Sang Jurnalis

Sang Jurnalis
Part 22 : Lewat Sebuah Tulisan


__ADS_3

"Ah ... ah ... hssss ...."


"Jangan terlalu berisik. Akan ada yang mendengar kita ...."


"Kalau begitu ... bungkam aku dengan bibirmu ...."


Suara peraduan dua manusia menembus telingaku. Aku menoleh ke belakang, tepatnya tenda kecil yang berada di sebelah tendaku. Dapat kulihat jelas siluet tubuh pria dan wanita yang tengah bergerak liar seirama.


Itu adalah Eiji dan Aoba. Aku menyebut mereka pasangan kekasih yang hiper. Mereka dapat melakukan sekss kapan saja dan di mana pun mereka mau. Bisa ditebak, ini bukan pertama kalinya aku mendengar aktivitas intim keduanya.


Suara erangan itu kini beriringan dengan suara dengkuran So yang berasal dari tendaku. Aku yang berada di luar tenda hanya bisa berdecak sambil kembali fokus ke laptopku untuk mengetik artikel yang akan diterbitkan besok. Inilah yang membuatku menolak ajakan Yuna untuk bersama malam ini. Aku merasa perlu menyelesaikan pekerjaanku dan membuat blog pribadi. Tak heran jika teman-teman menyebutku workaholic. Bahkan alkohol dan sekss tak mampu membuatku berpaling dari pekerjaan.


"Aku sudah hampir mencapai ...."


"Tu–tunggu aku ... sedikit lagi ...."


"Aku su–sudah ti–tidak tahan ...."


Sialan! Mereka malah kembali menyumbang polusi suara!


Aku menghela napas sambil mengistirahatkan laptopku sejenak, kemudian berdiri sembari merenggangkan kedua tangan. Karena sudah sangat larut, suasana menjadi begitu hening. Hanya ada beberapa tentara PBB yang berjaga-jaga di sejumlah titik.


Situasi yang begitu tenang ini, membuatku tertarik berjalan-jalan ke sekitar tempat. Tak lupa kusematkan kartu pengenal agar tak dicurigai sebagai penyusup.


Di bawah sana terdapat kamp pengungsian yang berdekatan dengan tenda para medis tempat Yuna menginap. Mungkin saat ini Yuna telah terlelap. Sebab, sejam lalu dia telah mengirimkan ucapan selamat tidur sebagai penutup obrolan chat kami.


Mataku melihat jauh ke sebuah tenda bantuan kemanusiaan. Aku memicing saat melihat aktivitas mencurigakan di belakang tenda itu, di mana seorang pengungsi perempuan diarahkan ke sana bergantian dengan perempuan lain yang baru saja keluar. Instingku sebagai seorang jurnalis pun membawa langkah kakiku untuk menuju ke sana.


Masih memantau sambil berjalan dengan penuh kehati-hatian, tak lama kemudian aku melihat seorang wanita berkerudung berlari keluar dari tenda sambil membawa sesuatu yang disembunyikan di balik kerudung panjangnya. Wanita itu berlari cepat ke arahku saat petugas dari bantuan kemanusiaan mengejarnya. Karena terus menengok ke belakang, ia malah menabrakku hingga membuat kami sama-sama jatuh terduduk.


Dia buru-buru memungut barang-barang bantuan yang sempat terjatuh, di antaranya ada popok, makanan dan susu balita. Sementara aku mengambil kartu tanda pengenal jurnalisku yang jatuh yang tertulis jelas seorang jurnalis dari J-news TV. Melihat kartu itu, wanita yang sempat panik itu lantas berbicara padaku dengan menggunakan bahasa Arab. Nada bicaranya sungguh cepat, bercampur panik dan ketakutan. Bahkan aku bisa melihat tangannya gemetar dan ada genangan air yang siap mengalir di matanya.

__ADS_1


"Aku tidak mengerti!" ucapku menggeleng.


Sungguh, aku tak mengerti apa yang dia katakan, tapi aku bisa tahu kalau itu sangat penting. Dia terus berbicara sambil menunjuk ke tenda kecil yang sempat kucurigai.


"Begini saja, bagaimana kalau ...." Aku merogoh saku jaket, bermaksud mengambil ponselku agar dia bisa mengetik kata-kata yang nantinya akan kuterjemahkan langsung, seperti caraku dan Ameena berkomunikasi. Sialnya, aku malah meninggalkan ponselku di tenda.


"Hei, kau!" Terdengar suara petugas dari tenda tersebut yang sontak membuat wanita itu ketakutan dan bersembunyi di belakangku.


Dua petugas bertampang bule itu menyorot wajahku dengan senter. "Siapa kau? Kenapa kau melindungi pencuri ini?" tanya mereka dengan sangar.


"Aku jurnalis dari J-news TV."


Dua petugas itu tersentak saat mengetahui aku seorang jurnalis.


"Bukankah wanita ini bagian dari pengungsi? Kurasa tidak masalah jika dia mengambil bantuan itu. Mungkin caranya yang salah tapi kurasa dia sedang terdesak," ucapku membela wanita itu.


Dua petugas itu saling melirik, seolah tengah menyembunyikan hal yang tak boleh diketahui. Tanpa berkata apa-apa, mereka langsung berbalik pergi dan kembali ke tenda mereka.


Keesokan harinya, aku membuat janji bertemu dengan kenalanku yang juga berprofesi sebagai jurnalistik. Dia bernama Kamal Malek, seorang wartawan dari stasiun televisi Al Jazeera. Ia berasal dari Mesir tapi ditugaskan di negara ini untuk memburu berita. Dia adalah wartawan asing pertama yang akrab denganku. Perawakannya tinggi besar dan memiliki bulu rambut tipis yang tumbuh di dagu dan sekitar wajah. Usianya yang lebih tua dariku, tentu membuatnya memiliki lebih banyak pengalaman di dunia jurnalistik.


