
Seperti hujan yang bertemu bumi usai kemarau panjang, begitulah cara kami dipertemukan. Namun, ada kalanya pertemuan antara hujan dan bumi membawa halangan bagi sebagian orang.
.
.
.
"Mina-chan!" gumamku dengan suara yang nyaris tak terdengar.
Satu menit yang terlewati membuatku bagaikan patung. Hanya bisa melihat Khalila dan Ameena yang saling berpelukan erat, seolah tengah mengikis rindu di antara mereka. Entah ini yang disebut takdir atau mungkin hanya kebetulan yang berulang, tapi nyatanya aku dan dia kembali dipertemukan dalam tempat dan situasi yang tak terduga.
"Ummi, lihat siapa yang kubawa ke sini!" Khalila menunjuk ke arahku.
Ameena menoleh ke arahku. Kami sama-sama membeku ketika mataku dan matanya saling bertemu. Bolehkah aku merasa yakin kalau keterkejutan ini bukan hanya aku yang rasakan, tapi juga dia?
Pria berpeci putih itu lantas mendekati Ameena sambil bertutur, "Tuan muda ini yang menemukan Khalila kita dan mengantarnya ke sini. Tampaknya, dia pemuda baik-baik yang tidak memiliki tujuan apa pun."
Aku dan Ameena kembali saling melempar pandangan. Bahkan setelah hampir setahun berlalu, aku masih mengingat dengan jelas suara lembutnya, detail pahatan wajahnya hingga hangat senyumnya yang terurai. Ya, wanita di hadapanku saat ini benar-benar dia!
"Terima kasih telah menjaganya. Semoga Allah membalas kebaikanmu," ucap Ameena dengan nada datar.
Aku tak tahu harus berkata apa untuk membalas ucapan Ameena. Bibirku terkunci rapat. Pada akhirnya, aku hanya bisa menundukkan kepala sebagai rasa hormatku. Aku tak suka dengan keadaan ini. Kami menjadi asing satu sama lain.
Khalila kembali berkata pada Ameena, "Ummi, apakah kakak ini temanmu? Lihat, kakak itu berambut pirang, berkulit putih, bermata sipit dan memiliki hati yang baik seperti seorang teman yang sering Ummi ceritakan."
"Ssttt!" Ameena malah meletakkan jarinya. di bibir Khalila.
Aku bisa melihat jelas semburat merah hangat yang menyembul di pipi perempuan itu. Tunggu! Apa yang barusan Khalila katakan? Apakah selama ini Ameena bercerita tentang diriku pada Khalila?
Pria berpeci tadi lantas bertanya, "Apakah Anda mengenal pria ini? Saya menawarkan dia untuk menginap di sini agar bisa bertemu dengan tuan Ali, tapi dia menolaknya!"
"Aku setuju!" ucapku cepat, "jika kalian mengizinkan, aku akan tinggal sehari di sini."
Aku membungkuk penuh. Kultur budaya Jepang penuh dengan rasa sungkan untuk merepotkan orang lain, itulah kenapa aku menolak permintaan mereka. Namun sekarang aku memutuskan untuk menerima tawaran mereka untuk bermalam di sini. Keputusanku ini disambut riang oleh Khalila yang langsung berlari dan memelukku.
Pria berpeci itu ternganga. Pasti dia heran karena aku berubah pikiran. "Ah, jangan membungkuk di hadapanku. Bangunlah! Bangunlah!"
Pria berpeci itu memperkenalkan dirinya sebagai Ahmed. Dia menjadi salah satu pengurus di panti asuhan ini. Dia lalu mengajakku berkeliling sambil bercerita. Sepanjang kami berjalan santai, mataku malah sibuk berkeliling mencari keberadaan Ameena.
Ia menceritakan asal usul terbentuknya panti asuhan tersebut. Tempat ini ternyata menampung anak-anak yang kehilangan orangtuanya saat perang dan juga para pejuang yang menitipkan anaknya agar terurus dengan layak.
"Tempat ini terbangun dan terkelola dengan baik berkat kebaikan hati tuan Ali yang menjadi kepala sekaligus donatur utama yayasan ini," ungkap Ahmed.
"Tuan Ali?"
__ADS_1
"Ya, dia ayah dari ananda Khalila, anak yang kau selamatkan."
