
Mobil itu berhenti sekitar satu meter dari tempatku berdiri. Aku bisa melihat dua pria duduk di depan, sedang satu pria duduk di bagian kabin yang terbuka. Melihat tampang dan penampilan mereka, sepertinya bukan berasal dari Suriah. Aku hanya bisa menebak mereka mungkin dari Turki, Libanon, Yordania, Irak atau entahlah. Yang jelas, mereka semua bukan seperti pengungsi, bukan seperti sipil bersenjata, bukan pula kelompok ekstremis apalagi tentara.
Sang pengemudi melongok keluar dari jendela mobil untuk melihatku, sementara dua pria lainnya turun menghampiriku.
Tanpa basa-basi, aku langsung berkata dengan bahasa Inggris yang mudah dipahami. "Dapatkah kalian menolong kami? Aku ...." Aku berpikir sejenak, kemudian kembali berkata, "kami tersesat. Kami ingin pulang ke Damaskus," ucapku seraya berbalik menatap jauh Ameera yang setia menunggu.
(Ket: Damaskus adalah ibu kota Suriah)
Mereka menatapku dari atas ke bawah, kemudian saling melirik. Salah satu dari mereka menjawab dengan bahasa Inggris yang lumayan bagus. "Kami tidak berani ke sana. Situasi di sana sedang kacau."
"Tolong kami, kumohon! Kami sudah memasuki dua hari berada di gurun ini. Bahkan kami telah kehabisan stok makanan dan minuman. Tempat tinggal kami berada di lokasi yang aman dari perang. Jangan khawatir! Saya akan membayar uang transpor-nya ketika sampai di sana." Aku memohon sambil membungkuk penuh.
Ketiga orang itu kembali saling berpandangan sambil berbicara dengan menggunakan bahasa mereka.
"Baiklah, kami akan mengantar kalian, tapi hanya bisa sampai keluar dari gurun ini."
"Tidak masalah. Terima kasih banyak." Aku membungkuk penuh dengan rasa bersyukur. Ya, tidak masalah jika mereka hanya membantu kami keluar dari kawasan pasir tanpa batas ini. Aku dan Ameena masih bisa pulang ke Damaskus dengan menaiki bus seperti saat kami mendatangi wilayah ini.
Aku menaiki mobil dan duduk di belakang supir. Aku meminta mereka untuk datang menjemput Ameena. Mobil pun berbelok menuju ke arahnya. Dari jendela kaca yang terbuka, aku melihat perempuan bersorban itu masih berdiri di tempat yang sama sambil memegang ranting. Saking tak sabar, aku mengeluarkan kepala dari jendela sambil melambai-lambaikan tangan ke arahnya. Layaknya jenderal yang baru saja pulang dari pertempuran dengan membawa kemenangan.
Mobil itu berhenti tepat di samping Ameena. Aku yang tak sabar, langsung membuka pintu seraya memintanya masuk. Entah kenapa, dia tampak meragu. Bahkan belum bergerak sedikit pun.
"Ayo, Mina-chan!" panggilku kembali dengan senyum yang lebar.
Ameena memandangiku. Cukup lama mata kami bersirobok hingga akhirnya kakinya melangkah menaiki mobil lalu duduk di sampingku. Untuk pertama kalinya, kami duduk bersebelahan dengan hanya menyisakan jarak beberapa senti.
"Perkenalkan namaku Ayano Kei."
"Kau orang Jepang?" tanya lelaki yang fasih berbahasa Inggris.
"Iya."
"Lalu, wanita ini?"
"My wife," jawabku singkat sambil menatap Ameena. Kuputuskan mengenalkan Ameena sebagai istriku atas berbagai pertimbangan. Salah satunya agar perempuan itu lebih aman. Apalagi dia satu-satunya wanita di antara kami para pria.
"Oh, begitu. Dia orang Suriah?"
Aku mengangguk.
