Sang Jurnalis

Sang Jurnalis
Part 57 : Dedaunan yang Berguguran


__ADS_3

Sejak bertemu dengan Ameena, aku telah mengokohkan diri. Menjadi karang yang siap dihantam debur ombak. Menjadi tembok yang siap diruntuhkan apa saja. Dan ... menjadi benteng pertahanan yang siap dibombardir dengan senjata perang.


.


.


.


Kami masih di sini. Berdiri saling berhadapan dengan jarak tiga meter. Terjebak dalam kebekuan seolah saling menanti siapa yang bersuara lebih dulu. Saling mengunci pandangan. Mata biru nan bening itu seakan kehilangan cahaya.


Aku seakan lupa tujuanku datang kembali untuk mengutarakan perasaanku secara lantang. Nyatanya, aku telah kehilangan kesempatan untuk melakukannya. Binar harapan di mataku pudar perlahan. Haruskah kutikam rasa ini agar berhenti tumbuh? Sayangnya, aku tak ingin perasaan ini hilang begitu saja. Kunikmati pedihnya cinta yang tersembunyi.


Ahmed menghampiri aku dan juga Ameena. Ia meminta Ameena agar menemani Khalila tidur di lantai bawah untuk mengantisipasi hal-hal darurat. Karena pria di sini hanya tinggal aku dan Ahmed, maka kami memutuskan berjaga-jaga di teras asrama wanita dan anak-anak untuk melindungi mereka.


"Awalnya, aku juga sependapat denganmu. Tapi, aku bisa memahami keputusan tuan Ali. Mundur dan bersembunyi di saat yang lain sibuk berjuang demi mempertahankan wilayah ini, bukankah itu pengecut?" ucap Ahmed padaku seolah memintaku memahami keadaan saat ini.


"Aku mengerti."


Ahmed adalah orang kepercayaan tuan Ali. Itu bisa terlihat dari jabatannya sebagai bagian dari pengurus yayasan ini. Ia bercerita padaku bahwa sejak berusia belasan tahun, dia telah ikut bersama pria itu. Saat perang mulai tercetus, ia bersama tuan Ali mulai mengunjungi kamp-kamp pengungsian untuk mengambil anak-anak yatim piatu dan anak-anak yang orangtuanya sudah tak mampu membiayai. Di tempat inilah, mereka mendidik dan merawat anak-anak korban perang.


"Tuan Ali terlihat menyukaimu. Kupikir, itu karena kau mengingatkannya pada adiknya yang meninggal. Apalagi ... kalian seumuran."


"Maksud Anda, adiknya yang merupakan mantan suami Ameena?"


"Ya, sebenarnya waktu itu tuan Ali hendak mengajakmu mengunjungi makam istri dan adiknya. Hanya saja kau memilih pulang lebih awal."


"Begitukah?"


"Saudaraku, apa yang membawamu datang ke sini lagi? Perjalanan dari Damaskus ke sini cukup jauh, kau tidak datang untuk melakukan hal sia-sia, kan? Ah, bukankah kau bilang akan pulang ke Jepang?" Ahmed tiba-tiba mencecari pertanyaan.


Aku langsung mengalihkan pandanganku.


Ahmed menghela napas sejenak, lalu berkata, "Salah seorang penjaga wilayah kami mengatakan padaku kalau ia pernah melihatmu jauh sebelum datang ke sini. Kau adalah pria yang bersama Ameena di Padang pasir sebelum ia dibawa ke sini, kan?"


Aku terdiam sejenak, kemudian mengangguk saru.


"Masya Allah. Ternyata kau bukan hanya menolong Khalila tapi juga saudari Ameena. Apa ... kau menyukai saudari Ameena?" tanya Ahmed dengan nada hati-hati.


Kali ini, aku benar-benar tak tahu harus menjawab apa. "Mana mungkin aku berani. Aku tidak sehebat tuan Ali," jawabku terbata-bata.