"Ayah?" Kali ini mataku membulat lebar. Jika pria bernama Ali adalah ayah Khalila dan Ameena adalah ibunya, bukankah artinya ....
"Ya, tuan Ali hanya memiliki satu orang anak dari mendiang istrinya."
"Lalu ... perempuan tadi, apakah dia istri tuan Ali juga?" tanyaku dengan penuh hati-hati. Entah kenapa, jantung seolah berdegup saat mengutarakan pertanyaan ini.
"Maksud Anda ... saudari Ameena? Ah, bukan ... bukan! Dia istri dari mendiang adik tuan Ali, almarhum Khair. Sebelum meninggal, Khair berpesan pada kakaknya dan para kawan seperjuangan untuk menjaga istrinya dan menjamin keselamatannya. Tuan Ali lalu membawanya ke sini untuk membantu mengurus panti asuhan. Khalila yang saat itu masih sangat kecil, sangat lekat dengannya dan menganggapnya sebagai ibu kandung," tutur pria itu.
Entah kenapa, penjelasan Ahmed sungguh membuatku lega. Seperti baru saja menemukan harapan baru.
"Oh, iya, sebenarnya ... kami sudah sering ingin menjodohkan mereka berdua. Mereka duda dan janda yang ditinggal pasangan masing-masing. Lebihnya lagi, adinda Khalila sangat menyayangi saudari Ameena dan tak ingin lepas darinya. Tapi, tampaknya ... tuan Ali masih mempertimbangkan itu. Kurasa karena Ameena adalah mantan istri dari mendiang adiknya."
Mendengar itu, aku hanya bisa diam dan tak tahu harus merespon apa.
Selepas berbincang-bincang dengan Ahmed, aku menghampiri Khalila yang sedang bermain dengan kawan-kawannya. Aku mengajaknya menepi hanya untuk menanyakan beberapa hal yang membuatku penasaran sedari tadi.
"Adik, tadi kau sempat mengatakan ibumu sering bercerita padamu tentang seorang teman laki-laki yang berambut pirang, bermata sipit dan berkulit putih sepertiku, kan?"
Khalila mengangguk cepat sambil tersenyum. "Makanya aku mengajakmu ke sini untuk bertemu ummi untuk memastikan apakah kau adalah teman yang ummi maksud."
"Bagaimana kau bisa menduga aku adalah orang yang dimaksud ibumu? Bukankah ada banyak pria asing di negara ini yang memiliki ciri-ciri seperti itu?" ucapku sambil mengusap punggung leherku sendiri.
"Karena Kakak Pirang adalah Hero (pahlawan). Kata ummi, temannya seperti pahlawan yang telah menyelamatkan hidupnya dan selalu menjadi pelindung. Begitu juga dengan Kakak Pirang, yang berhasil menyelamatkan dan melindungiku," jawab Khalila dengan mata berbinar.
Khalila mengangguk sambil melebarkan bibirnya. "Tapi jawabanmu bukan ummi."
"Itu karena ...." Aku tak melanjutkan perkataanku.
Sebenarnya, aku sendiri tak tahu harus menjawab apa. Setelah pertemuan terakhir itu, aku menganggap perkenalanku dengannya hanya semacam kisah selingan selama aku berada di negara. Aku senang mendengar kalau dia menganggap aku sebagai teman. Ini sesuai dengan permintaan terakhir yang kutulis di jendela bus.
Jika, semua yang dikatakan Khalila barusan membuatku berpikir, apakah pertemuan kali ini jawaban dari doa yang ia panjatkan pada Tuhannya? Bisakah aku mengatakan seperti itu?
Aku lalu meminta Khalila untuk menemaniku menemui Ameena. Kami menyusuri lorong-lorong kecil hingga menemukan pekarangan belakang yang luas. Dari jauh, aku aku bisa melihat Ameena berada di dapur bersama beberapa wanita lainnya. Tampaknya mereka tengah mempersiapkan makan malam.
"Sepertinya ibumu sedang sibuk. Aku tidak mau mengganggunya." Aku memutar badanku.
"Kakak Pirang, lihat, ummi sudah keluar!"
Aku berbalik cepat. Dari tempat persembunyian kami, aku bisa melihat Ameena berdiri di depan pohon tin yang belum berbuah sambil memandang langit.