"Aku sempat bertanya-tanya kenapa ada orang Jepang di sini. Ternyata karena kau menikahi gadis Suriah. Lalu, kenapa kalian tidak memutuskan mengungsi? Ada banyak pengusaha Suriah yang memutuskan pindah ke Eropa," Lelaki itu terkekeh.
__ADS_1
Ya, aku tahu ini. Minggu lalu aku sempat menulis berita tentang ratusan ribu warga Suriah yang melakukan eksodus¹ ke negara-negara Eropa. Alasannya karena menyeberang ke Eropa lebih muda dibanding ke negara Uni Emirat Arab yang juga harus melewati negara konflik lainnya seperti Irak, Libanon, dan Palestina.
"Sebenarnya kami tinggal di Jepang. Datang ke sini hanya untuk mengecek keluarganya di pengungsian tapi kami malah tersesat," ucapku sambil tertawa kecil.
Pria berewok yang fasih berbahasa Inggris itu menerjemahkan bahasaku kepada temannya. Aku menahan senyum melihat mereka tampak memercayai ucapanku. Ternyata aku berbakat juga untuk menjadi pengarang cerita.
Aku menoleh ke arah Ameena yang juga menatapku. Kurasa dia telah tahu apa yang kukatakan pada mereka. Itu bisa terlihat dari ekspresi berbeda yang tersirat di wajahnya. Aku yakin dia tak suka dengan kebohonganku tapi juga tak memiliki opsi untuk berkata jujur.
Ketika aku hendak mengambil ponsel di saku celana, ujung jari kami tak sengaja bersentuhan. Dia tersentak dan langsung memindahkan tangannya. Dia juga mengatur posisi duduknya menjadi merapat ke pintu hingga menyisakan jarak sejengkal di antara kami.
Aku mengetik sesuatu lalu memperlihatkan padanya. "Kita akan segera keluar dari tempat ini. bagaimana perasaanmu?"
"Aku tidak bisa menjawab," tulisnya balik.
"Kenapa?"
"Berhasil keluar dari sini atau tidak, aku tetap tidak punya tempat tujuan."
Aku tertegun membaca balasannya. Saat menatapnya, terlihat kembali ekspresinya yang datar dan dingin seperti awal aku membawanya ke markas.
"Kalau begitu, ikuti saja ke mana aku pergi. Asal kau percaya, aku siap melindungimu."
Dia membaca kalimatku lalu membalas tatapanku dengan wajah yang berubah menjadi sendu.
Aku mengangguk cepat mengiyakan. Dia langsung memberikan kami dua botol air. Salah satu teman mereka yang duduk di kabin juga memberi kami kebab dan sambosa. Rasanya sungguh senang karena mereka sangat baik dan ramah pada kami.
Aku melirik Ameena. Bibirku tersinggung tipis melihatnya membungkuk sambil makan dengan begitu lahap. Tampaknya dia menyadari aku menatapnya. Aku mengarahkan telunjuk ke sudut bibirku sendiri, sekadar memberitahu jika ada saus di bibirnya.
Dia mengusap bibirnya malu-malu, lalu kembali menggigit potongan roti di tangannya. Dia masih belum memberi jawaban atas ajakanku tadi. Hingga kini, aku merasa perhatian yang kuberikan padanya hanya bentuk dari rasa empati.
"Itadakimasu," bisikku.
(Selamat makan)
Karena perut ini sudah sangat keroncongan, aku segera melahap kebab dengan isian sayuran dan daging domba yang diiris tipis. Rasanya tidak buruk meskipun ini pertama kali kucoba. Sejujurnya, lidahku belum familiar dengan makanan Timur Tengah yang memiliki cita rasa kuat dan beraroma rempah yang menyengat.
Perjalanan telah berlangsung sekitar dua jam. Aku tidak tahu perlu berapa lama untuk keluar dari gurun ini. Saat kucoba menengok ke jendela. Pemandangan perbukitan pasir masih mendominasi. Sesekali terlihat pohon kurma yang belum berbuah.
