Sang Jurnalis

Sang Jurnalis
Part 70 : Janji yang Tak Tertepati


__ADS_3

Manusia sangat takut menjumpai perpisahan. Sama seperti aku yang melakukan segala cara agar tetap bersamanya. Sayangnya, hanya sekadar bersama pun belum tentu bisa bersatu. Sepertinya beberapa manusia memang ada yang ditakdirkan bertemu, tapi bukan untuk bersatu.


.


.


.


"Dia memang bukan mata-mata maupun tentara Amerika tapi dia berasal dari Jepang. Negara itu sangat bersahabat dengan Amerika." Salah satu dari mereka menyatakan keberatan saat pria yang baru datang itu meminta mereka untuk berhenti menyiksaku.


"Meski begitu, Jepang tidak ikut dalam operasi pengeboman dan justru memberi bantuan kemanusiaan," bela pria tersebut.


"Pantas saja fisiknya terbilang kuat. Ternyata mantan pasukan coyote." Pria di sebelahnya ikut bersuara.


Sebuah seringai tipis nan samar tampakdi wajahku. Aku mengangkat kepala dengan perlahan. "Karena ... sebagai pasukan bela diri, kami dilatih bukan menyerang atau pun membunuh, melainkan bertahan dengan segala kondisi. Meski dihadapkan dengan kematian ... pasukan bela diri akan tetap bertahan untuk melindungi negaranya," ucapku patah-patah.


Tatapanku yang gamang mengarah pada Ameena. Sebagaimana pasukan bela diri akan terus bertahan demi melindungi negara, aku pun akan tetap bertahan demi melindungi Ameena.


"Kami akan bernegosiasi dengan pemerintah di negaramu. Jika mereka sepakat dengan permintaan kami, maka kau akan kami bebaskan. Tapi, jika tidak ... terpaksa kami akan menghabisimu karena tak berguna." Nada suara pria itu terdengar dingin dan mencekam.


Mereka menunjukkan video eksekusi mati para jurnalis barat yang sebelumnya menjadi sanderaan. Ya, kelompok ini memang terkenal kerap menangkap wartawan asing untuk kemudian dimintai tebusan yang fantastik ke negara bersangkutan. Itu adalah bagian dari cara mereka mendapatkan dana persenjataan.


Aku segera diturunkan dari tiang gantung lalu dipaksa berlutut. Mereka mengambil beberapa rekaman dan fotoku dengan tubuh yang bersimbah darah bersama satu anggota yang memegang laras panjang. Mereka kemudian menyuruhku masuk ke dalam sel. Karena sudah tak mampu berdiri, aku hanya bisa merangkak menuju dalam sel dengan tubuh yang penuh luka.


Ameena yang terkurung di samping selku, lantas berjongkok tepat di hadapanku. Ketika mata kami bersirobok, yang terlihat hanyalah jejak air mata yang setia menyelimuti wajahnya. Aku mencoba menarik sudut bibir. Hanya untuk tersenyum, terasa begitu sulit karena wajahku penuh memar.


"Jangan sedih! Aku tidak apa-apa ...."


"Aku tak sanggup melihatmu seperti ini," desisnya serak.


"Tidak apa-apa. Mereka menyiksaku bukan karenamu, tapi karena mengira aku bagian dari pasukan Amerika. Kau sudah dengar, kan? Mereka akan menghubungi pemerintah di negaraku dan akan bernegosiasi untuk pembebasan kita," ucapku.


Sepasang iris kebiruan itu meredup seketika. "Bukan kita ... tapi hanya kau saja, Khai," ucapnya dengan lelehan bening yang mengalir di sudut mata.


Aku menggeleng. "Tidak! Aku juga akan membawamu pergi dari tempat ini."


Ameena menatap pilu ke arahku sambil berucap lambat-lambat. "Itu tak mungkin, Khai. Dari awal kita hanyalah dua orang yang sedang singgah dan berakhir dengan menemukan jalan pulang yang berbeda."


"Kita bisa pulang dengan arah yang sama jika kau mau ikut bersamaku ke Jepang! Tenang saja, aku akan meminta tolong pamanku. Dia menjabat sebagai salah seorang menteri. Dia pasti bisa mengurus pengajuan suaka¹ untukmu," ucapku menggebu-gebu. Ada desakan dalam nada suaraku.


Pada saat ini, Ameena hanya bergeming meski tatapannya masih tak lepas dari netra legamku.


