Sang Jurnalis

Sang Jurnalis
Part 30 : Suara yang Kurindukan


__ADS_3

So mengangguk. Di tubuhnya saat ini telah terpasang alat rekam dan kamera tersembunyi untuk merekam aktivitas dalam tenda. Kami tak mungkin senekat ini jika hanya untuk berlenggang tanpa persiapan.


Dalam penglihatan yang remang, aku mencoba memutar kepala ke barisan antrean. Ternyata hanya aku dan So yang memakai burkak. Beberapa gadis di depan dan belakang kami hanya menggunakan kerudung yang dilingkar seadanya. Ada pula yang tanpa penutup kepala apa pun. Kamp ini memang gabungan dari beberapa ras dan agama.


Wajah-wajah pasrah nan frustrasi masih bisa terlihat jelas olehku. Mereka yang datang ke sini bukan secara sukarelawan, tapi karena sebuah paksaan dan keadaan yang begitu sulit. Jika Zaheera tak mengatakannya, pasti aku tak akan pernah tahu informasi berharga ini, meskipun sebelumnya aku pernah bertabrakan dengan salah satu pengungsi yang melarikan diri dari tenda bantuan internasional.


Beberapa petugas berjalan lambat-lambat di sekitar antrean sambil memandang para gadis dengan mata predator mereka. Satu petugas berhenti tepat di sampingku, lalu menatapku dari ujung kaki hingga ujung rambut. Postur tubuhku terbilang tinggi untuk lelaki Jepang, tapi jangan salah ... cukup banyak wanita Timur Tengah yang memiliki tubuh tinggi semampai.


Pria yang tadi mengamatiku telah berada di depan. Beberapa petugas mulai saling tunjuk wanita mana yang akan menemani mereka malam ini.


"Kalian yang memakai burkak, ayo ke sini!" perintah salah satu petugas.


Aku dan So terhenyak. Sial, kenapa harus kami yang lebih dulu dipanggil. Pakaian ini memang memudahkan penyamaran, tapi aku lupa jika ini membuat kami terlihat mencolok dari para gadis lainnya yang ikut mengantre.


Aku dan So hanya terpaku tanpa melakukan pergerakan, seolah kami tak memahami instruksinya. Napasku tertahan sesaat. Otakku mulai memikirkan rencana B, jika rencana awal tak bisa kami lakukan.


"Bagaimana ini? Apakah mereka mencurigai kita?" bisik So dengan suara yang bergelombang karena takut.


Dengan tenang aku berkata, "Kita abaikan saja! Anggap kita tak paham kalau mereka memanggil kita."


Petugas itu kembali menoleh sambil menunjuk ke arah kami, lalu menggerakkan tangannya sebagai isyarat memanggil.


"Hei, come here!" Dia melakukan perintah dengan bahasa sederhana.


Kami masih bergeming tanpa bergeser sedikit pun.


Satu petugas menghampiri kami. "Kalian pasti sudah tahu syarat dan prosedur pengambilan bantuan. Cepat ke belakang!"


Aku dan So saling melirik. Dengan terpaksa, kami bergerak keluar barisan. Kami diarahkan ke tenda belakang oleh petugas tadi.

__ADS_1


"Datang ke sini berarti sudah setuju dengan apa pun yang kami lakukan terhadap kalian. Kami akan memeriksa wajah kalian, kalau jelek maaf saja, ya," ucap petugas yang membawa kami layaknya hewan ternak.


Kami dipaksa masuk ke tenda yang tak begitu luas. Petugas yang berada di sana tampak terkejut melihat kedatangan kami.


"Kenapa kalian membawakan kami wanita model seperti ini?" tanya mereka komplain.


"Hei, dilihat saja dulu! Siapa tahu mereka bisa melakukan tarian perut," ucap petugas yang membawa kami sambil terkekeh.


Satu petugas datang mendekat ke arahku. "Buka penutup wajahmu!"


Aku bergeming. Dia kembali memerintah. Aku masih tak bergerak.


"Sepertinya dia tidak mengerti bahasa kita. Kenapa tidak kita saja yang membukanya!" Satu orang kembali mendekat dan hendak membuka burkak yang kupakai.


