
Kota mati yang menjadi tempatku menunggu Ahmed selama berjam-jam itu, kini berubah menjadi lautan darah akibat pertempuran ganas. Militan pemerintah Suriah tak henti-hentinya meluncurkan serangan udara dibantu oleh Rusia yang ikut mengoperasikan tank-tank tempur canggih milik mereka. Dari laporan wartawan lokal, tercatat 21 warga sipil yang dikabarkan meninggal akibat serangan udara dadakan kubu pemerintah yang dibantu Rusia.
Tak hanya itu, kubu militan pemerintah Suriah terus menambah pasukan. Ini bisa dilihat dari mobil-mobil tempur yang terus berdatangan dan memenuhi jalanan. Para wartawan asing yang tak bisa masuk ke arena pertempuran seperti diriku, lantas hanya bisa memotret mobil-mobil itu. Aku masih menatap ke sekeliling arah. Jika terus seperti ini, tak menutup kemungkinan mereka bisa memukul mundur kubu pemberontak.
Sumber: ghaith/alsayed
Tidak bisa! Aku tidak bisa terus berdiam diri tanpa tindakan! Aku pun mulai meninggalkan Kamal Malek diam-diam berlari berlawanan arah dengan iring-iringan mobil tempur yang antre memasuki zona perang. Aku berencana menyelinap di salah satu mobil tersebut. Sial, mobil terakhir justru terdapat bukaan bagian belakang yang diisi seluruh prajurit. Mana bisa aku menyusup jika seperti ini?
Aku memijat pelipis dengan satu tangan berkacak pinggang. Napasku berembus kasar dengan wajah yang berpaling ke samping. Di saat bersamaan, aku melihat sebuah mobil tempur terparkir beberapa meter dari pijakanku. Mobil itu bahkan telah tertinggal jauh dari iringan mobil lainnya. Aku mengendap-endap mendekati mobil tersebut. Ternyata tak ada orang di dalam.
Aku menoleh ke samping. Terlihat seorang tentara militan pemerintah berjalan terburu-buru ke suatu tempat. Aku berusaha mengintainya dari arah belakang. Ternyata pria itu sedang membuang air kecil. Setelah selesai, ia berbalik dan hendak kembali ke mobilnya.
Tanpa berpikir panjang, aku langsung menyerangnya dari arah belakang. Aku memanjat punggungnya, lalu melingkarkan kedua tanganku di lehernya. Dia meronta, tangannya berusaha meraih pistol, tapi kakiku lebih dulu menjepit kedua tangannya untuk memblokir pergerakannya. Seperti seekor piton yang tengah melilit tubuh mangsa. Aku semakin mempererat kuncian di lehernya, sengaja menekan titik sarafnya. Dalam hitungan detik, ia lumpuh, lemas tak berdaya hingga tak sadarkan diri menerima serangan kuncian dariku. Dengan kemampuan teknik judo dikombinasikan bela diri militer Jepang yang kumiliki, tentu hal ini tak sulit bagiku.
Aku segera mengambil seragamnya dan memasangkan di tubuhku. Dari pangkatnya, aku hanya bisa menduga dia adalah seorang kolonel. Tinggi badanku dan pemilik seragam ini hampir sama, tapi tubuhnya lebih berisi sehingga seragam itu sedikit longgar di badanku. Aku lalu mengendarai mobil tempur dan memasuki medan perang. Sebagai mantan tentara, aku tentu sudah terbiasa dengan suasana ini.
Serangan dari kubu pemberontak ternyata tak kalah sengit dan agresif. Untungnya, mobil tempur ini memiliki daya kebal terhadap serangan tembakan tank. Aku memarkirkannya bersama deretan mobil petinggi pasukan lainnya. Alih-alih turun, aku memilih berdiam diri dalam mobil sembari mengamati peperangan yang terus berkobar. Tak mungkin bagiku untuk menerobos lebih dulu wilayah itu.