Seakan masih kurang meyakinkannya, aku pun kembali berkata, "Jangan khawatir! Jepang cukup terbuka dengan imigran dan pengungsi dari negara berkonflik," ucapku mencoba meyakinkannya, "Oh, iya, aku akan mencarikan tempat tinggal yang berdekatan dengan rumah ibadahmu."


"Kau terluka parah dan harus beristirahat. Mohon pikirkan dulu kondisimu," pintanya dengan suara tak berdaya.


Tak mengindahkan permintaan Ameena, aku malah terus berbicara. "Mina-chan, Jepang negara yang sangat damai. Kau tak akan mendengar suara tembakan dan bom. Udara di Jepang sangat bersih bebas dari bubuk mesiu. Aku masih mengingat betul, setahun lalu kau pernah mengatakan bahwa kau menyukai langit biru dengan awan seputih kapas. Jika berada di Jepang, kau akan selalu bisa melihat langit biru tanpa gumpalan asap pekat atau pesawat tempur."


Ameena masih memilih diam. Dia tertunduk dalam seraya menarik napas yang terdengar sesak.


"Jepang juga negara yang indah. Kau bisa melihat secara langsung bagaimana bunga sakura bermekaran di musim semi, atau melihat keindahan daun maple yang berjatuhan di musim gugur. Kau pun bisa menyaksikan kembang api berpencar indah di musim panas dan festival salju di musim semi."


Aku terus mempromosikan negaraku sendiri berharap dia tertarik untuk ikut bersamaku. Aku menancapkan pandangan di netra lembutnya, mencoba menelisik setitik kejujuran dari bola matanya. Semakin berusaha menatapnya lebih dalam, aku hanya bisa melihat sepasang mata yang berusaha menahan lelehan bening.

__ADS_1


"Jika saja aku bisa sedikit lebih egois, aku ingin mengiyakan permintaanmu. Meski kita sudah sedekat kening yang bertemu sejadah, tetap saja ada hal-hal yang membuat kita ...." Kalimat Ameena tak berlanjut, berganti dengan deraian air mata.


Detik itu juga, mulutku langsung terkatup rapat. Aku memutuskan untuk berhenti mendesaknya. Jawaban Ameena membuatku tersadar jika aku telah menyiksa batinnya dengan memberi pilihan dilema. Terlebihnya lagi, dia tentu masih mencemaskan keselamatan Omar dan anak-anak lainnya.


Entah sudah berapa lama kami terkurung sebagai sanderaan. Setelah mengetahui identitas asli, mereka tak lagi menyiksaku. Kami juga diberi makan dan minum walau hanya sehari sekali. Sayangnya, aku sudah tak memiliki kemampuan untuk bergerak. Tubuhku yang lekat dengan aroma darah kering, hanya terkapar lemah di lantai penjara yang dingin, lembab dan kotor. Aku pun tak tahu ini sudah hari ke berapa kami dalam sanderaan mereka. Satu yang kusyukuri, mereka tak melakukan apa pun pada Ameena. Aku hanya bisa berharap semoga saja pemerintah di negaraku cepat merespon negosiasi ini agar kami bisa keluar dari tempat ini.


"Khai, Khai .... kau belum makan hari ini." Suara lembut Ameena membelai indera pendengaranku.


Aku tak bersuara. Hanya untuk mengangkat kepalaku saja terasa berat. Bibirku gemetar. Gigiku bergemeretak. Aku mengalami demam tinggi hingga membuat seluruh tubuhku menggigil. Ini karena luka dan memar di sekujur tubuhku tak mendapat perawatan. Daya tahan tubuhku pun melemah karena tak ada nutrisi yang masuk.


"Khai ... Khai ...."


Ameena terus mencoba menarik atensiku. Makin lama, intonasinya makin naik. Dia memanggilku hingga suaranya terdengar parau dan menyayat. Dia pasti khawatir karena aku tak kunjung menyahut atau pun sekadar membuka mata.


"Seseorang tolong bawakan obat ke sini." Ameena memanggil penjaga dengan suara panik. "Jika tak ada obat, setidaknya bawakan selimut! Dia mengalami demam. Kalian harus menolongnya!" teriak Ameena sambil terisak. Ia sampai menggedor-gedor jeruji besi yang mengurung dirinya.


Teriakan Ameena terus membanjiri ruangan itu. Tanganku mengepal kuat. Tanpa sadar, buliran bening merembes keluar dari sudut mataku. Kubuka mata ini dengan perlahan. Aku yang terbaring dalam posisi bertelungkup, mencoba mengulurkan tangan keluar dari jeruji besi untuk menggapainya. Apa daya, tak bisa kugapai walau hanya tinggal sejengkal. Tanganku kembali terkulai.


