
Konon, pertemuan Jack dan Rose yang berlangsung di kapal Titanic selama empat hari, disebut-sebut sebagai kisah cinta sejati. Sama seperti Rose yang tak bisa melupakan Jack hingga dirinya menua, aku pun menolak untuk melupakan Ameena. Kisah kami yang terjalin singkat ini, belum berhenti sampai di sini ....
.
.
Aku terkejut mendengar apa yang baru saja disampaikan Yuna. Kembali ke Tokyo? Seharusnya aku senang, kan? Nyatanya, hatiku seakan menolak.
"Yuna-chan, apa kau bisa mengambil ponselku? Aku ingin hubungi paman. Aku masih ingin berada di sini. Dia tak perlu repot-repot meminta agar aku ditarik dari sini," ucapku sambil mencoba bangun.
Kulihat tatapan mata Yuna tampak terkejut. "Kei, kau tidak ingin pulang ke Tokyo?"
"Bukan begitu. Aku baru sebulan berada di sini. Belum banyak informasi yang berhasil kugali. Aku tidak mungkin meninggalkan teman-temanku."
"Jangan khawatirkan teman-temanmu. Mereka mengerti keadaanmu. Jika mereka berada di posisimu saat ini, mereka juga pasti akan meminta dipulangkan."
"Maafkan aku, Yuna. Aku tidak ingin pulang saat ini. Kejadian kualami hanyalah sebuah risiko dari pekerjaanku. Kuharap kau bisa mendukung keputusanku. Pulanglah ... dan katakan pada ayah ibuku kalau aku baik-baik saja dan akan kembali jika sudah waktunya."
Yuna menatapku dengan tatapan tak berdaya. Dia tentu sangat mengenal watakku yang keras, gigih dan tidak bisa dipengaruhi oleh siapa pun. Dia tahu betul membujukku merupakan hal yang sia-sia. Oleh karena itu, dia hanya bisa mengangguk tanpa bertanya lebih jauh. Seperti itulah dia! Selalu mendukung apa pun yang menjadi keputusanku.
Melihatnya diam saja, aku lantas merasa dilema. Apa keputusanku mengecewakannya?
"Yuna-chan, maaf ...." Aku seperti kehilangan kata-kata saat ini.
Yuna menggeleng sembari menunjukkan senyum tulusnya. "Tidak apa-apa. Lagi pula, aku juga akan berada di sini."
Aku terkesiap sembari menunjukkan raut bingung. Jangan bilang Yuna tak akan pulang jika aku tak kembali ke Tokyo.
"Sebenarnya saat tahu kau ditempatkan di negara ini, aku langsung mendaftarkan diri ke MSF sebagai dokter sukarelawan. Keputusannya akan diumumkan besok. Jika aku lolos seleksi, maka aku juga akan menetap di negara ini sesuai kontrak," jelasnya. Wajah berseri-seri Yuna memancar dan tangannya pun semakin mempererat genggamannya di tanganku.
(Ket: MSF organisasi medis internasional dokter lintas batas)
Tak seperti dirinya, keterkejutan kembali memerangkapku. Mana boleh begitu!
Saat pertama kali menginjakkan kaki di negara ini, berita pertama yang kuterima adalah seorang dokter bedah dari organisasi itu ikut meregang nyawa dalam peperangan. Pekerjaan itu lebih berisiko daripada kami yang masih bisa bermain kucing-kucingan saat bertugas. Mereka bahkan ditugaskan di tengah perang yang sedang berlangsung. Aku tak mau menempatkan dia dalam posisi berbahaya seperti itu hanya karena ingin bersamaku.
"Yuna-chan ...."
__ADS_1
"Ssstt ...." Yuna tak mengizinkan aku berbicara. "Ini pilihanku!" tegasnya.
Dia berdiri dan langsung mengemas peralatan medisnya. "Hei, Kei-kun, aku sangat lega bisa melihat wajahmu lagi. Orang-orang mengatakan kau mungkin sudah tewas, tapi aku benar-benar yakin kau selamat. Aku tahu, Kei-kun tidak selemah itu untuk bertahan hidup," ucapnya sambil mengembangkan senyum.