Aku mengambil ponselku, lalu merekam peperangan itu dalam jarak yang cukup dekat kemudian mengirimkan ke anggota timku mungkin saja rekaman ini bisa berguna untuk So dan lainnya. Tiba-tiba seorang tentara berpangkat terlihat berjalan menghampiri mobilku. Wajahnya bahkan sempat mengernyit melihatku yang hanya duduk dalam mobil. Ini gawat! Jika ia melihatku, penyamaranku akan terbongkar.
Aku menundukkan kepala, berusaha menyembunyikan wajahku ketika pria itu semakin berjalan mendekat. Tanganku menggenggam erat setir mobil dan kakiku bersiap menginjak pedal gas. Tepat saat itu juga, seseorang memanggilnya hingga ia kembali berpaling dari mobilku dan ikut bersama orang tersebut. Aku mendengus sambil menyandarkan kepalaku.
Hingga matahari telah tertelan oleh sebagian bumi, pasukan pemerintah bersama militer Rusia berhasil memukul mundur pemberontak yang menamakan diri pasukan pembebasan Suriah. Militer pemerintah dan Rusia kini bersiap memasuki wilayah pemberontak. Aku pun ikut dalam iring-iringan mobil militer Suriah. Setiap ladang dan rumah warga telah rata dengan tanah akibat serangan udara. Hati perih dan terisis melihat kawasan yang dulunya subur kini porak poranda.
__ADS_1
sumber: aljazeera
Dari rencana yang sempat kudengar melalui alat komunikasi setelit dalam mobil, mereka akan melakukan penyisiran terlebih dahulu di desa ini untuk menangkap sejumlah pemberontak. Itu artinya, masih ada waktu untuk menyelamatkan Ameena dan juga orang-orang di sana. Meski aku sendiri tak tahu dengan cara apa menyelamatkan mereka.
Aku sengaja mengendarai mobil dengan sangat pelan agar mobilku berada dalam rombongan terakhir. Perlu melewati dua desa lagi untuk menembus desa yang ditinggali Ameena. Namun, aku memilih memotong jalan dan melewati jalur berbeda dari rombongan militer tersebut. Tepat aku berbelok, terdengar suara ledakan dari arah depan. Ternyata, salah satu iringan mobil tersebut dilempari bom oleh pasukan militan pemberontak. Hampir saja nyawaku ikut melayang!
Jalan yang kulewati saat ini adalah jalur singkat menuju ke desa Ameena. Aku mengetahui rute ini saat Ahmed mengantarku pulang. Singkatnya, aku berhasil memasuki desa Ameena. Kutinggalkan mobil itu di ladang milik tuan Ali lalu kulepas seragam militer agar warga di sini tak salah paham denganku. Aku langsung berlari menuju yayasan panti asuhan.
Gelap gulita. Desa ini tak kalah sunyi dari dua desa sebelumnya. Tampaknya para warga telah meninggalkan kediaman mereka. Aku berharap Ameena melakukan hal yang sama, tapi di sisi lain aku juga ingin menemuinya dan membawanya ikut bersamaku.
Aku terus berlari sambil menggendong ranselku. Sudah sampai. Ya, aku tiba di gerbang dengan tubuh yang bersandar di pintu pagar dalam keadaan setengah terduduk. Napasku masih tersengal-sengal. Dadaku pun ikut naik turun.
"Kakak Pirang!" Suara teriakan Khalila terdengar. Namun berbeda dari biasanya, suara itu terdengar lirih bercampur rasa takut.
"Kakak Pirang, aku takut!"
Aku menatap ke depan. Ternyata penghuni yayasan ini tengah berkumpul di halaman dengan wajah gusar. Ada Ameena dan tuan Ali juga. Aku melepaskan Khalila dari pelukanku lalu menghampiri mereka.
Seorang pria paruh baya yang sedari awal tak pernah ramah padaku, lantas menghampiriku. "Kau ... bagaimana bisa kau berada di sini? Jangan-jangan kau adalah mata-mata pemerintah selama ini!" tudingnya dengan mimik yang seakan hendak menelanku. Matanya memancarkan tombak api. Ia bahkan mendorongku dengan kuat hingga aku terjatuh.
