Sang Jurnalis

Sang Jurnalis
Part 66 : Aku vs Kelompok Ekstremis


__ADS_3

"Ayo kita melarikan diri sekarang! Tempat ini sudah tak aman lagi untuk kalian karena sudah menjadi markas mereka. Kapan pun mereka bisa menemukan kalian di sini!" ucapku dengan nada tergesa-gesa.


"Tapi ... Omar belum kembali hingga kini!" kata Ameena dengan nada panik.


"Kemana dia?" tanyaku mengernyit.


"Setelah sholat subuh dia melihat Kakak tidak ada di sini, jadi dia pergi mencari Kakak sekaligus turun ke gunung untuk mengambil bantuan sembako. Tapi hingga kini dia belum juga kembali." Salah seorang anak menjelaskan padaku.


"Aku ... kemudian hendak turun mencarinya, tapi aku melihat sekelompok orang bersenjata ada di tempat ini. Aku langsung kembali ke sini dan meminta anak-anak untuk bersiap-siap pergi," sambung Ameena dengan penuh rasa bersalah.


Aku memejamkan mata sembari menarik napas sejenak. "Kurasa Omar tak bisa pulang ke sini karena gunung ini sudah dikepung para kelompok ekstremis. Ayo kita pergi sekarang! Bawa apa pun yang bisa kalian bawa!" perintahku.


"Tapi bagaimana mungkin kita meninggalkan Omar?" tanya Ameena cemas.


"Jangan khawatir! Anak itu tidak bodoh. Dia mampu bertahan diri. Aku yakin, Omar akan baik-baik saja!"


"Tunggulah sedikit lagi, mungkin saja Omar akan kembali!" pinta Ameena sambil melihat ke jalanan masuk tempat ini.


"Mina-chan, apa kau tahu bagaimana caraku untuk sampai ke tempat ini?" tanyaku pelan, "sangat di luar nalar dan mungkin orang lain tidak bisa melakukannya. Aku yakin Omar juga akan berpikir dua kali untuk ke sini, apalagi dia memiliki pengalaman pahit dengan kelompok ekstremis. Kita pikirkan dulu cara keluar dari tempat ini! Dengan begitu, mungkin ada jalan untuk mencari Omar!"


Ameena mengangguk pelan. Dia lalu masuk ke pondok untuk mengambil beberapa bahan makanan dan pakaian yang akan kami bawa. Tak mau membuang waktu, aku pun ikut masuk dan membantunya mengemas barang-barang. Aku juga meminta anak-anak mengisi perut mereka dengan kenyang agar tak lemah.


"Apakah kau tahu cara keluar dari tempat ini selain melewati rute biasanya?" tanyaku pada Ameena.


"Kita hanya bisa melewati gurun. Di sana terdapat banyak gua yang bisa dipakai bersembunyi. Gurunnya tidak seluas gurun yang membuat kita tersesat waktu itu, tapi mungkin lebih bahaya karena sering ada badai pasir di sana."


"Gurun?" Aku berpikir sejenak. Jika hanya aku dan Ameena saja, mungkin bisa melintasi gurun tapi masalahnya sekarang kami bersama anak-anak.


"Ayo kita pergi! Kita harus menyeberangi sungai terlebih dahulu."


Aku menggendong anak yang paling kecil, berusia sekitar tiga tahun. Baru saja hendak keluar dari pondok itu, tiba-tiba terdengar suara teriakan dari arah luar.


"Ada pondok di sini!" seru suara yang tak kami kenali itu.


Aku dan Ameena mencoba mengintip dari jendela. Mata kami sontak membesar dua kali lipat tatkala melihat satu orang bersenjata berjalan menuju ke tempat kami diikuti tiga orang lainnya yang baru saja turun dari mobil. Dari seragam yang dipakai, tak salah lagi jika mereka adalah bagian dari kelompok ekstremis.

__ADS_1


"Ah, benar! Kita mungkin bisa menyimpan senjata lainnya di sini!" Seseorang yang turun dari mobil ikut berbicara sambil memandang gubuk yang kami tinggali.


"Mereka sudah datang ke sini! Ayo kita lari dari sini!" ajakku sambil bergegas keluar dari tempat ini. Namun, langkahku tertahan ketika Ameena menarik ujung bajuku. Aku lantas berbalik seraya memandangnya.


Ameena langsung membuka lemari yang berada di sampingku. "Khai, bersembunyilah di sini! Kita tidak bisa melarikan diri lagi! Mereka membawa senjata. Mudah bagi mereka untuk menembak kita."


"Lalu bagaimana dengan kalian? Apa kalian mau menyerahkan diri?!"


"Jika kami tertangkap, seburuk-buruk yang akan kami hadapi hanyalah dibawa ke tempat mereka untuk dijadikan bagian dari pendukung mereka. Tapi, jika kau yang tertangkap, mereka akan menyiksamu bahkan membunuhmu!" Guratan-guratan cemas tampak jelas di wajah Ameena.


Langkah-langkah kaki yang tampak mendekat, memaksa Ameena segera mendorongku masuk ke lemari.


"Khai, tetaplah di situ! Apa pun yang terjadi, kumohon jangan keluar atau bersuara sedikit pun! Aku akan mengalihkan mereka. Jika memungkinkan, larilah dan selamatkan dirimu sendiri!" ucap Ameena setelah menutup lemari.


Apa-apaan ini? Aku datang kembali ke sini untuk menyelamatkannya! Tapi kenapa malah dia yang hendak menyelamatkanku!


