Sang Jurnalis

Sang Jurnalis
Part 79 : Hati yang Terkunci


__ADS_3

Setelah kepulanganku dari London, aku kembali ke Tokyo dan fokus menjadi jurnalis hukum dan politik. Belajar dari konflik Suriah dan negara-negara Timur Tengah, membuatku tertarik menjadi jurnalis hukum dan politik agar dapat selalu mengkritisi kebijakan pemerintah yang merugikan rakyat. Tentunya seorang jurnalis harus tetap bersikap netral tanpa membawa kepentingan siapapun.


Selama beberapa tahun ini, aku sudah terbiasa meremang dalam kesepian. Belum ada wanita yang membuatku tertarik. Aplikasi kencan buta maupun dunia hiburan malam yang memanjakan lelaki pun tak pernah kusentuh. Aku benar-benar mendedikasikan waktuku hanya untuk bekerja.


Program wicara yang kupandu semakin populer dan diterima baik masyarakat. Sebab, acara tersebut selalu mengangkat isu dan fenomena yang sedang hangat dengan melakukan riset mendalam terlebih dahulu. Telah banyak tokoh penting, politikus hingga pejabat negara yang hadir secara eksklusif untuk menjadi narasumber acaraku. Bahkan sekelas perdana menteri pun pernah duduk berhadapan denganku disaksikan seluruh masyarakat yang menonton. Dengan pertanyaan yang bersifat tegas, kritis, menusuk, tajam, penuh sindiran, dan sedikit provokatif, tak jarang membuat para tokoh politik dan pejabat yang kuwawancarai diam tak berkutik hingga tak sengaja membongkar kedok mereka sendiri di hadapan seluruh penonton yang melihatnya.


Program ini bahkan berhasil menyabet penghargaan nasional. Aku pun masuk ke dalam daftar tokoh muda berpengaruh di Asia. Berkat kesuksesanku membawa program tersebut, pengikut di akun Twitter dan instagramku semakin banyak hingga julukan influencer ikut tersemat padaku. Di balik kesuksesanku, ada risiko yang harus kuhadapi ketika memilih menjadi penyambung lidah rakyat. Pengancaman, teror, pencekalan hingga penyerangan diam-diam kerap kualami. Namun semua itu tak mematahkan nyaliku untuk terus menelanjangi para politikus dan pejabat busuk.


Beberapa bulan terakhir, majalah dan tabloid ternama mengulas profil pribadiku. Ini membuat latar belakang keluargaku terekspos. Kini orang-orang mengetahui aku anak tunggal dari profesor Ayano Kaneshiro. Ayah dan ibu tentu saja bangga dengan pencapaian karirku. Meski begitu, tuntutan untuk segera berkeluarga muncul seiring usiaku akan segera menginjak tiga puluh dua tahun.


Ibu mulai khawatir karena aku belum juga memiliki kekasih. Beberapa pejabat pun tak sungkan memperkenalkan anak perempuan mereka padaku. Bahkan ada yang terang-terangan langsung menemui ayahku hanya untuk mengatur perjodohan. Sayangnya, hingga kini hatiku masih mengunci diri dari siapapun. Aku masih enggan menjajal cinta yang lain dan mencicipi rasa yang berbalut asa.


***


Saat ini, aku sedang melakukan riset untuk isu yang akan kuangkat dalam program acaraku. Sebulan yang lalu, aku mendapat pesan misterius yang dikirimkan di akun instagramku. Pesan itu menuliskan tentang kasus suap besar yang berada dalam salah satu kementerian yang dipimpin oleh tuan Sakurai. Dari hasil pengumpulan informasi yang kudapatkan sementara waktu, ada keterlibatan besar tuan Sakurai pada kasus ini.


"Kau ingin mewawancarai tuan Sakurai?" tanya pimpinan direksi yang sekarang.


"Ya ...."


