Sang Jurnalis

Sang Jurnalis
Part 56 : Melepaskan yang Belum Tergenggam


__ADS_3

Semua orang terkejut dengan keputusan tuan Ali yang hendak turun langsung ke medan perang. Satu per satu pria yang ada di tempat itu lantas ikut mengajukan diri masuk bergabung dengan pasukan. Mereka bersorak dengan penuh semangat sambil mendengungkan kalimat-kalimat pembakar semangat.


"Tuan, apa Anda serius ingin ikut bergabung ke dalam pasukan kita?" tanya Ahmed dengan guratan cemas yang melingkupi wajahnya.


"Iya, Ahmed. Mana mungkin aku berdiam diri di sini sementara kita kekurangan pasukan. Tolong jaga baik-baik anak-anak dan para saudari kita!"


"Ta-tapi, Tuan. Anda tidak pernah turun langsung dalam perang. Anda tidak punya pengalaman itu. Bagaimana bisa?" Suara Ahmed tercekat diikut dengan air mata yang berhamburan keluar.


"Apa kau sedang meremehkan keahlianku yang tersembunyi?" Tuan Ali malah tertawa seolah tak ada beban yang tengah dipikirkan.


"Tidak, Tuan. Kumohon jangan gegabah!"


Tuan Ali memeluk Ahmed berusaha menenangkannya. Tatapan pria itu kini terarah pada Ameena.


"Ameena, aku pergi dulu. Tolong jangan katakan apa pun pada Khalila tentang ini!"


Saat pria itu memutar badan, Ameena langsung berkata dengan nada yang terdengar sendu, "Tuan, tolong pulanglah dalam keadaan selamat! Khalila menunggu Anda."


Tuan Ali berbalik pelan kembali menatap Ameena yang menundukkan kepala. "Jika aku pulang, maukah kau menjadi ibunya Khalila?"


"Sudah sejak lama saya menganggap Khalila sebagai anak kandung. Anda jangan khawatir," balas Ameena sambil tetap menunduk.


Tuan Ali tertawa halus. "Maksudku, apa kau bersedia menikah denganku dan menjadi bagian dari aku dan juga Khalila?"


Dibanding Ameena, akulah orang pertama yang lebih dulu terkesiap. Tuan Ali tak sungkan melamar perempuan itu di hadapan kami semua. Lebihnya lagi, ini dilakukan saat situasi genting. Ameena yang sedari tadi menunduk, lantas menaikkan wajahnya dengan mimik yang tak kalah terkejut. Mata keduanya bertemu dalam satu pandangan. Meski begitu, bibir perempuan itu masih mengatup rapat.


"Saudari Ameena, terimalah lamaran, Tuan! Paling tidak, itu akan menjadi penyemangatnya." Seorang wanita yang berdiri di sampingnya berbisik padanya. Beberapa orang yang berdiri di belakang turut mendesaknya.


Ameena masih bergeming. Namun, sepertinya diamnya perempuan itu dianggap sebagai sebuah persetujuan sehingga wajah tuan Ali terlihat berseri-seri.

__ADS_1


"Katakan, mahar apa yang kau inginkan?" tanya Tuan Ali sebagai bukti bahwa dia benar-benar serius.


Diam. Ameena masih menyimpan suaranya. Selain pelit mengeluarkan kata-kata, dia juga dikenal dengan wanita tanpa ekspresi. Air mukanya tak menggambarkan apa pun sehingga aku tak bisa menebak isi hati dan pikirannya saat ini.


"Katakanlah, apa yang kau inginkan?" ulang tuan Ali.


"Hanya keselamatan Anda, Tuan!"


Semua orang menoleh ke arahku. Ya, kata-kata itu meluncur dari mulutku, bukan dari Ameena.


"Untuk menikahinya, tentu Anda harus selamat terlebih dahulu," ucapku sambil memandang tegas tuan Ali.


Posisiku saat ini berdiri di antara mereka berdua, di mana tuan Ali berada di depanku sementara aku membelakangi Ameena.


"Kau benar!" balas tuan Ali dengan sunggingan senyum tipis di bibirnya.


"Tuan, jika boleh aku menyarankan, jangan melawan mereka. Bersembunyilah sementara waktu, lalu ajak mereka berdiplomasi untuk mencapai kesepakatan," pintaku pada tuan Ali.


"Aku seorang jurnalis! Aku netral dan tidak berpihak di kubu mana pun! Jika kalian bersedia, aku bisa memfasilitasi kalian bersuara di media! Aku juga bekerja untuk media Reuters, itu kantor berita terbesar saat ini," sanggahku pada pria itu. Aku kembali menoleh pada tuan Ali, "Tuan, jika kau mau, kau bisa menjadi narasumberku. Anda adalah tokoh yang dikenal dan disegani masyarakat di wilayah ini. Anda bisa memberi pernyataan di media massa yang mewakili kubu anti pemerintah."


"Jangan dengarkan dia, Tuan! Dia mendekati kita hanya untuk merayumu agar bergabung dengan rezim laknat ini," ucap lelaki tua itu.