"Kakak Pirang!" Khalila terkejut melihatku tersungkur.
"Khalila, ayo kita masuk!" Seorang perempuan muda langsung menggendong Khalila saat ia hendak menghampiriku. Seakan tak memperbolehkan gadis kecil itu mendekatiku. Bahkan, seluruh penghuni yayasan itu kini memandangku dengan tatapan penuh kebencian. Aku sampai takut menatap Ameena. Bagaimana jika dia juga ikut seperti itu dan beralih membenciku?
Aku lalu menoleh pada tuan Ali sembari menggeleng. "Tidak, aku bukan mata-mata! Saat mendengar wilayah kalian diserang, aku langsung ke sini. Aku bahkan nekat menyamar menjadi bagian dari pasukan mereka hanya agar bisa menembus desa kalian. Tolong percaya padaku!"
__ADS_1
Dia menoleh ke arah tuan Ali sambil berkata, "Tuan, dari awal sudah kukatakan jangan pernah percaya dengan orang luar! Lihat, sejak Anda menerima kehadirannya, wilayah kita yang tadinya tenang dan terisolir kini diusik oleh pemerintah. Dia pasti menjadi mata-mata pemerintah!"
"Sekarang bukan waktunya untuk berasumsi yang tidak-tidak!" tandasku dengan suara lantang, "Mereka ... sudah memasuki desa pertama di wilayah ini! Tidak ada waktu lagi, kalian harus segera meninggalkan tempat ini dan bersembunyi di tempat yang aman jika tak ingin mati!" tekanku.
Semua orang sontak terkejut dan panik. Para wanita saling berpelukan dalam tangis. Tuan Ali yang sedari tadi diam saja lantas berjalan mendekat ke arahku. Pria berhenti tepat di hadapanku lalu mengulurkan tangannya padaku.
"Berdirilah dan beristirahatlah di belakang! Kau pasti kelelahan!"
Aku tercengang. Di saat orang-orangnya menuduhku, ia masih bersikap ramah padaku.
"Tuan, Anda masih memercayai pemuda ini? Kita harus mengusirnya!" sahut pria itu kembali.
"Bagaimana mungkin aku tak memercayai pria yang telah menyelamatkan putriku tanpa mengharapkan imbalan apa pun!" tandas tuan Ali membungkam suara pria itu.
Tiba-tiba, seseorang yang memakai seragam pasukan pembebasan Suriah datang dengan tergesa-gesa. "Tuan, bagaimana dengan nasib kita sekarang? Apa kita harus bertahan seperti ini? Kita telah kekurangan pasukan yang berjuang di garis depan! Pemerintah Turki baru akan mengirim pasukannya besok, sementara wilayah kita sudah dimasuki mereka malam ini!"
Suara gemuruh tembakan dan bom telah terdengar samar-samar. Menandakan bahwa pasukan pemerintah memang sudah memasuki wilayah ini. Tuan Ali berbalik menghadap para pengurus yayasan serta anak-anak panti asuhan yang tengah berselimut ketakutan. Di antara mereka bahkan ada yang menangis.
"Aku akan maju bertempur bersama pasukan kita!" ucapnya dengan sorot mata tajam.
.
.
Catatan author ✍️
Jangan malas nancepin jempol, jangan malas komen, jangan jadi pembaca ghoib dan jangan malas ngasih rate di novel ini. novel ini belum saya kontrakin, tidak dikontrak artinya tidak mendapat penghasilan kecuali jika ada pembaca yg dengan kerelaan hati menekan tombol iklan. So, jangan males ngasih like, komen, dan rate. Saya butuh alasan untuk tetap melanjutkan novel ini sampai tamat. Salah satunya, tentu dengan semangat dan antusias kalian.
__ADS_1
Terima kasih untuk pembaca setia yang selalu mendukung saya berkarya ❤️