Sang Jurnalis

Sang Jurnalis
Part 4 : Pelarian Maut


__ADS_3

Aku ikut melompat, membungkus tubuh Ameena dengan tubuhku sendiri. Membiarkan diri ini menjadi tamengnya dari serpihan bom, pasir dan batu yang menghujani kami. Untung saja bom itu berdaya ledak rendah, hanya semacam sebuah peringatan.


Dari jarak yang sangat dekat kulihat dia menutup mata rapat-rapat. Tangannya mengepal kuat dan tampak gemetar di bawah kungkunganku. Dapat kupastikan kami tak berkontak fisik sama sekali karena posisi tubuhku seperti orang yang sedang melakukan push-up.


Bom susulan terdengar dari tenda sebelah diikuti suara rentetan senjata yang memaksa kami segera berdiri mencari perlindungan. Hanya dalam sekejap, semua berubah. Anak-anak yang tadinya berlarian main sambil tertawa kini berlari menangis mencari orangtuanya. Orang-orang berteriak panik dan sibuk menyelamatkan diri. Tak sedikit korban mengalami luka-luka akibat serangan bom.


Aku menarik Ameena untuk bersembunyi. Dia menepis kasar tanganku. Aku tak peduli, kembali kugenggam tangannya sekaligus menyeretnya berjongkok di belakang mobil tua yang ringsek.


Mata, telinga dan otak ini sibuk merekam segala emosi yang tersaji akibat serangan brutal mereka. Aku mengambil ponsel untuk memotret diam-diam penyerangan tersebut.


Aku juga menelepon Eiji mengabarkan kalau di sini baru saja terjadi serangan bom. Di situasi yang genting seperti ini aku berusaha memberi informasi ke mereka tentang apa saja yang kulihat agar mereka bisa segera merilis artikel. Sayangnya, tidak bisa dipastikan apakah serangan ini dilakukan oleh rezim berkuasa ataukah pemberontak.


Kucoba mengintip. Salah satu tentara yang membawa senapan itu memakai seragam militer khas negara ini. Bukankah artinya serangan ini dilakukan oleh sang penguasa? Kemudian kulihat lagi ada beberapa bapak-bapak yang tadinya berlalu lalang di tenda pengungsian, kini memegang senjata dan melakukan perlawanan terhadap tentara.


Apakah itu berarti kamp ini tempat pengungsian kelompok pemberontak dan pendukungnya?


Usai menelepon, aku terkesiap mendapati wanita itu menghilang. Baru saja berbalik hendak mencarinya, aku malah melihatnya tengah membantu lansia yang terjatuh. Entah kenapa aku tertarik untuk memotretnya berkali-kali.


Aku menghampirinya di tengah hujanan peluru. "Maafkan aku menempatkan kau pada situasi tak aman seperti ini. Tenang saja, aku akan bertanggung jawab melindungi keselamatanmu! Asal kau bisa percaya padaku," ucapku menatapnya dalam. Entah dia mengerti atau tidak, tapi melihatnya yang menatap dalam manik mataku, seperti mendapatkan sebuah energi besar untuk keluar dari kekacauan ini.


Kuberikan tanganku ke depan agar dia mau menggenggam terlebih dahulu. Tangannya tak bergerak sama sekali, tapi tatapannya sedikit meragu.


"Jangan khawatir! Aku tidak punya penyakit kulit! Aku hanya tidak ingin kita terpisah."

__ADS_1


Tangannya terulur dengan perlahan seakan hendak menyambut tanganku. Aku tersenyum tipis, tapi segera raib saat jari-jarinya yang lentik itu malah memegang ujung jaketku, bukan tanganku. Tidak apa-apa. Ini sudah cukup mewakili kalau dia memercayakan aku.


"Ayo kita lari!" ucapku memberinya aba-aba.


Aku menuntunnya berlari meninggalkan tempat pengungsian yang telah berubah menjadi medan haus darah. Jangan mengira kami melakukan pelarian yang indah tanpa hambatan! Setiap lima langkah, kami harus menunduk dan berlindung dari peluru yang berseliweran. Kami harus merangkak, bahkan terpaksa melangkahi mayat-mayat yang tergeletak.


Di tengah pelarian kami, aku sempat menoleh ke belakang. Memandangnya yang terus berpegangan kuat di ujung jaketku. Berpegangan tangan atau tidak, tak masalah bagiku. Selama dia tetap terus mengikuti langkahku, kan kujamin keselamatannya.


Kami berlari tanpa arah dan tujuan. Prioritasku saat ini hanya ingin membawanya ke tempat aman. Tiba-tiba Ameena tersungkur. Aku berjongkok hendak membantunya berdiri, tetapi dia lekas bangun dan duduk bersimpuh di atas pasir.


