
Kami kembali ke markas yang berdekatan dengan Kedubes Jepang. Kami meletakkan wanita itu di atas ranjang tempat tidur Aoba. Dia masih tak sadarkan diri. Aku meminta mereka mengambil perawatan medis yang kami miliki, lalu mulai melakukan pengobatan terhadap luka bakar di kaki dan bekas tusukan benda tajam di lengannya.
"Wah, Ayano-san, tidak kusangka kau bisa menangani hal semacam ini!" ucap Aoba sambil melihatku melilit luka dengan perban.
"Dulunya aku Pasukan Bela-diri, hal semacam ini harus kami kuasai untuk menjaga diri. Selain itu ... pacarku seorang dokter. Dia sedang kuliah untuk mengambil spesialis bedah." Saat membicarakan kekasihku, bibir ini terus menyunggingkan senyum.
"Hebat! Pacarmu yang waktu itu datang mengantar ke bandara, kan?" tanya So.
Aku mengangguk tanpa suara. Membicarakan tentangnya, hanya membuatku semakin merindukannya.
Aoba menyenggol lenganku dengan sengaja. "Kudengar dia anak panglima angkatan darat bela-diri. Pantas saja sebelumnya kau menjadi anggota Pasukan Bela-diri Jepang."
"Itu berarti kalian sudah lama berpacaran, ya?" tanya So sambil memajukan wajahnya ke wajahku.
"Sejak kami sekolah menengah atas," jawabku singkat.
Rekan-rekanku berdecak kagum mengetahui hubungan yang kujalani dengannya sudah menginjak delapan tahun. Mereka lalu keluar dari kamar hingga menyisakan aku dan wanita itu. Setelah selesai mengobati lukanya, kuputuskan juga untuk segera keluar dari kamar itu. Namun, baru saja hendak membuka pintu, aku malah mendengar rekan-rekan kerjaku bergosip tentang diriku.
"Eh, eh, kalian tahu, Ayano-san ditugaskan di negara ini atas pesanan dari panglima angkatan darat." Suara Aoba yang terdengar berbisik-bisik itu menembus telingaku dan melunturkan senyumku seketika.
Kudengar So melempar pertanyaan dengan nada tak percaya. "Maksudmu ... ayah dari kekasihnya sendiri yang meminta kepada pimpinan kita untuk mengirim dia ke sini?"
"Iya. Kurasa dia ingin menekan Ayano-san untuk tidak menjadi jurnalis hukum dan politik yang mungkin akan menjadi bumerang baginya. Kita tahu sendiri, Ayano-san sangat idealis. Selain itu, mungkin dia juga ingin menjauhkan Ayano-san dari putrinya."
"Jangan berasumsi yang tidak-tidak! Apa maksudmu panglima tidak menyetujui hubungan Ayano-san dengan putrinya?" Kali ini suara Eiji yang terdengar di telingaku.
"Coba kalian pikirkan, sebelumnya Ayano-san adalah anggota Pasukan Bela-diri angkatan darat di bawah naungannya. Tapi saat itu Ayano-san malah membongkar aib dan skandal yang terjadi di tubuh Pasukan Bela-diri lewat artikel yang dia tulis dengan memakai nama pena. Apa dia masih ingin merestui hubungan anaknya dengan Ayano-san? Bukankah ini juga menjadi ancaman baginya jika maju dalam dunia politik? Apalagi Ayano-san telah terlihat vokal bahkan sebelum menjadi jurnalis."
Mataku melebar. Benarkah? Benarkah begitu? Benarkah ayah kekasihku yang merencanakan ini semua agar aku dikirim di negara ini? Benarkah tujuannya agar aku bisa meninggalkan putrinya?
__ADS_1
Ya, dulunya aku adalah mantan Pasukan Bela-diri Jepang. Harus jujur mengakui bahwa satu-satunya alasan aku masuk ke angkatan bersenjata itu untuk memenangkan hati ayahnya. Namun, selama mengikuti pelatihan, aku malah mendapatkan sisi kelam dunia kemiliteran yang tentu saja tidak diketahui orang-orang luar sana. Perundungan, penyiksaan, perbudakan, penyalahgunaan jabatan, hingga pelecehan sekksual menjadi pemandangan kelam yang terlihat selama aku berada di sana. Aku tidak menyangka, tempat ini tak berbeda dengan sebuah mimpi buruk.
Aku tidak tahan! Aku tidak tahan untuk membiarkan ini terus terjadi! Jika aku tidak melakukan sesuatu, kefasikan ini akan terus terulang dan bertahan. Aku mulai membuat artikel yang memuat kebusukan di tempat itu. Meski selama ini mataku seolah tertutup dan bibir ini seakan terkunci, tapi setidaknya tangan ini harus bergerak.
