Sang Jurnalis

Sang Jurnalis
Part 26 : Perempuan di Tanah Perang


__ADS_3

Aku dan So berangkat ke salah satu kamp pengungsian terbesar yang berbatasan langsung dengan wilayah Yordania. Untuk menghemat biaya, kami memakai transportasi bus meski membutuhkan waktu cukup lama untuk tiba di sana. Dari informasi Zaheera, di pengungsian inilah yang disinyalir paling banyak kasus pelecehan perempuan.


Sepanjang perjalanan, aku berkali-kali membuka email hanya untuk mengecek pesan. Nyatanya, tadi malam menjadi obrolan terakhirku dengan Zaheera. Hingga kini, dia belum mengirim pesan lagi, sementara aku tidak punya alasan untuk menghubunginya lebih dulu.


Untuk menepis kebosananku, aku lalu mengambil kamus saku bahasa Arab lalu mencoba menghafalkan beberapa kosakata sehari-hari. Dengan adanya kasus yang ingin kukuak, membuatku semakin bersemangat untuk mempelajari bahasa Arab. Selama beberapa hari terakhir, aku pun menyempatkan waktu untuk bertemu Kamal Malek dan mulai mempelajari kosakata bahasa Arab sehari-hari.


Ada beberapa kesamaan yang kudapatkan antara bahasa Arab dan Jepang. Seperti penggabungan huruf konsonan dan vokal sehingga bacaannya menjadi panjang, terdapat juga huruf-huruf yang dibaca ganda. Ini membuatku merasa tidak begitu sulit untuk mempelajari bahasa Arab. Melalui Kamal Malek juga, aku mulai tahu adat, kebiasaan, dan kepercayaan yang dianut masyarakat di negara ini. Termasuk jawaban atas hal-hal yang tak kupahami saat bersama Ameena.


Suara dengkuran So yang cukup berisik sedikit mengganggu konsentrasiku. Bahkan kepalanya juga ikut terantuk di bahuku. Aku menutup kamus seraya mendengus. Kualihkan pandangan sejenak ke jendela samping tempat dudukku. Aku terkesiap melihat hamparan gurun pasir yang menjadi pemandangan sepanjang jalan, ditambah dengan beberapa unta yang berjalan di bawah terik sinar matahari.


Segera kubuka jendela bus, lalu mengulurkan tanganku keluar untuk merasakan embusan angin. Seperti Dejavu. Tak terasa dua bulan telah berlalu sejak kejadian di Padang pasir itu. Namun, ingatan itu masih begitu lekat di benakku. Tak kurang satu pun. Hingga saat ini, aku belum menyerah untuk mencari jejak Ameena, hanya untuk sekadar menanyakan kabarnya dan menunjukkan koleksi foto langit yang kuambil setiap hari.


Masihkah harapan itu akan tercapai?


Entahlah ....


Akhirnya sampai di lokasi setelah melewati perjalanan darat seharian penuh. Aku langsung menghubungi Yuna agar tak khawatir dengan keadaanku. Setelah itu, aku dan So berjalan-jalan di sekitar kamp pengungsian terluas di negara ini. Hampir menyerupai sebuah perkotaan di era lampau.


Kami bisa melihat para ribuan pengungsi Suriah menjalani aktivitas sehari-hari. Bahkan tengah menekuni mata pencarian seperti berjualan kopi dan kue hingga menawarkan jasa cuci pakaian dan potong rambut. Ya, kami tidak sia-sia datang ke sini karena aktivitas mereka sangat menarik untuk diliput.


Seorang anak laki-laki berpeci putih datang mendekat ke arah kami. Bocah itu menunduk dan langsung menyentuh sepatu kami, sambil menunjuk tas kayu miliknya yang berisi alat semir sepatu. Tampaknya, ia tengah menawarkan jasa semir sepatu.


Aku berjongkok, memosisikan sejajar dengannya sembari melepas satu sepatu di kakiku. Bocah laki-laki itu begitu senang saat kami mau memakai jasanya. Ia lalu memberikan tasnya yang bisa beralih fungsi sebagai tempat duduk.


"Masmuka?" tanyaku mencoba mengobrol dengannya. (Siapa namamu)


"Ismi Marwan," jawabnya.


"Min aina anta?" (Dari mana kau berasal?)


"Ana min Aleppo." (Aku dari Aleppo)


Ah, aku tahu, itu salah satu kota yang hancur akibat peperangan ini. Aku terus mencoba berlatih bicara dengannya meski bahasaku masih kaku karena dibantu oleh kamus.

__ADS_1


"Hei, sejak kapan kau mulai bisa berbahasa Arab?" tanya So heran.


