Sang Jurnalis

Sang Jurnalis
Part 36 : Hubungan di Garis Finish


__ADS_3

Kupikir aku yang meninggalkan, ternyata akulah yang ditinggalkan. Kupikir aku yang melepaskan, ternyata dialah yang melepaskan diri. Kupikir aku yang kejam, ternyata takdirlah yang kejam.


.


.


.


Aku dan Yoshizawa duduk bersebelahan di kursi tunggu Rumah Sakit dengan tubuh yang berselimut darah. Beberapa saat yang lalu, sebuah bom meledak di dalam mobil yang melintas. Yuna dan sejumlah tenaga medis turut menjadi korban peledakan tersebut. Kejadian itu masih membayang di penglihatanku, sekalipun aku memejamkan mata. Mungkin, ini akan menjadi kenangan buruk yang sulit kulupakan, di mana harus menyaksikan wanita yang kucintai terluka parah.


Sudah berjam-jam kami di sini sambil menunggu kepastian kabar dari dokter. Kepala Yuna mengalami cedera parah akibat terkena serpihan bom dan terpental beberapa meter. Dokter harus mengoperasi kepalanya untuk mengeluarkan serpihan tersebut.


Selain aku dan Yoshizawa, koridor ini dipenuhi oleh beberapa pasukan Bela-diri Jepang lainnya yang berjaga-jaga. Aku sempat mendengar dari perbincangan mereka, kalau panglima sedang dalam perjalanan ke sini dengan memakai jet negara. Benar saja, selang tiga jam kemudian ayah Yuna dan juga ibunya tiba di Rumah Sakit ini.


Kehadirannya tentu disambut hormat seluruh pasukan yang berjaga. Yoshizawa sontak menghampirinya sambil turut memberi hormat.


"Panglima, tolong hukum saya! Saya tidak menjaga Yuna dengan benar," ucap Yoshizawa sambil membungkuk penuh.


"Kau sudah bekerja keras! Bangun dan berdiri tegap!" perintah ayah Yuna. Ia bahkan menepuk pundak Yoshizawa.


Pandangan ayah Yuna beralih padaku yang berdiri tak jauh dari belakang Yoshizawa. Dengan langkah tegas tanpa senyum, pria yang menjadi komandan tertinggi angkatan darat itu menghampiriku. Aku yang sedari tadi hanya berdiri mematung, bersiap untuk menyapanya dengan penuh rasa hormat. Namun, tepat saat dia berhenti di hadapanku, lima jarinya lebih dulu berayun ke pipiku hingga menimbulkan bunyi yang sangat keras. Seluruh orang yang berada di koridor itu spontan menoleh ke arahku.


"Berani-beraninya kau muncul di sini setelah membahayakan putriku! Jika bukan karena menyusulmu di sini, Yuna tidak mungkin akan mengalami hal naas seperti ini! Aku bersumpah, jika terjadi sesuatu padanya kau yang harus bertanggung jawab atas semua ini." Gelagar suara ayah Yuna menghantam gendang telingaku, juga mencabik-cabik hatiku. Belum lagi cetakan tangannya yang masih terasa di pipiku.


Sakit? Jelas, tapi bukan di pipi ini, melainkan di hatiku. Ditampar di hadapan mantan kawan sejawat tentu sangat memalukan dan menurunkan harga diri. Namun, itu tak berarti apa-apa dibanding dimintai langsung untuk pergi dari kehidupan putrinya.


Melihatku yang masih enggan beranjak, ayah Yuna pun memerintahkan prajurit yang berjaga untuk menyeretku pergi. Awalnya mereka ragu melakukannya padaku, tapi karena itu adalah perintah, maka mereka pun segera menarik paksa tubuhku. Aku menepis tangan-tangan yang berusaha menyentuhku.


"Anda boleh membenciku, tapi Anda tidak bisa melarang dua manusia yang saling mencintai dan ingin bersatu kecuali jika Anda Tuhan," ucapku dengan suara lantang.


"Cinta? Kau masih bisa mengatakan hal bodoh itu setelah keadaan putriku seperti ini?" Ucapanku malah menyulut amarah pria itu. "Jika kau benar-benar mencintainya, seharusnya kau tidak merebut kehidupan dan semua impiannya!" tegasnya dengan mata yang berapi-api.


Kalimat yang meloncat dari mulut ayah Yuna begitu menohokku. Benar, akulah yang patut dipersalahkan atas kejadian yang menimpa Yuna. Kalau saja dia tak menyusulku ke sini, hal ini tak akan terjadi. Jika terjadi sesuatu padanya, aku tak akan memaafkan diriku sendiri ....


Aku kembali ke tempatku dengan keadaan yang tak bertenaga. Kawan-kawan langsung mengerumuniku dan menanyakan keadaan Yuna. Aku tak tahu harus menjawab apa, karena hingga kini dia masih belum melewati masa kritis.