Ameena tertunduk lelah. Napasnya tertahan pendek-pendek. Aku membiarkannya istirahat sejenak. Lagipula sudah tak terdengar suara tembakan yang artinya pelarian kami sudah jauh dan aman.


Aku membungkuk, mengambil napas panjang. Bersamaan dengan itu, aku menyadari sesuatu. Buru-buru kupegang dadaku, kemudian meraba-raba seluruh leherku dengan perasaan panik yang menggerogoti. Kalung yang kupakai sudah tidak ada. Itu berarti cincin yang menggantung di sana juga menghilang.


"Cincinku!" bersitku panik.


Dia mengernyit sambil melontarkan kalimat. Aku yakin dia bertanya apa yang terjadi. Aku memperlihatkan gerakan tangan yang membentuk lingkaran di dalam jari manis. Tampaknya dia paham apa yang sedang kucari. Dia lantas berjongkok dan ikut mencari.


Aku berpindah-pindah tempat sambil terus meraba-raba tanah. Untuk orang yang baru merintis karir seperti diriku, butuh waktu lama menabung agar bisa membeli cincin berlian. Namun, ini bukan soal berapa harga cincin tersebut, dan butuh berapa lama aku membelinya. Pasalnya, itu adalah cincin limited edition yang pernah diimpikan kekasihku. Aku mengetahuinya saat kami sedang kencan di plaza kawasan Ginza.


Saat itu, aku melihatnya berdiri di depan etalase sambil mengagumi keindahan cincin tersebut. Selang beberapa bulan kemudian, aku datang kembali ke plaza tersebut untuk membelinya. Pemilik toko perhiasan itu mengatakan cincin tersebut hanya tersisa satu dan aku beruntung karena mendapatkannya.


Aku menggila. Mataku masih mengawasi setiap jejak kaki yang telah kulangkahi. Bahkan kembali kutapaki beratus-ratus meter jalan yang telah kami lewati. Dia terus mengekor sambil turut mencari. Ada sekitar satu jam waktu terbuang sia-sia hanya untuk mencari benda yang akan kuserahkan pada kekasihku.

__ADS_1


Pikiranku menjadi tidak rasional. Aku berniat kembali ke kamp pengungsian yang telah menjadi dataran pertempuran hanya untuk mencari cincin itu. Mungkin saja jatuh di sana. Saat hendak berdiri, tiba-tiba angin berembus kencang hingga menerbangkan pasir yang membuat mata kami perih. Mataku sontak tertutup. Kurasakan ekor kerudung panjangnya berkibar dan menutupi wajahku. Aku berusaha menghalau kerudungnya dengan tanganku.


Saat mataku mengerjap, pemandangan pertama yang kulihat adalah sebuah cincin tersangkut di ujung kerudungnya. Aku segera menarik cincin itu.


"Aku dapat!"


Dia menoleh cepat ke arahku. Kutunjukkan cincin itu padanya dengan wajah yang semringah.


Kami mengembuskan napas lega secara bersamaan sekaligus saling duduk berhadapan. Aku tertawa. Menertawakan reaksiku yang berlebihan beberapa menit lalu. Tak kusangka, tawa ini mengundang senyum lebar di bibirnya, hingga memperlihatkan giginya yang rapi dan bersih.


Aku tertegun sejenak. Senyum wanita itu memikat, hangat, hingga membuat jantungku berdegup-degup kacau-balau. Tidak, kurasa jantungku hanya kelelahan.


Tunggu, kenapa mata ini tak jenuh menatap wajahnya? Ah, mungkin sekadar menyukai keindahan wajahnya. Entah kenapa, hanya saling memandang seperti ini, sudah menciptakan momen kedekatan di antara kami. Saat mataku terus menatapnya, dia segera mengalihkan pandangannya.


Dia berdiri cepat. Matanya berkeliling ke segala penjuru. Melihat mimik wajahnya yang berubah, aku lantas berdiri sambil ikut mengedarkan pandangan. Mataku membeliak seketika. Di tempat kami berdiri saat ini tak ada objek apa pun yang terlihat selain hamparan gurun pasir yang begitu luas sejauh mata memandang.


Tanganku buru-buru merogoh saku, mengambil ponsel untuk melihat peta. Tidak terdeteksi dan tidak ada petunjuk apa pun. Bahkan jaringan di ponselku mati. Jejak kaki kami yang menjadi penanda pun menghilang seiring datangnya angin beberapa saat yang lalu. Bagaimana ini? Kami tersesat!



.


.

__ADS_1


.


jangan lupa like dan komeng, biar semangat bray


__ADS_2