Sang Jurnalis

Sang Jurnalis
Part 68 : Perasaan yang Bercampur Aduk


__ADS_3

Waktu itu ....


Andaikan aku memilih kembali ke Jepang, mungkin tak akan merasakan sesakit ini ... sepilu ini ... dan menderita seperti ini.


Namun, jika tak memilih jalan untuk mengejar Ameena ... aku tak akan merasakan kebahagiaan, pengalaman berharga, serta kenangan indah tak terlupakan yang membekas di ingatanku sampai kapan pun.


.


.


.


Sesak. Tubuhku terasa tertimbun sesuatu yang panas. Aku terbatuk-batuk di tengah kesadaranku yang belum penuh. Kubuka mataku perlahan. Apa ini? Ada sehelai kain yang menutupi wajahku. Kusingkirkan sehelai kain itu. Tunggu, aku terkubur di timbunan pasir yang panas menyengat. Aku mengangkat badanku sembari menatap sekeliling tempat. Tidak, aku telah berpindah tempat. Tak ada siapapun di sekelilingku saat ini. Tidak ada kelompok ekstremis yang mengejarku. Tidak juga Ameena!


Aku lantas menoleh ke arah kain yang tadinya menutupi seluruh wajahku. Ternyata adalah hijab milik Ameena. Sambil meremas hijab tersebut, aku bergegas berdiri dengan perasaan panik yang melingkupi diriku. Mataku masih berpendar ke seluruh arah dengan tubuh yang berbalik ke sana-sini.


"Mina-chan," desisku dengan suara serak.


Aku lantas berjalan ke sekitar tempat sembari mencari keberadaan Ameena. Kuteriakkan namanya berulang kali. Nyatanya hanya terdengar pantulan suaraku.


"Mina-chan! Mina-chan!" Aku kembali meneriaki nama itu sambil terus mencarinya.


Aku berjongkok, menggaruk-garuk pasir yang menggunduk. Kugali pasir itu hingga dalam. Mungkin saja Ameena tertimbun di sana. Gagal menemukan di satu tempat, aku menggalinya di tempat lain. Begitu seterusnya.


Tidak mungkin! Jangan bilang kami terpisah lagi! Jangan bilang dia tertangkap kelompok ekstremis atau tak selamat dari badai pasir yang baru menerjang. Otakku lumpuh untuk memiliki praduga apa pun. Satu hal yang bisa kupikirkan saat ini hanyalah mencari Ameena.


Aku berlari di atas hamparan pasir halus yang berkali-kali menenggelamkan kakiku. Meski berkali-kali tersandung, tergelincir, jatuh berlutut, hingga terguling beberapa meter, kuusahakan tubuh ini tetap bangun dan terus mencarinya. Tak peduli dengan sinar terik yang begitu mencekik.


Entah sudah berapa jam, aku masih terus menyeret langkah tanpa henti. Jalanku mulai tertatih. Tubuhku kian membungkuk. Tak sanggup untuk sekadar tegap. Aku yakin bukan karena diri ini semakin lemah, tapi karena aku telah kehilangan separuh dari jiwaku. Berkali-kali aku menjambak rambut sendiri. Bukti bahwa betapa frustrasinya aku saat ini.


Tak jauh di depan sana, terlihat unta yang tengah duduk beristirahat. Jalanku terseok-seok. Kakiku sudah tak kuat lagi. Aku terkulai tak berdaya tepat di samping unta tersebut. Kurasakan tubuhku seperti jatuh berkeping-keping. Tanpa sadar, lelehan bening mengalir di sudut mataku. Aku berada di ujung asa.


Tidak! Aku tidak boleh menyerah! Kusandarkan punggungku di salah satu sisi tubuh unta itu. Aku mengatur napasku yang tersengal-sengal. Hanya sebentar saja, kuputuskan untuk kembali bangkit. Aku tak betah berlama-lama. Aku harus segera kembali mencari Ameena.

__ADS_1


Tepat saat aku hendak berdiri, pandanganku langsung menyorot pada seseorang yang terkapar di sisi sebelah kiri unta tersebut. Sontak, pupil mataku membesar seketika.


"Mina-chan!"


Aku lantas menghampiri Ameena yang tak sadarkan diri. Kubaringkan dia dalam pangkuanku sembari mengusap pasir yang menempel di wajahnya.


"Mina-chan! Mina!" Aku menepuk-nepuk lembut pipinya.


Matanya enggan terbuka. Kuguncang dengan keras tubuhnya. Tak ada respon sama sekali. Kuraba pergelangan tangannya. Ternyata nadinya melemah.


"Mina-chan, bangun!" teriakku di sela-sela usahaku untuk membuatnya tersadar.


Aku pun tak ragu membenamkan bibirku ke bibirnya untuk menyalurkan napasku ke mulutnya. Seperti yang pernah kulakukan saat kami tersesat di gurun berbeda setahun yang lalu. Dia masih tak merespon. Bibirku kembali menekan bibirnya sembari mendorong napasku ke paru-parunya. Masih tak merespon!


Aku terus memberinya napas buatan. Pada pemberian napas berikutnya, dia terbatuk-batuk. Kelopak matanya terbuka sedikit.