"Hei, Ayano akhirnya aku bisa melihatmu lagi. Aku hampir tak bisa makan dan minum saat tahu kau menghilang di kamp pengungsian itu. Aku sungguh menyesal, merekomendasikan tempat itu untukmu," ucapnya penuh rasa bersalah.


Ya, kamp yang kudatangi bersama Ameena memang atas rekomendasinya saat aku meneleponnya. Tapi, dia juga tak salah. Siapa yang tahu kedatangan kami ke sana bertepatan saat dimulainya penyerangan di daerah itu.


Aku lalu menggeleng. "Kau tidak perlu merasa bersalah. Sekarang, kau bisa lihat sendiri ... aku baik-baik saja."


"Apa yang terjadi denganmu selama empat hari itu?"


"Sudahlah, tak perlu dibahas lagi. Aku datang ke sini untuk meminta tolong padamu. Itu pun kalau kau punya kesediaan waktu."


"Apa itu? Jangan sungkan, katakan saja!"

__ADS_1


Aku berdiri tegap, lalu membungkuk penuh. "Tolong ajarkan aku bahasa Arab!"


Mata Kamal Malek terbuka lebar tanda dia terkejut dengan permintaanku. "Kau ingin mempelajari bahasa Arab?" tanyanya seolah butuh konfirmasi lagi.


"Ya, khususnya bahasa Arab yang dipakai di negara ini," balasku. Bahasa Arab Suriah dan Mesir kurang lebih sama. Ya, tak banyak yang tahu jika dua negara itu pernah menjadi wilayah dalam satu negara bersama yaitu Republik Persatuan Arab.


"Ta-tapi ... untuk apa? Kau menguasai bahasa Inggris dengan sangat baik. Jangan bilang ... kau berkenalan dengan gadis di negara ini dan ingin lancar berkomunikasi dengannya."


"Ah, tentu saja tidak!" elakku cepat, "Ini untuk memudahkan aku bergaul dengan masyarakat di negara ini. Aku ingin membuat banyak artikel dengan sudut pandang masyarakat negara ini. Jadi, aku butuh berkomunikasi dengan mereka," jelasku.


Aku tak bisa menampik, motivasi mempelajari bahasa Arab muncul setelah bertemu Ameena. Hingga saat ini, hati kecilku masih berharap bisa bertemu dengannya lagi meskipun hanya untuk saling menyapa.


Kamal Malek menghela napas. "Itu tak masalah. Tapi aku tidak bisa mengajarimu seperti guru bahasa. Aku hanya bisa mengajarkan kosakata yang akan sering kau gunakan sehari-hari."


"Terima kasih banyak, Tuan Kamal." Aku membungkuk sekali lagi.


"Sudah kubilang, jangan membungkuk di hadapanku," ketusnya sambil menyuruhku kembali tegap.


Aku dan Kamal Malek membuat kesepakatan bertemu dua kali dalam seminggu untuk pembelajaran bahasa Arab. Aku pun telah membeli kamus bahasa Arab sebagai bukti keseriusanku mempelajarinya.


Beberapa hari berlalu begitu cepat. Memotret langit menjadi hobi baruku. Di mana pun aku berpijak, asalkan terdapat langit cerah dengan awan putih di atas sana pasti akan aku abadikan dalam kamera.


Seminggu sejak pembuatan blog pribadiku, tak kusangka tulisan pertamaku yang berjudul "Keindahan Langit yang Selalu Dirindukan" menjadi populer dengan begitu cepat dan telah dibagikan ribuan kali oleh pembaca. Tulisan itu mendapatkan banyak komentar dari berbagai belahan dunia. Kebanyakan dari mereka menanggapi foto bocah yang kuselipkan dalam artikel tesebut dengan kalimat empati. Kata Aoba, foto itu pertama kali viral berkat ada yang mengunggahnya di media sosial Twitter, sehingga para penggunanya berbondong-bondong mencari blog pribadiku.


Aku membaca satu per satu komentar yang masuk. Dari ratusan yang masuk, kursorku berhenti di salah satu komentar menarik perhatianku. Mungkin karena menjadi satu-satunya komentar yang menggunakan bahasa Arab. Karena tidak bisa membaca tulisan Arab, aku pun mencoba menerjemahkan komentarnya ke mesin penerjemah otomatis.


"Aku menyukai tulisanmu. orang-orang mungkin merasa miris setelah membacanya, tapi ini tulisan terindah yang pernah kubaca. Terima kasih telah memotret bocah perempuan itu dan menjadikannya terkenal mewakili anak-anak korban perang lainnya. Omong-omong, bolehkah aku memiliki foto anak ini darimu? Aku akan sangat senang jika kau membalas komentarku." Itulah isi komentarnya.


Aku sedikit mengernyit. Tunggu, bagaimana dia bisa tahu bocah ini berjenis kelamin perempuan? Aku sampai harus mengamati foto bocah itu karena sebelumnya kupikir dia berjenis kelamin laki-laki.


Aku lalu membalas komentarnya. "Tentu saja. Silakan ambil tanpa mencantumkan namaku, asal tidak untuk disalahgunakan."

__ADS_1


Foto profilnya yang menggunakan gambar sunset di Padang pasir, membuat jari ini tergerak untuk membuka profil akun tersebut. Tak banyak informasi yang tertulis di biodatanya. Namun setidaknya, aku tahu jika dia adalah seorang penulis lepas wanita berkewarganegaraan Suriah.


__ADS_2