Kutatap Ameena sekali lagi. Dia benar-benar tipe perempuan yang hanya akan berbicara jika perlu. Badannya kini menghadap jendela sambil mengeluarkan tangannya, seolah hendak merasakan sentuhan angin. Kain kerudungnya pun berkibar dan kembali menutupi wajahku.
Aku ikut merentangkan sebelah tanganku seperti yang dia lakukan. Kupejamkan mata sambil merasakan lembutnya angin yang membelaiku. Sungguh sejuk.
__ADS_1
Tak terasa waktu terus bergulir. Aku mengernyit seraya melihat waktu di jam tanganku. Sudah memasuki sore hari ternyata. Aku menoleh ke arah Ameena. Dia tengah tertidur dengan kepala yang bersandar di pintu mobil.
Tiba-tiba mobil berhenti. Sang supir beralasan hendak membuang air kecil. Aku mengangkat kedua tangan ke atas untuk merenggangkan tubuh. Ternyata berjalan kaki dan duduk seharian pun sama letihnya.
Pria yang fasih berbahasa Inggris itu berkata, "Ayo kita istirahat dulu!" ajaknya sambil membuka pintu mobil.
"Silakan. Aku menunggu di sini saja!"
"Ayolah, kita bisa bersantai sambil minum arak! Kami membawa arak dari Iran. Kau harus mencobanya! Bukankah orang Jepang terkenal peminum yang baik," lontarnya dengan penuh antusias.
Aku tak bisa menolak ajakannya. Di Jepang, jika menolak ajakan minum dianggap tidak meninggalkan kesan yang baik. Kutatap Ameena yang masih lelap. Mungkin baiknya aku tak mengganggu dan membiarkannya tetap di sini. Aku lalu turun dari mobil, bergabung dengan mereka yang lebih dulu bersantai.
Salah satu dari mereka memberiku sebotol anggur tradisional.
"Terima kasih."
Saat ujung botol tersebut menyentuh bibirku, aku tertegun sebentar. Ada yang mengganjal dalam hati ini. Entah kenapa, aku mencium aroma aneh di anggur tersebut. Seperti berbau obat. Jujur saja, aku belum pernah mencoba arak jenis ini. Jadi, aku tidak bisa memastikan apakah memang baunya seperti itu atau tidak.
Saat hendak meneguk anggur tersebut, tiba-tiba aku teringat Ameena yang tengah tertidur di dalam mobil. Tidak, aku tidak boleh gegabah. Anggur Timur Tengah terkenal dengan kadar alkohol yang tinggi. Jika aku mabuk, bagaimana aku bisa menjaga Ameena?
Ekor mataku mencoba mengintip ekspresi mereka. Ketiga orang di hadapanku itu seperti menanti aku untuk meneguk anggur ini. Aku menjauhkan botol arak itu dari mulutku sambil berpura-pura batuk. Sambil terus terbatuk-batuk, aku sengaja menaruh botol arak itu di tanah yang menggunduk. Karena tanahnya tidak rata, alhasil botol anggur itu terguling dan menumpahkan seluruh isinya.
Mereka terkejut. Sementara aku memasang wajah kelabakan sambil meminta maaf pada mereka. Aku mengambil kembali botol yang telah kosong seraya terus mengucapkan permintaan maaf.
"Tidak apa-apa. Arak itu kami berikan untukmu. Meski kami merasa menyesal kau tak sempat mencicipi."
Aku merasa lega karena mereka tak mempermasalahkan itu. Kami kembali bersantai. Aku menunduk sejenak. Di waktu yang sama, sebuah bayangan terlihat di permukaan pasir yang berada di hadapanku. Itu siluet tubuh manusia yang mendekat ke arahku sambil memegang kayu. Aku sontak berbalik tepat saat kayu itu dilayangkan ke arahku.
.
.
.
jejak kaki 🦶🦶
Eksodus: tindakan meninggalkan tempat tinggal asal oleh penduduk dalam skala besar-besaran.
__ADS_1
Jangan lupa like dan komeng