
Kami masih menoleh ke segala arah. Tidak, jangan bilang perjalanan menyisir gurun ini sudah terlalu jauh! Tak ada dari kami yang menyadari pencarian cincin yang memakan waktu hampir sejam itu, berakhir tersesat seperti ini. Kulihat wajahnya yang bingung melihat arah. Aku lalu membuka fitur kompas di ponselku.
"North (Utara), west (barat), south (selatan) and east (timur)," jelasku sambil menunjuk ke berbagai arah sesuai petunjuk kompas ponselku, "apa kau tahu kita harus ke mana?" tanyaku.
Dia menggeleng pelan. Negara yang menjadi jantung Timur Tengah ini, memang memiliki gurun pasir yang terbesar keenam di dunia. Sepengetahuanku yang telah mempelajari geografis negara ini sebelum berangkat, gurun ini tak hanya membentang di negara suriah, tapi juga sebagian dari timur laut Yordania, Utara Arab Saudi, dan bagian barat Irak. Gurun ini juga menyatu dengan gurun Arab. Bayangkan, betapa luasnya yang harus kami telusuri jika benar-benar tersesat dan hanya berjalan kaki.
Dengan mencoba mengingat-ingat, aku pun berkata, "Kalau tidak salah, kita tadi dari sana! Ayo kita jalan ke sana!" ajakku sambil berjalan lebih dulu dengan penuh semangat walau sebenarnya sudah sangat lelah.
"Khai ...."
Langkahku terhenti saat dia memanggil. Aku berbalik pelan, menatapnya yang hanya diam terpaku. Dari jarak dua meter, dia menatapku lamat-lamat, sambil berkata dalam bahasa Arab. Aku tak mengerti sepatah kata apa pun. Setiap kata yang dilontarkan begitu pelan, lambat dan seperti bermakna.
Aku pun menyerahkan ponsel dan memintanya menuliskan apa yang hendak dikatakan ke dalam aplikasi kamus terjemahan, agar bisa langsung diartikan ke dalam bahasaku.
Dia mengetik cepat lalu memperlihatkan padaku. Aku langsung membacanya.
"Khai, terima kasih atas kebaikanmu hari ini. Kau telah menyelamatkan aku lalu mengantarku ke kamp pengungsian. Kau juga berhasil membawaku keluar dari lembah berdarah itu. Kurasa cukup sampai di sini kebaikan yang kau tabur untukku. Ayo kita berpisah dengan melanjutkan perjalanan sendiri-sendiri. Tidak baik jika kita terus berduaan seperti ini. Semoga Allah membalas kebaikanmu dan kau senantiasa dalam lindungan-Nya."
Aku menatapnya dalam hening. Lalu kuketik sebuah kalimat tanya yang langsung diterjemahkan ke bahasanya.
"Kau ingin kita berpisah di sini?"
Dia mengangguk setelah membacanya. Aku kembali mengetik sesuatu lalu menunjukkan padanya lagi. "Lalu, kau akan ke mana?"
Dia mengambil ponselku untuk menjawab pertanyaanku. "Aku tidak tahu. Yang pasti kau tidak perlu menemaniku lagi. Pulang dan kembalilah pada teman-temanmu!"
Membaca jawabannya, aku buru-buru membalas. "Aku akan pulang dan kembali ke teman-temanku dengan membawamu ikut bersamaku."
"Tidak bisa. Aku perempuan dan kau laki-laki. Kita berbeda. Kau orang asing. Ini kawasan rawan untukmu. Kudengar banyak kelompok ekstrimis yang berlalu-lalang di gurun ini. Jika mereka melihatmu berduaan denganku di sini, kau akan jadi tawanan mereka dan keselamatanmu akan terancam."
"Maka kau harus memastikan keselamatanku dengan ikut bersama keluar dari gurun ini dan kembali ke teman-temanku," ketikku kembali.
Dia memandangku dengan tatapan nanar. Aku tahu, tatapannya itu mengandung ketidaksetujuan. Aku lantas kembali mengetik di ponselku.
__ADS_1
"Kau juga tidak bisa menjamin keselamatanku jika kita memutuskan berpisah di sini. Bagaimana bisa kau tahu, aku kembali atau tidak ke tempat teman-temanku jika kau tak ikut bersamaku? Aku tak bisa membiarkan kau sendiri di tempat ini. Biarkan kita tetap bersama seperti awal. Selamat atau pun tidak, mari kita hadapi bersama!"
Dia kembali memandangku selesai membaca. Dalam keheningan kami, aku bisa mendengar nyanyian lembut angin yang bergesekan dengan butiran pasir. Tanpa berkata apa pun, dia melangkah melewati aku yang mematung.
Aku tersenyum tipis dan segera mengekornya. Aku memerhatikan cara berjalannya yang tampak pincang. Sejak kapan dia seperti itu? Mungkinkah saat terjatuh tadi? Ataukah pengaruh luka di kakinya yang belum sembuh? Aku tak memerhatikan karena terlanjur kalut dengan hilangnya cincin kekasihku.
Kulangkahkan kaki ini dengan santai agar tetap bisa berada di belakangnya, tak beriringan atau pun mendahuluinya. Semakin terus berjalan, semakin terasa asing tempat ini. Aku khawatir kalau kami semakin tersesat. Ah, tidak apa-apa. Asal yakin, semua pasti akan baik-baik saja.