__ADS_1


Aoba kemudian berkata dengan nada lambat. "Ayano, redaksi meminta kita menulis kronologi tentang Yuna yang terkena ledakan bom mobil. Mengingat, dia merupakan anak panglima besar dan juga satu-satunya warga negara Jepang yang menjadi korban. Aku tahu, mungkin ... berat bagimu harus menuliskan detail berita yang menimpa kekasihmu ...."


"Tidak apa-apa. Akan kutulis sekarang!" potongku. Seperti kata Aoba, rasanya sungguh berat harus menuliskan berita tentang kekasihku sendiri. Namun, aku harus tetap bersikap profesional dan menyampingkan hal yang bersifat pribadi.


"Lalu ... bagaimana dengan berita investigasi yang ditolak?" tanya So yang kemudian merintih kesakitan. Aku hanya bisa menebak Aoba sengaja menginjak kakinya, agar dia tak menyinggung masalah itu sekarang.


"Masih akan kuusahakan untuk tetap rilis bagaimanapun caranya." Seketika, aku teringat janjiku pada Zaheera.


Beberapa hari setelah kejadian itu, aku tak bisa menjenguk Yuna. Penjagaan di Rumah Sakit itu sungguh ketat. Wartawan dan jurnalis tak diizinkan masuk. Sialnya lagi, aku harus keluar dari kota Damaskus untuk berburu berita penyerangan di sejumlah kota yang telah dikuasai kelompok ekstremis. Ini membuatku semakin tak bisa menjaga Yuna selama masa kritisnya.


Setiap melewati rumah ibadah di kota tempatku meliput, aku selalu berhenti sekadar untuk mendoakan Yuna. Aku hanya berani berdiri lurus sejajar dengan arah pintu masuk rumah ibadah tersebut. Seorang agnostik seperti diriku tak membutuhkan tempat ibadah khusus untuk membuat sebuah permohonan pada Tuhan.


"Kami-sama, tolong jangan ambil nyawa Yuna! Ambillah semua yang kumiliki sebagai gantinya!" Kalimat itu selalu kuulang setiap melewati rumah ibadah.


Seminggu kemudian, aku balik ke Damaskus setelah sibuk meliput sana-sini. Aku mendapat kabar kalau Yuna telah siuman. Ini membuatku tak sabar untuk menemuinya. Dengan tekad yang besar, aku datang ke Rumah Sakit sambil membawa satu box pasta yang kupesan dari Yordania dan kuhangatkan kembali. Ada rasa gemetar bercampur berdebar-debar saat kaki ini melangkah masuk. Ternyata ibu Yuna dan Yoshizawa juga berada di dalam sana. Tak peduli siapapun yang di dalam, tujuanku hanya datang untuk Yuna.


Aku mengulas senyum lebar saat melihat Yuna telah sadar dengan keadaan yang membaik. Dia bahkan sudah bisa duduk bersandar di ranjang. Dia tampak sibuk memilih deretan cincin yang berada di hadapannya. Namun, fokusnya teralihkan saat aku masuk dan menghampirinya. Matanya memicing sesaat, seolah tengah mengingat-ingat sesuatu.


"A–ayano?" sebutnya dengan ragu-ragu.


Ibunya lantas mendekatinya seraya bertanya, "Apa kau mengenalnya?"


Yuna mengangguk kaku. "Dia teman sekelasku." Ia lalu kembali menoleh ke arahku. "Ayano-kun, kenapa kau juga bisa berada di negara ini?"


"Eh?" Aku mendadak bingung.


"Temanmu seorang jurnalis yang ditugaskan di tempat ini," jawab ibu sambil melirikku dengan sorot mata yang tak menyenangkan.


"Benarkah? Wow, Sugoi! Itu pekerjaan yang cocok untukmu!" seru Yuna, tapi tak lama kemudian dia melayangkan pertanyaan dengan ragu-ragu, "Ayano-kun, apa ... kau ... punya pacar?"


"Eh?" Dahiku semakin berkerut. Bahkan alis ini nyaris bersatu.


"Oh, maaf. Aku lancang bertanya seperti itu," ucap Yuna segan.


"Dia sudah menikah dengan wanita di negara ini. Kau juga hadir di pernikahannya waktu itu," ucap ibu Yuna terburu-buru, "Benar, kan?" Ibu Yuna menoleh ke arahku dengan tatapan berbeda seakan meminta aku membenarkan ucapannya.

__ADS_1


Aku tidak mengerti! Mereka membuatku layaknya orang bodoh yang tak mengerti apa-apa tapi harus menyetujui segala pernyataan yang ada.


Yuna menunjukkan ekspresi terkejut. "Sungguh? Aku tidak menyangka kau akan menikah di usia muda. Padahal dulunya kau sangat kutu buku." Yuna lalu menarik tangan Yoshizawa dan merangkul lengannya. "Oh, iya, kenalkan ini tunanganku. Kami akan segera menikah setelah kembali ke Jepang. Mungkin sekitar dua atau tiga hari lagi aku pulang ke Jepang."


