Sang Jurnalis

Sang Jurnalis
Part 41 : Aku dan Gadis Kecil part 2


__ADS_3

Aku lalu menggendongnya kemudian membawanya ikut bersama kami dengan menaiki motor. Dia duduk di antara himpitan aku dan So. Dengan motor tua, kami menyisir pinggiran kota Damaskus yang baru saja porak poranda akibat perang.


Suasana begitu sepi mencekam, di mana tak ada satupun lampu penerang jalan. Kiri kanan bangunan yang telah dihantam bom itu tak terlihat sama sekali. Hanya tercium aroma darah yang bercampur dengan angin malam. Kalau saja aku memakai kaus lengan pendek, mungkin bulu romaku akan berdiri tegak. Rasanya ingin meminjam pintu Doraemon agar bisa segera sampai ke tempat kami.


Di tengah perjalanan kami yang begitu hening, gadis kecil bernama Khalila itu justru mengulurkan tangannya ke samping dengan telapak tangan terbuka. Ini mengingatkanku pada Ameena yang juga pernah melakukan hal sama saat kami menaiki mobil para perampok di gurun pasir. Aku pun turut mengulurkan tanganku di belakang tangannya. Menikmati semilir angin yang menabrak telapak tanganku.


Begitu sampai di markas kami, dia langsung melahap habis makanan yang kami beli saat di perjalanan pulang. Kami memandangnya dengan perasaan sedih bercampur miris. Banyak anak-anak yang menjadi korban peperangan. Mereka terluntang-lantung karena kehilangan orangtua.


"Ayano, apakah anak ini akan terus tinggal bersama kita? Bukankah akan sedikit merepotkan untuk kita? Bagaimana kalau kita mengadakan liputan berhari-hari di luar kota? Apa kita akan meninggalkannya sendiri di sini? Atau ikut membawanya dalam tugas yang bahaya?"


Eiji mengemukakan rasa keberatannya dengan kehadiran Khalila di tengah-tengah kami. Aku mengerti, apa yang ia katakan ada benarnya. Aku pun sempat mempertimbangkan hal ini selama di perjalanan tadi.


"Jangan khawatir, besok aku akan membantunya mencari keluarganya," ucapku sambil memandang Khalila yang baru saja selesai makan, "Adik, kau bilang kau dan ibumu hanya datang ke sana untuk membagikan sembako pada warga, kan? Lalu, apa kau tahu tempat tinggalmu?"


Khalila mengangguk kecil. Aku lantas kembali bertanya, "Di mana tempat tinggalmu? Biar aku antar ke sana!"


Khalila hanya bergeming. Kurasa dia masih terlalu kecil untuk menghafal alamat rumahnya. Ia malah bersembunyi di belakangku saat Aoba mendekatinya.


"Jangan takut! Dia teman wanitaku yang tadi kucerita," bisikku.


"Cantik sekali, seperti boneka!" Aoba mencubit gemas pipinya, "kau tidur denganku malam ini, ya?"


Khalila memandangku dengan tatapan mengernyit. Aku tersenyum, lalu berjongkok di depannya.


"Dia bilang, malam ini kau tidur bersamanya," jelasku.


Khalila menggeleng dengan wajah penuh ketidaksetujuan.

__ADS_1


"Kenapa kau tidak mau?"


"Aku mau tidur dengan kakak Pirang!"


Aku membulatkan mata. "Apa kau yakin?"


Dia mengangguk cepat. Aku menatap So dengan raut pasrah. Seolah mengerti, So mengangguk mengiyakan. Aku dan gadis kecil itu berbagi ranjang bersama. Sementara So mengalah dengan tidur di lantai dan Eiji tidur di kamar Aoba.


Keesokan harinya, aku membawa Khalila ke tempat pengungsian warga yang daerahnya menjadi tempat peperangan kemarin. Kondisi penampungan ini sangat memprihatinkan dibanding tempat-tempat pengungsian yang pernah kukunjungi. Mereka belum mendapatkan bantuan apa pun, termasuk makanan dan minuman.


Aku bertanya pada satu per satu orang yang kutemui. "Apa kau mengenal anak ini? Maksudku ... apa kau mengenal orangtua anak ini?"


"Maaf, aku tak mengenal!" Ini adalah jawaban rata-rata dari mereka yang kutanya.


Setiap mengunjungi tenda, aku menghabiskan beberapa lembar uang karena para pengungsi itu memelas bantuan padaku. Aku yang tak membawa apa pun, hanya bisa memberikan uang yang ada di dompetku untuk mereka.


