Sang Jurnalis

Sang Jurnalis
Part 74 : Aku Pria yang Datang dari Masa Lalumu


__ADS_3

Mendengar tantangan yang harus kulakukan, semua teman-temanku lantas terdiam dan saling menyikut. Sebaliknya, pandanganku spontan terarah pada Yuna yang tengah melakukan sesi pemotretan bersama Yoshizawa.


"Maaf, Ayano-san, sesuai aturan permainan, apa yang menjadi pilihanmu harus segera kau lakukan," ucap teman pria yang baru saja membacakan tantangan untukku.


Imada lantas menyambar, "Kau gila, apa kau lupa Ayano-san dan Sakurai ...."


"Baiklah!" potongku sambil meletakkan gelas kristal yang kupegang ke atas meja, "hanya mengajak berdansa, 'kan? Bukan salahku jika dia tidak mau," ucapku sambil berdiri dan memperbaiki posisi tuksedo yang kukenakan.


Dengan langkah tegas tanpa senyum, aku berjalan menuju ke tempat Yuna berdiri saat ini. Dari jarak yang tak terlalu jauh, aku bisa melihat Yuna tengah sibuk melayani tamu yang ingin berfoto bersamanya. Jika ada yang menganggap aku biasa saja saat berpisah dengan Yuna. Itu salah! Nyatanya, butuh setahun untukku benar-benar ikhlas melepaskannya.


Aku berjalan beriringan dengan kisah yang telah lalu. Melangkah bersama setumpuk ingatan tentang kisah kandasnya hubungan kami. Setiap langkah membawaku kembali menyusuri kepingan kejadian demi kejadian yang mengawali perpisahan kami. Dimulai dari kepergianku ke negara Suriah karena tugas, Yuna yang menyusul ke negara itu, hatiku yang terusik karena kehadiran Ameena, pengakuan Yoshizawa yang terang-terangan ingin merebut Yuna dariku, hingga kecelakaan naas yang menimpa Yuna di saat aku berencana memperbaiki hubungan kami lagi.


Dua puluh langkah menuju Yuna, tiba-tiba saja terekam kembali ucapan Yoshizawa yang sempat membuatku tertohok.


"Karena Yuna terus berada di sisimu, lantas apa kau menganggap hubungan kalian baik-baik saja? Karena Yuna tak pernah membicarakannya padamu, apa kau pikir Yuna bahagia bisa terus menjalani hubungan denganmu? Tidak, dia tersiksa karena harus terus menentang ayahnya! Tinggalkan Yuna! Hubungan kalian tak memiliki masa depan! Kurasa Yuna juga menyadari itu, hanya saja mungkin dia tidak tega untuk meninggalkanmu."


Lima belas langkah menuju Yuna. Suara tangisan tertahan Yuna kembali membanjiri saluran pendengaranku, begitu mengingat bagaimana aku menyerah dan memilih berpisah darinya. Namun itu tak berlangsung lama ketika aku memutuskan untuk berjuang dan mempertahankan hubungan kami. Sayangnya, belum sempat itu kulakukan, Yuna lebih dulu mengalami kejadian yang membuat aku dan kenangan kami tersapu bersih dari ingatannya.


"A–ayano?"


"Apa kau mengenalnya?"


"Dia teman sekelasku."


Sepuluh langkah menuju Yuna, aku mulai menarik napas. Sesak itu ternyata masih bisa kurasakan kala mengingat bagaimana orangtua Yuna memanfaatkan kondisi yang dialami Yuna pasca operasi untuk membuang aku dari kehidupannya. Bahkan masih teringat jelas, saat ibunya mendorongku keluar dari kamar rawat Yuna.


"Bisakah kau keluar dari sini? Yuna butuh banyak istirahat!"


"Bibi ... aku ...."


"Kumohon, tinggalkan kami! Yuna yang seperti ini sudah membuat kami bahagia. Selama dia masih selamat, seperti ini pun tidak masalah. Jangan membuat pikirannya menjadi kacau!"


Lima langkah menuju Yuna, terkenang kembali saat aku memutuskan merelakan Yuna dan tak mengusiknya lagi. Aku mengajak Yoshizawa bertemu dan memintanya menjaga Yuna.


