
Tak perlu mengungkapkan kata-kata puitis ala Khalil Gibran, tak perlu menggunakan teori of everything seperti yang dilakukan Stephen Hawking, atau membangun monumen semegah Taj Mahal sebagai pembuktian cinta. Aku mencintainya dengan cara yang paling sederhana, konyol dan sedikit kekanak-kanakan.
.
.
.
.
Hingga saat ini belum ada tanda-tanda kemunculan mobil yang membawa Ahmed dan rekan-rekannya. Aku masih di sini. Tak ada siapapun, seolah aku tokoh fiksi yang terdampar ke dunia paralel. Berjalan sana-sini, berdiri mematung, berjongkok, hingga melompat-lompat seperti orang bodoh. Itu kulakukan untuk mengatasi kebosanan. Hanya kesunyian yang menjadi temanku saat ini. Gelap. Mencekam. Tak ada satu pun lampu penerang jalan yang menyala. Hanya ada sesekali cahaya dari layar ponselku ketika aku mencoba mengecek jam.
Tiba-tiba sebuah cahaya menyoroti tubuhku dari jauh. Aku menghalau cahaya yang begitu menyilaukan itu dengan tanganku. Dengan mata yang memicing, aku bisa melihat sebuah mobil sedang berjalan ke arahku. Spontan saja, aku yang tak sabar langsung berlari sambil melambai-lambaikan tanganku menghampiri kendaraan tersebut. Namun, sepertinya itu bukan yang membawa Ahmed dan rombongan relawan dari desa tersebut.
Mobil itu berhenti tepat di depanku. Jendela mobil terbuka, menunjukkan seorang supir yang tak kukenali.
"Siapa kau? Kenapa ada di sini malam-malam begini?" tanya pria itu terheran-heran.
"Aku Ayano Kei. Jurnalis perang asal Jepang."
Aku buru-buru menunjukkan kartu identitasku, kemudian menceritakan padanya hendak ke lokasi desa yang menjadi tempat tinggal Ameena saat ini.
"Bisakah kau mengantarku ke sana? Sebelumnya aku dari yayasan panti asuhan yang ada di sana untuk mengurus sesuatu, lalu mereka mengantarku ke Aleppo. Tapi aku melupakan kameraku di sana. Oleh karena itu, aku ingin mengambilnya kembali di tempat itu." Aku berusaha menjelaskan padanya agar dia bersedia memberiku tumpangan.
"Aku tinggal di desa sebelahnya dan kebetulan aku juga mengenal pemilik yayasan tersebut. Tapi, dapatkah aku memercayai ucapanmu?" tanyanya ragu-ragu sambil menatapku dari bawah ke atas.
"Kau akan percaya begitu kita tiba di sana. Tuan Ali sangat mengenalku. Aku juga mengenal putrinya dan juga Ahmed yang menjadi orang kepercayaannya. Jangan khawatir, aku akan membayar sewa tumpangan!" ucapku memelas.
Terdiam sebentar sembari menimang-nimang, orang itu lalu berkata, "Baiklah ...."
"Terima kasih!" Aku membungkuk sembari mengucapkan kata itu berkali-kali sebelum masuk ke mobilnya.
Akhirnya aku dapat melanjutkan perjalanan menuju ke desa tersebut. Tak peduli sudah malam, aku masih terjaga tanpa rasa kantuk. Kami pun tiba di pintu masuk wilayah kekuasaan kubu separatis. Hingga menjelang larut malam pun, mereka masih berjaga-jaga. Kami turun untuk melakukan pemeriksaan identitas.
Pria yang memeriksa kami, memandang tajam ke arah supir yang memberi tumpangan padaku.
__ADS_1
"Kenapa kau membawa orang asing ke sini?"
Dua orang dari arah belakang menodongku dengan senjata. Aku terkesiap. Namun, mataku mencoba menelisik sekitar. Sial, penjaga yang kemarin memeriksaku tidak ada di sini.
"Di–dia ... mengaku kenalan tuan Ali, dia datang untuk mengambil barang yang tertinggal di kediaman tuan Ali!" jawab supir itu dengan memandang khawatir ke arahku.
Begitu nama tuan Ali disebut, mereka langsung menurunkan senjatanya. Aku sempat heran mereka mempersilakan kami melanjutkan perjalanan. Begitu besar pengaruh tuan Ali bahkan sampai kelompok separatis pun menghormatinya.
Akhirnya kami tiba di desa tersebut. Desa subur yang letaknya berdekatan dengan negara Turki. Aku meminta diturunkan di panti asuhan tersebut. Sialnya, gerbang yayasan itu telah tertutup. Ah, aku lupa kalau ini sudah larut malam. Mereka semua pasti telah tertidur.
"Apa Anda yakin akan diturunkan di sini, Tuan?" tanya supir itu.
"Ya, tidak apa-apa. Terima kasih telah mengantarku." Aku memberi upah untuknya sebagai bayaran karena telah mengantarku. "Apa ini cukup?"
"Lebih dari cukup, Tuan. Terima kasih banyak!" Pria itu lalu meninggalkanku sendirian.
Untuk beberapa saat, aku termangu di depan pintu gerbang yang terkunci.
Mina-chan, aku kembali lagi.
