
Banyak ragam cinta yang singgah di hati kita. Ada yang datang dan menetap lama dengan membawa sedikit luka, ada pula yang singgah sebentar tapi meninggalkan luka hingga ke kerak hati yang paling dalam.
.
.
.
Ini sudah hampir sebulan lamanya. Sejak perpisahanku dengan Ameena, titik terang seakan urung menyapa. Seperti buta arah di tempat keramaian. Jiwa teriris. Mata menangis. Meratapi perpisahanku dengannya yang tragis. Apa daya, hatiku tak disiapkan sematang itu untuk menyambut luka. Menyerah menjadi pilihan yang sedang menungguku saat ini.
Saat ini matahari mulai melenyapkan eksistensinya dari langit. Aku duduk di atas motor yang terparkir di tepian sungai Sumida dengan mata yang menatap kosong ke depan. Sebatang rokok terapit di bibir tanpa dinyalakan. Kepalaku mendongak, menatap lembayung senja yang sedang menyelimuti bumi.
Credit : wikipedia
Aku turun dari motor, kemudian mendekatkan kedua tanganku di sudut bibir membentuk corong. "Mina-chan, apa kabarmu?" teriakku.
"Apakah kau baik-baik saja?" Aku berteriak sekencang-kencangnya di depan sungai yang bermuara di teluk Tokyo.
"Apa kabarmu di sana?" Aku terus berteriak hingga suaraku terdengar serak.
Kuabadikan foto senja sore ini kemudian mengunggahnya di akun instagramku yang baru memiliki dua puluh enam pengikut. Postingan ini berdampingan dengan foto langit Suriah yang juga pernah kuunggah di sana. Setelah segala cara gagal kuusahakan, harapan untuk keselamatannya kini hanya bisa kugenggam lewat doa.
Satu hal yang baru kusadari, Ameena hanya ingin aku kembali ke Jepang dengan selamat, berkumpul dengan keluarga dan melanjutkan karirku. Dia telah mengusahakan segalanya demi keselamatanku.
Mina-chan, tunggulah dengan sabar! Suatu saat, aku akan kembali ke sana untuk mencarimu. Tak peduli membutuhkan bertahun-tahun lamanya, aku pasti akan datang memenuhi janjiku padamu.
Aku memutuskan pindah dari kediaman orangtuaku meski ibu memintaku untuk menetap di rumah mereka. Mengendarai motor besar andalanku, aku pun melaju menuju apartemenku. Aku tinggal di sebuah apartemen kelas menengah yang berdekatan dengan lokasi kerjaku. Tempat itu lebih cocok dikatakan sebagai rumah susun. Biaya sewa apartemen di Tokyo sangat mahal, dengan gaji sebagai jurnalis pemula tentunya belum cukup untuk menyewa apartemen yang lebih bagus.
"Ayano-san!" Suara wanita memanggilku begitu aku turun dari motor.
Aku membuka helmku lalu menoleh ke arahnya seraya sambil mengernyit.
"Ternyata benar kau!" Dia menghampiriku dengan cepat, "Apa kau sudah tak mengenalku?"
Aku mencoba mengingat-ingat, tapi ragu untuk menebak.
"Kita teman sekelas. Aku sahabat dekat Yuna saat SMA. Kau pasti sulit mengenalku karena aku baru saja operasi plastik mempercantik wajahku."
"Ah, aku ingat! Kau Imada, 'kan? Kenapa kau ada di sini? Apa kau tinggal di sekitar sini?"
"Tidak. Aku datang khusus untuk menemuimu. Teman-teman sekelas kita hanya satu orang yang mengetahui alamatmu."
Dia mengambil sebuah kertas undangan dari dalam tasnya, lalu menyerahkan padaku.
__ADS_1
"Aku datang untuk mengantar ini!"
Aku mengambil undangan itu lalu membalikkan kertas tersebut. Aku tertegun saat melihat nama Yuna dan Yoshizawa tertulis di sana sebagai calon mempelai pengantin. Ternyata mereka baru akan melangsungkan pernikahan, setelah setahun lebih dari kecelakaan yang menghampiri Yuna.