Panasnya gurun ini sudah tak semenyengat tadi. Mungkin karena sudah memasuki sore hari. Dia berhenti melangkah lalu duduk di gundukan tanah yang berdebu.
"Ada apa? Apa kau mau istirahat?" Aku menurunkan ranselku lalu mengambil sebotol air mineral yang kubeli di terminal tadi. "Apa kau mau minum?" Kutawarkan itu padanya.
Aku mengernyit heran melihat tingkahnya saat ini. Dia menempelkan telapak tangannya di permukaan batu yang besar. Tak hanya itu, dia melakukan gerakan-gerakan aneh seakan sedang mencuci tangan dan muka.
Aku bersandar di batu yang sama sambil meneguk air untuk menghilangkan dahaga ini. Pertama kalinya dalam hidupku, aku merasa air mineral sangat nikmat melebihi meneguk anggur putih.
Aku menoleh ke arahnya. Kali ini dia melakukan gerakan-gerakan yang sama saat berada di rumah ibadah beberapa jam lalu.
Sambil menunggunya, aku mendongak ke atas melihat matahari yang sebentar lagi akan meninggalkan kaki langit.
(kirei dalam bahasa jepang: indah)
Mataku melirik ke samping. Kulihat dia turut memandang ke langit dengan senyum yang mengembang di bibirnya. Pandanganku malah tertancap pada sepasang matanya yang begitu hidup dan bercahaya. Seolah-olah keindahan sunset telah berpindah padanya.
Saat dia menoleh ke arahku, aku segera memalingkan pandangan agar dia tak risi. Aku kembali memeriksa ranselku. Ada sebungkus roti gandum yang juga kubeli sebelum menaiki bus. Aku menyodorkan roti itu padanya.
"Ambillah! Kau harus mengisi perutmu."
Dia mengambil roti itu, lalu merobeknya di bagian tengah. Menyisakan sebagiannya untukku. Kami menguyah roti itu sembari kembali menatap langit, seolah hendak mengawal kepergian sang surya.
Entah kenapa mataku tiba-tiba terasa berat. Hampir tertutup. Mungkin karena terlalu lelah. Ah, aku sungguh tidak tahan. Benar-benar mengantuk.
"Khai! Khai!"
__ADS_1
Dalam lelap, kurasakan ujung kayu menusuk-nusuk lembut pahaku. Aku mengerjapkan mata perlahan. Kulihat Ameena yang memegang ranting kering tengah memandang cemas ke arahku. Aku malah tersenyum lembut di antara kesadaran yang belum penuh.
"Khai!" Ameena mengarahkan ranting kering itu ke samping, seolah hendak menunjukkan sesuatu.
Aku menoleh mengikuti gerakan tangannya.
Mataku mendadak terbelalak diikuti mulut yang menjerit kaget. Pasalnya, Seekor ular dengan sisik yang warnanya hampir menyerupai pasir mendekat ke arahku.
Tak ayal, aku segera bangun dan berpindah tempat dengan mimik ketakutan yang terpancar jelas di wajah. Namun, melihat Ameena yang tampak lebih tenang, aku langsung berlagak berani di depannya. Bahkan merampas ranting kayu di tangannya.
Aku berjalan perlahan, mendekati ular gurun yang dikenal mematikan. Kupegang erat-erat ranting di tanganku dengan napas tertahan. Aku tersentak mundur ketika ular itu melebarkan rusuknya menyerupai sendok, seakan siap mematukku.
"Mina-chan, ja-jangan takut! Jangan khawatir! Jangan panik!" ucapku padanya yang sebenarnya untuk menenangkan diriku sendiri, "ikuti aku dan dengarkan aba-abaku. Niscaya kita pasti selamat, oke?"
Ameena yang berada di belakangku, hanya bisa mengangguk-anggukkan kepala.
"One ...." Kaki kananku mulai maju ke depan, "two ...." Kuangkat tinggi-tinggi kayu yang kupegang. "Three ....." Kaki kiriku memutar ke belakang diikuti tubuh yang berbalik, kubuang kayu yang ada di tanganku sambil berteriak, "lariiiiiii ...."
Aku lari pontang-panting. Sejujurnya, aku sangat takut dengan ular. Silakan menyuruhku menghadapi lima preman sekaligus, atau mematahkan jari-jari Yakuza. Sungguh, aku bisa melakukannya. Namun, berhadapan dengan hewan predator seperti itu, ini yang pertama kali untukku.
Aku pun tersadar jika Ameena tertinggal jauh di belakangku. Aku berbalik, kembali menghampiri Ameena yang hanya bisa berjalan.
"Maaf, aku tidak bermaksud meninggalkanmu. Aku hanya sedang berusaha mencari cara agar ular itu ...." Penjelasanku yang memakai bahasa Jepang terhenti, begitu melihat dia menutup mulutnya karena menahan tawa.
Aku termangu. Kurasakan wajahku memerah menahan malu. Bibirku tertutup rapat. Tanganku sibuk menggaruk-garuk kepala.
.
.
.
credit foto: google
__ADS_1
mohon dukungan like komeng ya gays, like juga 4 chapter awal. makasih sebelumnya.