
Gelap.
Terang.
Gelap.
Terang.
Kelopak mataku mengerjap pelan. Dalam kesadaran yang belum penuh, kurasakan matahari mengintip wajahku dari celah jendela. Aku meraba dahiku. Ada handuk kecil yang basah tergeletak di sana. Aku berusaha bangun. Kepala masih terasa berat.
Aku mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru. Ini adalah sebuah ruangan yang tak terlalu besar, di mana aku sedang dalam pembaringan di atas ranjang berukuran sedang. Tunggu, bukankah ini kamar wanita? Meski kamar ini tak berunsur feminin, tapi aku bisa menangkap beberapa atribut wanita di tempat ini.
Ingatanku pun mundur ke beberapa saat yang lalu, tepatnya saat aku pingsan di hadapan Ameena. Mataku membesar seketika. Mungkinkah ini kamar Ameena?
Tak lama kemudian, terdengar suara kenop pintu yang hendak dibuka. Aku lantas berbaring kembali dan berpura-pura tidur tak sadarkan diri seperti tadi. Mataku sengaja tak kututup rapat agar bisa melihat siapa yang datang. Seorang wanita berpakaian serba putih melangkah masuk sambil membawa sebuah nampan berisi makanan. Sayangnya, aku tak bisa melihat wajah wanita itu.
Wanita itu lalu meletakkan sarapan di meja depan tempat tidurku. Kurasakan wanita itu mendekat ke arahku. Semakin dekat hingga aku bisa melihat tangan lentiknya menyeberang di atas kepalaku. Rupanya, ia mengambil kompres yang terjatuh di samping kepalaku. Ketika ia membungkuk, netraku menangkap wajah lembut yang selalu terbayang dalam ingatanku.
Ya, dia Ameena, wanita yang membuat logikaku tumpul setiap kali bertemu dengannya. Ia lalu meletakkan handuk itu di atas dahiku dengan sangat hati-hati. Sepertinya itu terjatuh saat aku mencoba bangun. Karena buru-buru berbaring, aku sampai lupa memasang kompres itu di dahiku.
Aku menoleh ke samping, ketika ia membelakangiku dan sibuk menyalin makanan dari nampan ke meja kecil. Senyum kecil bertengger di bibirku. Apa ini berarti aku sedang berada di kamarnya?
Aku langsung menutup mata saat dia mendadak memutar badan ke arahku. Dia mendekat ke ranjang, dan kembali membetulkan letak posisi handukku. Ah, aku menyukai perhatian kecil seperti ini. Pelan-pelan, kuulurkan tanganku untuk menurunkan handuk sedikit ke bawah alisku agar diperbaiki olehnya lagi. Dengan mata setengah terbuka, jari telunjuk dan jempolku bekerja sama untuk menarik handuk ini ke bawah. Aku segera menurunkan tanganku dan rmenutup mata ketika Ameena berbalik ke arahku.
Jantungku berdebar-debar tak karuan dan kedua tanganku mengepal kuat. Namun, hingga beberapa detik, Ameena belum juga memperbaiki posisi kompresku. Tak sabar, mata ini sedikit kubuka hanya untuk mengintip. Ternyata dia kembali membelakangiku. Apa mungkin posisi kompresnya kurang turun ke bawah?
Aku menarik kompres itu sekali lagi, kali ini lebih ke bawah hingga menutup seluruh mataku. Sedikit lagi. Lebih ke bawah.
"Kau sudah bangun?"
Suara Ameena yang mengalun lembut membuat tanganku membeku seketika. Ah, sial, ketahuan!
Karena sudah seperti ini, aku lantas berlagak seolah-olah baru tersadar. Tanganku yang tertangkap basah memegang kompres, lantas langsung menyingkirkan handuk itu dari dahiku.
"Mina-chan, di mana ini?"
"Ini di kamarku. Kau pingsan. Jadi, anak-anak laki-laki bergotong royong mengangkatmu ke kamarku. Mereka bilang tubuhmu berat. Mereka tidak sanggup membawamu ke asrama pria. Selain itu, para pengurus pria sedang tidak ada di sini," jelas Ameena sambil memindahkan makanan ke nakas samping tempat tidur.
"Apa tuan Ali juga tidak ada?" tanyaku pelan.
"Iya, tapi mereka semua sedang dalam perjalanan pulang."
Pantas saja mobil Ahmed tak kunjung datang kemarin.
"Maaf sudah merepotkan kalian. Apa tidak masalah aku tetap ada di sini?"
"Jangan khawatir, di sini bukan hanya kita berdua saja."
"Lalu, kau tidur di mana semalam?"