Cinta Yuna yang begitu besar padaku, membuatku tak berdaya. Padahal dia tengah melanjutkan pendidikan sebagai dokter spesialis bedah.
"Bagaimana dengan ayahmu? Apa dia tahu kau menjadi sukarelawan di sini?"
Yuna menggeleng. "Aku bukan anak kecil lagi. Hidupku adalah pilihanku. Ayah tidak akan mencampurinya."
"Ayahmu mungkin akan menyalahkan aku jika tahu putri kesayangannya nekad menjadi sukarelawan di negara perang," ucapku dengan nada skeptis.
"Jangan berpikiran negatif! Ayah ikut khawatir saat tahu kau hilang di kamp pengungsian. Dia bahkan mencoba mengirimkan pasukannya untuk mencarimu di sini."
Pintu kamar tiba-tiba terbuka beriringan dengan So, Eiji dan Aoba yang masuk. Tampaknya, mereka baru saja pulang dari meliput. Mereka langsung menghampiriku dengan ekspresi senang.
"Ayano-san, akhirnya kau sadar! Apa kau baik-baik saja?" tanya Eiji cemas.
"Jangan khawatir! Aku sudah baikan dan siap bergabung dengan kalian lagi."
Yuna pamit keluar karena tak mau mengganggu obrolan kami. Kesempatan itu digunakan kawan-kawanku untuk bertanya apa yang telah terjadi padaku.
"Ayano-san, ceritakan pada kami apa saja yang sudah kau alami!"
"Apa kau disandera para pemberontak?
"Kami benar-benar terkejut saat tahu tempat yang kau datangi itu diserang."
"Bagaimana dengan gadis yang kau antar ke sana? Apa dia masih hidup?" tanya So cepat.
Aku tertegun saat mereka menyebut Ameena. Bibirku urung untuk mengatakan sesuatu. Untuk beberapa saat, ruangan ini mendadak menghening. Mungkin saat ini mereka bisa melihat dengan jelas kesedihan yang terlintas di mataku.
Aoba sedikit membungkuk di dekatku, sambil berbisik, "Ayano-san, selama empat hari ini, kau bersamanya, kan?"
Mataku spontan terarah pada Aoba yang tengah menunggu jawabanku. Hatiku berdesir, merasakan sensasi sakit dan sesak sekaligus. Kurasakan tubuhku membatu saat otak ini kembali mengilas balik perpisahan kami. Bola matanya yang dilingkupi air mata kembali membayang di benakku.
"Saat kau tak sadarkan diri, kau terus menggenggam erat kerudung yang dipakai Ameena. Kami bahkan kesulitan mengambil itu dari tanganmu. Yuna sampai bertanya padaku, tapi aku mengatakan itu milikmu. Kau membelinya karena mengira itu syal."
__ADS_1
"Di mana kerudung itu?" tanyaku cepat seolah takut kehilangan benda berharga yang ditinggalkan Ameena.
"Aku menyimpannya. Ayano-san, apakah gadis itu ...." Aoba tak melanjutkan kalimatnya. Aku yakin dia sedang memikirkan kemungkinan terburuk yang terjadi.
"Ameena ... dia telah pergi," ucapku dengan suara serak yang nyaris berbisik.
Aku menceritakan pada mereka tentang yang kualami bersama Ameena selama empat hari. Tapi tidak sepenuhnya. Beberapa kejadian, tak kuceritakan karena aku memilih menyimpannya sebagai kenangan yang hanya diketahui oleh kami berdua.
