
"Ayano-san?" panggil Aoba saat tatapanku masih tertuju pada punggung wanita yang membawa bocah kecil itu.
"Ya ...." Segera kualihkan pandanganku pada Aoba. "Jadi bagaimana? Apa informasi yang kau dapatkan dari pria bernama Khair?" tanyaku.
"Mohamed Khair Al-Hussein. Dia alumnus universitas Al-Azhar Mesir. Seorang aktivis sosial yang tewas dua tahun lalu. Dia salah satu pencetus gerakan anti pemerintah yang menjadi awal dari perang saudara ini. Dia dan belasan pemuda lainnya ditangkap saat melakukan orasi menuntut pemerintahan untuk segera mundur. Mereka lalu dipenjara dan disiksa selama berbulan-bulan."
Aku langsung ingat dengan sejarah terjadinya konflik di negara ini. Ya, kudengar waktu itu memang terjadi penangkapan sejumlah aktivis yang mendatangkan aksi protes masyarakat. Ternyata salah satu aktivis itu adalah suami Ameena.
"Atas desakan masyarakat, dia dan kawan-kawan dibebaskan. Tetapi setelah pembebasan itu malah kembali membuat gerakan separatis berkembang luas di seluruh negeri. Pemerintah menggunakan segala cara untuk menghalau aksi itu, salah satunya dengan menangkap kembali Khair dan kawan-kawannya. Mereka lalu dieksekusi karena dianggap terlibat dalam penyebaran anti pemerintah," lanjut Aoba menjelaskan.
"Dan setelah kematiannya, terjadilah perang saudara seperti yang kita lihat saat ini," sambungku pelan mencoba menyambungkan kepingan puzzle yang saling berkaitan.
"Ya, para golongan revolusioner menganggap mereka harus meneruskan perjuangan teman-teman mereka yang gugur, sedangkan rezim ini tidak mau mundur." Napas kasar Aoba berembus.
"Apa ada informasi lain lagi?"
"Kudengar, pria itu baru saja menikah sebelum tertangkap lagi dan menerima hukuman mati. Miris sekali yang jadi istrinya!"
"Apa kau juga mencari tahu informasi tentang istrinya?" tanyaku cepat.
Aoba menggeleng. "Kupikir kau cuma butuh informasi tentangnya saja."
Aku tertegun. Secara spontan, ingatanku seakan terbang kembali saat ia mengetahui fakta kalau Ameena seorang janda.
"Tidak tahu malu! Siapa kau ingin membawanya pergi? Dia istri dari mendiang rekan seperjuangan kami. Kau harus berterima kasih padanya, jika bukan karena dia memohon pada ketua kami, kau tidak akan bernapas seperti sekarang ini! Selain itu, ketua kami juga mempertimbangkan kau telah menyelamatkan dia. Kami membawanya untuk memenuhi amanat dari mendiang suaminya."
Kalimat itu kembali menggaung di telingaku. Sudah tak diragukan lagi, dia Khair yang kumaksud. Mantan suami Ameena. Aoba pasti akan terkejut jika tahu Mohamed Khair Al-Hussein adalah suami Ameena. Namun, aku memutuskan untuk tak mengatakannya.
"Arigatou, Aoba-san."
"Hum ... tentang Ameena, apa kau ingat ke arah mana mereka membawanya?"
__ADS_1
"Dari tempat aku diturunkan, mereka lalu melaju ke arah utara."
Aoba membuka peta di ponselnya. "Dilihat dari peta, ada kemungkinan mereka membawanya ke kota-kota terpencil yang berbatasan dengan Turki."
Dugaan Aoba cukup masuk akal. Mengingat, wilayah yang berbatasan dengan Turki menjadi tempat aman dari peperangan. Ya, aku melupakan Turki sebagai pemeran pendukung penting yang terjerumus paling dalam pada perang saudara ini. Pemerintahan Turki sejak awal telah menyatakan dukungannya pada kelompok pemberontak. Bahkan, Organisasi Intelejen Nasional Turki-lah yang melatih khusus tentara pemberontak yang disebut dengan nama Free Syiria Army (FSA).
"Jika memang Ameena ada di tempat aman, maka itu sudah menjadi pilihan terbaik untuknya," ucapku sambil memandang kosong ke depan.
Ya, setelah mendengar informasi dari Aoba tentang Khair, kini aku menjadi mengerti mengapa Ameena lebih memilih untuk ikut bersama kelompok pemberontak dibanding bersamaku.
Aku menengok ke belakang sekali lagi. Bocah dan wanita itu sudah tak ada. Menghilang begitu saja. Sepertinya mereka bukanlah pengungsi di tempat ini. Di sini memang terlihat cukup banyak relawan yang datang membawakan sumbangan berupa makanan dan busana layak pakai.
Aku dan kawan-kawanku kembali ke tempat kami berkemah di saat matahari mulai tenggelam. Aku berdiri di tepian bukit dengan sebelah tangan yang menjinjing tas ransel ke belakang pundakku. Kudongakkan kepala ke atas, menatap lembayung senja yang mulai menyelimuti bumi.
"Mina-chan, sekarang aku mulai lega. Entahlah ... tapi aku yakin, kau pasti berada di tempat yang aman. Tempat di mana kau bisa melihat langit tanpa adanya pesawat tempur yang merusak keindahannya. Terima kasih atas pertemuan singkat dan berkesan yang sempat kau torehkan di hidupku."