Mataku sontak membesar. Apa ini? Tidakkah dia sedang berakting? Sungguh! Aku tidak mengerti apa yang mereka bicarakan! Kenapa seperti ini? Kenapa Yuna bersikap asing padaku? Apakah dia marah padaku karena aku sempat meminta agar hubungan kami berakhir?


Aku kembali melihat deretan cincin megah yang berada di hadapannya, kemudian melihat senyum kebahagiaan di wajah Yuna. Dia bahkan menunjukkan salah satu cincin yang dipilihnya kepada Yoshizawa.


Ibu Yuna lantas menghampiriku yang masih berkecamuk dengan kebingungan. "Bisakah kau keluar dari sini? Yuna butuh banyak istirahat!"


Aku kembali menoleh ke arah Yuna yang sudah tampak tak peduli dengan kehadiranku. Dia malah kembali sibuk mencoba setiap cincin di jari manisnya.


"Bibi ... aku ...."


"Kumohon, tinggalkan kami! Yuna yang seperti ini sudah membuat kami bahagia. Selama dia masih selamat, seperti ini pun tidak masalah. Jangan membuat pikirannya menjadi kacau!" Tanpa memberiku kesempatan berbicara, ibu Yuna langsung mendorong dan memaksaku keluar dari ruang rawat anaknya.


Aku masih berdiri di depan pintu. Wajahku kaku. Tubuhku membatu. Aku masih tak mengerti. Aku butuh penjelasan atas semua kekonyolan ini! Tak berselang lama, Yoshizawa keluar dari ruangan. Kami saling berpandangan sejenak sebelum akhirnya dia menceritakan yang sebenarnya terjadi pada Yuna.


Dari penjelasan Yoshizawa, ternyata efek cedera parah di kepala Yuna membuat otaknya mengalami kerusakan fatal hingga sebagian ingatannya menghilang. Ia hanya bisa mengingat kenangan masa kecilnya sampai batas remaja. Ingatannya terhenti di usianya yang keenam belas tahun atau saat dirinya masih berada di kelas satu SMA. Itu artinya, dia tak bisa mengingat apa pun setelahnya. Termasuk hubungan yang kami jalani selama delapan tahun. Itulah kenapa dia hanya mengenaliku sebatas teman sekelas sekaligus saingannya. Sebab, dia telah kehilangan memori sembilan tahun terakhir.


"Dokter mengatakan ingatannya kemungkinan bisa pulih kembali dalam jangka lama, tapi bisa juga tak akan pernah kembali. Memaksa dia untuk mengingat hal yang terlupakan hanya akan berakibat fatal ke otaknya. Kesempatan ini digunakan keluarganya dengan memperkenalkan aku sebagai tunangannya. Tak hanya itu, mereka juga membuat cerita seolah kami memang sepakat akan menikah sebelum kecelakaan ini terjadi. Yuna menganggap semua itu benar hingga kau bisa melihatnya sendiri seperti tadi," ungkap Yoshizawa padaku.


Aku terperanjat. Hatiku berdesir tak keruan mendengar apa yang dikatakan Yoshizawa.


"Bagaimana dengan kau sendiri? Apa ... kau siap menikahinya dengan kondisi yang seperti ini?" tanyaku lambat-lambat.


"Sebenarnya, aku juga tidak yakin. Tapi ... bagiku ini juga bagian dari perintah atasan. Lagi pula, aku sudah cukup lama menyukainya. Pernikahan kami sebenarnya sudah direncanakan sejak lama oleh panglima. Hanya saja Yuna memilih melanjutkan kuliah spesialis untuk mengulur waktu. Itulah kenapa aku memintamu untuk menyerah saja, karena panglima tak mungkin akan membiarkan kalian bersama," ucap Yoshizawa. Dia mundur selangkah, lalu membungkuk penuh di hadapanku sebelum akhirnya meninggalkanku yang masih berkubang dalam keterkejutan.


Sinar mataku serasa meredup seketika. Hancur. Remuk. Patah. Itulah diriku saat ini yang dikhianati oleh keadaan. Aku berjalan tak tentu arah dengan bola mata yang bergerak kacau. Kaki ini sudah tak sanggup untuk berdiri tegak. Dadaku sesak, seperti baru saja tertimpa reruntuhan bangunan.


Perubahan Yuna membuatku sadar bahwa skenario alam untuk memisahkan kami sungguh adil untuknya. Yuna dapat melupakanku, tanpa harus melewati proses patah hati. Tuhan telah mengabulkan doaku dengan tak mengambil nyawanya, tapi sebagai konsekuensinya aku dan perasaanku kini terusir paksa dari ingatannya. Yuna dengan memorinya yang baru, mungkin hanya akan terisi Yoshizawa seorang. Pada akhirnya, hubungan yang kami jalani telah sampai di garis Finish.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2