"Yang kalian lawan itu saudara kalian juga!" teriakku tak kalah sengit, "para tentara itu adalah saudara kalian! Aku yakin, jauh di lubuk hati, mereka juga tak ingin menodongkan senjata pada saudara sebangsanya. Ketahuilah, perang saudara itu lebih memilukan dibanding berperang melawan negara lain. Akhiri semua ini dan buatlah kesepakatan!" Aku berusaha membuka pikiran mereka, meski kutahu itu sulit.


"Apa kau sedang menghasut kami untuk mengkhianati para teman seperjuangan kami yang telah gugur karena rezim laknat itu? Mereka telah melanggar perjanjian liberated zone, bagaimana mungkin kami masih bersedia bernegosiasi dengan mereka? Apa kau tahu, adik tuan Ali tewas dieksekusi tanpa peradilan?! Telah banyak darah kawan-kawan kami yang bertumpah di negara ini dan sekarang tanah kita akan dirampas dan diduduki, bagaimana mungkin kau meminta kami untuk tak melawan!" sahutnya lagi. Kali ini, diiringi seruan orang-orang yang berada di belakangnya."


(liberated zone: daerah yang dikuasai pemberontak)


"Jika kita tak mengakhiri perang, maka kitalah yang akan diakhiri oleh perang," ucapku dengan suara serak yang melemah. Aku tidak tahu dengan cara apa lagi menyadarkan mereka jika berperang bukanlah sebuah solusi.

__ADS_1


"Anda mendekati tuan Ali dan memintanya menjadi narasumber. Ah, aku tahu, kau memanfaatkan beliau dan kami semua demi pekerjaanmu, kan? Pers zaman sekarang memang tidak tahu malu! Menggunakan segala cara untuk mendapatkan berita!" Tak hanya menuduhnya, kini pria tua itu juga menghina profesiku.


"Cukup!" Tuan Ali memotong perdebatan sengit di antara kami. Dia menghampiriku sambil memandangku dengan wajah penuh dilema.


"Saudaraku, terima kasih atas saranmu. Tapi, maaf ...." Tuan Ali menepuk pundakku sambil mengulas senyum khasnya.


Ketika ia hendak beranjak, aku lantas berbisik dengan suara nyaris hilang, "Ameena telah kehilangan suaminya. Jangan biarkan dia kehilangan Anda sebagai calon suaminya!"


Saat mengatakan itu, suaraku bergetar. Mataku pun terasa berembun. Mulut dan hatiku serasa tak sinkron. Namun, bukan saatnya untuk memikirkan masalah hati. Mungkin, ini juga yang dirasakan tuan Ali saat memutuskan berperang setelah melamar Ameena. Mengesampingkan urusan pribadinya lebih dulu, demi melindungi banyak orang. Keadaan menuntut kami untuk melepaskan ego.


Tuan Ali membeku. Cukup lama. Sebelum akhirnya dia menoleh pada Ameena yang berdiri di belakangku.


"Aku akan membawakan kemenanganku sebagai mahar pernikahan kita," ucapnya optimis.


Aku memandang punggung tuan Ali dengan mata yang terkulai lemah. Kenapa mereka memilih berperang? Padahal perang tidak menguntungkan pihak mana pun. Saat menjadi pasukan bela-diri Jepang, aku selalu menanamkan prinsip bahwa tentara berperang bukan karena membenci musuh, melainkan untuk menghentikan tindakan musuh. Setelah beralih profesi menjadi jurnalis perang, aku berusaha menunjukkan ke publik bentuk kekejaman dari perang melalui siaran, tulisan dan foto yang kuabadikan.


Seluruh pria dewasa di yayasan ini telah pergi, kecuali aku dan Ahmed. Para wanita dan anak-anak membubarkan diri saat mendengar rentetan senjata. Sebagian masuk ke rumah ibadah untuk berdoa. Kini, hanya aku dan Ameena yang tertinggal di halaman itu. Desing peluru yang terus bersahut-sahutan seolah menjadi pengiring di saat tak ada yang bersuara di antara kami.


Mina-chan, bagaimana caranya agar aku bisa melepaskan perasaanku padamu?


.


.


.


Catatan author ✍️✍️


Fyi, di Indonesia pernah ada wawancara eksklusif paling fenomenal. Yaitu wawancara dengan seorang pemberontak Timor Leste yaitu mayor Alfredo (mantan komandan polisi militer di TL). Dikatakan fenomenal karena saat itu mayor Alfredo ini buronan pemerintah Timor Leste dan Australia, terus sebelum melakukan wawancara Alfredo meminta bung Andi dan semua kru kick Andy yang terlibat untuk melakukan sumpah pocong agar tidak membocorkan keberadaannya. Waktu dan tempatnya dirahasiakan dan ditentukan sendiri oleh Alfredo ini. Dan kesepakatannya tayangan itu hanya boleh disiarkan setelah pria itu pergi dengan aman. Oh, iya, Alfredo ini terkenal lihai dan sangat licin dalam melakukan penyamaran. Tapi sayangnya beliau udah tewas setahun setelah wawancara ini.

__ADS_1


Apakah pihak kick Andy dituntut karena ikut menyembunyikan buronan? Tentu saja tidak, karena Pers dan media punya hak untuk melindungi narasumber mereka. Begitu juga dengan wawancara Osama bin Laden yang pernah dijuluki sebagai orang paling berbahaya di dunia.


Jangan lupa like dan komen


__ADS_2