Sekalipun aku tak bertemu dengannya lagi, setidaknya langit bisa menggantikannya. Menatap langit biru nan cerah, ibarat melihat wajah Ameena yang tersenyum riang. Menatap langit senja, ibarat melihat wajahnya yang tersipu. Menatap langit malam, ibarat melihat wajahnya yang terlelap. Menatap langit mendung yang memuntahkan hujan, ibarat melihatnya sedih dan menangis.
Ya, seperti itulah imajinasiku ....
Tiba-tiba seseorang datang menubruk punggungku dan memelukku dengan erat. Aku yang sempat terkesiap, melihat tangan seputih salju dengan jari-jari lentik yang melingkar di pinggangku.
"Yuna-chan, kau mengejutkanku!" seruku sambil menoleh ke arahnya.
"Kei-kun, mari bersama malam ini!" Yuna berbisik di telingaku.
"Eh?" Aku terperanjat.
"Jangan bercanda!"
"Aku serius! Bukannya kita perlu melepas rindu? Aku akan meminjam tenda untuk kita berdua," ucapnya sambil hendak beranjak.
__ADS_1
Aku langsung menarik tangannya. "Yuna-chan, kita ke sini bukan untuk bertamasya. Lagipula, ada Yoshizawa di sini. Apa kau yakin dia tak akan melaporkan ke ayahmu tentang kita?"
"Kau terlalu berlebihan. Memangnya kenapa kalau ayah tahu! Dari dulu dia juga tahu kita pacaran!"
Yuna selalu menyembunyikan fakta kalau ayahnya tidak menyukaiku. Di hadapanku, dia selalu mencitrakan ayahnya seolah-olah mendukung hubungan kami. Aku bisa mengerti dilema yang dia hadapi.
"Kalau begitu, kau harus menggendongku sampai ke tendaku!" ucapnya sambil memosisikan di belakangku.
"Kau ada-ada saja!" Aku menggeleng-geleng kepala sambil berjongkok. Kunaikkan dia ke atas punggungku, lalu berjalan cepat menuju tenda khusus para medis.
"Jangan banyak gerak. Di sini banyak bebatuan, kalau aku tergelincir kita bisa jatuh!" keluhku.
Yuna mengabaikan kata-kataku. Dia malah terus bergerak sambil merentangkan tangannya seolah tengah terbang. Keceriaannya itu membuatku tak tega merusak suasana hatinya. Kupercepat langkah kaki ini agar segera sampai ke tendanya.
Tiba di kompleks tenda medis, kakiku seakan terpaku begitu melihat keberadaan Yoshizawa yang seakan menunggu kami. Aku pun spontan menurunkan Yuna dari punggungku.
"Yuna, ayahmu tadi meneleponku. Dia memintaku mencarimu, katanya dia ingin bicara denganmu tapi kau tak menerima teleponnya," ucap Yoshizawa menghampiri kami.
"Apa dia pikir aku sedang liburan di sini?" Yuna meresponnya dengan ketus.
"Silakan katakan langsung pada ayahmu!" Yoshizawa memberikan ponselnya seakan meminta Yuna untuk berbicara ayahnya.
"Aku bisa meneleponnya dengan ponselku!"
"Kalau begitu lakukanlah!"
Yuna mengulum bibirnya, lalu mendengus. Ia lalu menepi sambil mengambil ponsel dari saku bajunya. Aku dan Yoshizawa saling menatap tanpa berbicara. Sejujurnya, aku sedikit terusik saat Yoshizawa memanggil kekasihku dengan nama depannya. Bukankah itu menandakan kalau pria yang pernah sekamar denganku di asrama itu tak sekedar prajurit kesayangan ayah Yuna?
Entahlah ....
Malam hari, aku mulai membuat blogspot pribadi dengan memakai nama pengguna "Khai" sebagai penaku. Ada beberapa aplikasi media sosial yang telah diluncurkan, tapi belum memiliki banyak pengguna. Jadi, blog masih menjadi surga bagi penulis dan para pemuja freedom of speech. Kuharap, blog yang kubuat akan menjadi wadah tulisanku yang mungkin tak bisa dimuat di media berita. Ya, tak banyak yang tahu sebuah tulisan memiliki mantra tersembunyi dan setiap kata-kata menyimpan kekuatan magis yang jarang disadari orang-orang.
__ADS_1
Artikel pertama yang kutulis berjudul "Keindahan Langit yang Selalu Dirindukan". Dalam artikel itu, aku menuliskan narasi tentang penduduk korban perang merindukan udara segar tanpa zat kimia dari ledakan bom dan langit biru berhias awan putih tanpa hujan peluru dari pesawat tempur. Barisan tulisan ini, tentu saja terinspirasi dari kata-kata yang pernah dilontarkan Ameena.
Bersama dengan artikel itu, aku lalu mengunggah foto bocah Suriah yang kuambil beberapa hari lalu di kamp pengungsian. Jika sebuah tulisan mampu membuka pasang mata dan pikiran bagi yang membacanya, maka sebuah foto dapat menyampaikan berbagai makna emosi di dalamnya. Kuyakin foto itu akan menggugah hati siapapun yang melihatnya.