Pimpinan redaksi mengelus dagunya sembari mengembuskan napas kasar. "Kurasa ini tidak akan mudah untukmu. Tuan Sakurai terkenal pelit berbicara di hadapan media."


"Saya akan berusaha semaksimal mungkin," ucapku.


Setelah keluar dari ruang pimpinan redaksi, aku dan So bersiap menemui tuan Sakurai di kantornya. Sudah setahun So menjadi pendampingku dalam menelusuri fakta-fakta di lapangan.


"Hei, Ayano, bukankah tuan Sakurai itu ayah dari mantan kekasihmu? Aku masih mengingat persis saat Aoba bercerita tentang kau dan dia. Hubungan kalian baik-baik saja setelah itu, kan? Jika tidak, dia pasti akan menyulitkan kita hari ini!" So tampak gusar.


Aku hanya terdiam. Aku sendiri terakhir bertemu dengan tuan Sakurai di Suriah sekitar tujuh tahun lalu saat Yuna sedang kritis. Tahun lalu, dia dilantik sebagai salah satu menteri dalam kabinet pemerintahan saat ini. Dan sekarang, kami akan kembali dipertemukan dengan status yang berbeda.


Begitu tiba di sana, aku dan So langsung menunjukkan kartu identitas kami.


"Saya Ayano Kei dari J-news TV ingin mewawancarai tuan Sakurai. Beliau telah menyepakatinya tiga hari yang lalu."


"Tunggu sebentar, saya akan bertanya pada tuan Sakurai terlebih dahulu." Pria itu masuk ke ruangan pimpinannya, kemudian berselang lima menit dia kembali menemui kami. "Maaf, tapi tuan Sakurai saat ini sedang enggan diwawancarai karena sedang sibuk. Silakan kembali membuat janji!"

__ADS_1


So yang tak terima lantas berkata, "Tapi kami sudah ...."


Kalimat yang diucapkan So tak berlanjut saat aku menaikkan sebelah tanganku untuk memintanya diam.


Sambil tersenyum, aku berkata pada pria itu, "Oh, kalau begitu, tolong sampaikan padanya ..." Aku menarik secarik kertas dari saku jas lalu memberikan pada pria tersebut, "ini adalah potongan artikel yang akan rilis besok pagi di koran dan website kami. Silakan konfirmasi pada kami jika artikel yang kami tulis tak sesuai sebelum ini diterbitkan." Setelah berkata, aku langsung berbalik pergi.


So yang tampak kebingungan lantas mengejarku sambil bertanya, "Apa kita akan datang ke sini lagi besok?"


"Tidak perlu."


"Eh?


"Dalam hitungan sepuluh detik, Dia akan memanggil kita," ucapku penuh percaya diri sembari terus melangkah.


Aku pun mulai menghitung dalam hati. Satu. Dua. Tiga. Empat. Lima. Enam. Tujuh. Dela .....


"Tunggu!"


Suara pria tadi kembali menggaung seiring kami berhenti tepat di depan pintu lift. Aku tersenyum miring, lalu memutar badanku dengan perlahan.


"Tuan Sakurai mempersilakan Anda untuk masuk dan mewawancarainya sekarang!"


"Sakurai-san, ada rumor yang mengatakan Anda menerima suap sebagai imbalan bantuan untuk beberapa perusahaan konstruksi. Bagaimana Anda menanggapi rumor tersebut?"


"Ada kesalahpahaman di sini. Yang menerima suap adalah sekretaris saya. Sekarang dia telah dibebastugaskan untuk berhadapan langsung dengan hukum," jawab tuan Sakurai menampik tuduhan.


"Apa Anda yakin itu tidak dilakukan atas perintah Anda?"


"Tentu! Saya tak tahu-menahu dengan yang dia lakukan selama ini."


Untuk sesaat, dia menjawab dengan begitu tenang.


"Kapan kira-kira Anda mengetahui keterlibatan sekretaris Anda?"


"Baru-baru ini."

__ADS_1


"Benarkah baru-baru ini?"