"Jodoh itu bukan perkara siapa yang paling hebat tapi siapa yang lebih pantas. Jika tuan Ali ditakdirkan menjadi suami Ameena, bisa jadi itu karena dia lebih pantas dibanding lelaki lain. Pantas dari segi aqidah dan akhlak. Jika kau menyukai wanita muslim di negara ini, paling tidak kau harus seakidah dengannya."


"Seakidah?"


Di tengah perbincangan kami, tiba-tiba terdengar suara bom disusul aksi baku tembak. Tak cukup semenit dari dentuman menggelegar itu, mendadak terdengar jerit tangis histeris Khalila. Tangisannya nyaris sama seperti saat aku menemukannya di tengah pertempuran sengit kala itu. Aku dan Ahmed sontak berlari ke tempat di mana suara itu berasal. Karena posisiku di luar, aku hanya bisa mengetuk jendela kamar tempat Khalila berada saat ini.


"Khalila, ada apa? Apa kau mendengarku?"

__ADS_1


"Kakak Pirang!" teriaknya memanggilku diiringi tangisan.


Pintu jendela terbuka kecil. Kulihat Ameena tengah menggendongnya sembari berdiri di depan jendela.


"Ada apa dengannya?" tanyaku saat melihat Khalila pucat dan berkeringat di beberapa titik wajahnya.


"Dia memang seperti ini jika mendengar suara tembakan dan bom," jawab Ameena tak kalah cemas.


"Ya, adinda Khalila selalu bereaksi berlebihan jika mendengar suara-suara seperti ini."


Khalila kembali berteriak hingga sesak napas saat seiring suara senapan semakin beringas. Tatapan matanya kosong dan tubuh gemetaran. Dari sini, aku baru menyadari adanya kemungkinan Khalila memiliki fonofobia¹.


"Bisakah aku masuk ke dalam? Mungkin, aku bisa menenangkannya."


"Ya, Anda terlihat kurang sehat. Biarkan saudara Kei yang menjaganya," sambung Ahmed.


Ameena mengangguk kecil lalu membuka pintu kamar. Aku dan Ahmed bergegas masuk ke kamar tersebut. Khalila langsung berpindah ke badanku. Aku memeluknya sambil menyandarkan kepalanya di bahuku. Kuusap-usap kepala dan punggungnya secara bergantian.


"Khalila, rileks, semua akan baik-baik saja," bisikku pelan.


Khalila mengangguk sambil mengeratkan pelukannya. "Kakak Pirang, di mana abi?"


Aku tersentak. Mataku memandang Ameena dan Ahmed yang juga kompak memandangku.


"Ayahmu ... sedang mengusir orang-orang yang membuat suara ledakan itu!" kata Ahmed.


"Benarkah? Kalau begitu, orang-orang itu akan segera pergi, kan?" tanyanya sambil meremas punggungku.


"Tidurlah! Kau akan aman bersamaku. Aku akan melindungi kau dan juga ibumu. Kau percaya padaku, kan?" kataku.


"Kakak Pirang, aku sangat senang kau ada di sini!" kata Khalila dengan suara bergetar.


"Aku juga senang bisa bertemu denganmu lagi!" balasku.


Khalila menggigit pundakku setiap mendengar suara tembakan. Ini seperti waktu dia menggigit punggung tanganku saat kami bersembunyi dan terperangkap di area peperangan. Aku lalu meminta Ameena untuk membuka ranselku dan mengambil headphone yang tersimpan di dalam sana. Headphone itu kupasangkan ke telinga Khalila untuk meminimalisir suara-suara tembakan dan bom yang terdengar.


Sekitar sepuluh menit kemudian, Khalila telah terlelap di bahuku. Aku membaringkannya di atas ranjang dengan hati-hati agar tak membangunkannya. Headphone itu masih terpasang di telinganya.


"Aku mau mengecek anak-anak lainnya. Mereka juga pasti ketakutan," ucap Ahmed sambil buru-buru keluar kamar.