Setelah dua jam bermandi peluh menyisir tiap tenda pengungsian hanya untuk bertanya, aku dan Khalila memilih duduk beristirahat di bawah pohon yang kering. Aku meneguk air mineral untuk membasuh tenggorokanku yang kering. Sejenak, tatapanku mengarah pada Khalila yang terus menatapku. Aku lantas menyodorkan botol mineral padanya. Namun, dia menggelengkan kepala.


"Sudah ... sudah ... jangan lakukan itu untukku!" Aku memegang pergelangan tangannya.


Eiji mengirimkan pesan yang berisi posko penanggulangan anak hilang. Dia mengatakan aku bisa menitipkan Khalila ke sana, biar mereka yang nantinya akan mencarikan orangtuanya di sana.


Membaca pesan tersebut, aku pun bergegas membawa Khalila ke sana. Begitu tiba di posko itu, sang petugas bertanya-tanya padaku tentang di mana dan bagaimana aku menemukan gadis kecil ini. Setelah menjawab beberapa pertanyaan, pria itu mendekatkan wajahnya padaku seolah hendak membisikkan sesuatu.


"Begini ... kau tadi bilang, kau menemukan anak ini di lokasi perang kemarin, kan? Jika kau menitipkan dia di sini, ada kemungkinan dia akan dibawa tentara pemerintah dan ditampung di penjara khusus anak-anak," bisik pria itu dengan hati-hati.


"Kenapa begitu?" Aku bereaksi kaget.

__ADS_1


"Kau menemukan anak ini di lokasi yang diduduki para pemberontak. Pemerintah sedang gencar melakukan penangkapan masal para pemberontak termasuk anak istrinya. Jika kau memang ingin menitipkan anak ini di sini, tak masalah. Tapi, aku tak bisa menjamin bisa mengantarnya ke tempat orangtuanya."


Aku tergugu. Hatiku terkoyak mendengarnya. Kepalaku memutar ke arah Khalila yang tengah duduk mengayunkan dua kakinya sambil mengisap lolipop dengan tenang. Dia melempar senyum saat menyadari aku menatapnya. Aku lantas buru-buru membawanya pergi dari sana.


"Kakak Pirang kita mau ke mana lagi?"


Aku berhenti melangkah, lalu menatapnya dengan saksama. "Adik, apa kau tahu alamat rumahmu? Aku akan langsung mengantarmu pulang."


"Tempat tinggalku sangat jauh. Aku takut merepotkanmu," jawabnya dengan mata yang berkedip sayu.


Aku tertawa kecil, sambil mengusap kepalanya. "Lalu, apa kau ingin tinggal terus bersamaku? Apa kau tidak rindu orangtuamu?" tanyaku lagi.


"Aku rindu. Tapi, aku juga ingin kau bertemu dengan ibuku."


"Jika kau ingin aku bertemu ibumu, maka beritahu aku tempat tinggalmu. Kita akan pergi bersama-sama menemui orangtuamu."


Beberapa jam setelahnya, aku duduk di meja sambil menatap layar laptop bersama So, Eiji dan juga Aoba. Kami membaca informasi tentang desa kecil yang baru saja disebutkan Khalila.


"Ayano, apa kau serius hendak mengantarnya ke sana? Tempat ini cukup jauh dan dikuasai para pemberontak. Orangtua anak ini sudah pasti dari kubu pemberontak," ucap Aoba.


"Sudah kubilang, titipkan saja dia di posko itu! Kenapa kau tidak melakukannya?" protes Eiji.


"Aku setuju dengan apa yang dikatakan Aoba dan Eiji. Apa kau lupa dengan kejadian saat kau mengantar seorang wanita ke kamp pengungsian? Kami tak ingin kau mengalaminya lagi! Ingat, kau akan segera pulang ke Jepang."


"Selain itu, kita tidak pernah meliput di daerah itu karena tempat itu terisolir. Wartawan dan jurnalis pasti menjadi musuh besar bagi mereka. Bagaimana kalau mereka menjadikan kau tawanan pemerintah?" ujar Eiji sambil berkacak pinggang.


"Jangan khawatir! Kali ini aku berjanji akan pulang dengan selamat dan tepat waktu." Aku membungkuk penuh, seolah meminta restu dan dukungan dari mereka.

__ADS_1


Aoba, Eiji dan So saling berpandangan sambil menghela napas. Tampaknya, tak ada satu pun dari mereka yang mampu mematahkan pendirianku. Aku dan Khalila saling bertukar pandang dengan senyum yang terpatri di bibir kami.


.


__ADS_2