Sang Jurnalis

Sang Jurnalis
Part 71 : Kami yang Kembali Terpisah


__ADS_3

Kita pernah saling mengenal. Pernah saling memerhatikan. Pernah saling mencari. Pernah saling menemukan. Pernah saling berbagi. Pernah saling menatap dalam diam. Pernah saling khawatir. Pernah saling melindungi. Dan bagaimanapun juga ... aku, kamu, dan kita pernah bersama-sama menaklukan banyak rintangan. Hei, Mina-chan, apakah mungkin kita hanya sebatas pernah?


.


.


.


Aku mengamuk, berusaha membebaskan diri dari mereka. Para perawat yang kewalahan terpaksa harus menyuntikkan penenang. Akhirnya aku kembali terbaring tak berdaya di atas ranjang kamar rawat.


Paman dan ibuku datang setelah mengetahui aku telah sadar. Di hadapan paman, aku lantas memohon padanya untuk menyelamatkan Ameena.


"Paman, kau masih ingat permohonanku saat itu, kan? Aku harus menyelamatkan seseorang! Dia sudah menungguku! Aku berjanji untuk mengajaknya ikut bersamaku. Tolong ajukan suaka untuknya! Tolong! Kalian seharusnya tidak langsung membawaku pulang! Dia pasti menungguku!" ucapku mendesak sambil memegang jas paman.


Paman dan ibuku saling menatap dalam kebingungan.


Ibu mendekatiku seraya berkata, "Kei-chan, tenanglah! Ada apa denganmu? Siapa orang yang kau maksud?"


Dari pamanku, tanganku lari memegang lengan ibu. "Okaasan, kau masih ingat pada perempuan Suriah yang kuceritakan saat itu, kan? Dialah yang kumaksud! Kami tertangkap kelompok ekstremis dan aku berjanji akan membawanya pergi dari sana dan ikut bersamaku ke sini," ucapku pada ibu. Aku lalu kembali menghadap ke arah pamanku sambil menangkup kedua tanganku. "Paman, tolong bantu urus pengajuan suaka untuknya! Kau bisa, kan?"


Dengan wajah tak berdaya, paman berkata, "Itu tidak mungkin, Kei!"


Aku menurunkan sebelah alis. "Apa yang tidak mungkin?"


"Selain karena dia masih berada dalam tawanan kelompok ekstremis, perdana menteri baru saja mengumumkan Jepang tak akan menerima pengungsi dari Timur Tengah. Tahun lalu saja, kami hanya menerima 11 orang dari 5000 imigran yang mengajukan suaka di negara kita. Selain itu, kami juga sudah menutup kedutaan besar di Suriah seiring konflik yang semakin memanas di Damaskus. Kementerian telah menghimbau warga negara Jepang untuk tidak bepergian ke negara itu," jelas pamanku.


Aku hanya bisa tergugu. Kepalaku bergeleng-geleng pelan. Jika seperti ini, bagaimana aku bisa menepati janjiku?


Salah siapa? Salah siapa perpisahan antara aku dan Ameena terjadi? Salah siapa aku tak bisa menepati janjiku untuk menjemputnya? Nyatanya, bukan salah siapapun.


Untuk ke sekian kalinya aku berada dalam titik nadir, tenggelam begitu jauh di lembah keterpurukan. Hatiku lebam. Jantungku remuk. Luka. Layaknya tersayat-sayat sembilu di titik tempat yang sama. Sakit. Seperti menerima hantaman pukulan berkali-kali. Bahkan semua itu masih belum cukup untuk menggambarkan apa yang kurasakan saat ini.


Air mataku mengalir tak terukur. Satu pertanyaan yang menggerogoti pikiranku saat ini, kenapa aku dan dia selalu didekatkan dengan perpisahan? Kami banyak kali harus terpisah karena keadaan, tapi tidak pernah sesakit ini.


Selama tiga hari setelah kesadaranku, aku terus memunggungi orang-orang yang datang menjengukku. Termasuk ibuku sendiri. Setiap teringat Ameena, sistem kerja di otakku seakan kacau. Aku mencari-cari ponselku untung menghubungi Kamal Malek dan tiga kawanku yang masih di sana. Mungkin mereka bisa membantuku. Namun, seketika aku tersadar, aku sudah tak memiliki ponsel sejak kematian Khalila. Pada akhirnya aku hanya bisa berteriak frustrasi bahkan tak sungkan melukai tanganku sendiri dengan meninju dinding berkali-kali.


Atas tingkahku ini, banyak yang mengira aku mengalami trauma psikis. Dokter memberiku rujukan pemeriksaan mental, tapi langsung kutolak. Aku justru memutuskan untuk keluar dari Rumah Sakit meski sebenarnya dokter memintaku untuk dirawat lebih lama. Aku tak boleh terlalu lama seperti ini. Bukankah seharusnya aku segera mencari cara untuk menyelamatkan Ameena?