Tak hanya tulisan, aku juga meletakkan bukti foto-foto yang kupotret diam-diam. Tidak kusangka tulisanku yang kuedarkan di internet viral dan mendapat perhatian luar biasa dari publik. Tepat setelah tugas pertamaku berhasil sebagai anggota pasukan, kami semua dipanggil dan dikumpulkan kepala komandan. Kupikir, viralnya artikelku bisa membuat institusi itu instropeksi dan segera berbenah diri. Ternyata yang mereka lakukan saat itu, malah mencari pelaku yang menulis artikel tersebut.
Aku tidak punya pilihan selain mengaku. Jika tidak, kawan-kawan seperjuangan yang akan menanggung hukuman. Aku berdiri, mengaku secara terbuka. Ayah dari kekasihku terpukul. Aku bagai memercik kotoran di wajahnya.
Tentu saja hukuman berat menantiku, tetapi ayah dari kekasihku menyarankan aku mengundurkan diri dari keanggotaan karena telah mencoreng organisasi. Dia juga mengatakan ini adalah jalan aman untuk diriku sendiri. Aku mengikuti sarannya. Menanggalkan seragam militer meski aku disebut sebagai anggota muda berprestasi.
Apakah aku menyesal? Tidak! Karena setelah itu, aku sadar passion-ku tidak untuk menjadi anggota Pasukan Bela-diri Jepang, melainkan menjadi jurnalis. Namun, sejak saat itu hingga kini, aku belum pernah lagi bertemu dengan ayah dari kekasihku.
Aku menutup ingatan masa lalu yang kembali terkilas di benak ini. Menghela napas sejenak, aku membuka pintu lalu bergabung bersama mereka. Bertindak seolah-olah tak mendengar apa pun yang sempat mereka katakan. Eiji menyodorkan salinan foto-foto, sementara Aoba memberikan rekapan info yang berhasil ia dapat. Semua itu akan kubuat menjadi artikel berita hari ini.
So membuka botol arak lalu menuangkan ke gelas kami masing-masing. Satu jam berlalu, aku masih bertatapan dengan layar laptop. Jari-jariku menari lincah di papan tombol. Bagaimana dengan rekanku yang lain? Mereka sibuk menenggak arak yang dibeli dari pedagang Lebanon.
"So, berisik! Lebih baik kau masuk ke kamar sekarang dari pada mengganggu konsentrasiku," ketusku.
So terkikik dengan mata yang hampir meredup. Dia berjalan lunglai meninggalkan ruangan.
Aku mengembuskan napas. Sunyi mengisi seiring jari-jariku telah beristirahat. Aku melirik ke arah Aoba dan Eiji yang telah terlelap. Kuguncang pelan bahu Aoba, sengaja membangunkannya agar dia bisa tidur di kamarnya menemani wanita yang kami tolong sore tadi.
Rupanya membangunkan Aoba adalah pekerjaan sia-sia. Dia seperti mayat yang masih diberi kesempatan bernapas!
Aku melirik kembali ke layar laptop. Bibirku tertarik kecil. Ini kesempatan yang bagus untuk melakukan video call dengan kekasihku. Tiba-tiba terdengar suara jeritan ketakutan seorang wanita. Tak perlu berpikir panjang, aku langsung berlari ke kamar Aoba. Mataku melebar melihat So yang tengah berusaha memeluk wanita itu.
Aku menarik lengan So dengan kasar, lalu mendorongnya hingga terlempar keluar dari kamar itu dan tertidur tepat di depan pintu. Mataku beralih ke wanita itu. Dia duduk di atas ranjang sambil memeluk lututnya. Napasnya terdengar tak beraturan. Saat kami beradu pandang, ia tampak panik.
"Tenang! Maafkan temanku, dia mabuk berat. Kupikir dia tak bermaksud melakukan hal tak senonoh." Aku mencoba menjelaskan memakai bahasa Inggris. Kakiku melangkah, mencoba mendekatinya dengan maksud hendak menenangkan. Tapi dia malah melempar bantal dan selimut ke arahku sambil meraung ketakutan.
__ADS_1
"Tenang! Kami tidak bermaksud jahat padamu! Kami membawamu ke sini karena kau tidak sadarkan diri," jelasku. Sayangnya, sepertinya dia tak mengerti apa yang diucapkan.
Dia terus meronta dan menangis, bahkan berusaha berdiri meskipun sulit. Aku mencoba menyentuhnya. Dia malah semakin menjerit, seolah-olah aku hendak melakukan kejahatan. Ah, dia membuatku frustrasi!
"Lihat tanganmu!" Aku menunjuk ke arah tangannya kemudian meletakkan telapak tangan ke dadaku sendiri. "Aku yang obati lukamu," ucapku sambil kembali menunjuk tangan dan kakinya.
Suara teriakannya pun mereda seketika.
.
.
Kei Ayano
.
.
.
.
catatan author:
Karakter Kei adalah salah satu pendukung protagonis di Novel Never Not yang paling gua favoritin. kalian sendiri pasti tahu kenapa gua favoritin dia.
__ADS_1