
..."Ingatlah media adalah penyambung lidah rakyat dan tugas jurnalis menyuarakan orang-orang yang tak berani bersuara."...
...~Kei Ayano in Never Not~...
...----------------...
Lama aku termenung seraya menjaganya. Tiba-tiba aku tersadar, kami perlu mengirim sinyal darurat internasional untuk meminta bantuan luar. Aku segera berdiri, mencari ranting kayu. Dengan ranting itu, aku menulis "SOS"¹ sebesar mungkin di atas permukaan pasir. Lalu aku berjalan ke sekeliling untuk mengumpulkan ranting-ranting kecil untuk membuat api di tiga sudut yang membentuk segitiga. Untung saja bawa pemantik api sehingga memudahkan semuanya.
foto by 123rf
Sekarang, suasana sekitar kami lebih terang dan hangat. Namun, tetap harus menjaga ketiga api unggun itu agar tak mati disenggol angin. Aku berharap sinyal permintaan bantuan ini dapat terbaca. Meskipun sebenarnya harap-harap cemas kalau yang ternyata melihat ini adalah kelompok ekstremis yang membenci orang asing sepertiku.
Aku kembali ke tempatku. Kulihat Ameena masih terlelap. "Hei, Mina-chan, bukankah sekarang lebih hangat?"
Percaya atau tidak, kami bisa melewati satu malam yang melelahkan di tempat ini tanpa tenda dan tanpa bekal yang memadai. Kelopak mataku terbuka berat saat sinar matahari pagi menyorot wajahku. Dengan mata yang masih meredup, aku melihat sekeliling. Tanda "SOS" yang kubuat masih ada, tapi ketiga titik api itu sudah padam meninggalkan abu.
Aku tersentak begitu menyadari Ameena tidak ada. Tepat saat berdiri, ternyata Ameena tengah menuju ke arahku, berjalan dengan menggunakan bantuan ranting sebagai penopang kakinya yang pincang. Dia juga tampak membawa botol bekas air mineral yang kini terisi sedikit air.
"Dari mana kau mendapatkannya?" tanyaku sambil menunjuk air mineral.
Dia menunjuk jauh. Aku mengernyit tak paham, karena tak melihat jejak oase di sana. Dia lalu meminta ponselku dan menuliskan sesuatu yang diterjemahkan ke bahasaku seperti biasa.
"Di pagi buta, aku mengumpulkan embun di tanaman kaktus dan batang pohon. Aku menempelkan gumpalan kecil dari kain hijabku ke tanaman yang berembun lalu memerasnya ke dalam botol. Kurasa ini cukup untuk stok air minum kita," jelasnya dalam tulisan yang baru saja ia ketik.
"Sugoi! Kau cerdas juga ternyata," pujiku.
(Sugoi bahasa jepang yang artinya luar biasa, keren, hebat).
Kami kembali melanjutkan perjalanan sebelum matahari mulai terik. Ameena mengatakan kalau kami harus menemukan tempat bernaung sebelum memasuki siang hari. Sebab, melanjutkan perjalanan siang hari dengan persediaan air dan makanan terbatas sama dengan bunuh diri. Selain itu, kami perlu meminimalisir keluarnya keringat untuk menghindari cairan tubuh yang bisa membuat dehidrasi.
Aku masih seperti biasa. Setia mengawalnya dari belakang. Sejujurnya, aku tak tega melihatnya berjalan pincang dengan bantuan ranting kayu. Di sisi lain, aku salut dengan karakternya yang begitu teguh, pantang menyerah, dan tidak pernah mengeluh meski keadaannya seperti itu.
Langkah Ameena mendadak terhenti.
"Ada apa?" tanyaku.
Dia menunjuk ke atas. Aku segera mengikuti perintahnya, turut menaikkan pandangan ke cakrawala. Berharap ada pesawat bantuan yang akan membawa kami keluar dari sini. Sayangnya, tak ada apa pun di atas sana.
Aku lalu kembali menoleh ke arahnya. Dia masih menatap langit dengan wajah takjub.
Aku mengambil ponselku, kemudian mengetik sebuah pertanyaan. "Apa kau suka lihat langit?"
__ADS_1
Dia membacanya, lalu mengangguk kecil. "Sudah lama aku tidak melihat langit biru dengan awan yang putih seperti kapas. Setiap menengadahkan kepala, yang tampak hanyalah pesawat tempur yang siap meledakan bom," ketiknya yang kemudian diperlihatkan padaku.
Aku tergugu. Kubiarkan dia terus memandangi langit. Alih-alih, ikut memandang langit. Mataku malah tak bisa beralih dari wajahnya. Ada sebutir air kesedihan yang mengalir di pelupuk matanya. Dia seperti tengah mengingat seseorang. Sejenak, aku kembali teringat saat dia menyebut nama Khair semalam.
Jempol tanganku kembali bergerak lincah di papan tombol ponsel. "Bolehkah aku bertanya siapa khair?"
Tanganku mematung sebentar. Aku berubah pikiran. Kuurungkan niat untuk bertanya hal-hal yang bukan urusanku. Jempolku menekan tombol hapus. Satu per satu kata yang tertulis lenyap menyisakan kata "Khair". Aku menghapus huruf paling belakang sehingga yang tersisa tinggal kata "Khai", nama panggilannya untukku.
Jujur, aku bertanya-tanya apakah nama tersebut memiliki arti. Aku percaya setiap nama pasti memiliki arti tersendiri. Karena penasaran, aku langsung mengubah setelan terjemahan kata tersebut ke dalam bahasa Jepang.
