Sang Jurnalis

Sang Jurnalis
Part 24 : Membuka Tabir yang Tertutup


__ADS_3

Sudah setengah jam setelah aku mengirim balasan komentarnya, tapi belum juga mendapat balasan darinya. Aku mulai berpikir, apakah dia tak percaya begitu saja saat aku mengatakan seorang perempuan?


Aku membuka kembali catatan blognya yang tidak lebih dari sepuluh postingan selama dalam kurun waktu tiga tahun. Kupikir wajar karena tidak mudah menulis dalam suasana perang. Aku membuka postingan yang sempat menarik perhatianku siang tadi. Ya, postingan yang tersemat sebuah foto Padang pasir. Kucoba terlebih dahulu menerjemahkan judulnya.


"Menemukan Oase di Padang Pasir" itu adalah judul yang berhasil kuterjemahkan. Sekilas, tak ada yang menarik dari judul itu. Namun, aku tetap ingin membaca isinya. Tentu saja karena temanya tentang Padang pasir yang sontak menerbangkan ingatanku pada kejadian tak terlupakan itu. Sayangnya, hasil terjemahan mesin internet malah menampilkan bahasa yang kacau dan tak jelas. Namun, aku dapat memahami jika 'Oase' yang dimaksud dalam tulisan itu mengacu pada seseorang.


Tak terasa sudah dua jam berlalu. Aku berguling-guling dalam tenda sambil menunggu balasan komentarnya. Aku sampai melewatkan makan malam, menolak berkumpul dengan para wartawan lainnya, bahkan tak menemui Yuna hanya untuk menunggu balasan e-mail wanita itu.


Tiba-tiba aku teringat dengan tujuanku datang ke tempat ini. Aku segera keluar tenda, menapaki tanah tandus menuju ke tenda bantuan internasional yang selalu berdiri paling ujung dan sedikit jauh dari hiruk pikuk tenda pengungsian.


Ada sekitar lima belas menit aku memantau tenda tersebut sembari menghabiskan rokok di sela jariku. Tak ada aktivitas mencurigakan seperti di kamp yang kukunjungi beberapa hari yang lalu. Namun, yang membingungkan adalah tenda bantuan internasional itu sangat sepi, tak ada satu pun pengungsi yang datang seolah mereka tak membutuhkan apa pun. Ini tentu sangat kontradiksi dengan kejadian pagi tadi, di mana para pengungsi rela berdesak-desakan demi berebutan bantuan dari relawan yang datang.


Aku pun memutuskan balik ke tenda dengan harapan dia telah membalas komentarku. Namun, melihat Yuna yang berada di luar tenda, membuatku memutuskan menghampirinya.


"Dokter Sakurai, apakah dia kekasihmu yang kau ceritakan pada kami?" kata salah satu temannya yang melihatku berjalan ke arah mereka.


Yuna berbalik. Seutas senyum riang dari bibirnya menjadi penyambutku. Dia menarik lenganku, mengajak menemui teman-teman anggota medis.


"Halo ...." Aku menyapa mereka secara formal.


Aku bisa mendengar para perawat saling berbisik di dalam tenda. "Dia tidak kalah tampan dari tentara itu. Kalau seperti ini, pantas saja dokter Sakurai lebih memilihnya. Kalian memang pasangan yang serasi."


"Kukira tentara itu pacar dokter Sakurai karena pria itu lebih sering mengunjunginya dan mengantarkan makanan," sahut salah satu di antara mereka dengan nada yang lebih nyaring.


"Sssttt ... pelankan suaramu!"


Yuna segera menarikku menjauh dari mereka. Sebenarnya, aku tidak terganggu dengan perkataan mereka. Tentara yang dimaksud mereka itu pasti Yoshizawa. Kupikir, itu sudah merupakan tugas dan amanat yang diberikan Panglima padanya untuk menjaga Yuna. Selain itu, tentara dan dokter selalu berada di satu medan yang sama. Berbeda dengan jurnalis yang sibuk berkeliling dari satu tempat ke tempat lain untuk mencari bahan berita.


Aku balik ke tenda setelah makan mie instan berdua dengan Yuna dalam satu wadah. Rasanya sudah tak sabar membuka laptop untuk mengecek balasan komentar. Benar, dia membalas komentarku dan langsung memberikan e-mailnya. Aku menyalin e-mailnya lalu mulai menyapa.


"Hai, dapatkah kita menjalin pertemanan? Kau bisa bercerita apa pun padaku. Aku akan menjadi pendengar yang baik untukmu. Jangan khawatir, aku simpatisan korban peperangan di negara kalian."


Tak butuh waktu lama dia langsung membalasnya. Alih-alih menerima ajakan pertemanan, dia malah menulis pertanyaan seolah mencurigaiku.


"Apa namamu sungguh Khairunnisa?"

__ADS_1


"Iya, apakah ada yang aneh?"


"Ya, karena di sini nama panggilan untuk perempuan yang bernama Khairunnisa adalah Nisa, bukan Khai."


Mataku mendadak terbelalak. Aku menggaruk-garuk kepala sambil kembali mengetik. "Ya, aku juga dipanggil Nisa. Khai adalah nama penaku. Bagaimana denganmu? Bolehkah aku tahu namamu?"


Dia tak membalasnya. Bahkan setelah sepuluh menit berlalu. Ini membuatku berpikir apakah dia curiga padaku? Untuk membuatnya percaya, aku mengirimkan foto Yuna dengan memakai kerudung Ameena yang kupotret siang tadi.


"Ini aku," ucapku sebagai keterangan foto.


"Yuna, maaf, aku terpaksa meminjam identitasmu." Hatiku bergumam kecil.


