Sang Jurnalis

Sang Jurnalis
Part 19 : Aku dan Perasaanku


__ADS_3

Tubuhku melemas seketika. Aku seakan dibangunkan oleh kenyataan kalau hubungan kami hanya sebatas perjalanan di gurun saja. Ameena mungkin hanya seperti cahaya yang melesat cepat di hidupku. Berlalu begitu saja.


Aku pun segera tersadar kalau yang kulakukan mungkin akan melukai Yuna. Ya, wanita manapun pasti tak menginginkan prianya memikirkan wanita lain.


Setelah selesai melakukan reportase di tempat ini, aku menuju ke tenda darurat tempat para korban mendapatkan penanganan medis. Berdiri tak jauh dari tenda tersebut, kulihat Yuna tengah sibuk mengurus pasien. Sejak mengenalnya di bangku sekolah, ia memang terkenal dengan sisi kemanusiaannya yang begitu tinggi. Dia senang menolong orang tanpa peduli latar belakang orang tersebut. Dengan karakternya yang seperti itu, lelaki mana yang tak bisa jatuh hati padanya?


Pandanganku lalu teralihkan pada sosok perawat yang tengah memberikan CPR ke salah satu korban yang tak sadarkan diri. Pada detik itu juga ingatanku seakan kembali membawaku ke gurun pasir. Namun, segera kubuyarkan ingatan itu agar sesak tak menghinggapiku lagi. Aku berbalik, memutuskan pergi.


"Kei!" Suara lembut Yuna memasuki pendengaranku.


Aku berbalik. Perempuan periang itu berlari ke arahku dengan senyum yang terpatri di wajahnya.


"Apa kau sudah selesai meliput?" tanyanya.


"Sudah. Besok aku akan ke lokasi pengungsian untuk warga di sekitar sini. Bagaimana denganmu?"


"Warga sipil yang terluka parah hanya belasan orang tidak seperti tiga hari yang lalu. Dari tentara Suriah juga hanya luka ringan. Kupikir, kali ini cukup banyak memakan korban dari kelompok pemberontak."


Aku mengangguk-angguk pelan. "Perhatikan keselamatanmu juga. Kau harus berhati-hati!"


"Baik!" Yuna malah memberi hormat padaku layaknya seorang tentara. Dia memutar badannya lalu berlari kembali, balik menuju tenda darurat.


"Yuna, tunggu! Jangan bergerak!" teriakku tiba-tiba.


Kaki Yuna seakan tertancap di tanah begitu mendengar perintah dadakan dariku. "Ada apa? Apakah aku menginjak ranjau?" tanyanya panik. Dia bahkan sampai tak berani menoleh ke arahku.


Melihatnya mematung seperti itu, membuat tawa halusku menyembul. Aku segera menghampirinya yang masih tak bergerak. Berada di depannya, aku lantas berjongkok lalu mengikat sebelah tali sepatunya yang terlepas. Berjalan dengan tali sepatu yang tak terikat menjadi salah satu kebiasaan buruknya bahkan sejak masih sekolah.


Napas kasar Yuna berembus seketika saat aku selesai membentuk pita di tali sepatunya. Ia lantas ikut berjongkok sehingga kami saling berhadap-hadapan.


Sambil memangku dagunya, dia menatapku lamat-lamat dengan senyum yang mengembang lebar. Aku mencontek tingkahnya. Kupangku daguku, dengan mata yang tertanam di bola matanya. Kami layaknya anak kecil yang sedang beradu siapa tahan tak mengerjapkan mata.

__ADS_1


"Apa yang sedang kau bayangkan?" tanyaku.


"Aku membayangkan di tengah-tengah tempat kita berjongkok ini ternyata ada ranjau. Kemudian ranjau itu meledak dan menewaskan kita berdua," ucapnya sambil terkekeh.


"Khayalan apa itu?! Menakutkan!" ketusku dengan sudut bibir yang mencibir.


Dia malah tertawa renyah. "Bukankah itu romantis sekali. Kita akan sehidup semati."


"Jangan membuat candaan tentang kematian!" ketusku. Selama empat hari tersesat, berkali-kali aku dihadapkan dengan pilihan antara hidup dan mati.


"Apa yang sedang kau bayangkan?" Giliran dirinya yang bertanya padaku.


"Aku membayangkan kita menikah dan memiliki anak-anak yang lucu," jawabku pelan sambil menatap bola matanya. Rasa cinta dan sayangku untuk Yuna jelas masih ada.


Detik itu juga, senyum yang tersungging di wajah Yuna spontan memudar.


"Kenapa? Apa kau tidak senang dengan khayalanku?" tanyaku setelah melihat perubahan ekspresinya.


