
Dari bandara, aku segera menahan taksi dan meminta supir mengantarku ke stasiun kereta. Setelah mendapat izin dari ibu, aku sudah tak sabar untuk kembali bertemu dengannya. Berkat ibu, aku yang hampir menjadi pecundang, memilih berjuang sekali lagi. Perasaan yang sempat layu, kini tumbuh menjalar dan semakin mengokohkan akarnya.
Ameena mungkin sudah membaca suratku, tapi biarkan sekali lagi aku mengungkap perasaanku padanya secara langsung. Meski hati ini mungkin akan kembali terkoyak dan terempas, tak akan kusesali apa pun yang terjadi ke depannya.
Sesampainya di stasiun, aku segera membeli tiket. Sejenak, pandanganku tertuju pada kakek tua penjual keliling yang tengah menjajakan produk penumbuh bulu di area dagu. Ini mengingatkan aku pada tuan Ali yang begitu gagah dengan berewok yang tumbuh lebat di sekitar dagu dan sebagian pipinya.
Aku pun mendekati kakek itu. Kakek yang melihatku menghampirinya, lantas menawarkan produk itu.
"Aku ingin beli ini? Kira-kira berapa lama efek yang dihasilkan?" tanyaku.
Kakek itu tersentak mendengarku bisa berhasa arab. "Kurang lebih seminggu jika kau mengoleskannya secara teratur."
Aku menyerahkan uang untuk membeli produk tersebut. Kakek itu kembali menawarkan produk lainnya.
"Apa kau tidak ingin membeli penghitam rambut?" tanyanya sambil memandang rambutku yang keemasan.
Aku sedikit tergiur dengan tawarannya. Namun, seketika aku mengingat Khalila yang kerap memanggilku dengan julukan "Kakak Pirang, sehingga aku pun urung membeli produk tersebut. Aku tak ingin kehilangan julukan yang diberikan gadis kecil itu padaku.
"Tidak, terima kasih."
Selama di kereta, aku rela berdiri berhimpitan dan berdesakan dengan para penumpang lainnya. Perjalanan selama kurang lebih empat jam membawaku kembali ke kota Aleppo. Aku turun dari kereta kemudian lanjut mencari bus sesuai rute yang biasanya kulewati. Namun sebelum itu, aku menyempatkan berbelanja aneka jajanan untuk anak-anak panti asuhan.
Aku terkesiap melihat bus yang baru saja berangkat. Sontak, aku pun berlari mengejar bus tersebut. Untung saja jalannya masih pelan. Bus itu berhenti dan supirnya menanyakan tempat yang akan kutuju.
"Kami tidak bisa ke sana. Tentara Suriah dan milisi pemberontak Suriah sedang berperang di perbatasan saat ini. Lebih baik kau mengurungkan niatmu ke sana jika tidak ingin mati," ujar supir tersebut begitu tahu arah tujuanku.
Aku terperanjat. Jantungku terpukul. Mataku berkilat panik. Aneka jajanan yang baru saja kubeli, langsung terjatuh ke tanah saat tangan ini mendadak melemah.
Tidak mungkin. Kenapa sesuatu yang kukhawatirkan benar-benar terjadi?
__ADS_1
Aku segera menelepon Aoba dan kawan-kawan. Jika ini benar-benar terjadi, seharusnya mereka mengetahuinya dan segera ke sana. Dengan begitu, bisa ikut bersama mereka.
"Ayano-san! Apa kau sudah berangkat?" tanya Aoba begitu ponsel tersambung.
"Kalian di mana?"
"Kami sedang menuju perjalan ke wilayah yang berdekatan dengan wilayah perbatasan Turki. Kami mendapat informasi bahwa pasukan loyalis penguasa Suriah yang dibantu oleh militer Rusia sedang menggencarkan serangan untuk merebut wilayah itu. Ayano, bukankah anak kecil yang bersamamu itu tinggal di wilayah sana?"
Bagai menerima hantaman meteor, begitulah yang kurasakan saat ini. Setahuku, daerah yang meliputi wilayah kekuasaan pemberontak—termasuk desa yang ditinggali Ameena—merupakan penghasil minyak dan gandum utama. Sementara, tantangan terbesar pemerintah Suriah saat ini adalah ekonomi. Krisis pangan yang terjadi di sejumlah wilayah kekuasaan pemerintah, mengharuskan mereka segera merebut wilayah yang menjadi sumber bahan bakar dan pangan. Inilah kenapa hatiku mendadak gusar ketika menulis berita tentang krisis ekonomi negara ini semalam.