"Kakak Pirang, ayo temui ummi!"
"Hah?" Aku terkesiap. Tiba-tiba saja tubuh gemetar. Bahkan sepasang kakiku tak bisa bergerak. Aku tidak pernah segugup ini!
__ADS_1
"Adik, aku hanya tamu di sini. Rasanya tidak sopan jika menghampiri ibumu. Begini saja, apa kau bisa membawakan beberapa lembar kertas untukku.
"Oke," ucapnya sambil berlari meninggalkanku.
Gadis kecil itu memasuki sebuah ruangan yang tak jauh dari tempat kami. Tak lama kemudian, dia datang dengan membawakan lembaran kertas catatan dan pulpen.
^^^Mina-chan, bagaimana kabarmu saat ini? Kelihatannya baik-baik saja, ya?^^^
^^^Khai^^^
Aku melipat surat tersebut hingga membentuk sebuah pesawat kertas yang kemudian kuterbangkan padanya. Angin malam yang sejuk membantu menerbangkan kertas itu hingga mendarat tepat di ujung sepatunya. Ameena mengambil pesawat kertas itu sambil menengok ke kiri dan kanan.
"Buka! Tolong dibuka!" bersitku sambil menangkup kedua tangan.
Dari tempat persembunyian kami, aku bisa melihat Ameena mulai membuka pesawat kertas itu lalu membaca isi pesannya. Sedetik kemudian, kepalanya kembali memutar ke kiri dan kanan. Aku yakin dia tengah mencari keberadaanku.
"Kakak Pirang, bagaimana ummi bisa membalas pesanmu kalau dia tidak memegang pena!"
"Betul juga! Ah, aku ada ide." Aku kembali menulis pesan di kertas yang baru.
Ameena mengambil pesawat kertas yang baru saja kuterbangkan ke arahnya. Kulihat dia langsung membukanya dan sedang membaca tulisan di kertas itu.
^^^Apakah kau masih mengenalku? Tolong berbalik jika jawabanmu adalah iya.^^^
^^^Khai^^^
Sama seperti tadi, kepalanya kembali berputar ke sana-kemari setelah membaca pesan dariku. Aku yang masih bersembunyi, tak bisa menahan senyum melihat wajah bingung dan penasarannya. Ya, hanya dengan melihatnya berbalik dan menoleh ke segala arah, sudah membuatku sesenang ini.
Aku kembali menulis sebuah kalimat di kertas kosong, lalu buru-buru melipatnya dan kembali menerbangkan pesawat kertas itu ke arahnya. Ah, aku terlalu bersemangat, sampai-sampai pesawat kertas itu melesat jauh darinya. Tak masalah, nyatanya ... Ameena mau berjalan beberapa meter hanya untuk mengambil pesawat kertas itu.
Aku menarik napas dalam-dalam saat dia mulai membuka kertas itu. Jantungku mendadak terpompa cepat dari biasanya seiring kulihat pesan berikutnya telah dibaca olehnya.
^^^Apakah kau merindukanku? Tolong berbalik jika jawabanmu adalah iya.^^^
^^^Khai^^^
Setelah membaca pesan itu, dia malah membatu. Ini berbeda dari sebelumnya di mana dia langsung berbalik sebagai jawaban atas balasan suratku. Meski begitu, mataku tetap mengawalnya bahkan tak mengerjap sedikit pun.
Khalila yang juga berdiri diam di sampingku, lantas bertanya, "Apa Kakak Pirang sedang berdoa?"
"Eh?" Bola mataku bergerak ke bawah melihat kedua tanganku yang menangkup tanpa sadar.
Di waktu yang sama, suara Ahmed yang datang dari arah belakang mengejutkan aku dan Khalila.
"Ternyata kalian di sini! Kami mencari kalian! Makan malam sudah siap. Mari ke ruang keluarga! Sebentar lagi tuan Ali akan tiba," ajaknya dengan penuh keramahan.
__ADS_1
"Terima kasih," ucapku. Sebelum beranjak, aku sempat menoleh ke belakang. Sayangnya, Ameena sudah tak ada di sana. Aku pun tak sempat mengetahui jawaban yang dia berikan untukku atas isi surat terakhir.