
"Buku apa ini?" tanyaku ketika dia menyodorkan buku yang tulisan depannya mirip dengan buku pemberian Ameena.
"Tafsiran kitab suci agama kami."
Alisku nyaris bersatu. Kitab suci? Jadi inikah yang Ameena berikan padaku?
Tanganku tak bergerak. Aku ragu mengambil buku itu.
"Aku tidak bisa membaca tulisan dalam bahasa arab."
"Tenang, ini ada terjemahannya dalam bahasa Jepang. Tapi kau hanya boleh membacanya di sini. Jika ada yang membuatmu bingung, tanyakan saja padaku," kata pria itu.
Aku masih mematung. Sejujurnya, ini tak sesuai ekspektasiku. Selama ini, aku begitu penasaran dengan isi buku pemberian Ameena. Aku pun senang mendapatkan buku serupa. Namun, mengetahui itu adalah sebuah kitab suci, minatku rontok seketika. Ini karena aku tidak tertarik mempelajari agama manapun. Aku tak mengerti mengapa Ameena memberikan buku itu di saat aku meminta satu kenang-kenangan darinya.
Saat aku hendak mengambil buku itu untuk mengintip isinya, ponselku mendadak berderu. Rupanya telepon itu berasal dari redaksi tempatku bekerja. Ia memintaku segera ke sana.
"Aku akan datang kembali nanti," ucapku pada pria tua berpeci putih sambil menyimpan kembali gawaiku dalam saku celana.
Karena itu sebuah kitab suci, aku tak berani meminjamnya untuk dibawa pulang. Apalagi sebelumnya aku kurang bisa menjaga pemberian Ameena.
Tepat ketika aku hendak melangkah keluar dari rumah ibadah tersebut, pria itu berkata, "Datanglah kembali jika hatimu telah terketuk!"
Aku mengangguk, kemudian memberi salam pada pria itu sebelum pamit. Kulangkahkan kaki ini dengan pelan menuju motorku. Sinar terang yang begitu terik langsung menghantam wajahku. Sebelum memakai helm, aku menoleh kembali ke bangunan megah itu kemudian mendongakkan kepala.
Mina-chan, apakah langit di tempatmu secerah langit di tempatku saat ini? Aku masih senantiasa merapalkan doa untukmu ....
Ini sudah tahun keempat. Usiaku telah menginjak tiga puluh tahun. Aku baru saja menyelesaikan pendidikan magister sesuai permintaan ayahku waktu itu. Namun, hingga kini aku masih merindukan helaan napas wanita bermata biru itu. Selama itu juga, tanda tanya besar selalu menyertaiku. Siapa sangka, teka-teki tentang buku pemberian Ameena telah terjawab. Bukankah tak menutup kemungkinan suatu saat nanti akan terkuak keberadaan Ameena?
***
__ADS_1
Aku kembali ke kantor untuk berdiskusi dengan timku. Kantor media tempatku bekerja kini semakin besar dan berkembang ke media digital. Tak hanya bisa dijangkau masyarakat Tokyo, tapi juga seluruh Jepang.
"Ayano-san, tolong share ke akun twitter-mu berita yang baru kurilis."
"Baiklah," ucapku sambil menghempaskan tubuhku di atas kursi depan meja kerjaku.
Setiap hari, ada banyak permintaan seperti ini dari rekan sejawatku. Ini karena pengikut di akun twitter-ku naik drastis setelah beberapa penulusuran investigasi yang kutulis viral di dunia Maya. Negara ini memiliki jumlah pembaca surat kabar terbesar di dunia, wajar jika namaku melejit dengan cepat.
Berita yang membuat aku mulai dilirik sebagai seorang jurnalis investigasi adalah saat aku membongkar vonis hakim yang keliru terkait kasus pembunuhan. Tak hanya di Jepang, aku juga berhasil mengungkap kasus perdagangan manusia di Kamboja yang berasal dari warga negara Vietnam, Thailand, Hongkong, Indonesia, dan India. Bahkan, berita yang kumuat itu sampai menjadi bahan rujukan media lain untuk membuat berita.
Aku menjadi terkenal ketika merekam aktivitas ilegal dengan kamera tersembunyi di sejumlah titik yang dikuasai Yakuza dan bandar narkoba, kemudian mengunggahnya ke YouTube. Berkat itu, aku mendapat penghargaan dari kepolisian Tokyo Metropolitan sehingga namaku semakin populer di publik.