"Aku mulai tertarik mempelajarinya akhir-akhir ini," jawabku.


Setelah menyemir sepatu kami, aku membayarkan upahnya dan juga memberikan kebab yang sempat kami beli dalam perjalanan. Dia melahap makanan itu seperti orang yang sedang kelaparan di hadapan kami. Ini membuatku terpancing untuk bertanya.


"Hey, Adik, kami ini jurnalis. Ada yang ingin kutanyakan padamu. Kau bisa menjawabnya dengan mengetik di ponselku." Aku menunjukkan kalimat ini dalam ponselku.


Dia membacanya, kemudian menjawab dengan mulut yang terisi penuh. "Baik, Kakak."


"Apa keluargamu lengkap?" tanyaku dengan bantuan aplikasi terjemahan.


"Tidak, ayahku meninggal dalam penyerangan di kota kami. Hanya tersisa aku, kakak perempuanku dan ibuku."


"Di mana kau dan keluargamu mengambil bantuan?"


"Kami hanya menunggu relawan yang datang untuk memberi jatah pada kami. Mereka para relawan dari perbatasan Turki."


"Kenapa tidak mengambil di lembaga bantuan internasional?"


Aku memicing. Tidak salah lagi, praktek eksploitasi wanita ada di setiap kamp pengungsian. Dari cerita Zaheera, orangtua di negara ini menjadikan anak perempuan sebagai alat tukar untuk anak lelaki mereka yang jadi tawanan pemerintah maupun kelompok ekstremis. Bagi wanita yang ketahuan diperkosa, keluarga lebih memilih membunuhnya karena menganggap itu sebuah aib besar. Itulah yang membuat wanita-wanita ini memilih untuk menutup diri dan enggan melaporkan pelecehan yang mereka alami.


Sejak beratus-ratus tahun lamanya, perempuan selalu dirugikan dalam peperangan. Perempuan di tanah perang harus mengalami hal-hal yang tidak berprikemanusiaan. Para tokoh perang menjadikan mereka sebagai alat tukar untuk melemahkan lawan maupun mengambil hati sekutu. Kemerdekaan mereka benar-benar dirampas. Hal itu seperti malah dilumrahkan orang-orang.


Bahkan, aku baru mengetahui kalau militer Jepang pernah melakukan pelecehan dan pemerkosaan pada wanita-wanita Cina, Korea, serta negara-negara Asia Tenggara saat perang dunia II. Fakta miris tersebut kudapatkan ketika membaca buku sejarah di perpustakaan kampusku. Jangan mengira ini ada di buku sejarah kami. Tentu saja pemerintah mencoba menutup sejarah kelam ini.


Ponselku tiba-tiba membunyikan pemberitahuan pesan email yang masuk. Aku lantas buru-buru membukanya.


"Assalammualaikum, yaa ... Nissa. Besok, aku juga akan ke kamp pengungsian di perbatasan Yordania untuk mengantar sumbangan. Kudengar, para pengungsi di sana terancam kelaparan karena pemerintah menutup seluruh rute akses masuknya bantuan. Aku juga akan mewawancarai beberapa wanita di pengungsian sana yang pernah menjadi korban pelecehan. Sayang sekali hanya temanmu yang ke sana, padahal aku berharap kita akan bertemu di sana."


Membaca pesannya, membuat sudut bibirku tertarik kecil. Selain aktivis perempuan dan anak, dia juga aktif menjadi relawan penyalur bantuan di kamp pengungsian. Ini membuatku sungguh salut padanya. Ya, aku menyukai karakter wanita yang memiliki rasa empati dan kepedulian yang besar. Karakter seperti ini, sebelumnya hanya kudapatkan dari Yuna yang menjadi alasanku jatuh cinta padanya dan tak bisa berpaling selama delapan tahun.


Tunggu, jika dia juga akan datang ke sini, artinya aku mungkin memiliki kesempatan untuk melihatnya diam-diam. Aku juga penasaran ingin tahu seperti apa sosok yang menjadi sahabat maya ini. Dia cukup misterius karena enggan memberikan profilnya.

__ADS_1


***


Langit baru saja menggelap, tapi suasana di tenda pengungsian sudah tampak sepi. Orang-orang terutama wanita lebih memilih mengurung diri dalam tenda. Aku dan So lanjut menyisir area pengungsian yang didominasi tenda-tenda berwarna putih. Kami menggunakan rompi press sebagai penanda diri jurnalis. So sibuk merekam dengan kameranya, sementara aku sibuk mengamati keadaan sekitar. Sebagian besar pengungsi masih didominasi perempuan dan anak-anak.