Sekitar lima menit kemudian dia baru membalas pesanku. "Kau tampak seperti bukan warga Suriah. Tulisanmu juga sangat formal dan sedikit rancu. Apakah kau seorang dokter?"


Aku tertawa kecil karena dia begitu terang-terangan. Ah, wajar saja dia bisa menebak. Apalagi foto Yuna yang kukirim memakai jas dokter.


"Iya, aku dokter lintas batas yang ditugaskan di negara ini. Asalku dari ...." Aku terdiam sejenak, kupikir sedikit aneh jika mengatakan dari Jepang sedangkan namaku tak mencerminkan identitas negara. "Asalku dari Indonesia," lanjutku mengetik.


Dia kembali membalas pesanku. "Oh, begitu, pantas saja kau bisa memotret anak perempuan itu di pengungsian."


"Untung saja kau warga asing, jadi meskipun tulisanmu cukup keras dalam beropini, akan tetap aman. Sebagai perempuan, kau juga bisa bebas menggapai hak hidup," ungkapnya.


Balasan komentarnya menjadi pembuka jalanku untuk mulai bertanya-tanya padanya.


"Memangnya ada apa? Apa kau bisa bercerita padaku? Aku tertarik untuk tahu lebih banyak." Aku mencoba menggali lebih dalam.


"Aku tidak bisa mengatakan padamu. Jika ketahuan, mungkin aku bisa dipenjara dengan tuduhan mata-mata. Bukankah kau seorang dokter? Coba periksa juga psikis mereka!"


Aku tak berani memaksanya. Namun, Sejak malam itu kami sering berbalas pesan dan saling tukar pengalaman. Kubuat dia percaya dan yakin kalau aku teman yang baik untuk bercerita, bertukar pikiran, maupun berkeluh kesah.


Aku berkomunikasi dengannya menggunakan bahasa Arab hasil terjemahan mesin internet. Meskipun ini cukup merepotkan, tapi aku menikmati masa-masa obrolan kami yang berarti ini. Aku berusaha menghormati privasinya dengan tidak menanyakan atau pun membahas hal yang tidak perlu. Beberapa hari setelah pertemanan kami semakin intens, akhirnya dia lebih terbuka padaku.


Dia mengenalkan diri sebagai Zaheera, wanita lulusan universitas Al-Azhar, Kairo. Aku tidak tahu apakah itu nama aslinya atau sekadar nama pena. Namun, dia mengatakan menyukai nama itu karena memiliki makna "tanaman yang telah tumbuh" yang menjadi harapannya pada negara ini setelah perang selesai.


Dia juga mengaku sebagai seorang aktivis perlindungan perempuan dan anak-anak, meskipun baru bergabung sebulan setelah hampir tewas pada sebuah serangan bom. Ini sebuah keberuntungan bagiku, karena aku benar-benar mendapatkan teman sekaligus narasumber yang tepat.

__ADS_1


Dia juga memberikan informasi mencengangkan sekaligus memilukan yang tidak pernah diungkap media. Ternyata, perempuan di negara ini kerap mendapatkan eksploitasi dan kekerasan seksuual. Banyak kejadian penangkapan, penjaraan masal, hingga pemerkosaan. Hak-hak mereka telah dilucuti berbagai pihak yang berperan dalam perang ini.


Bahkan yang lebih miris, kekerasan dan pelecehan itu juga banyak terjadi di lingkungan pengungsian. Para wanita di kamp pengungsian kerap mendapatkan eksploitasi untuk pria-pria penyalur bantuan internasional. Demi mendapatkan bantuan tersebut, harga yang harus para pengungsi itu bayarkan adalah tubuh mereka sendiri. Tak heran, jika tempat pengungsian yang kukunjungi terakhir, memilih untuk mendatangi pusat penerimaan bantuan dari PBB karena takut akan dianggap mau memberikan tubuh mereka.


"Ini adalah bentuk kejahatan keji. Kenapa mereka tidak membuat laporan saja?" tanyaku tak habis pikir.


"Mau melapor di mana? Jika tempat yang seharusnya memberikan kami perlindungan ternyata bagian dari pelakunya. Inilah yang membuatku memilih untuk menjadi aktivis perempuan. Sayangnya, aku tak bisa membantu semua perempuan di negaraku dengan tanganku sendiri. Aku pun tidak punya kuasa dan keberanian untuk mengungkap semua ini," balasnya. Aku bisa merasakan emosi dalam setiap kata yang tertulis.


"Aku tahu cara menghentikan kebiadaban ini!" kataku.


"Bagaimana caranya?"


"Kejahatan ini harus diungkap dengan meminjam tangan media! Tenang saja, temanku seorang jurnalis yang juga bertugas di sini. Aku akan memintanya untuk menguak ini ke media. Asal kau percaya padaku, aku akan menjadi pendukung perjuanganmu."


"Benarkah temanmu seorang jurnalis?" tanyanya.


"Iya. Aku akan memintanya membantu kita menguak ini semua. Tapi, tentu kita harus membantunya mencari bukti sebagai penguat berita yang akan dirilisnya nanti."


"Apa kewarganegaraan temanmu itu?"


Dahiku spontan mengernyit ketika dia mempertanyakan kewarganegaraan seorang jurnalis.


"Dia memiliki kewarganegaraan yang sama denganku. Apa ada masalah dengan itu?"


"Apa kau mengenal salah seorang jurnalis asal Jepang?"


Balasan pesannya sontak membuat mataku melebar seketika. Bahkan tanganku lumpuh bergerak sesaat. Kenapa dia tiba-tiba mempertanyakan jurnalis asal Jepang?


.


.


.


Sebenarnya aku mau kasih catatan author di bab ini, tapi entar aja deh. lagi sibuk banget, gays. 😂

__ADS_1


__ADS_2