Dua Minggu berlalu sejak kejadian itu, aku kembali bertugas seperti biasa. Meskipun belum terlalu pulih, aku memaksakan diri untuk ikut meliput bersama timku. Apalagi liputan kami kali ini tentang penyerangan di wilayah para pemberontak. Begitu mengetahui pasukan khusus militer Suriah, tengah melakukan serangan, aku langsung teringat Ameena. Apakah mungkin dia berada di sana? Itulah yang membuatku nekad untuk ikut meliput kekacauan yang terjadi di tempat itu. Ya, harus kuakui hingga saat ini, pikiranku masih terjajah olehnya.
Pertempuran ini sudah terjadi sejak tiga hari yang lalu, tapi kami baru diizinkan meliput hari ini setelah kedua belah pihak telah sepakat melakukan gencatan senjata. Saat tiba di lokasi itu, mataku berpendar ke seluruh penjuru melihat lokasi yang sudah porak-poranda menyisakan kepulan abu putih dan api yang masih menyala di beberapa titik.
Aku berjalan menyisir puing-puing reruntuhan. Kerudung Ameena kulilitkan di leher layaknya sebuah syal. Sejujurnya, aku tak ingin Ameena menjadi salah satu korban dari penyerangan ini, tapi di sisi lain hatiku berharap bisa menemukannya di sini.
Aku melihat para tim medis mulai mengevakuasi beberapa warga sipil yang menjadi korban atas serangan ini. Aku langsung berlari ke sana, lalu menahan beberapa korban yang terluka dan masih sadar.
"Apa kau mengenal Ameena? Dia perempuan muda usia dua puluhan, tingginya setara denganku, kulitnya putih pucat, alisnya tebal, dan bola matanya berwarna kebiruan," ucapku dengan nada yang terburu-buru.
Pria yang kutanyakan itu malah mengernyit dalam kesakitan. Sial, aku lupa mereka mungkin tak memahami apa yang kukatakan. Tak peduli, aku kembali bertanya pada korban yang masih tergeletak dengan luka bakar di tangannya. Aku mengulang pertanyaan yang sama dan menjelaskan ciri-cirinya. Korban yang kutanya malah meringis kesakitan dan menahan tanganku seakan meminta pertolongan. Aku hanya bisa memanggil tim medis dan meminta mereka segera menanganinya.
Aku lalu sibuk menyusuri puing-puing reruntuhan, berharap dapat menemukannya seperti saat di awal perjumpaan kami. So menghampiriku dan mengatakan kamera telah siap. Mataku malah melihat jauh ke seberang sana. Dengan menggenggam segenap keberanian, aku berlari menuju tempat pertahanan para pemberontak, di mana mobil-mobil tempur mereka terlihat di seberang sana. Tak kusangka, So malah mencegatku.
"Kau mau ke mana? Di sana tempat pertahanan pasukan pemberontak!"
"Aku mau mendatangi mereka. Aku mau bertanya di mana mereka membawa Ameena."
"Apa kau sudah gila?! Kau ingin mati di tangan mereka?" teriak So sambil memegang erat pundakku.
"Aku sempat berhadapan dengan mereka. Aku yakin salah satu di antara mereka pasti mengenalku!" ujarku sambil tetap hendak ke sana.
So kembali menahanku, kali ini dia menarik kerah bajuku. "Apa kau pikir pasukan pemberontak hanya beranggotakan puluhan orang? Tidak! Mereka ada ribuan, bahkan mungkin jutaan. Belum tentu yang ada di sana mengenalmu, juga mengenal Ameena."
"Ayano-san, yang dikatakan So benar. Tenangkan dirimu! Kami memahami perasaanmu, tapi bukan salahmu jika Ameena dibawa mereka. Kau sudah berusaha melindunginya," sambung Eiji menepuk pundakku.
"Lagipula, kita ke sini untuk meliput berita. Lihatlah, kekasihmu di sana sedang berjuang menyelamatkan banyak nyawa dan kau di sini malah sibuk mencari jejak wanita lain." Aoba mengedikkan dagu ke arah tenda darurat para relawan.
Aku terdiam dengan sinar mata yang meredup. Perkataan Aoba sungguh menamparku. Benar, tidak seharusnya aku seperti ini.
__ADS_1