
Kami melanjutkan perjalanan saat langit belum sepenuhnya menggelap. Sesekali aku menoleh ke belakang hanya untuk melihat tapak kaki bekas injakan kami yang memanjang di atas pasir. Entah kami bisa kembali atau tidak, tapi rasanya gurun ini seperti tak ada ujungnya.
Kulihat jalannya semakin terseok-seok. Ia kembali terjatuh. Aku berlari cepat menghampirinya, tapi dia bangkit kembali dan masih menghindar untuk berdekatan denganku. Baru beberapa langkah, ia terjatuh kembali. Sepertinya kali ini ia sudah kesulitan untuk berdiri.
Aku berjongkok tepat di hadapannya dalam posisi membelakanginya dan memberi aba-aba agar dia naik ke punggungku. Bersikap gentleman selayaknya pemeran utama pria dalam drama percintaan. Lama kutunggu. Tak ada pergerakan sedikit pun. Aku menoleh, menatapnya yang menggelengkan kepala sebagai bentuk penolakan.
Aku membuka sepatu kirinya tempat di mana kakinya terluka. Ketika hendak menyentuh dan membuka kaus kakinya, dia berusaha menahanku sambil kembali menggelengkan kepala. Sampai di sini, aku masih belum mengerti kenapa dia menolak bersentuhan denganku, bahkan sekalipun hanya sekadar berjabatan tangan. Namun, aku menghormati apa pun bentuk pilihan dan prinsip hidupnya. Termasuk privasi tubuhnya yang tak boleh kulihat dan kujamah.
Aku memasangkan kembali sepatunya yang berbentuk lancip di bagian ujung. Kami duduk saling berhadapan dalam kondisi remang.
"Kita istirahat dan bermalam di sini saja! Keadaan sangat gelap, memakai cahaya senter di ponselku, takutnya ponselku mendadak mati di tengah jalan. Kita lanjutkan perjalanan besok pagi!" Aku menuliskan ini dan menunjukkan padanya.
Dia mengangguk setuju, lalu menatapku dengan canggung kemudian menggeser duduknya.
"Jangan bergerak!" perintahku yang sontak membuatnya kaget, "biar aku saja!" ucapku sambil jalan jongkok mundur ke belakang, "apa ini sudah cukup?" tanyaku.
Dia bergeming dengan tatapan datar.
"Oh, kurang jauh, ya?" Aku kembali jalan jongkok ke belakang sambil terus memandangnya. Kakiku berhenti pada jarak dua meter dari tempatnya. "Apa ini sudah cukup?" tanyaku lagi.
Dia masih bergeming.
"Masih kurang jauh, ya?" Aku kembali bergeser, membuat jarak yang semakin jauh dengannya agar bisa menciptakan rasa aman untuknya.
Saat tumit dan telapak kaki ini berusaha mundur, aku tak sengaja menginjak batu yang tertanam hingga membuatku terjungkal ke belakang. Untung saja kedua siku lenganku sigap menopang tubuh sehingga kepala ini tak sempat terbentur tanah.
Kulihat Ameena kembali menutup mulutnya, menyembunyikan tawa yang menyembul halus. Aku ikut tertawa kecil. Entah kenapa melihatnya seperti ini aku turut senang. Sejak menolongnya dan membawa ke markas kami, perempuan pemilik mata biru itu memang lebih sering menampilkan wajah tanpa ekspresi sehingga senyum dan tawanya terasa spesial bagiku.
Aku langsung meluruskan kaki yang terasa pegal. Kami duduk bersebelahan dengan jarak tiga meter. Udara malam di gurun pasir sangat dingin. Anginnya benar-benar menusuk kulit. Hampir sama dengan udara musim dingin di Tokyo. Kalau saja tak memakai jaket, mungkin aku bisa membeku di sini.
Mendadak, aku teringat dengan berita yang kutulis dua Minggu lalu tentang dua bayi pengungsian yang membeku di gurun pasir. Aku tak bisa membayangkan jika itu terjadi pada kami. Jika hingga besok kami belum bisa keluar dari gurun ini, aku hanya bisa berharap So dan kawan-kawan berinisiatif meminta bantuan pada Kedubes Jepang untuk mencariku.
Aku menoleh ke arah Ameena. Dia tengah duduk meringkuk sambil memeluk lutut. Kepalanya disandarkan di atas lutut dengan wajah yang menghadap ke arahku. Sinar ponsel sengaja aku arahkan ke wajahnya. Kulihat matanya terpejam, wajahnya memucat, dengan bibir yang tampak bergetar. Dengan masih berjongkok, aku menggeser kaki sedikit demi sedikit agar bisa lebih dekat dengannya.
__ADS_1
Dia tampak tersentak melihatku mendekat. Namun, tampaknya ia sudah tak berdaya untuk menghindar.
"Cold?" tanyaku.
Dia mengangguk kaku sambil menatap gamang ke arahku. Giginya terdengar saling menggertak. Tangannya yang disembunyikan di balik kerudungnya itu tampak menggigil.