"Aku tidur di sebelah, di kamar Khalila."
"Oh, iya, ke mana anak itu? Aku merindukannya!"
__ADS_1
Tak lama kemudian, terdengar suara teriakan Khalila yang membuatku terkejut. Dia datang dengan masih memakai baju tidur.
"Kakak Pirang, kau benar-benar menepati janjimu untuk datang lagi!" teriak Khalila bersorak menghampiriku.
Aku lantas terperanjat karena seharusnya Khalila tak mengatakan itu di depan Ameena.
"Ummi, aku sangat senang, ternyata Kakak Pirang tidak membohongiku. Dia benar-benar ...."
"Khalila!" panggilku buru-buru.
Khalila menoleh ke arahku. Aku mengedipkan mata, mencoba memberi sebuah tanda ke Khalila agar tak berbicara lebih jauh. Apalagi kalau sampai dia kebablasan mengatakan kamera itu sengaja kutinggal.
"Kakak Pirang, ada apa dengan matamu? Kenapa berkedip-kedip seperti itu?" Dia malah melempar pertanyaan seperti itu.
"A ... sepertinya dahiku berkeringat dan jatuh ke mataku," ucapku sambil menyeka dahi.
"Makanlah dulu, setelah itu minum obat agar cepat sembuh," ucap Ameena
Aku berusaha bangun dan bersandar di sandaran ranjang. Ameena menyodorkan semangkok Ful Medames¹ makanan khas negara ini yang cukup terkenal di Timur-Tengah.
"Tubuhku masih sangat lemah untuk bergerak walau hanya sekadar memegang sendok. Sepertinya mangkoknya akan tumpah juga kalau kupegang," ucapku sambil berpura-pura menampakkan wajah yang lemah tak berdaya.
"Kalau begitu biar kusuap, Kakak Pirang!" Khalila malah mengambil mangkok itu dari tangan Ameena.
Mataku terbelalak seketika. Ini tidak sesuai dengan skenarioku. Seharusnya Ameena yang berinisiatif menyuapiku, bukan Khalila.
Ketika Khalila hendak menyuapiku, aku lantas berkata, "Khalila, aku membawakan permen dan jajanan untuk kau dan teman-temanmu."
"Benarkah?" Mata Khalila berbinar-binar.
"Akan kulakukan setelah selesai menyuapi Kakak Pirang! Lagi pula, ini masih terlalu pagi. Teman-temanku pasti sibuk membersihkan kamar mereka," ucapnya sambil kembali menyodorkan sendok ke arahku. "Ayo, buka mulutnya! Aaaa ...." pinta Khalila yang memperlakukanku layaknya anak kecil.
Aku menatapnya dengan sepasang alis yang menurun ke bawah. Dengan wajah pasrah, aku pun membuka mulut menerima suapan demi suapan dari Khalila. Sialnya, makanan itu lebih banyak tumpah ke pakaianku sebelum masuk ke mulutku. Bahkan suapan selanjutnya malah salah masuk ke hidungku.
"Kakak Pirang, kau sangat populer di sini. Saat aku ke sini, aku melihat kakak-kakak remaja gadis banyak yang mengintip ke kamar ini hanya untuk melihatmu," kata Khalila sambil terus menyuapiku.
"Benarkah?" Pandanganku lalu tertuju pada Ameena yang hendak keluar dari kamar ini. "Mina-chan, kau mau ke mana?" tanyaku cepat.
"Aku harus mengawasi sarapan anak-anak," jawabnya pelan.
"Bisakah setelah itu ... kau membawakan aku kain lap? Lihat, Khalila banyak menumpahkan makanan ini di bajuku!" ucapku sambil menunjukkan makanan yang berceceran di bajuku.
Ameena mengangguk, lalu pergi. Sebenarnya, aku ingin dia menetap lebih lama di sini. Namun, dia peduli padaku seperti ini, sudah cukup bagiku. Benar-benar lebih dari cukup.
"Kakak Pirang, ayo makan lagi!" sahut Khalila.
Aku menahan sendok yang dipegang Khalila, lalu bertanya padanya. "Adik, kau tak mengatakan kalau aku sengaja meninggalkan kamera di kamar, kan?"
"Tidak. Ini kan rahasia kita berdua!"
"Cerdas!" Aku menepuk-nepuk kepala Khalila.
"Tapi ...."
__ADS_1
"Tapi apa?" tanyaku cepat.
"Waktu itu, ummi menemukanku sedang berada di kamar Kakak. Lalu, dia juga melihat kameramu. Dia kemudian mengambil kamera itu dan berlari mengejarmu. Tapi sepertinya Kakak Pirang sudah lebih dulu pergi, jadi ummi menyimpan kembali kameramu."