Penghargaan tak hanya dari dalam negeri, tapi juga luar negeri. Aku mendapat penghargaan dari SOPA awards sebagai jurnalis muda terbaik dan meraih YGL award di Swiss yang diberikan untuk profesional muda di seluruh dunia. Semua itu kuraih karena keberhasilanku mengungkap kasus-kasus kemanusiaan dan pelanggaran HAM.
(SOPA: Society of Publishers in Asia.
YGL : young global leader)
Kawan-kawanku berkumpul dan mengucapkan selamat padaku.
"Ini semua berkat kalian semua," ucapku malu-malu.
"Ah, jangan merendah. Kau bekerja sendiri selama ini," ucap seseorang yang duduk di sampingku.
"Kau memang hebat! Bahkan Conan Edogawa hingga kini belum bisa menguak Black Organization, tapi di dunia nyata kau bisa memecahkannya!" seru kawanku.
Pimpinan redaksi mendadak memanggilku. Aku langsung masuk ke ruangannya. Wajah pria paruh baya itu terlihat suram. Ia memandangku sambil menghela napas.
"Kita telah dituntut!"
__ADS_1
"Eh?"
"Beberapa pejabat yang kau tulis terlibat kerja sama antara Yakuza dan bandar narkoba menuntut kita karena telah mencemarkan nama baik mereka."
"Kenapa begitu? Bukankah polisi mengakui adanya keterlibatan pihak-pihak dari pemerintah dan akan menelusurinya?"
"Polisi telah merilis pernyataan resmi bahwa informasi yang kita berikan keliru. Itulah yang membuat mereka kini menyerang balik kita."
Aku tergugu. "Bagaimana bisa seperti itu?"
"Entahlah ... ini pasti upaya untuk membungkam media kita. Kau tahu sendiri kan kebebasan pers di negara ini sangat rendah."
Ya, sebagai negara pemegang ekonomi terbesar ketiga di dunia, negara kami berada di peringkat kebebasan pers terendah. Ada tradisi, kepentingan ekonomi, dan tekanan politik yang menghalangi kerja para jurnalis untuk menjalankan peran dalam menuntut transparansi pemerintah. Politisi dan pemerintah mampu membuat media tunduk pada ancaman pengucilan.
Aku lantas membungkuk penuh di hadapan pimpinan redaksi. "Tolong maafkan saya! Ini semua karena saya tetap memaksa untuk merilis pemberitaan itu meski telah ada ancaman pencabutan izin media kita," ucapku dengan penuh penyesalan.
"Tidak! Akulah yang mengizinkan kau melakukannya. Jangan khawatir, tetaplah pada keyakinanmu! Jangan pernah merasa bersalah mengungkap kebenaran karena itulah yang mereka inginkan darimu!" tegas pimpinan redaksi.
Kami akhirnya masuk ke pengadilan. Sidang demi sidang telah dijalani. Tak ada satu pun media yang meliput kasus ini. Pimpinanku pun meminta kami tak merilis kasus tuntutan ini ke publik. Aku ingin meminta bantuan pamanku, tapi tiba-tiba aku berpikir apa bedanya aku dengan mereka yang menggunakan relasi kekuasaan.
Selama sidang bergulir secara tertutup, banyak pengusaha yang menarik iklan mereka dari surat kabar kami. Ini membuat pendapatan perusahaan menurun drastis. Sebab, iklan adalah sumber utama penghasilan perusahaan.
Naas harus berhadapan dengan kami saat keputusan pengadilan mengabulkan hasil tuntutan beberapa pejabat terkait. Aku tak mengerti mengapa kami bisa sampai kalah dan harus membayar uang tuntutan yang fantastis. Aku pun mulai menyadari ada pihak yang menginginkan perusahaan pers ini bangkrut.
Di apartemenku, aku membuka buku tabungan sisipan gaji yang kusimpan selama empat tahun. Totalnya sudah lumayan banyak walau masih jauh dari targetku. Tujuanku mengumpulkan uang ini untuk menebus Ameena, tapi kesulitan keuangan yang dialami perusahaan pers tempatku bekerja, membuatku ingin memberi bantuan pada mereka. Apalagi kasus hukum yang perusahaan hadapi akibat dari muatan tulisanku. Haruskah aku menyampingkan tujuanku atas uang ini demi menyelamatkan perusahaan yang telah membesarkan namaku?
.
.
__ADS_1
.