
Angin yang menggelitik kulitku, membuat mata ini terbuka secara bertahap. Langit telah menghadirkan selimut gelapnya. Kuedarkan mata ke sekeliling. Masih dengan pemandangan yang sama yaitu hamparan pasir yang begitu luas. Hanya nuansanya saja yang berubah gelap sebagai tanda waktu telah memasuki malam hari.
Kepalaku menoleh ke samping, tak jauh dari tempatku terkapar, Ameena tengah duduk bersimpuh seraya melakukan gerakan-gerakan ibadah seperti biasa. Kucoba mengangkat kepala. Berat sekali. Entah sudah berapa lama aku tertidur di sini.
Ingatanku mundur beberapa jam lalu tepat saat kami berhadapan dengan para bandit sialan itu. Kalau saja tubuh ini tidak terasa sakit, mungkin aku menganggap itu semua hanya mimpi. Satu hal yang membuatku senang sekaligus lega, aku berhasil menyelamatkan Ameena.
Aku mencoba bangun walau sulit karena ada beberapa bagian tubuh yang terasa nyeri. Mataku kembali melirik ke arahnya, melihatnya mengangkat kedua tangan seolah tengah berdoa. Aku langsung memperbaiki posisi dudukku lalu menangkup kedua tangan sejajar dengan hidung dan mulutku. Kutepuk kedua tangan dengan perlahan sebanyak dua kali sambil memejamkan mata.
"Kamisama, tolong lindungi wanita di sampingku!"
(Kamisama: Tuhan/Dewa dalam bahasa Jepang)
Sejujurnya, aku jarang berdoa. Jadi, tak pandai berkata-kata di depan Tuhan. Namun, doa singkat yang kupanjatkan saat ini benar-benar tulus dari hati.
Aku melihat tas ransel yang kembali kurampas dari para perampok itu. Kuperiksa isi tas ransel. Ada ponsel, jam tangan dan kamera. Uang di dompetku juga masih utuh. Hanya satu yang tidak ada, yaitu cincin berlian!
Aku kembali mengecek satu per satu barang yang ada di dalam tasku. Mungkin saja terselip. Ternyata, tidak ada. Kuulang sekali lagi. Kali ini semua barang yang ada di dalam tas kukeluarkan. Tetap tidak ada!
Apa mungkin terjatuh di dalam mobil? Mengingat resleting tas ini tidak tertutup rapat. Entahlah! Anehnya, suasana hatiku tampak berbeda dibanding dua hari yang lalu saat cincin itu hilang, tapi ternyata tersangkut di kerudung Ameena.
"Khai!" panggil Ameena pelan.
Aku menoleh. Dia tampak melayangkan pertanyaan. Mungkin karena melihat kegusaranku.
Aku menggeleng. Kali ini, aku seperti lebih mengikhlaskan hilangnya benda itu. Meski ada rasa menyesal karena perjuanganku untuk membeli cincin itu seperti sia-sia karena tak sempat kuberikan pada kekasihku.
Aku lalu mengambil ponsel yang hanya menyisakan daya baterai sebanyak lima belas persen.
__ADS_1
"Mina-chan, apa kau masih mampu berjalan? Kita harus mencari tempat bernaung malam ini. Di sini terlalu terbuka," tulisku sambil menunjukkan padanya. Setelah apa yang kami alami hari ini, aku menjadi lebih waspada.
Ameena mengangguk. Aku kembali mengemas barang-barang dan menggendong tasku. Berada di sini selama dua hari, kukira semua barang yang kubawa tak ada artinya karena tak bisa ditukar oleh makanan maupun minuman. Ternyata karena adanya barang-barang itu, kami malah hampir melakukan transaksi tukar nyawa.
Kami memutuskan beranjak dari tempat itu untuk mencari tempat yang lebih aman. Para penyamun itu telah membawa kami ke tempat yang lebih jauh dari sebelumnya. Aku pun bingung, gurun pasir yang kami lintasi ini berada di daerah mana? Suasananya sedikit berbeda. Di mana sebelum kami turun, ada beberapa pepohonan yang tumbuh. Setidaknya itu memberi pertanda bahwa gurun ini masih memiliki kehidupan.
Aku masih setia mengawalnya. Meski lelah, tapi melihat punggungnya membuatku bersemangat. Apalagi saat mendengarnya memanggil namaku.
"Kai ... Kh ... Kha–Kha ... Kai!" Sambil berjalan, aku malah mencoba menirukan bunyi nama yang dia berikan padaku. Rasanya sulit sekali melafazkan nama itu dari tenggorokan. Yang ada malah terdengar seperti lenguhan hewan.
Kami masih berjalan meski terseok-seok. Karena keadaan sungguh gelap, aku menghidupkan senter di ponselku. Kuarahkan senter itu ke sisi kiri dan kanan jalan yang kami lalui. Saat cahaya mengarah ke sisi kanan, samar-samar aku melihat sebuah pillar bangunan yang berdiri kokoh di seberang sana. Tunggu, apakah ini yang disebut fatamorgana? Aku mengucek mata berkali-kali untuk memastikan kalau yang kulihat bukan hal yang semu. Hal yang sama pun masih terlihat.