"Khai ...." Akhirnya Ameena melihatku yang telah membuka mata.


"Jangan menangis!" pintaku dengan suara berbisik, "Aku ... hanya sedang bermimpi kita hidup bahagia bersama, tapi ... sekarang aku telah dibangunkan oleh kenyataan yang tak berkata demikian."


Di waktu yang sama, gerombolan ekstremis itu datang pada kami. Mereka berkumpul di dalam selku. Satu orang membuka pintu sel, sementara dua orang lainnya menarik tubuhku keluar dari kurungan itu secara paksa.


"Negosiasi berhasil. Kau harus berterima kasih pada pemerintah di negaramu yang bersedia menebus nyawamu sebesar 10juta USDollar," ucap pria yang baru saja membuka selku.


Aku lantas melarikan pandangan ke arah Ameena yang masih terkurung dalam jeruji. "Bagaimana dengannya? Kalian akan membebaskannya juga, kan? " tanyaku.


Mereka malah tertawa sinis. "Negosiasi ini hanya untuk dirimu. Tentu saja dia akan menetap di sini bersama kami. Lagi pula dia penduduk sini."


"Mina-chan, ikutlah bersamaku ke Jepang! Hanya itu cara agar kau bisa keluar dari sini! Aku akan bicara pada pamanku untuk membantumu bebas. Tolong katakan, Ya! Tolong ...," desakku memohon.


Ameena mengangguk. "Ya, aku ingin ikut denganmu, Khai."


Akhirnya, Ameena memberi jawaban yang kuharapkan. Kami memegang jeruji yang sama. Dua pasang mata kami saling bersirobok.


"Tunggulah sebentar saja! Setelah bertemu pamanku aku akan menjemputmu. Aku pasti akan menyelamatkanmu! Kita akan bersama-sama berangkat ke Jepang."


"Ya, aku akan menunggumu, Khai!"


"Berhenti berbicara yang tak masuk akal! Mereka akan menjemputmu hari ini! Kau harus lebih dulu datang dari mereka!"


Pria-pria itu menarik paksa diriku agar segera menjauhi sel Ameena. Tanganku terlepas perlahan dari jeruji besi. Tubuhku terus diseret menjauh dari sel Ameena. Wajah Ameena pun berangsur-angsur lenyap dari pandanganku.


Momen ini sedikit mirip dengan kejadian setahun lalu. Jika dulu dia dibawa pergi kelompok pemberontak, sekarang aku yang dibawa kelompok ekstremis. Meski begitu, aku menganggap perpisahan kami hanya berlangsung sementara. Ya, bukankah dia telah sepakat ikut denganku ke Jepang?


Aku dibawa ke mobil dengan mata yang tertutup. Aku berusaha melafalkan jalan lewat instingku untuk berjaga-jaga. Mobil telah dua kali berbelok ke kiri dan sekali belok ke kanan. Sialnya, aku sudah tak tahu arah setelahnya. Mereka membebaskan aku di saat tubuhku sudah sangat lemah hingga sulit bagiku berkonsentrasi.


Mobil berhenti seketika. Aku diturunkan di tengah gurun seorang diri dengan tubuh yang terlilit tali. Mereka mengatakan akan ada perwakilan Jepang yang menjemputku di sini. Hanya berlangsung sepuluh menit dari kepergiaan mereka, aku tumbang di atas hamparan pasir. Malaikat maut seolah tengah mempermainkan takdir kematianku. Di tengah nyawaku yang tersisa sepotong, terdengar suara bising hellikopter yang berputar-putar di udara. Aku sudah tak bisa melihat dengan jelas siapa saja yang datang menghampiriku. Yang jelas, pamanku ada dalam rombongan itu.


"Kei ... apa yang terjadi denganmu? Kenapa bisa sampai seperti ini? " Pamanku memandangku dengan wajah terpukul. Ia pasti tak kuasa melihat keponakannya seperti ini.


Aku berusaha mengumpulkan suaraku yang terasa sulit untuk dikeluarkan. "Pa–paman ... tolong ban–tu aku ... aku harus ... menyelamatkan seseorang. Aku ... telah berjanji padanya."

__ADS_1


"Siapa orang itu dan di mana dia?" tanya pamanku.


