
Setelah pertemuan tak terduga itu, aku dan Ameena kembali berpisah. Aku pulang ke Damaskus sedangkan dia entah ke mana. Satu yang kuyakini, kami masih berada di bawah langit yang sama. Langit negeri Syam ....
.
.
.
Aku menyandarkan kepala di jendela kaca bus yang membawaku dalam perjalanan pulang ke Damaskus. Tanganku terulur keluar jendela dan mataku terus memandang langit.
Aku saat ini masih termenung, bergulat dengan perasaan tak terdefinisikan. Perasaan yang timbul seperti ketika baru keluar dari gedung bioskop setelah menamatkan sebuah film. Film yang bagus akan membawa rasa hampa dan kosong setelah menontonnya. Ada rasa kehilangan, tak rela berakhir hingga ingin mengulang adegan per adegan dari awal. Itulah yang kurasakan sekarang.
Wajah teduh nan lembut itu masih terngiang di benakku. Setiap satu detik momen yang kami hadapi bersama tadi malam, terlalu membekas kuat di benakku. Sayangnya, kami lebih banyak melewatkan waktu dengan berlari dan menyelamatkan diri. Ketika berada di atas pohon pun, kami hanya duduk dan lebih banyak diam seolah kata-kata ikut membeku dalam dinginnya udara malam.
"Mina-chan, kimi ni aitai!" ucapku setelah kami cukup lama tenggelam dalam keheningan.
(Kimi ni aitai \= aku merindukanmu)
Dia menoleh, hanya menatapku tanpa ekspresi.
Aku mengunci tatapannya, lalu kembali berkata, "Zutto aitakatta yo!"
(Aku benar-benar ingin bertemu denganmu loh)
Entah dia mengerti atau tidak, yang pasti hanya kata-kata itu yang sanggup kuucapkan padanya saat berada di atas pohon. Kata-kata yang tulus keluar dari hatiku.
__ADS_1
Ya, tak banyak yang bisa dikomunikasikan dengannya karena lagi-lagi kami terkendala di bahasa. Belum banyak bahasa arab yang dapat kukuasai dan sepertinya dia pun hanya mengetahui beberapa kata dalam bahasa Jepang. Aku juga tak sempat menunjukkan foto-foto keindahan langit Suriah yang kuambil di beberapa lokasi.
Satu hal yang layak kusyukuri, kami dipertemukan kembali. Pertemuan singkat ini, lebih dari cukup bagiku. Yang pasti ada kelegaan melihat keadaannya yang lebih baik dari saat pertama kali bertemu denganku. Aku pun harus realistis untuk tak berharap apa pun setelah ini. Kamisama telah mengabulkan keinginanku untuk bertemu dengannya. Terlalu serakah rasanya jika masih meminta doa yang sama untuk kedua kalinya.
(kamisama: Tuhan/Dewa)
Ameena mungkin hanya bagian dari sub bab perjalananku di negara ini. Aku tak tahu ke depannya, hal menarik apa lagi yang akan dipertemukan denganku. Namun, jika kami masih dipertemukan kembali, semoga itu adalah jawaban dari doa yang ia panjatkan pada Tuhannya.
Kuulangi sekali lagi, jika kami masih dipertemukan kembali, semoga itu adalah jawaban dari doa yang ia panjatkan pada Tuhannya.
Aku mengecek ponselku. Sejak semalaman penuh, tak ada satu pun email yang masuk dari Zaheera. Padahal biasanya dia rutin mengirim pesan setiap malam. Aku pun tak sempat menghubunginya semalam karena tengah bersama Ameena hingga menjelang fajar. Aku berinisiatif mengabarinya lebih dulu dan mengatakan jika kami telah mengumpulkan bukti lengkap. Satu jam kemudian, masih belum ada balasan darinya. Mungkin saja dia sibuk.
Aku menggunakan waktu senggang di perjalanan ini untuk membaca dan melafalkan kosakata bahasa Arab. Sedangkan So masih terus tertidur dengan menyandarkan kepalanya di lenganku.
Selang beberapa jam kemudian, Zaheera baru membalas emailku. Dengan tak sabar, aku segara membuka pesannya.
"Tidak masalah. Kawanku yang seorang jurnalis telah berhasil mendapatkan bukti itu langsung dari kamp bantuan internasional. Mungkin beberapa hari lagi berita itu akan terangkat ke publik," balasku.