Aku langsung teringat dengan senjata yang dimiliki kelompok penjaga wilayah itu. Tentu tak secanggih dengan persediaan senjata yang dimiliki militer Suriah dan Rusia. Jika perang benar-benar terjadi, maka mereka pasti akan kalah telak. Lalu, bagaimana dengan nasib Ameena, Khalila dan para penduduk di sana? Apakah mereka akan ditangkap dan menjadi tawanan perang?
Aku menekan tombol kontak, hendak kembali menghubungi Aoba meminta mereka untuk menjemputku di sini. Namun, jempol tanganku tertahan seketika. Tidak bisa! Terlalu lama menunggu mereka untuk sampai di sini! Aku harus segera ke sana. Sekarang juga!
Tak ada pilihan lain, aku segera berlari dengan membawa ransel yang terisi penuh. Koper kecil yang berisi pakaianku, kini kutinggal begitu saja. Aku terus berlari sepanjang puluhan meter.
Kucoba menahan mobil yang melintas di jalanan. Sial, tak satu pun yang bersedia mengantarku ke arah sana. Jalanan semakin sepi menandakan arah menuju tempat itu memang telah disterilkan. Meski begitu, aku tak lelah menghentikan mobil dan meminta tumpangan pada mereka. Mobil yang berhenti kali ini ternyata memuat para wartawan asing bertampang Eropa.
"Ya, kami hendak ke sana. Keadaan di sana sangat kacau."
"Bolehkah saya menumpang di mobil kalian?"
Mereka saling melirik. Aku tahu, kondisi mobil mereka sangat penuh. Namun, aku tetap berharap mereka bisa memberi tumpangan. Aku bahkan menangkup tangan penuh permohonan. Tiba-tiba, seseorang memanggil namaku.
"Yaa ... Ayano Kei!"
Aku menoleh ke samping, tepatnya di belakang mobil tersebut.
"Kamal Malek!" Aku langsung berlari pada Malek yang tengah mengendarai motor besarnya dalam balutan rompi press ala jurnalis perang.
__ADS_1
"Kau mau ke mana? Apa kau mau ke wilayah selatan?" tanyaku.
"Ya, wilayah itu telah dikepung militer rezim. Sepertinya akan ada perang besar di sana!"
"Kalau begitu, aku ikut kau!"
"Naiklah!"
"Biarkan aku yang membawa motor!" pintaku.
Kamal Malek mundur ke belakang, sementara aku menggantikan posisinya mengemudi motor. Aku mulai melajukan motor di atas kecepatan rata-rata. Wajah gusarku bersembunyi di balik helm. Tangan kananku mencengkram erat stang motor, terus membelah jalanan.
"Ayano Kei, pelankan sedikit! Apa kau sedang ingin menjemput kematian? Ini bukan arena sirkuit!" teriak Kamal Malek yang duduk di belakangku.
Aku semakin terpacu untuk menambah kecepatan. Kami serasa terbang di jalanan yang senggang ini. Aku tak peduli dengan protes yang terus dilayangkan Kamal Malek. Yang terpikirkan hanya satu. Segera ke tempat Ameena!
Mendekati area perbatasan, kami malah mendapat informasi dari beberapa wartawan yang sudah berada di sana. Ternyata hanya wartawan lokal yang diperbolehkan meliput langsung. Sementara wartawan asing hanya boleh mengumpulkan materi yang dibawakan jurnalis lokal.
Bagaimana bisa seperti itu? Sangat sulit memverifikasi informasi dan laporan yang diterima. Pasalnya, jurnalis lokal rata-rata berasal dari rezim dan juga oposisi, selain itu ada juga yang terdiri dari simpatisan kelompok ekstremis yang bertujuan menyebarkan propaganda.
Beberapa jurnalis dari media Barat tampak melayangkan protes. Namun, sayangnya pelarangan untuk meliput tetap didengungkan. Aku merogoh saku, mengambil ponselku untuk menghubungi Ameena. Aku harus tahu kabarnya saat ini. Termasuk keadaan mereka semua yang berada di yayasan itu.
Sial! Sial! Sial! Tidak ada jaringan! Argt, aku sangat frustrasi!
Aku menatap jauh wilayah yang menjadi perbatasan antara daerah kekuasaan rezim dan kelompok pemberontak. Jika seperti ini, hanya ada satu cara untuk bisa masuk ke wilayah itu. Aku harus menyamar menjadi bagian dari militer itu dan masuk ke medan pertempuran!
Ameena ... Khalila ... dan semuanya, aku pasti akan menyelamatkan kalian!
.
__ADS_1
.
like dan komeng