"Mina-chan, apa kau baik-baik saja?" tanyaku dengan senang.


Dia masih terbatuk-batuk. Dengan sigap, aku membantunya duduk. Ia mengerjapkan mata berkali-kali.


"Khai, sepertinya mataku penuh debu. Aku tidak bisa melihat dengan jelas," jelasnya sambil terus mengusap kedua matanya.


Aku lantas menggeser dudukku sedikit demi sedikit agar lebih dekat dengannya. Kami kini saling berhadap-hadapan dengan posisi duduk yang sama-sama bersimpuh.


"Mina-chan, singkirkan tanganmu!" pintaku.


Ameena menjauhkan tangannya dari matanya. Aku mendekatkan wajahku ke wajahnya dengan perlahan. Semakin dekat hingga napas kami saling menerpa. Pada saat ini ... mata, hidung dan bibir kami sejajar. Kuangkat daguku, kemudian aku meniup matanya yang kelilipan pasir. Kulakukan bergantian di kedua matanya dengan sangat pelan dan halus.


"Apakah cukup?" tanyaku.


Dia masih mengerlingkan mata berulang kali. Aku berinisiatif meniup matanya kembali. Bibirku lebih mendekat ke arah matanya. Di waktu yang bersamaan Ameena turut memajukan kepalanya. Hal tak terduga tanpa bisa dihindari pun terjadi. Bibirku menempel tepat di keningnya.


Hanya sebentar, Ameena langsung menarik diri dan memutar badannya. Entah dia marah atau tersipu. Aku tak tahu. Yang jelas, detik itu juga bibirku tak urung mengembangkan senyum. Kurasakan jantungku bertalu-talu demikian gilanya.

__ADS_1


Aku memandang punggungnya. Pada saat ini, aku baru menyadari ia tak sedang memakai penutup kepala. Ya, ini pertama kalinya aku melihat rambut panjangnya yang lurus tebal. Mungkin Ameena tak menyadarinya.


Aku pun mengambil hijab itu, kemudian berlutut di belakang punggungnya. Aku meletakkan kain segi panjang itu ke kepalanya dari arah belakang. Dia tersentak dan langsung meraih ujung hijabnya.


"Maaf ... maafkan aku," ucapku pelan.


Apa aku lancang? Aku tak bermaksud mengecup keningnya tapi itu semua terjadi di luar kendaliku. Aku tak pernah berniat untuk mengetahui seperti apa rupanya tanpa penutup kepala, tapi itu terpampang langsung di hadapanku. Satu-satunya kelancanganku adalah melakukan tindakan CPR saat ia tak sadarkan diri.


***


Cahaya jingga mulai menjemput malam. Kami memutuskan mencari tempat peristirahatan. Karena tubuh Ameena masih terlalu lemah, kubiarkan dia menunggangi unta. Sementara aku berjalan beriringan dengan unta itu. Sepanjang jalan, Ameena terus terbatuk-batuk. Sepertinya dia banyak menghirup serbuk pasir. Aku sendiri terselamatkan oleh hijabnya yang membungkus wajahku saat badai pasir menerjang.


Setelah cukup lama berjalan, akhirnya kami menemukan gua yang bisa dijadikan tempat bernaung kami malam ini. Aku dan Ameena lalu masuk ke gua tersebut. Gua ini sangat kecil dan sempit. Namun, cukup muat untuk kami berdua. Setidaknya kami bisa berlindung dari badai pasir yang mungkin akan kembali datang. Sementara unta yang bersama kami tengah beristirahat di depan mulut gua.



Di dalam gua, aku membuat api unggun kecil untuk menghangatkan tubuh kami. Aku menoleh ke arah Ameena yang diam sambil memeluk lutut. Hanya melihatnya saja, sudah dapat mengangkat rasa lelahku, menghilangkan ketakutanku dan seolah mendapat sambungan kekuatan baru.


Sejak mengenal Ameena, aku seolah mengalami pengulangan waktu. Banyak momen yang terulang kembali. Seperti melarikan diri ke gurun, melakukan napas buatan saat ia tak sadarkan diri, hingga menghabiskan malam di dalam gurun dalam keadaan lapar dan haus.


Suasana hatiku hari ini seperti yang pernah kurasakan setahun lalu saat kami terjebak di gurun. Rasa takut kehilangannya, rasa lelah dan putus asa mencarinya, rasa sayang dan peduli yang besar, rasa yang berdebar tak keruan, dan juga rasa bersyukur. Walau rasa itu bercampur aduk, aku tahu ... aku bahagia kembali bersamanya.


"Badai pasir mungkin masih berlangsung di beberapa wilayah berpenduduk. Semoga ini dapat menghentikan perang yang sedang berlangsung," kata Ameena sambil memeluk lutut.


Aku memandangnya dengan nanar. "Mina-chan, ayo kita ke Damaskus! Lalu, ikutlah ke Jepang bersamaku!" ucapku dengan sorot mata yang serius.


.


.


.


Empat chapter menuju ending dari kisah masa lalu bang khai yaa...

__ADS_1


Like dan komeng


__ADS_2