Malam ini, kami harus bisa mendapatkan bukti berupa foto aktivitas ganjil yang terdapat kamp pengungsian, khususnya tenda bantuan internasional. Sebab, tulisan seorang jurnalis harus berdasarkan fakta, benar-benar terjadi dan mengandung kebenaran. Sebagai seorang jurnalis, aku harus memiliki kemampuan berpikir yang tangkas dan kritis, serta dapat menganalisis kejadian yang terjadi di sekitar.


Kami memulai investigasi ketika malam mulai larut. Kami melepas rompi dan memilih memakai pakaian biasa yang tidak mencolok. So telah siap dengan kamera handycam untuk merekam. Aku menggantungkan kameraku di leher untuk memotret aktivitas mencurigakan di tenda bantuan internasional.


Tentu hal ini tidak mudah. Kami harus mengendap-endap seperti penyusup, melewati semak belukar dan tanah tak rata yang dipenuhi bebatuan besar. Bahkan, menghindari beberapa tentara PBB yang berjaga-jaga di setiap titik.


Aku dan So memilih daratan yang lebih tinggi untuk memantau keadaan. Dari tempat itu, kami bisa melihat beberapa gadis muda yang datang bersama seorang lelaki ke tenda bantuan itu. Lalu tak lama kemudian, satu per satu dari mereka dibawa oleh para petugas yang ada di sana. Semua aktivitas mereka kami rekam.


Aku sungguh penasaran, ke mana mereka membawa gadis-gadis itu? Masing-masing dari petugas tersebut memilih jalan yang berbeda. Aku mencoba turun untuk membuntuti salah satu di antara mereka. So mengikutiku dari belakang. Tiba-tiba So tergelincir hingga membuat beberapa bebatuan besar yang diinjakinya ikut bergelinding ke bawah sana.


Para penjaga itu sontak menoleh ke arah kami. Mereka terkejut dan mengamati keadaan sekitar. Aku menangkap tangan So untuk menahannya. Jika tidak, maka ia akan ikut terjatuh ke bawah. Aku berusaha sekuat tenaga menarik So ke atas. Bebatuan yang menjadi tumpuan kaki So semakin banyak berjatuhan ke bawah. Ilalang yang menutupi tubuh kami pun tampak bergoyang.


"Ada penyusup! Ada penyusup!" Suara teriakan penjaga tenda bantuan itu tiba-tiba menggema.


Sial, kami terendus di saat seperti ini! Parahnya lagi, para tentara di beberapa titik segera berlari ke tempat itu.


.


.


.


Catatan author ✍️✍️


Tentang kasus pelecehan dan eksploitasi yang dialami ribuan wanita pengungsian Suriah itu benar adanya, ya. Bahkan dikonfirmasi sendiri oleh PBB kalau itu benar adanya. Tapi kasus di cerita ini dengan versi real life tentu tidak akan sama persis. Kalau dari berita yang beredar itu lebih tragis lagi, lebih menyayat bahkan lebih tidak berperikemanusiaan. Dan pelecehan itu bukan hanya dilakukan oknum penyalur bantuan, tapi juga datang dari oknum kelompok ekstremis, oknum tentara militer dan masih banyak lagi.


Dalam perang .... mau itu perang di negara mana pun, mau dari jaman nenek moyang sampe sekarang pun itu memang yang paling sengsara itu wanita, gays. Makanya aku tertarik untuk angkat kasus ini dalam kisah Kei. Mengenai apa yang dibilang Kei, kalo negara mereka mencoba menutupi fakta kelam masa lalu, itu benar ya.


Jadi, Jepang itu dulunya dibenci hampir seluruh masyarakat Asia, gays. setelah perang dunia 1, Jepang semakin arogan dan berambisi memenangkan perang dunia 2 dengan cara menduduki beberapa wilayah Asia. Makanya tujuan Jepang menjajah itu sebenarnya untuk memenangkan perang. Kalo gak dijatuhi bom atom sama Amerika, mungkin Jepang udah menguasai Asia dan membentuk negara seperti Uni Soviet. Nah, fakta kelam kelakuan mereka dimasa lampau ini, tidak ada dalam buku sejarah pelajaran. Jadi, anak muda di Jepang saat ini hanya sedikit aja yang tahu kalo nenek moyangnya itu penjajah.

__ADS_1


Btw, Indonesia juga pernah menjajah loh, gays. Di buku sejarah kita, negara itu dulunya bagian dari wilayah kita. Tapi di buku sejarah mereka, kita malah dianggap penjajah. Kalo gak percaya cek aja di googlle.


__ADS_2