Ya, entah hanya perasaanku saja, Yuna selalu menghindari topik tentang perencanaan pernikahan. Kupikir, dia sama seperti perempuan modern lainnya yang takut menikah karena tidak ingin merusak karir mereka. Apalagi, budaya pernikahan negara kami masih terikat dengan peraturan tradisional di mana sang pria bekerja dan menafkahi keluarganya, sementara wanita merawat suami dan anak-anaknya di rumah.


Tak jarang, perempuan yang telah menikah akan merelakan karir mereka demi mengurus keluarga. Hal ini menjadikan beberapa perempuan khususnya di Tokyo lebih memilih tinggal bersama tanpa status pernikahan. Ini cukup menjadi masalah serius bagi pemerintahan negara kami, yang mana jika minat menikah dan memiliki anak berkurang, maka diperkirakan di masa depan kami hanya tersisa lansia.


Terlepas dari apa pun yang menjadi alasannya, inilah uniknya hubungan yang kami jalani. Kami memiliki ideologi yang berbeda tapi bisa terus bersama.


"Tunggu, kau singgah ke sini karena merindukanku, kan?" tebaknya sambil mengacungkan jari telunjuk ke wajahku.


Aku tersenyum tipis sambil menangkap jari telunjuknya. Aku tahu dia sedang mengalihkan pembahasan seputar pernikahan seperti yang sudah-sudah. Ketika jari-jarinya turut menyembul, pandanganku langsung terarah di jari manisnya. Jika cincin berlian itu tak hilang, mungkin sekarang aku bisa menyematkan langsung ke jari manisnya.


Aku ikut membuka jariku hingga telapak tangan kami saling bersentuhan, lalu kutautkan jari-jemari kami sambil saling berbalas senyum.


***

__ADS_1


Tak terasa, senja mulai menjembatani waktu menuju malam hari. Aku duduk di tumpukan reruntuhan yang tingginya hampir membentuk gunung. Kudongakkan kepala, menatap langit sore yang seharusnya memendarkan cahaya jingga, malah berkabut karena sisa-sisa ledakan di sejumlah titik. Sekarang aku mengerti, mengapa Ameena sangat menikmati langit biru dengan awan seputih kapas.




sumber foto: Hassan Ammar, file


Mina-chan, bagaimana kabarmu saat ini?


Aku ingin memastikan keadaannya. Itu saja. Setidaknya, dengan mengetahui kabarnya, hatiku sedikit tenang dan bisa melanjutkan hidupku seperti semula.


Sampai di sini, aku menganggap perasaanku tempo hari pada Ameena hanya sebatas sayang selayaknya keluarga. Ya, melewati berbagai keadaan hanya berdua, membuatku merasa Ameena satu-satunya anggota keluargaku. Rasa ibaku padanya yang membawa hasrat ingin melindunginya begitu meluap-luap. Keinginan untuk terus bersama pun muncul. Ketika dia pergi, aku merasakan hampa layaknya kehilangan seseorang yang begitu berarti. Ya, kuharap seperti itulah perasaanku pada Ameena.


"Ayano-san!"


Aku memutar kepalaku ke belakang, saat seseorang memanggil namaku. Kulihat Aoba mendaki puing-puing ini penuh kehati-hatian untuk bisa menghampiriku. Begitu sampai di puncaknya, perempuan yang memiliki potongan rambut pendek itu duduk di sampingku dengan kaki yang berselonjor ke depan.


"Kau bisa membantuku, kan?" tanyaku sambil menatap kosong ke depan.


"Tentu. Kau bisa mengandalkan aku. Aku akan mencari tahu daftar korban di tempat ini. Setidaknya itu bisa membantumu sedikit tenang," ucapnya penuh optimis.


Ya, bisa ditebak kalau aku meminta Aoba untuk mencari keberadaan Ameena. Aoba sangat ahli dalam mengais berita. Kemampuannya bisa dibilang hampir menyerupai agen intelejen. Dia dapat berbaur begitu mudah dengan masyarakat di sini, bahkan memiliki koneksi dengan beberapa tentara Suriah hanya untuk mencari informasi. Tak heran jika dia juga tahu tentang kerenggangan antara aku dan ayah Yuna, serta hal yang melatarbelakangi aku dilemparkan ke sini. Hebat, 'kan?


"Aku ingin bertemu dengannya sekali saja. Aku hanya ingin memastikan dengan mata kepalaku sendiri kalau dirinya baik-baik saja. Setidaknya, dia harus berada di tempat yang aman," ucapku pelan.


"Kau tenang saja, aku akan membantumu. Aku pasti akan mencari info tentang keberadaan Ameena. Aku juga merasa bersalah padanya. Padahal, waktu itu dia memintaku yang mengantarnya ke kamp pengungsian. Tapi, aku malah menolak dan menawarkan kau untuk menemaninya."


"Arigatou, Aoba-san. Aku ingin kau mencari tahu satu nama lagi!"


"Siapa itu?"

__ADS_1


"Khair," sebutku cepat, "aku ingin mengetahui segala tentang pemilik nama itu."


__ADS_2