"Apa? Ada seorang wanita muda dan anak-anak yang tinggal di sini rupanya!" Suara berat seorang lelaki terdengar diikuti hentakan kaki.


Dari celah pintu lemari, aku bisa melihat empat orang anggota ekstremis masuk sambil membawa senjata. Ameena terhenyak dan anak-anak memeluknya dengan penuh ketakutan. Bayangan satu pria terlihat begitu jelas tanda dia tengah berdiri di depan lemari.


"Kenapa kalian bisa berada di sini? Apa kalian tinggal di sini" tanya salah satu di antara mereka dengan mata yang berpendar ke segala tempat. Dia bahkan sempat menatap ke arah lemari.


"Kami hanyalah penduduk setempat yang mengungsi saat terjadi perang di desa," jawab Ameena dengan gemetar.


Pria itu memandang Ameena dari atas ke bawah secara saksama. "Bawa anak-anak itu!" perintahnya.


Ketiga pria itu lantas mengambil paksa anak-anak yang tengah berada di sisi Ameena.


"Jangan! Kalian tidak boleh membawa mereka! Tolong biarkan kami pergi dari sini!" Ameena berusaha menahan kelima anak perempuan yang bersamanya.


"Jangan khawatir! Kami tidak mungkin melukai anak-anak dan wanita! Kami justru hendak menolong dengan membawa mereka ke tempat aman dan layak karena akan terjadi perang besar di wilayah ini," jelas pria itu.


"Jika kalian hendak membawa mereka, maka aku juga harus ikut bersama!" pinta Ameena sambil berlutut serta menangkup kedua tangannya.


Seseorang lantas tersenyum sinis sambil berkata, "Kami juga akan membawamu ke asrama wanita. Tapi tidak sekarang! Kami harus menunggu ketua kami dulu!"

__ADS_1


Aku memicingkan mata. Mengapa mereka harus menunggu ketua mereka terlebih dahulu jika ingin membawa Ameena?


Sementara itu, Ameena masih tampak berusaha mempertahankan anak-anak. Sayangnya, satu per satu dari anak-anak itu dibawa paksa untuk masuk ke mobil. Suara teriakan dan tangis anak-anak bercampur menjadi satu. Tanganku bersiap untuk membuka lemari, tapi di waktu yang sama seseorang tampak menodongkan senjata ke arah Ameena untuk menahannya.


Mina-chan, apakah aku perlu keluar dari sini? Atau tetap diam seperti yang kau perintahkan? Tolong menoleh ke arahku jika kau membutuhkan bantuanku. Jangan membuatku tidak berguna seperti ini!


"Bukankah kami sudah katakan, anak-anak itu akan dibawa ke tempat yang lebih aman!" teriak pria itu.


Di titik ini, aku tidak tahu harus berbuat apa. Aku ingin keluar dan menghadang mereka yang hendak membawa anak-anak. Namun, aku tak bisa gegabah seperti itu. Takutnya, tindakanku mungkin dapat membunuh mereka semua. Di sisi lain, ada sedikit kelegaan karena Ameena belum dibawa mereka.


Dua orang telah membawa anak-anak itu pergi. Dua lainnya menyeret kasar Ameena agar kembali masuk ke pondok ini. Ameena duduk merikuk sambil terisak. Aku yakin dia sangat sedih berpisah dengan anak-anak itu.


Satu pria yang memegang pistol bersandar di lemari tempatku bersembunyi, sementara satunya lagi berjaga di depan pintu sambil membawa senjata panjang.


"Kita akan menghadiahkan gadis ini kepada ketua. Sepertinya ketua kita akan sangat menyukainya jika melihatnya nanti," kata pria yang berada di depan pintu.


"Ya, itu sudah pasti untuk wanita secantik dia. Ketua pasti akan menikahinya dan akan menceraikannya jika bosan seperti yang sudah-sudah. Jika itu terjadi, maka setelah itu gadis ini akan menjadi milikku, ya?" imbuh pria yang bersandar di lemari sambil terkekeh.


Aku terentak. Bagaimana bisa mereka menjadikan wanita seperti barang yang bisa berpindah kepemilikan.


Pria yang berada di depan pintu berjalan mendekati pria yang bersandar di lemari. Ia berbisik pada kawannya yang kemudian terdengar olehku.


"Kenapa tidak kita saja yang lebih dulu?"


"A-apa maksudmu?"


"Maksudku, bukankah kita semua terlalu sering mendapat wanita bekas dari ketua kita? Biarkan kali ini ketua yang menikmati bekas kita!" bisik pria itu dengan cengiran penuh kelicikan.


Mendengar itu, aku tak kuasa menahan geram. Kedua tanganku mengepal kuat hingga urat-urat terasa muncul di permukaan kulitku. Saat mereka hendak menghampiri Ameena, aku lantas menendang pintu lemari yang spontan ikut membuat mereka terlempar. Dengan gerakan yang cepat, aku menangkap salah satu di antara mereka dan menjadikannya sebagai tawanan. Aku menyeretnya sambil memutar posisiku ke arah Ameena sehingga kini dia berada di belakangku.


"Siapa kau? Berani-beraninya menyusup masuk di sini!" Pria yang satunya segera bangkit dengan senapan yang siap menembakku.


Sudut bibirku terangkat ke atas, menciptakan senyum dingin. "Kita lihat, peluru siapa yang lebih tepat sasaran," ucapku sambil memegang pistol milik lelaki yang menjadi tawananku, kemudian meletakkan mulut pistol itu tepat di pelipisnya.


.

__ADS_1


 .


__ADS_2