"Dia ... sudah menungguku. Dia pasti sedang menungguku. Aku ... harus menepati janjiku. Tolong bantu ... bebaskan dia! " ucapku terbata-bata di tengah kesadaran yang mulai menipis.


"Kei ... Kei ...." Aku sudah tak sanggup merespon panggilan pamanku. Kegelapan seakan menelanku detik itu juga. Kesadaranku pun ikut terenggut


***


"Khai ... Khai ...."


"Ya, aku ingin ikut denganmu, Khai."


"Ya, aku akan menunggumu, Khai."


"Mina-chan!"


Aku langsung menyebut nama itu diikuti sepasang bola mata yang terbuka spontan. Aku mendapati tubuhku terbaring lengkap dengan peralatan medis. Ada selang infus dan juga oksigen. Mataku berkeliling, menatap ke segala ruangan. Ternyata aku berada di ruang kamar Rumah Sakit.


"Tidak mungkin!" gumamku panik.


Seketika, aku langsung turun dari ranjang sambil membawa infus. Hanya dua langkah, aku langsung terjatuh. Tubuhnya masih sangat lemah. Aku mencoba kembali bangun dan berdiri. Tapi gagal! Kakiku seperti kehilangan kerangkanya.


Pintu kamar mendadak terbuka, menampakkan seorang gadis berseragam sekolah.


"Kei–niichan!" Dia menghampiriku dengan mimik terkejut.


"Seina-chan, kenapa kau di sini?" tanyaku. Dia adik sepupuku, anak dari pamanku.


Tanpa menunggu jawaban Seina, aku lantas merangkak keluar dari kamar tersebut. Aku kembali berdiri dengan berpegangan di tiang pintu sebagai tumpuan. Seina berusaha menahanku. Dia bahkan sampai meminta bantuan perawat yang lewat.


Para perawat itu berusaha menenangkanku. Aku menepis mereka semua yang berusaha menghalangiku. Air mataku berhamburan keluar.


Tempat ini ... orang-orang ini ... menyadarkanku pada satu hal. Ini bukan di Suriah, tapi ini di Jepang!


.


.


.


Jejak kaki



Suaka : pengungsi atau seseorang yang teraniaya dalam negarany sendiri dapat mencari perlindungan dari negara lain.



catatan author:


gimana gays, terjawab sudah ya pemeran NN yang nyempil di sini. sedikit terjawab juga kan kenapa kei masih menjomblo hingga usia matang. Aku dah pernah spill di GC ya, kalo kembalinya kei di Jepang menjadi tanda berakhirnya petualangan sang jurnalis di Timur Tengah. Karena ini prekuel dari kisah kei di NN, jadi udah ketebak ya akhirnya mereka emang bakal berpisah. karena emang ameena adalah bagian dari masa lalu kei yang tak tuntas. kisah di medan perang emang gini ya, penuh dengan derita. kalo mau ketawa2, bucin2 ria gak ada di sini. btw, ini bukan ending ya, tapi penutup dari kisah masa lalu kei.


baca novel aku emang hrus sabar ya. sabar nunggu updatenya, sabar dengan alurny, sabar dengan penyelesaiannya, dan sabar dengan endingnya. gak boleh diskip2, karena kalo diskip2 kalian bukan cuma kehilangan adegan2 penting, tapi info dan clue yang mengarah ke bab selanjutnya. kalo yg dah baca novel2 gw pasti ngerti. kadang ada alur yg kalian sepelekan ternyata itu clue di bab selanjutnya. kadang ada tokoh yg terlihat sepintas lalu, ternyata pegang peran penting di bab selanjutnya.

__ADS_1


btw, kelompok ekstremis yang ada di sini bukan kelompok yang terkenal itu, ya. ini pure ciptaanku, walau sebenarnya ada inspirasi ke situ juga. terus dari awal aku dah tekankan ini bukan novel reliji. Gua lebih suka menggambarkan tokoh2 di sini tuh saling menghargai perbedaan. Melalui tokoh ameena dan tuan ali, kita belajar untuk tidak memaksakan pemahaman ke orang lain. melalui tokoh kei, kita belajar untuk menghargai kepercayaan orang lain. kan adem....


So, menurut kalian, apa perlu dilanjut ke masa depan kei setelah di Never Not ya tentunya, atau butuh pov ameena? gua butuh komen effort dari kalian di karya gua nih, kalo emang perlu dilanjut. Karya ini bakal gua diamin/stop dulu sampai gua dapat feedback/komentar dari kalian yang cukup untuk bikin gua lanjutin cerita ini.


__ADS_2