"Yang terpilih." Begitulah aplikasi mengartikan nama Khai. Sungguh arti nama yang indah bukan?
Aku mengembangkan senyum. Entah kenapa hanya dengan membaca arti dari nama Khai sudah membuatku tersipu.
Khai artinya yang terpilih. Apa itu artinya aku orang yang terpilih untuknya? Batinku mendadak berisik. Bibir ini senyam-senyum sendiri tanpa bisa kukendalikan. Kugigit bibir sendiri agar tak tampak seperti orang gila yang terus tersenyum tanpa sebab. Sialnya, kegilaanku malah berpindah di kaki. Sepasang kakiku kini berjinjit-jinjit layaknya penari balet. Seperti merasakan sensasi melayang ke angkasa. Lebih tepatnya, aku seperti remaja yang kasmaran hanya karena mengetahui arti dari nama panggilannya untukku.
Tunggu, reaksi apa ini? Bukankah terlalu berlebihan? Aku lekas menampar diriku sendiri. Itu kulakukan berkali-kali.
"Khai?"
Aku berhenti menampar wajahku ketika Ameena memanggil. Aku menoleh kaku ke arah Ameena yang memandang heran ke arahku. Tubuh ini membeku beberapa detik, hingga aku tersadar dan segera berbalik membelakanginya. Astaga, dia pasti mengira aku gila!
Untuk menghalau suasana canggung ini, aku berpura-pura mengibaskan tanganku di udara.
"Ternyata ada banyak nyamuk di sini," ucapku sambil terus berpura-pura mengibaskan tangan serta menampar pipi sendiri.
"Persediaan air kita habis." Aku menggoyang botol yang telah kosong.
"Semoga di perjalanan nanti kita akan menemukan mata air," tulisnya tanpa rasa khawatir.
Aku tersenyum lalu memandang lurus ke depan. Karena baterai ponselku mungkin tak bertahan hingga malam, jadi kugunakan kesempatan ini untuk mengobrol dengannya. Saling mengenal satu sama lain.
Untuk membuatnya tetap nyaman, aku memilih bertanya tentang negaranya, awal mula terjadinya konflik, serta pandangannya terhadap perang. Dengan begitu, interaksi kami terlihat seperti wartawan dan narasumber. Tidak lebih. Dari jawabannya, aku menilainya cukup kritis, meski tetap terlihat berhati-hati mengeluarkan pendapat. Sejujurnya, aku ingin sekali menanyakan satu nama yang cukup mengusikku dari semalam. Khair!
"Apa ada yang ingin kau tanyakan padaku?" tanyaku balik.
Dia mengambil ponselku lalu menuliskan kalimat tanya. "Orang seperti apa dirimu?"
Aku tersenyum tipis membaca pertanyaannya. "Aku seperti yang kau lihat saat ini. Bagaimana penilaianmu tentangku, seperti itulah aku," jawabku.
"Kau terlihat baik."
Aku tersipu membaca terjemahan tulisannya. "Terima kasih. Tapi sebagian orang mungkin menilaiku tidak begitu."
__ADS_1
"Kenapa?"
"Karena aku senang membongkar keburukan mereka."
"Itu tidak baik. Kau harus mengubah sifat itu!"
Aku tertawa renyah membaca tulisannya. "Sebelum menjadi jurnalis, aku seorang tentara Jepang."
Kulihat dia tampak terkejut membacanya. "Kenapa kau berhenti dari tentara?"
"Karena aku tidak suka berperang," jawabku asal-asal.
"Tapi pekerjaanmu yang sekarang malah membawamu ke medan perang," balasnya.
Aku merasa tertohok. Apakah harus kuceritakan padanya kalau aku sengaja dilempar ke sini atas pesanan calon mertuaku sendiri?
"Aku yakin suatu saat nanti Khai akan menjadi jurnalis yang berjalan di atas kebenaran, berani mengungkap fakta yang sebenarnya dan menyuarakan suara orang-orang lemah," tulisnya kembali.
Aku menatap haru ke arahnya. Sepasang matanya yang jeli memancar penuh keyakinan. Senyum tipis pun mengembang di bibirku.
"Aku pasti akan menjadi jurnalis seperti itu," balasku dengan optimis.
Kami kembali berjalan. Suhu panas di gurun ini mulai naik. Sialnya, kami belum mendapatkan tempat berteduh. Dalam keheningan, mendadak aku mendengar suara mobil yang terdengar samar. Aku menghentikan langkah ini hanya untuk memastikan suara itu.
Ameena berbalik ke arahku. Kami sama-sama terdiam seolah sedang mendengarkan sesuatu. Ya, suara mobil itu semakin jelas terdengar. Segera kuedarkan pandangan ini. Dari kejauhan tepatnya di arah kanan tempatku berpijak, terlihat mobil double kabin yang melintas pelan.
Aku dan Ameena saling bertatapan dengan wajah yang berseri-seri. Melihat ada mobil yang melewati gurun ini, bak menemukan oase di tengah kekeringan dan kehausan yang melanda.
"Tunggu aku di sini! Aku akan menahan mobil itu!"
Aku berlari kencang menuju arah lintasan mobil tersebut. Tak peduli sempat terpeleset di atas pasir yang membentuk gundukan, aku segera bangun dan kembali berlari. Melangkahkan kaki selebar mungkin. Meski tak tahu mobil itu akan ke mana. Yang terpenting, aku harus bisa menghadang mobil tersebut. Dapatkah kami kembali hari ini?
.
.
.
jejak kaki 🦶🦶
S O S: isyarat meminta pertolongan dalam keadaan darurat.
__ADS_1
jangan lupa like dan komeng