Ibu datang menjemputku setelah tahu aku ingin keluar dari Rumah Sakit ini. Ia membelai wajahku yang masih meninggalkan banyak bekas luka. Sejujurnya aku sangat malu menemui ibu. Kata adik sepupuku, ibuku jatuh sakit dan sempat dirawat di Rumah Sakit saat aku dinyatakan sebagai salah satu jurnalis yang hilang.


"Kei-chan, kau sudah berusaha sekuat tenaga. Selanjutnya, biarkan Kami-sama mengerjakan bagian-Nya. Terima kasih telah pulang dengan selamat walau tak baik-baik saja."


(Kami-sama: Dewa/Tuhan dalam bahasa jepang)


Suara ibu mengalir seperti air yang mampu meluruhkan dahaga. Meski begitu, aku tetap tak mengeluarkan sepenggal kata. Seperti orang yang kehilangan kemampuan tuk bersuara.


Aku dan ibu lalu bersama-sama menaiki mobil menuju kediaman kami. Ibu terus menggenggam tanganku. Aku menoleh ke jendela mobil. Musim semi tengah berlangsung di mana bunga-bunga yang lama tertidur mulai membentangkan corak terindah mereka dan harum aroma sakura yang menyeruak di jalanan. Andaikan Ameena ikut bersamaku, pasti dia akan mengagumi keindahan ini.

__ADS_1


Begitu tiba di kediaman orangtuaku, aku langsung mendapat sambutan dari ajudan pribadi ayahku yang telah menanti kami. Dia membuka pintu mobil untukku sambil membungkukkan setengah badannya.


"Tuan, ayah Anda ingin menemui Anda! Mohon segera ke ruangannya!"


Aku memasuki rumah tersebut. Tak ada yang berbeda, semua tetap sama seperti saat aku izin pamit ke Suriah untuk melaksanakan tugas kerjaku. Bagiku, rumah bukan hanya sekadar bangunan, tapi juga menjadi tempat kita menunggu atau ditunggu. Kata pulang merupakan kata yang paling dinanti setelah perjalanan panjang. Tidak peduli seburuk apa keadaan kita saat ini, keluarga akan selalu ada.


Aku menaiki tangga lalu berjalan menuju ruang baca. Kuketuk pintu terlebih dahulu sebelum ayah mempersilakan aku masuk. Aku pun menekan tombol sidik jari di pintu. Begitu melangkah ke ruangannya, aku langsung membungkuk penuh di hadapannya sebagai salam dan hormatku padanya.


Ayahku adalah seorang akademisi bergelar profesor yang mengajar di beberapa universitas prestisius di Tokyo, di antaranya universitas Tokyo dan Keio. Ia juga ahli hukum dan tata negara yang disegani para pejabat dan politikus. Selain itu, ayah terkenal sebagai tokoh sayap kiri¹. Sebagaimana orang-orang sangat menghormatinya, aku pun demikian. Bagiku, dia bukan hanya seorang ayah, tapi juga guru dan teman diskusiku.


"Apa kau sudah pulih?" tanya ayahku.


"Hum ...." Aku mengangguk saru.


"Apa rencanamu setelah ini?" tanyanya. Ini adalah pertanyaan klise yang sering dia ajukan padaku. Ya, menanyakan rencana kehidupanku ke depan.


Aku terdiam sejenak sembari meneguk ludah. "Aku akan balik ke Suriah!" jawabku.


"Kenapa?" tanya ayahku dengan ekspresi datar.


"Aku harus mencari seseorang."


"Siapa?"


"Dia wanita yang ditangkap bersamaku. Dia sedang menungguku."


"Aku mencintainya ...."


"Lalu?"


"Aku harus menyelamatkannya."


"Lalu?"


"Begitu aku berhasil menyelamatkannya, aku akan mengajaknya ke Jepang."


"Apa semudah itu?"


"Aku akan berusaha mencarinya apa pun dan bagaimanapun. Aku tak akan pulang sebelum berhasil menemukannya."


Sebuah buku tebal melayang ke arahku dan mengenai kepalaku. Di umurku yang telah menginjak dua puluh enam tahun, ini pertama kalinya ayahku bertindak kasar padaku. Ayahku orang yang sangat pandai mengatur ekspresi, terutama saat berhadapan dengan lawan bicaranya. Ia tak pernah menampakkan ketidaksenangan di wajahnya. Namun, kali ini aku bisa melihat amarah yang berkobar di matanya.


"Apa kau tak sadar, pemerintah menghabiskan banyak uang negara untuk menebus nyawamu?" Suara lantang ayahku begitu bergemuruh di ruangan itu.


Aku membungkuk untuk mengambil buku jatuh yang sempat mengenai kepalaku. "Sudah menjadi tugas pemerintah melindungi setiap warga negaranya," balasku dengan tenang.


"Apa kau tidak membaca reaksi orang-orang di Twitter? Banyak yang melontarkan kritikan tentang penebusan yang menghabiskan banyak uang negara! Untung saja pamanmu meminta identitasmu dirahasiakan dari khalayak!"