"Aku ... tidak tahu penyebab perpisahan kalian, tapi aku sudah tahu yang dialami Yuna. Dia kehilangan sebagian ingatannya dan bahkan tak mengingat kalau kalian pernah berpacaran. Orangtua Yuna juga meminta kami untuk tak menyinggungnya soal itu," ucap wanita itu dengan nada sungkan.
Aku tertegun. Cukup lama. Pertemuan terakhirku dengan Yuna di rumah sakit kembali terkenang di benakku.
"Ah, tidak masalah jika kau tak mau datang ke pestanya. Aku hanya memenuhi permintaan Yuna untuk memberikan langsung undangan ini padamu. Dia mendengar kau sudah balik dari Timur-Tengah," ucapnya kembali.
Yuna mengetahui soal kepulanganku?
"Akan kupertimbangkan. Jika ada waktu, aku pasti hadir," ucapku padanya sambil tersenyum.
Setelah mengobrol dengan teman sekelasku dulu, aku pun memasuki apartemen yang telah kutinggalkan selama setahun lebih. Apartemen ini sangat lekat dengan kenangan antara aku dan Yuna. Foto-foto kolase yang menunjukkan kebersamaan kami masih terpampang di setiap dinding ruangan. Gelas couple yang terukir nama kami berdua pun masih tergeletak di atas meja depan televisi. Bahkan handuk mandi kami masih bergantungan di tempat yang sama. Ya, apartemen ini dulunya memang bukan hanya ditinggali diriku seorang.
Otakku memutar kembali memori yang sempat terhenti, tentang perjalanan hubunganku dengannya yang kami habiskan selama delapan tahun. Ternyata kita tak pernah benar-benar melupakan seseorang yang pernah mengisi hati kita. Beberapa orang memiliki tempat dan porsi masing-masing di hati kita.
Dari yang diceritakan Imada barusan, Yuna berhenti bekerja pasca pulih dari kecelakaan. Ia kehilangan kepercayaan diri memegang pasien karena masih tak yakin dirinya adalah seorang dokter. Setelah mendengar hal tersebut, aku kembali merasa bersalah padanya. Menjadi seorang dokter yang bisa membantu banyak orang adalah cita-cita yang berhasil ia wujudkan. Andaikan dia tak datang ke Suriah untuk mengejarku, pasti itu tak akan terjadi.
Satu jam kugunakan untuk mengemas barang-barang Yuna dan menyimpannya dalam sebuah kotak besar. Termasuk foto-foto kami yang menempel di dinding. Kulihat kembali undangan pernikahan tersebut. Apakah aku harus menghadirinya?
***
Aku menuju sebuah hotel bintang lima di kawasan Shinjuku. Kulangkahkan kaki memasuki ballroom yang dihias dengan dekorasi serba putih. Ternyata telah banyak tamu, terutama dari kalangan pejabat, jenderal dan pengusaha yang hadir di sana. Jelas, ini adalah pesta pernikahan mewah.
"Ayano-san! Ayano-san!"
Kepalaku menoleh kiri dan kanan ketika mendengar ramai suara memanggilku. Rupanya suara itu datang dari teman-teman sekolahku. Aku pun mendekat ke meja bulat paling besar. Kedatanganku disambut heboh oleh mereka.
"Lama tak melihatmu!" tegur kawanku.
"Kau tampak kurusan sekarang!" sahut yang lain.
"Kukira kau yang akan menjadi pengantin prianya," imbuh lainnya.
"Apa kau sudah memiliki penggantinya?" tanya mereka.
Aku hanya bisa tersenyum tipis. Di waktu yang sama, lampu ballroom mendadak menggelap. Lampu sorot menghantam pintu masuk diikuti alunan musik yang merdu. Pintu masuk terbuka perlahan memperlihatkan sepasang pengantin.
Sama seperti para tamu lainnya, aku berdiri menyambut pengantin yang berjalan pelan. Mataku tak lepas memandang mempelai wanita yang memamerkan senyumnya. Aura bahagia terpancar jelas di wajahnya. Sejujurnya, aku pernah mengimpikan berjalan bergandengan seperti ini dengannya. Siapa sangka, hidup adalah misteri yang susah ditebak. Kini, aku masih berhenti di tempat yang sama dengan kesendirianku, sementara Yuna telah berjalan bergandengan tangan dengan pria lain.
