalas semua pukulan yang dia berikan padaku tadi. Berkali-kali lipat. Kupastikan wajahnya akan membentuk adonan.
"Kalian para manusia licik dan serakah, lebih menjijikkan dari seonggok kotoran hewan!"
Aku kembali menghajarnya. Kurang lebih belasan tinju berhasil mendarat di wajahnya. Jangan mengira tenagaku sudah habis! Ketika sedang dalam luapan emosi, manusia bisa menjadi lebih kuat, nekad dan tak terkendali. Darahku menggelegak. Mataku pun serasa memancarkan tombak api. Aku yakin saat ini wajahku merah membara.
Pria yang menahan Ameena tampaknya menyadari keberadaanku. Dia melongok keluar jendela dan terperanjat melihatku terus menghajar kawannya.
"Apa yang kau lakukan? Apa kau ingin melihat perempuan ini mati?" teriaknya.
"Coba saja! Setelah itu, akan kubuat satu per satu dari kalian menyusulnya," balasku sambil terus memukul kawannya. Setelah belajar dari sebelumnya, aku tidak takut lagi dengan ancaman mereka.
Aku membuat lautan darah di wajah pria itu hingga ia tak sadarkan diri. Aku lalu memanjat atap mobil dan menggantungkan kepalaku di jendela pengemudi.
"Hentikan mobilmu!" perintahku.
__ADS_1
Si pengemudi yang terkejut melihatku tampak kehilangan fokus berkendara sehingga membuat mobil itu berjalan membentuk zig-zag.
"Aku bilang hentikan mobilmu!" teriakku penuh penekanan.
Dia masih mengabaikanku meski terlihat kelabakan. Aku membenturkan kepalanya ke setir mobil. Dia balas menyikut wajahku, tapi aku segera menyingkir dengan menaikkan wajahku ke atas. Supir itu segera menaikkan kaca jendelanya.
Kudengar suara Ameena yang memanggil namaku. Dia berada di belakang supir. Kulihat pria di sampingnya langsung membekap mulut Ameena dengan telapak tangannya. Dia juga berusaha mencekal kedua tangannya. Aku mencoba membuka pintu tempat Ameena duduk. Ternyata dikunci oleh mereka.
Aku segera beralih ke sisi jendela tempat pria itu duduk. Segera kupecahkan kaca mobil itu hingga serpihannya mengenai punggung pria yang sibuk membekap Ameena. Aku menarik leher pria itu dengan menggunakan kerudung panjang Ameena. Tarikan dari kerudung itu berhasil membuat wajahnya mendekat ke arahku. Di saat itu juga tinjuku melayang ke hidungnya.
Sengaja kusilang kerudung tersebut, lalu menarik kuat sisi-sisinya sehingga membuat pria itu tercekik.
"Catat ini baik-baik! Aku ... Ayano Kei mantan Pasukan Bela-diri Jepang. Itu nama yang digunakan untuk menyebut tentara Jepang. Kau tahu, dahulu kala tentara Jepang dikenal gigih, ganas dan tidak kenal belas kasihan. Itulah kenapa selesai perang dunia II, negara kami dilarang membentuk kemiliteran yang bersifat ofensif. Sebagai prajurit kami diajarkan jika harus mati, maka musuh harus ikut mati bersama kami. Jadi, kau pikir aku takut membunuhmu?"
Dengan mata yang melotot tajam ke arahku dan mulut yang terbuka menahan sesak di leher, tangannya mencoba menggapai wajahku. Sayangnya, aku segera menarik diri ke atap mobil sambil terus menarik kedua sisi kerudung itu. Tidak lama, aku kembali mengintip ekspresinya yang sungguh tersiksa dengan tangan dan kaki yang meronta-ronta.
Melihat temannya yang hampir sekarat di tanganku, si pengemudi tak punya pilihan selain menghentikan mobilnya. Dia juga membuka pintu samping tempat Ameena duduk dan mendorongnya keluar. Dia tampak memohon padaku untuk melepaskan kawannya.
Tepat saat aku ikut turun, mobil itu langsung melaju kencang meninggalkan kepulan debu tebal yang sontak membuatku menutup mata. Begitu mata ini terbuka secara perlahan, pandanganku langsung terarah pada Ameena yang terduduk tak jauh dariku.
Aku bergeming. Kaku. Untuk sesaat, kami hanya saling memandang. Tenggelam dalam keheningan seolah kata-kata ikut membeku seperti hati kita yang kelu. Mata kami seakan menampung banyak air yang menggenang dan siap untuk merembes keluar.
"Khai," panggilnya lirih.
"Mina-chan," balasku lemah.
Dari jarak satu meter, aku bisa melihat jelas bibir perempuan bermata jeli itu bergetar. Derai kesedihan tampak jelas dari tetesan bulir bening yang membasahi pipinya.
__ADS_1
"Khai, Afwan!" ucapnya serak diiringi butiran air mata yang mengalir deras dari sudut matanya.
(Afwan bahasa Arab artinya maaf)
"Daejoubu!" balasku pelan.
(Daejoubu bahasa Jepang artinya tidak apa-apa)
Kami berkomunikasi langsung, seolah dapat memahami arti kata yang terlontar dari mulut kami masing-masing. Melihatnya terus berderai air mata, aku lantas merangkak mendekat ke arahnya.
Kini, aku bisa memandangnya dengan dekat. Tanganku terulur ke depan, bermaksud untuk menghapus air matanya. Namun, segera kuurungkan dengan mengepalkan jari-jari ini.
"Maaf, aku tidak lebih cepat menolongmu. Seharusnya aku bisa mencegat saat mereka hendak membawamu. Seharusnya aku tidak membiarkan mereka menyentuhmu. Seharusnya ...." Kalimatku tak selesai ketika angin berembus kencang.
Kurasakan rambut depanku melambai-lambai di udara. Sementara Ameena tampak sibuk menahan sorbannya yang berantakan. Aku segera melepas kerudung yang menggantung di leherku, kemudian kupakaikan ke kepalanya untuk menutupi sebagian rambutnya yang keluar.
Senyum tulus terurai dari bibirku. Dia malah tertunduk bisu dengan sisa-sisa air mata yang masih menjejaki pipinya. Aku membaringkan tubuh lelah ini seraya mengembuskan napas berat. Ah, sakit sekali! Tapi rasa sakit itu seakan terhapus saat kembali menoleh ke arahnya.
"Hei, Mina-chan, aku tepati janjiku, kan? Sudah kubilang, aku pasti akan selalu melindungimu. Jadi, ikutlah denganku!" ucapku serak.
Hari ini, aku kembali mengawal mentari yang mulai tumbang di kaki langit. Bersama Ameena tentunya.
.
.
ilustrasi mobil double kabin
__ADS_1
jangan lupa like dan komeng