"Give me your hand!" pintaku.
(Berikan tanganmu)
Dia menatapku diam. Aku mengulang ucapanku sambil mengulurkan kedua tanganku ke depan sebagai contoh. Dia lalu mengeluarkan tangannya dari balik kerudung dengan ragu-ragu. Aku menunduk, mendekatkan wajahku ke tangannya. Saat jarak mulutku ke tangannya hanya sekitar lima senti, kuhembuskan uap dari mulutku ke tangannya agar ia bisa merasakan kehangatan. Itu kulakukan berkali-kali.
"Hangat?" tanyaku sambil mendongak ke arahnya.
Dia mengangguk saru. Aku terus mengeluarkan uap dari dalam mulutku. Karena dia tak ingin bersentuhan denganku, maka hanya ini yang bisa kulakukan untuknya.
"Khai," panggilnya serak sambil menarik tangannya kembali.
Dia tersenyum tipis sambil berkata dengan suara nyaris berbisik, "Syukron."
Matanya berangsur-angsur meredup dan tertutup sempurna. Aku mengambil kerudung panjangnya yang terjatuh ke tanah. Kubungkus punggung badannya dengan lilitan kerudung agar dia tetap hangat. Untungnya, dia memakai surban yang menutupi kepala dan leher.
"Summimasen," ucapku.
(Summimasen dalam bahasa Jepang artinya maaf secara formal atau bisa juga diartikan permisi)
Aku masih memandang Ameena, menatap bulu mata lentik nan panjang miliknya seraya duduk meringkuk di hadapannya seperti anak kucing.
"Oyasuminasai ...." ucapku dengan sudut bibir yang mengembang.
(Oyasuminasai bahasa jepang yang artinya selamat tidur)
Aku mengedarkan pandangan di dataran luas ini. Begitu sepi seakan hanya kami satu-satunya makhluk hidup yang tinggal di sini. Kalau saja tak ada bintang dan bulan yang berpendar, mungkin gurun ini akan sangat gelap.
__ADS_1
Omong-omong, aku pernah membaca kisah romantis berlatar gurun pasir. Diceritakan seorang budak pelayan melarikan diri dari kejaran prajurit kepercayaan kerajaan. Prajurit itu diperintahkan untuk memenggal leher si pelayan dan pantang pulang sebelum berhasil membawa kepalanya. Terjadilah aksi kejar-kejaran antara prajurit setia dan pelayan yang kabur.
Waktu bergulir, pelayan yang terus menyelamatkan dirinya malah tersesat di gurun Cina yang begitu luas. Sementara, prajurit terus mengejarnya tanpa kenal lelah. Naas, terjadi sebuah badai pasir yang membuat penglihatan prajurit terganggu hingga tak bisa melihat apa pun. Di waktu yang sama, hal memilukan turut terjadi pada pelayan. Ia tak sengaja menginjak pasir hisap yang membuat tubuhnya hampir tenggelam.
Siapa sangka, pelayan tersebut malah diselamatkan oleh prajurit yang telah kehilangan penglihatannya. Setelah kejadian itu, pelayan dan prajurit tersebut hidup bersama dan membangun gubuk di gurun. Hanya saja sang prajurit telah mengalami kebutaan total, sementara si pelayan kehilangan ingatannya. Sang prajurit yang buta, tak tahu jika wanita yang telah hidup dengannya itu adalah pelayan yang seharusnya dibunuh. Sementara pelayan pun lupa pria yang kini memberinya cinta dan kehidupan ternyata adalah prajurit yang dulu haus akan nyawanya.
Saat membaca kisah itu, aku menyimpulkan bahwa terkadang cinta dapat tumbuh karena keadaan dan juga ketidaktahuan. Dia datang tak terencana, tak disangka-sangka, tanpa bisa ditolak maupun ditentukan kepada siapa cinta itu memilih untuk jatuh. Tunggu, kenapa aku mendadak membahas soal cinta?
Mengingat cerita itu, secara tak sadar pandanganku kembali tertuju pada Ameena. Ah, walau bagaimanapun itu hanya sebuah cerita yang tak akan ada dalam versi dunia nyata. Aku kembali menggeser posisiku agar menjauh darinya.
"Khaii ...."
Aku tersentak ketika mendengar suara halus setengah berbisik itu keluar dari mulutnya. Aku lantas mendekat kembali padanya.
"Ada apa?" tanyaku sambil mengamatinya yang ternyata sedang terlelap.
"Khaii ... Khaii ... r!" gumamnya kembali.
Aku mengernyit kenapa dia terus memanggil namaku. Tapi sejujurnya aku meragu, apakah benar dia menyebut namaku.
"Khaii ... khair!" gumamnya lebih jelas.
"Khair? Siapa itu?" batinku sontak bertanya.
.
.
.
Jangan lupa like dan komeng. bantu share juga ya. gak usah kasih gift karena novel ini tidak dikontrak.
__ADS_1