Acara telah selesai, tapi kawan-kawanku masih betah berlama-lama seraya bernostalgia ke masa-masa sekolah. Mereka menjadikan pernikahan Yuna sebagai acara reuni. Walau tak nyaman dan merasa bosan, aku tak bisa pulang lebih dulu. Pada akhirnya, aku hanya bisa mendengar obrolan membosankan itu sambil meneguk anggur.
__ADS_1
Satu orang mengambil botol anggur yang kosong, kemudian berseru, "Bagaimana kalau kita bermain gim putar botol! Aku sudah menyiapkan jenis tantangan yang harus kalian lakukan!" Dia menggoyangkan gulungan kertas yang tersimpan dalam toples.
Semua setuju kecuali aku yang hanya bisa menggerutu dalam hati. Mereka memulai permainannya. Sederhana saja, cukup memutar botol yang dibaringkan di tengah meja, kemudian melihat kepada siapa mulut botol itu terarah. Orang yang ditunjuk botol, harus mimilih apakah dia ingin mengungkap kejujuran atau melakukan tantangan yang diberikan. Jika sudah memilih, harus segera dilakukan dan tak boleh mengganti pilihan.
Putaran pertama terarah pada teman perempuan kami yang namanya pun tak kuingat.
"Pilih jujur atau tantangan?" tanya mereka.
"Kalo boleh, aku pilih jujur. Aku ingin mengungkapkan rahasia yang kusimpan semasa sekolah," ucap perempuan itu sambil malu-malu.
"Apa itu? Cerita saja pada kami!" desak mereka dengan penuh antusias.
Aku memangku dagu seraya menuang kembali anggur ke dalam gelasku.
"Sebenarnya, aku ... menyukai Ayano-san sejak kelas satu. Aku yakin perasaanku lebih dulu ada dibanding Sakurai-san. Aku bahkan sempat mengalami patah hati yang berkepanjangan saat tahu dia telah berkencan dengan Sakurai-san. Terkadang, aku bertanya-tanya, apakah Ayano-san akan menerimaku jika saja aku berani mengungkap perasaanku," ucapnya sambil memandang malu-malu ke arahku.
Aku yang tengah meneguk anggur, lantas mengernyit ketika semua teman-teman memusatkan pandangan mereka ke arahku.
Teman pria yang duduk di sampingku, menyikut lenganku sambil berkata, "Ayano-san, ayo jawab!"
"Maksudmu?" tanyaku.
"Apa kau tak dengar? Dia dari dulu sudah menyukaimu. Bahkan sebelum kau berpacaran dengan Yuna. Ayo, berikan sedikit respon padanya!"
Aku menatap perempuan itu. Ia memandangku seperti mengharapkan sebuah jawaban.
"Ayo kita pacaran!" ucapku.
Kawan-kawanku terkejut, tapi juga senang mendengarnya.
"Apa kau serius?" tanya mereka.
"Ya, itu akan menjadi jawabanku jika dia berani mengatakannya saat itu. Kalau sekarang, aku hanya bisa mengucapkan terima kasih," ucapku sambil menundukkan kepala.
Mereka mendadak kecewa mendengar ucapanku. Botol kembali berputar. Sialnya, kali ini justru menghadap ke arahku. Kawan-kawanku bersorak dan meminta aku memilih.
"Kejujuran atau tantangan?" cecar mereka.
Karena aku sedang tak ingin berbicara, maka aku memilih untuk melakukan tantangan. Salah satu dari mereka mengambil gulungan kertas dalam toples kaca. Dengan tak sabar, dia membuka gulungan kertas itu untuk membacakan tantangan yang harus kulakukan. Namun, wajahnya mendadak berubah ketika melihat isi dari kertas tersebut.
Sambil memandangku, dia berkata, "Mengajak pengantin wanita berdansa!"
.
.
__ADS_1