"Ya, benar. Ketika jaksa memberi surat penahanan pada yang bersangkutan, di situ saya baru mengetahuinya."


"Maaf, jawaban Anda sedikit berbeda dengan informasi yang telah kami kumpulkan. Isu ini mulai berhembus sekitar tiga Minggu yang lalu dan salah satu perwakilan dari wartawan kami sempat menanyakan hal itu langsung pada Anda. Benarkah Anda baru mengetahui yang dilakukan sekretaris Anda sendiri?"


"Ya, tiga Minggu yang lalu itu termasuk baru bagi saya." Ekspresinya masih tenang dan tak ada keraguan dari nada ucapannya.


"Tapi Anda barusan mengatakan mengetahui keterlibatan sekretaris Anda saat terjadi penahanan yang dilakukan oleh kejaksaan. Bukankah itu baru lima hari yang lalu?"


"Ya ... itu ... karena awalnya saya berpikir mana mungkin dia melakukan hal tersebut." Nada bicara pria itu mulai melambat dan posisi duduknya pun sedikit berubah.


"Bukankah sebagai seorang menteri Anda harus bertanggung jawab secara tidak langsung?"


Tanya-jawab terus berlangsung dan semakin memanas. Aku sengaja memberikan pertanyaan-pertanyaan yang bersifat provokatif untuk memancingnya. Namun, ia masih bisa mengendalikan emosinya.


"Tuan Sakurai, Anda tadi menuturkan bahwa semua staf sedang dalam penyelidikan Anda. Bolehkah saya berasumsi Anda akan mengumumkan hasil investigasi Anda pada khalayak. Saya ingin melihat informasi yang jujur dirilis secara transparan," tantangku sebagai penutup pertanyaan.


"Tentu saja!" jawabnya dengan yakin.


Kami mengakhiri sesi wawancara ini. So telah mematikan kameranya, sementara aku membereskan barang bawaanku. Sebelum pamit, kami mengucapkan terima kasih pada tuan Sakurai yang telah memberi waktunya untuk melakukan wawancara. Ketika aku dan So hendak keluar dari ruangan itu, tuan Sakurai tiba-tiba bersuara.


"Kudengar tahun lalu kau menempuh pendidikan hukum di London. Kalau cuma bekerja di perusahaan media, seharusnya tak perlu menimba pendidikan ke luar negeri."


Celetukannya ini sudah jelas mengarah padaku.


"Sayang sekali, anak dari profesor yang disegani hanya bisa menjadi seorang jurnalis. Andaikan kau masih anggota pasukan bela diri Jepang, pasti sekarang pangkatmu sudah setara Yoshizawa atau bahkan bisa lebih tinggi darinya," tuturnya kembali dengan nada yang sedikit mengejek.


Aku berbalik, dengan mata yang mengerjap lembut dan bibir yang tersungging senyum tipis, aku memandangnya.


"Pertama, Anda pasti punya banyak waktu luang sampai bisa mencari tahu seluk beluk jurnalis yang akan mewawancarai Anda. Kedua, profesi jurnalis adalah profesi membanggakan. Saya pikir pejabat besar seperti Anda tak mungkin mau diwawancarai secara eksklusif oleh orang biasa, bukan?" balasku dengan sudut bibir yang terangkat ke samping.


Kami bertukar pandang dengan tatapan tajam, seolah tengah saling melempar peluru. Setelah bertahun-tahun berlalu, dia pasti menyadari aku bukan lagi Kei Ayano yang dulu.


__ADS_1


Alurnya sudah hampir memasuki era Kei di NN ya. Terima kasih untuk pembaca yg sudah berbaik hati mendukung karya ini, memberi vote dan gift, menonton iklan serta memberi komentar positif. Gak nyangka banget bisa ngembangin cerita ini sampai di bab 79, padahal tadinya maju mundur mau rilis kisah Kei di sini.


Saya Aotian Yu, mencintai kalian semua ❤️


__ADS_2