Udara malam semakin tua dengan ditandai datangnya kabut. Di saat orang-orang telah berbungkus selimut di badan mereka, aku di sini berperang melawan dinginnya malam yang menyusup kulitku. Belum lagi haus dan lapar ikut menyerang dengan brutal. Ya, aku memang hanya mengisi perutku dengan seonggok roti panggang sebelum menaiki bus.
Kini, Aku hanya memeluk lutut dengan erat untuk meredam dingin, lapar, haus dan kantuk yang menerjangku secara bersamaan. Sesekali aku terbatuk-batuk dan bersin. Angin malam tak hanya membelai kulitku tapi juga menggoda mataku. Kepalaku mulai terantuk, semakin menunduk ke bawah seiring mataku mulai terpejam.
Entah sudah berapa lama aku tertidur dalam keadaan duduk seperti ini. Semakin lelap, aku semakin tak bisa mengontrol diri hingga tubuhku pun roboh ke samping. Ini membuatku terbangun kaget karena sisi kepalaku terasa sakit saat berbenturan dengan tanah. Dalam penglihatan yang belum sempurna, mataku menangkap sosok sepatu wanita berada di hadapanku. Aku menaikkan pandangan, wajah lembut seorang wanita memasuki retinaku. Ia duduk berjongkok di depanku sembari membawa lampion kecil.
"Apa itu kau, Mina-chan?" gumamku sambil mengusap mata berkali-kali.
"Khai, kenapa kau tidur di sini?" tanyanya pelan.
Mendengar suaranya, aku lantas bergegas duduk bersimpuh di hadapannya.
"Aku kucing yang tersesat, bisakah kau memungutku?" ucapku tertawa bodoh.
Dia hanya diam. Namun, aku bisa melihat sudut-sudut bibirnya membentuk lengkungan kecil.
__ADS_1
"Masuklah, sebentar lagi akan datang fajar!" ajaknya sambil berdiri.
Aku pun bangkit dari tempat ini. Ah, entah kenapa kepalaku berat sekali. Dalam keadaan lemah, aku berjalan terhuyung-huyung memasuki halaman rumah yayasan yang begitu luas. Entah jam berapa sekarang, tapi keadaan sangat hening. Tampaknya orang-orang masih terlelap. Ia sama sekali tak bertanya apa yang membuatku datang kembali ke tempat ini. Aku menyeret kakiku dengan lebar, untuk menyusul langkahnya yang mendahuluiku.
"Mina-chan, aku ke sini ...."
"Aku menyimpan kameramu. Jangan khawatir!" potongnya dengan tatapan lurus.
Aku tersentak, tapi segera berkata, "Bagaimana kau tahu aku ada di luar?"
"Kamarku berada di lantai atas dan jendelanya berhadapan langsung dengan gerbang," jawabnya datar sambil terus berjalan.
Aku berjalan dua langkah lebih cepat ke arahnya, lalu kembali berkata, "Jadi kau melihatku dari kamarmu? Apa kau belum tidur? Oh, kau pasti sedang menulis, ya? Khalila memberitahuku kalau setiap jam sepuluh malam kau mulai menulis di depan komputer. Oh, iya, apakah kau melihat hasil jepretan fotoku? Aku mengambil beberapa foto langit di setiap tempat yang kukunjungi."
Langkah Ameena mendadak terhenti. Ia menatapku tanpa ekspresi.
"Oh, maaf! Aku terlalu banyak bicara!" ucapku menunduk mencoba menyembunyikan rasa senang.
"Suaramu terdengar serak. Aku akan mengambilkan air hangat untukmu," ucapnya berbalik.
"Ah, tidak perlu!" cegatku yang berusaha menghalangi langkahnya. Aku bahkan berusaha berdeham untuk mengembalikan warna suaraku. Sayangnya, itu malah membuatku terbatuk-batuk.
Aku masih ingin mengobrol dengannya. Masih ingin berduaan dengannya. Seperti saat ini. Tidak peduli dengan keadaan tubuhku yang melemah. Perutku yang lapar. Tenggorokanku yang kering. Bahkan suaraku yang menipis. Selama bisa seperti ini dengannya, tidak apa-apa!
"Kalau begitu ... tunggulah di dalam sana!" Ia menunjuk gedung yang salah satu ruangannya menjadi tempat tidurku saat itu.
Aku baru menyadari jika saat ini kami berada di gedung khusus wanita. Kami bahkan berdiri di bawah tangga, di mana Ameena mungkin akan kembali ke kamarnya. Sepertinya mustahil bagi kami untuk berduaan lebih lama seperti ini. Aku pun berjalan meninggalkannya. Namun, baru beberapa langkah, tubuhku mendadak limbung diikuti pandangan yang buram. Aku hampir saja jatuh jika tak berpegangan di tiang.
"Khai!" Ameena buru-buru menghampiriku yang tengah bertekuk sebelah lutut.
"Tidak apa-apa! Hanya terpeleset," ucapku sambil terbatuk-batuk.
Aku menatap matanya dengan penglihatan yang gamang. Bola mata yang senada dengan warna langit cerah itu seperti menarikku ke dalam pusaran yang tidak bisa aku ungkapkan dengan kata-kata.
Aku mencoba untuk terlihat baik-baik saja dengan segera berdiri. Namun, baru saja hendak melangkah, aku kembali roboh tepat di hadapannya. Hitam. Semuanya terasa menggelap seiring kesadaranku terenggut.
__ADS_1