"Berjanjilah untuk memberikan perhatian lebih banyak dari caraku memberikan perhatian padanya. Berjanjilah untuk selalu menjaganya lebih baik dari caraku menjaganya. Dan ... berjanjilah untuk terus mencintainya lebih besar dari caraku mencintainya," ucapku kala itu.


"Aku berjanji."


Tepat saat tinggal tiga langkah menuju ke arahnya, pasangan pengantin baru itu baru menyadari kehadiranku.


"Ayano?" sapa Yuna dengan sedikit terkejut.


Aku menghela napas, lalu menatap matanya. Untuk sesaat, aku tak tahu harus berkata apa. Aku pun menoleh ke arah Yoshizawa. Dari tatapan Yoshizawa, aku bisa menebak kekhawatiran dirinya atas kedatanganku.


"Yoshizawa-san, bolehkah aku mengajak istrimu berdansa?"

__ADS_1


Manik mata Yoshizawa melebar seketika. Sebaliknya, Yuna menoleh ke meja tempat berkumpulnya kawan-kawanku.


"Mereka sedang bermain gim. Biarkan Ayano-san menyelesaikan tantangannya untuk berdansa denganku, yah? Jika tidak, mereka akan merundungnya." Yuna malah membujuk Yoshizawa.


"Ah, kau tak harus menerima ajakanku," ucapku buru-buru.


Aku terbuntang ketika Yuna menatapku dengan sinar mata yang seolah tengah menantiku. Tanpa sadar, tanganku mengulur ke depan. Yuna menyambut uluran tanganku kemudian berjalan anggun menuruni tangga pelaminan.


"Tolong berhati-hati! Istriku sedang mengandung anakku," ucap Yoshizawa tepat saat aku menuntun Yuna menuju ke lantai dansa.


Langkahku terhenti sejenak. Ucapan Yoshizawa seakan memberi penekanan jika Yuna sekarang adalah miliknya. Dengan kepala yang memutar ke belakang, aku menoleh ke arah pria itu.


"Selamat banyak untuk kalian berdua. Maaf, aku hampir lupa mengucapkannya," ucapku dengan senyum yang membingkai di wajahku.


Sebuah musik klasik mengalun indah tepat saat kami memasuki lantai dansa. Aku dan Yuna saling berhadapan dengan mata yang bersirobok. Wajahnya tampak berkilau di bawah sorotan lampu. Telapak tangan kami saling menempel lembut dengan jari-jari yang bertautan erat. Sebelah tangannya diletakkan di pundakku, sedang sebelah tanganku berada di punggungnya.


Aku mulai memimpin gerakan dan memandunya untuk menyesuaikan langkahku. Manik kami saling menatap lekat dalam jarak yang sangat dekat. Senyumnya yang menawan menyapa lembut pandanganku. Sedang tangan kanannya terasa hangat dalam genggamanku. Tangan yang telah menjadi milik orang lain.


"Lama tak bertemu, apa kau baik-baik saja?" tanyanya.


"Ya, aku baik-baik saja," jawabku.


"Ayano-san," panggilnya pelan.


"Apa kita pernah sedekat ini?" Sebuah pertanyaan meloncat dari bibirnya.


Aku terdiam. Tentu. Kita pernah sedekat ini. Bahkan kita pernah tak berjarak sama sekali. Namun, mana mungkin aku mengatakan seperti itu. Lembaran kisahku dengannya telah habis yang memaksa kami untuk menutup buku.


Sambil menyesuaikan gerakan tarianku, Yuna berkata dengan lambat-lambat. "Dibanding dengan teman-teman lain, bahkan Imada sekalipun, entah kenapa aku merasa lebih dekat denganmu. Padahal kita baru bertemu lagi hari ini, tapi tak ada rasa asing atau canggung seolah kita sangat akrab. Seingatku, kita hanya teman sekelas yang jarang bertegur sapa. Bahkan aku pernah kesal padamu karena mengungguli nilai ulanganku. Apakah aku salah mengingat?"