__ADS_1


"Katakan pada mereka menghamburkan uang negara untuk menyelamatkan warga negaranya masih lebih baik daripada digunakan para pejabat untuk korupsi dan berfoya-foya," balasku datar.


Sebuah buku kembali melayang ke arahku. Untungnya, kali ini berhasil kutangkap sebelum kembali menghantam wajah dan kepalaku.


"Memalukan! Aku mendukung kau menjadi jurnalis karena kupikir kau akan menjadi jurnalis hebat yang bertaring di masa depan. Tapi nyatanya, kau malah dua kali melakukan tindakan merepotkan negara. Jika tahu seperti ini, lebih baik aku memaksamu pulang saat kau hilang dan ditemukan untuk pertama kalinya."


"Aku tidak melakukan kesalahan apa pun dalam bertugas. Itu murni risiko kerja. Otousan tidak perlu malu! Tapi izinkan aku kembali ke Suriah untuk menolong seseorang."


(Otousan: ayah)


Ayahku menghela napas sejenak. "Aku mendukungmu saat kau bersikap ceroboh dengan membongkar aib sekolah Pasukan Bela-diri Jepang. Aku juga mendukungmu ketika memilih jalan hidup sebagai seorang jurnalis di saat profesi itu kurang populer di mata masyarakat. Aku mendukung kau saat ingin keluar dari rumah ini dan hidup mandiri. Apa kau lupa? Aku selalu mendukungmu! Selama itu baik untukmu dan kau yakin untuk menjalaninya. Tapi ... untuk hal ini ...." Ayahku menjeda kalimatnya sambil menggeleng pelan, "Aku tidak bisa mendukungmu dan tak bisa membiarkanmu!"


Aku terdiam sejenak. Apa yang dikatakan ayah memang benar. Sayangnya, egoku lebih besar. Aku merasa benar sendiri. Di mataku, ayah sama sekali tak memahami perasaanku.


"Lanjutkan pendidikanmu. Ambillah gelar magister! Ini saranku untukmu!" pinta ayahku.


Aku tak merespon permintaannya. Aku justru membungkuk kemudian berbalik hendak pergi.


Saat hendak keluar dari ruangan itu, ayahku tiba-tiba berkata, "Kei, kau sangat cerdas! Tapi tidak kusangka kau tidak menggunakan otakmu saat jatuh cinta."


Aku tak peduli dengan apa yang dikatakan ayahku. Dengan wajah dingin, aku melangkahkan kaki keluar dari ruangannya. Sejak saat itu juga, senyum yang selalu bertengger di wajahku raib.


.


Jejak kaki 🦶🦶



Sayap kiri : sayap kiri diasosiasikan dengan ide-ide seperti kebebasan, persamaan derajat, solidaritas, pembelaan hak-hak, perjuangan sosial, reformasi dan internasionalisme bertentangan dengan sistem hirearki ala sayap kanan.



Catatan author ✍️✍️✍️


konbanwa.... bang Khai kembali. Ada yang kangen, enggak? Heheh...


Sesuai yang pernah aku utarakan, sesi cerita kemungkinan akan dilanjut sampai Kei menuju masa depannya. Dan setelah setting berganti di Jepang, cerita tak hanya fokus ke asmara bang Khai, tapi juga tentang karirnya. Jadi kalo yang kemarin dia terseok2 dengan percintaannya, ke depan tantangan yang dia hadapi justru ada di karirnya sendiri. Dan di sesi ini juga akan banyak lompatan waktu.


Siapa saja yang akan hadir di masa yang akan datang? Yang pasti tokoh Yuna akan kembali muncul. Jadi kemarin yang tanya-tanya Yuna udah sampai situ aja? Enggak ya, Yuna bakal hadir lagi di kehidupan Kei dan kehadirannya sangat penting di alur ke depannya. Inilah alasan kenapa gua gak matiin tokoh Yuna padahal gua terkenal sebagai author yg suka banget cabut nyawa karakter 😆🤣


Karena Yuna bakal muncul lagi, tentu yoshizawa juga ikut ambil bagian cerita, ya. Yang bakal muncul selanjutnya adalah Black shadow tanpa Mr. White. Di chapter-chapter awal NN, Kei sangat bernafsu memburu BS, kan. Kenapa bisa seperti itu? Nantikan jawabannya di sini!


Gimana dengan tokoh Ameena? Bakal muncul lagi gak? Kalian pasti bertanya-tanya. Kalo ini masih gua rahasia, ya. Gak usah gua spoilerr 🤣. Dan kemarin kaget juga banyak yang minta POV Ameena padahal gua cuma basa basi doang nawarinnya 🤣. POV Ameena bakal gua pertimbangkan, siapa tahu aja bisa gua munculin sebagai bonus chapter seperti di novel AR. Soalnya gua tipe penulis yang gak suka campur adukin POV kek gado2.


Oke itu aja penjelasan gua, terima kasih buat kalian yang udah berpartisipasi di kolom komentar dan bersedia menunggu. Jangan lupa like dan komengnya.


__ADS_1


visual Kei di masa depan


__ADS_2