"Apakah kawanmu yang seorang jurnalis itu datang bersama jurnalis lainnya? Maksudku ... apa saat temanmu mengambil bukti itu, dia bersama jurnalis lainnya?" balas Zaheera.
"Aku kurang tahu. Tapi jika seperti itu, bukankah lebih bagus. Semakin banyak jurnalis yang mengekspos berita ini, maka semakin bagus," balasku kembali.
Aku mengernyit bingung. Kenapa dia malah mencari tahu hal yang tak penting seperti ini. Entah kenapa, aku tiba-tiba berpikir jika Zaheera dan Ameena adalah orang yang sama. Mengingat, kami mendadak bertemu di lokasi dekat kamp bantuan internasional. Kehadiran Ameena juga bertepatan dengan kedatangan Zaheera di kamp pengungsian.
Ah, ini terlalu konyol! Kurasa aku terlalu berharap untuk tak hilang kontak dengan Ameena. Mereka jelas orang yang berbeda. Walau hanya mengenal lewat tulisan tangannya, tapi aku bisa menebak kalau Zaheera adalah sosok terpelajar, berjiwa sosial tinggi dan pandai mengutarakan pendapat. Itu bisa dilihat dari salah satu artikelnya yang sempat kubaca di blog pribadinya. Dia juga berani untuk mengekspos hal-hal dan informasi yang tersembunyi selama ini. Hubunganku dan dia pun hanya sebatas kerja sama untuk mengungkap pelecehan yang terjadi di seluruh kamp pengungsian.
__ADS_1
Sementara, Ameena terlalu lembut untuk melakukan semua itu. Ameena yang kukenal adalah gadis pendiam dan feminin yang sangat berhati-hati dalam berucap. Meski aku sendiri belum tahu latar belakangnya yang sebenarnya. Mengenai tujuannya datang ke tempat itu, aku bisa memaklumi jika dia enggan memberitahuku. Termasuk tentang tempat tinggalnya saat ini. Sebagai orang yang merupakan bagian dari kelompok pemberontak, tentu dia tak boleh sembarang membocorkan informasi apa pun padaku yang notabene adalah seorang jurnalis.
Perjalanan panjang yang memakan waktu sehari ini akhirnya berakhir juga. Menginjakkan kaki di kota Damaskus, seseorang yang pertama ingin kutemui adalah Yuna. Jujur, kehadiran Ameena membuatku lupa sedang berkecamuk dengan ketidakpastian hubungan yang kujalani bersama Yuna. Pembicaraanku dengan Yoshizawa waktu itu, sedikit memengaruhi pikiranku. Hingga kini, aku belum bisa memutuskan untuk memperjuangkannya ataukah melepaskannya bersama pria lain.
Begitu turun dari bus, aku langsung menuju ke asrama para dokter lintas batas. Kulihat Yuna buru-buru keluar dari gedung dengan senyum hangat seperti biasanya.
"Ini untukmu. Ini hasil kerajinan tangan para pengungsi yang mereka jual di sana."
"Arigatou. Bagaimana keadaanmu? Kau menghabiskan suplemen yang kuberikan, kan?"
Aku mengangguk. "Jangan khawatir! Aku sudah pulih total."
Pandanganku sontak tertuju pada jari manis Yuna. Tepatnya pada karet yang sempat kulilitkan di jarinya sebelum aku pergi. Ternyata dia masih belum membukanya. Ini membuat hatiku terenyuh sekaligus pedih di waktu yang sama.
"Kenapa kau masih memasang ini?" tanyaku sambil mengambil tangannya.
"Karena ini pemberianmu. Maka aku harus menjaganya. Bagiku ini seperti cincin yang mengikat hubungan kita."
Aku tersenyum miris seraya membuka karet yang melingkar tangannya dengan perlahan. Terlihat karet tersebut meninggalkan tanda lilitan yang memerah di jarinya. Lilitan karet dan bekas tanda di jarinya itu seperti mengibaratkan hubungan kami saat ini.
"Yuna-chan, lepaskan ikatan ini jika hanya menyakitimu," ucapku serak sambil menatapnya dengan tak berdaya, "pasti sulit bagimu selama ini ...."
Yuna menarik tangannya saat karet itu hampir keluar dari jari manisnya. Dia malah memandangku lekat-lekat.
"Kau kenapa?" tanyanya. Tampaknya Yuna menyadari sesuatu yang berbeda dari diriku.
__ADS_1
Aku menarik napas sesaat, lalu berkata, "Yuna-chan, mari kita berbicara!"