Aku dapat merasakan remasan kecil dari jari-jarinya saat mengatakan itu. Ingatan Yuna terhenti di bangku kelas satu SMA. Sementara, hubungan asmara kami dimulai saat memasuki kelas dua.


"Kita memang hanya sebatas teman sekelas, tidak lebih," balasku dengan jemari yang merekat erat di jari-jarinya.


Tidak Yuna....


Aku pria yang datang dari masa lalumu. Aku datang bukan untuk mengusikmu, tapi hanya ingin memastikan kau bahagia dengannya. Jika dengan tidak mengingat masa lalu kita sudah membuatmu bahagia, maka tetaplah seperti ini.


"Ayano-san, bukankah kau sudah menikah dengan gadis Timur-Tengah? Kenapa kau tak mengajaknya ke sini?" tanyanya lagi.


Aku tertegun sesaat. Waktu itu, demi membuat Yuna tak berusaha mengingat apa pun tentang hubungan kami, ibu Yuna sampai mengatakan kalau aku telah menikah.


"Aku dan dia ... terpisah oleh keadaan."


Manik Yuna melebar. "Maaf ... apakah kalian bercerai?" tanyanya dengan hati-hati.

__ADS_1


"Bahkan kami tak memulai apa pun," ucapku singkat.


"Oh, begitu. Lalu, apa kau sedang menjalin hubungan dengan seseorang?"


"Aku sedang kosong."


"Sudah kuduga! Itu terbaca jelas di matamu," balasnya.


"Memangnya apa yang terlihat di mataku?" tanyaku.


"Kehampaan."


"Begitukah?"


"Jika boleh memberimu saran, jangan biarkan dirimu dikuasai kehampaan, karena itu akan membuat hatimu mengeras."


Sunggingan senyum menghiasi wajahnya. Dia masih sama seperti dulu. Ceria, peduli, dan seperhatian itu. Tak ada yang berubah darinya kecuali ingatannya sendiri.


Ketika irama musik berubah, dia mengangkat tanganku ke atas dan melakukan gerakan berputar yang indah. Detik berikutnya, tubuhnya tertarik ke arahku dan menempel di sisi tubuhku dengan kepala yang bersandar di pundakku.


"Kau seharusnya tidak melakukan gerakan ini saat hamil," kataku sambil menahan bahunya.


Yuna malah menyembulkan tawa kecil. "Kau percaya aku hamil?"


"Eh?"


"Kurasa suamiku sengaja mengatakan itu padamu. Dia memang pencemburu dan aku senang melihatnya cemburu."


Dia berputar sekali lagi dan aku langsung menangkap tubuhnya untuk masuk dalam dekapanku. Ini menjadi gerakan terakhir dari dansa kami. Suara tepuk tangan kawan-kawanku terdengar riuh. Rupanya, sedari tadi mereka menyaksikan kami berdua.


Tautan jemari kami akhirnya terlepas. Aku membungkuk di hadapan Yuna dengan sebelah kaki ditekuk ke belakang. Setelah selesai berdansa, aku mengantarnya kembali ke sisi Yoshizawa.


"Terima kasih telah mengizinkan aku berdansa dengannya," ucapku pada Yoshizawa, lalu aku menoleh kembali pada Yuna, "Nyonya Yoshizawa, terima kasih atas kerja samanya. Sekali lagi, selamat atas pernikahan kalian. Kudoakan bahagia selalu."


Aku berbalik bersiap untuk pergi. Namun, baru tiga langkah, Yuna kembali memanggilku.


"Ayano-san!"


Aku memalingkan kepala ke arahnya.


"Ganbatte kudasai!" ucapnya dengan kedua tangan mengepal ke atas.


Sudut bibirku tertarik kecil. "Arigatou ...."


Meski kisahku dan Yuna berakhir secara paksa, aku telah berhasil membebaskan rasa dan berdamai dengan keadaan. Jika aku tak dipertemukan dengan Ameena pasca kandasnya hubunganku, tak akan ada momen seperti ini di mana aku bisa berdiri dengan kepala tegak lurus meski melihat mantan kekasihku bersanding dengan pria lain.

__ADS_1


__ADS_2