"Mina-chan!" Aku memanggil Ameena yang berjalan di depanku. Kusorot senter ke seberang sana membiarkan Ameena melihatnya untuk memastikan kalau ini bukan imajinasiku.
Aku menatap ekspresi Ameena. Bola matanya tampak berkilau seperti kristal. Dia menoleh ke arahku sambil melempar senyum. Untuk memuaskan rasa penasaran, kami putuskan menuju ke tempat itu.
Semakin kami menuju ke sana, fasad bangunan itu semakin tampak jelas dalam pandangan. Ini benar-benar nyata. Ada bangunan kuno yang menyerupai kastil di tengah gurun. Dilihat dari bentuk bangunan, kastil ini seperti sebuah peninggalan sejarah peradaban ratusan tahun. Sungguh menakjubkan!
"Mina-chan, tunggulah di sini! Aku akan memeriksa ke dalam dulu untuk melihat situasi. Apakah tempat ini aman atau tidak untuk kita!"
Aku menghidupkan senterku lalu menyorot ke dalam sambil berjalan. Pelan. Tidak ada apa pun yang terlihat selain dinding beton beraroma lembab dengan suasana mencekam. Aku terus berjalan. Mengabaikan tubuhku yang bergidik. Tak jauh dari penelusuran koridor gelap ini, aku mendapati ruangan terbuka dengan pilar-pilar besar yang menjulang tinggi ala kerajaan romawi. Karena terlalu gelap dan luas, aku memutuskan kembali pada Ameena yang menungguku di depan pintu.
Baru saja berbalik, aku malah menginjak sesuatu. Segera kuarahkan cahaya ponsel ke bawah sambil membungkuk.
"Haaahhhh!" teriakku seketika.
__ADS_1
Aku terperanjat melihat sosok hitam pekat dengan darah yang mengering di beberapa bagian wajahnya. Saking kagetnya, tubuhku sampai tersandar ke dinding. Jantung ini serasa melompat. Keringat berkumpul di telapak tanganku. Apakah yang kuinjak itu mayat? Tidak, dia seperti hidup. Bahkan menatapku. Mungkinkah semacam arwah korban peperangan yang gentayangan?
Aku berusaha menetralkan detak jantung, kemudian kembali mengarahkan ponselku ke bawah seraya membungkuk. Mataku kembali melebar melihat sosok serupa. Sosok legam, hangus, penuh luka dan darah. Sekujur tubuhku sontak kaku, berat, sampai-sampai tak berkutik di depan sosok itu. Untuk berteriak pun tak mampu kulakukan, apalagi lari. Hanya diam membatu sambil terus bertatapan dengan makhluk itu.
Aku mengedipkan mata sejenak. Makhluk itu turut melakukan hal yang sama. Ini spontan membuatku mengernyit. Anehnya, dia malah ikut kembali melakukan hal yang sama. Aku memajukan bibirku, menunjukkan gigi, dan menjulurkan lidah dengan cepat. Lagi-lagi, makhluk aneh itu bisa melakukan gerakan yang sama secara bersamaan. Aku langsung memindahkan ponselku ke depan wajah. Secara spontan, aku bisa melihat ponsel dan tanganku sendiri.
Aku mengembuskan napas kasar. Ternyata, benda yang kuinjak adalah cermin panjang yang lebarnya seukuran wajahku. Dengan kata lain, sosok buruk rupa yang kusangka hantu gurun itu tak lain adalah diriku sendiri. Meski begitu, aku masih cukup terguncang. Bagaimana aku sampai tak bisa mengenali wajahku sendiri? Bagaimana bisa aku menjadi hangus dan jelek seperti ini? Tak hanya itu, luka lebam kebiruan memenuhi lingkaran mataku. Di sekitar hidung dan bibirku terdapat darah yang mengering. Aku benar-benar seperti hantu penunggu gurun!
"Khai! Khai!" panggil Ameena setengah berteriak.
Aku menyorot senter ke depan. Ternyata, Ameena tengah berjalan tertatih menuju ke arahku. Tampaknya suara teriakanku tadi membawanya menuju ke arahku.
"Mina-chan, jangan ke sini! Biar aku yang ke sana!" ucapku sambil menghampirinya. Namun, tiba-tia ponselku terjatuh hingga membuat ruangan itu gelap gulita.
"Khai!" teriak Ameena cukup panik dalam kegelapan.
"Mina-chan, jangan bergerak!"
Baru saja aku hendak membungkuk mengambil ponsel, kurasakan sesuatu yang lembut meraba-raba wajahku. Aku bisa menebak, ini adalah telapak tangan Ameena. Sentuhan telapak tangannya di wajah ini membuatku membeku. Tidak peduli banyaknya luka-luka di wajahku, belaian lembut ini seakan menjadi penawarnya.
"Khai!" Ameena memanggilku dengan ragu ketika sapuan jari-jari halusnya berhenti di bibir dan daguku.
Aku tidak menyahut. Sengaja kulakukan. Agar dia tak segera menyingkirkan tangannya. Aku masih ingin seperti ini. Biarkan beberapa detik lagi, tolong jangan tarik tanganmu. Bolehkah?
.
.
__ADS_1
.
jangan lupa like dan komeng