Mendengar itu, bola mataku melebar seketika. Ingatanku pun kembali saat Ameena memanggilku sebelum aku masuk ke mobil yang akan mengantarku. Waktu itu, dia memanggilku dengan tergesa-gesa, tetapi hanya mengucapkan sampai jumpa. Namun, aku memang sempat melihatnya menyembunyikan sesuatu di bawah punggungnya.
Tidak salah, kan, jika aku menyimpulkan kami memiliki perasaan yang sama. Misalkan saja ... rasa ingin selalu berjumpa. Lagi dan lagi.
Kini, tinggal aku sendiri di dalam kamar ini setelah Khalila pergi karena bersiap untuk sarapan dan belajar. Masih terduduk di ranjang, aku memerhatikan seisi kamar. Kamar ini tertata rapi, terdapat sebuah meja komputer dan juga rak berisi aneka buku tebal. Aku mengelus selimut bulu yang membungkus badanku. Selimut ini, kasur ini, ranjang ini, bukankah yang selalu ditempati Ameena? Lagi-lagi aku beruntung! Kurasakan wajahku memerah padam.
Aku menoleh ke samping, ada sebuah buku catatan dan bolpoin di atas meja nakas. Aku membuka sehelai demi sehelai kertas yang berisi goresan pena. Sayangnya, aku belum bisa membaca arab gundul. Ternyata dia memang suka menulis. Ini adalah persamaan kami di antara banyaknya perbedaan.
Sejak pertama bertemu, aku dan Ameena terkendala banyak hal. Bahasa, budaya, prinsip, dan keyakinan. Kami pun selalu dibatasi oleh jarak, waktu dan keadaan. Tinggal menghitung hari, aku akan pulang ke Jepang. Pergi meninggalkannya di saat perasaanku padanya sedang meluap-luap. Meski perpisahan bukan hal baru bagi kami, tapi entah kenapa aku merasa berat untuk meninggalkannya.
Aku memegang ponselku. Dapatkah kami berkomunikasi lewat ponsel selama aku pulang ke Tokyo? Tapi, bukankah itu artinya kami harus bertukar nomor? Apa bisa seperti itu?
Aku lalu berdeham, sambil melatih bicara. "Mina-chan, ayo kita bertukar kontak!"
Ah, tidak. Ini kurang sopan.
"Mina-chan, apa aku boleh meminta nomor ponselmu?" Aku kembali berlatih bicara seperti orang bodoh.
Ah, tidak, tidak! Sepertinya dia akan menolak jika aku tidak memiliki alasan.
Aku menarik napas sembari memikirkan kalimat yang cocok kugunakan saat meminta kontak ponselnya. Tiba-tiba terdengar kenop pintu yang hendak terbuka. Aku reflek melempar ponselku ke dalam selimut, tepatnya di bawah kakiku. Ternyata itu Ameena yang datang membawakan kain lap untukku. Dia datang bersama seorang anak laki-laki yang memilih berdiri di tiang pintu.
"Mina-chan, aku mencari-cari ponselku dari tadi. Seharusnya ada di saku celanaku. Apa kau bisa membantuku menelepon ponselku? Kalau mendengar nada deringnya, pasti akan segera bertemu!" ucapku.
Ameena mengangguk, lalu mengambil ponselnya dari saku bajunya.
Yes, berhasil! Dengan begitu, aku bisa mendapatkan nomor ponselnya tanpa perlu bertanya. Aku pun segera memberi tahu nomorku. Saat dia menekan tombol panggilan, kulihat matanya membesar seketika.
"Ada apa?" tanyaku melihat ekspresinya yang terperanjat.
Tak lama kemudian, ponselku berderu cukup kencang. Aku berlagak mencari-carinya lebih dulu di atas ranjang, sebelum kemudian berhasil menemukannya.
"Ah, sudah kutemukan!"
Aku mengambil ponselku. Namun, sama seperti Ameena saat ini, aku pun tersentak ketika melihat nomor pemanggil di layar ponselku. Aku dan dia saling menatap dalam keheningan dengan tangan memegang ponsel masing-masing.
Aku kembali menatap ponselku yang masih berdering. Nomor yang menghubungiku saat ini, ternyata telah ada dalam daftar kontakku.
"Apakah kau ... selama ini ... adalah Nisa?" tanyanya pelan dengan suara bergetar.
.
.
.
jejak kaki 🦶🦶
__ADS_1
Ful Medames¹: hidangan sarapan khas Suriah dan Mesir yang terbuat dari rebusan kacang lava disajikan dengan minyak sayur, bawang putih dan air lemon