Ameena pun turut keluar kamar tanpa berkata apa pun. Namun, berselang tiga puluh menit kemudian, dia datang sambil membawa nampan yang penuh dengan aneka hidangan.


"Makanlah dulu!" ucapnya sambil meletakkan makanan itu di meja kecil yang diisi sebagian buku-buku tebal.


"Terima kasih, tapi aku tidak lapar," balasku sambil memandang punggung Ameena dengan sendu.


"Jika kau tak makan, bagaimana kau bisa kuat melindungi kami?" Suara Ameena terdengar lirih.

__ADS_1


Mendengar suaranya, aku pun langsung mengambil posisi duduk di meja tersebut dan mulai menyantap hidangan yang telah disediakan olehnya.


"Itadakimasu!" ucapku sambil menangkup kedua tangan di depan aneka makanan.


Kuhabiskan semuanya meski makanan itu tidak cocok di lidahku. Aku meletakkan mangkok kecil berisi sup hangat yang baru saja kuseruput habis. Sup itu menjadi penutup makanan terakhirku.


"Terima kasih atas makanannya!" ucapku pada Ameena yang ternyata tengah memandangku.


Saat mata kami bersirobok, dia buru-buru menunduk sembari mengumpulkan piring dan mangkok kotor. Sementara di luar sana, ledakan masih terus terdengar. Kali ini disertai dengan gempuran rudal. Hanya mendengar saja, aku bisa merasa arena pertempuran itu semakin dekat. Aku bingung kenapa mereka semua tak segera meninggalkan tempat ini.


"Mina-chan, kita tidak bisa terus bertahan di sini! Ini akan merusak mental Khalila. Kalian berdua ... ikutlah bersamaku ke Damaskus. Tinggallah di sana sementara waktu!"


Ameena bergeming seketika. Kulihat tangannya yang sedang memindahkan piring ke nampan berhenti bergerak.


"Kita harus menunggu tuan Ali dan meminta persetujuannya terlebih dahulu," balas Ameena pelan sambil berbalik membawa nampan berisi peralatan makan yang kupakai.


Aku hampir lupa jika kini Ameena telah termiliki. Bagaimana aku bisa selancang ini, hendak membawa anak dan calon istri seseorang?


Perang terus berkobar hingga cahaya matahari menggantung di langit. Suasana pagi yang seharusnya indah malah mencekam. Suara nyanyian burung berganti dengan letupan senjata dan dentum bom terus bersiaga tanpa jeda. Gorden-gorden di setiap ruangan bergerak samar tertiup angin, membawa dedaunan yang kering berguguran. Aku mengambil salah satu daun kering yang hinggap di atas kepalaku. Suasana ini membuatku serasa berada di ruang liminal².


"Mereka tiba! Mereka pulang" teriak seseorang.


Aku, Ahmed, Ameena dan orang-orang yang tersisa di yayasan itu lantas berlari menuju gerbang. Kami tak sabar menanti kabar tentang keadaan terkini. Namun, wajah kami seketika berubah saat yang muncul di pintu gerbang hanya empat orang. Wajah mereka murung diselimuti duka.


"Bagaimana situasi perang saat ini? Mana tuan Ali dan lainnya?" tanya Ahmed tak sabar.


Salah satu dari mereka berkata dengan suara yang tak berdaya. "Insya Allah, mereka syahid!"


.


.


Jejak kaki 🦶🦶🦶




fonofobia : ketakutan atau kebencian suara keras. Seperti kembang api, petasan, ledakan bom, senjata, bahkan letusan balon.




Ruang liminal/liminal space atau yang dikenal liminality: kondisi ambang antara apa yang sudah kita kenal dan yang baru kita temui.


__ADS_1



sederhananya gini pernah gak kalian punya perasaan tak nyaman ketika berada di suatu tempat? Perasaan itu seperti hampa, aneh, nostalgia yang mendatangkan kesedihan, atau bahkan rasa mistik. Itulah yang disebut liminal.


__ADS_2