Aku langsung menahan tangannya. Dia menatapku lamat-lamat. Tangannya mencoba menepis tanganku, tapi aku langsung memuntir tangannya ke belakang dan membantingnya dalam satu gerakan. Mereka semua terkejut dengan gerakan refleks yang aku lakukan.


"Hei, apa kau pikir ini area pegulat!" Pria itu mendekat dengan amarah yang berkobar di wajahnya.


"Dia bukan pengungsi! Dia pasti penyusup! Tangkap dan lepas burkaknya!" perintah salah satu di antara mereka.


Tiga orang datang lalu merangsek maju secara bersamaan. Aku menaiki meja dan melayangkan tendangan yang tepat menyapu rahang mereka bertiga. Satu orang berusaha menangkap dari samping, tapi sayangnya kalah cepat dariku yang lebih dulu meloncat. Aku mendarat dalam posisi bertekuk sebelah kaki. Mereka semua kompak menyerangku dari berbagai arah. Kukibas siapapun yang mendekat dengan hijab panjang selutut yang kugunakan.


Mereka masih belum menyerah untuk menangkapku. Aku cukup kewalahan. Kugunakan kursi lipat untuk menghalau mereka yang ingin mendekat. Satu orang menangkapku dari arah belakang, sekaligus mengungkung kedua tangan ini agar tak bergerak. Kuinjak kakinya sehingga membuatku terlepas dari jeratannya. Di saat yang bersamaan, kupukul dia dengan kursi lipat.


Satu orang kembali datang melayangkan pukulan, aku lantas masuk ke sela ketiaknya. Sambil memegang leher dan pergelangan tangannya, kugunakan teknik kancingan yang mematikan hingga kakinya terseret beberapa langkah. Aksiku ini, mengundang ketakutan bagi petugas lainnya yang tadinya mencoba mendekatiku.


Aku mendengar jejak-jejak kaki yang mendekat. Kupikir itu adalah tentara PBB yang ditugaskan berjaga sekitarnya. Mereka pasti menyadari keributan yang terjadi atau mungkin menganggap tenda ini diserang. Tidak ada alasan bagiku untuk terus bertahan jika tak ingin tertangkap atau mati konyol.


Aku mencari jalan untuk melarikan diri. Di saat yang sama, seseorang menarik ujung khimar panjang yang kukenakan. Bukannya melepaskan diri, aku dengan suka rela berputar ke arahnya, lalu menyikut bawah dagunya. Namun rupanya dia masih menolak untuk melepaskan genggaman tangannya di hijabku. Sebagian dari kain khimar itu lalu kulilitkan ke lehernya, kemudian dengan sengaja aku berputar hingga membuatnya tercekik. Dia buru-buru melepaskan lilitan khimar di lehernya sehingga aku pun bisa ikut terlepas.

__ADS_1


Aku segera keluar dari celah tenda untuk melarikan diri. Aku terkesiap ketika So masih berdiri bersembunyi tak jauh dari tenda itu. Pasti So tak mau meninggalkanku begitu saja. Aku berlari, menyusulnya yang lebih dulu lari begitu melihatku keluar tenda.


"So, kenapa kau masih di sini? Bukankah kusuruh kau balik lebih dulu setelah membawa keluar para gadis itu?" tanyaku menyeimbangkan larinya yang tak pernah cepat.


Sebuah cahaya menyorot ke arah kami, aku langsung menurunkan kepala So dan kami sama-sama berjongkok untuk bersembunyi. Gelap. Sunyi. Mencekam. Begitulah keadaan tempat persembunyian kami saat ini. So berusaha bersuara, tapi aku langsung membekap mulutnya dengan telapak tanganku.


Gawat, beberapa tentara lain datang kini melakukan penyisiran di sekitar area!


"Ayo kita pergi!" Kami berjalan jongkok di antara semak belukar sejauh beberapa meter.


Kami berdiri lalu melarikan diri bersama. Aku menaikkan baju kurungan ini hingga batas lutut agar bisa berlari dengan leluasa. Burkak yang menutupi seluruh wajahku pun kunaikkan ke atas supaya pandangan lebih jelas. Sejenak, aku menoleh ke belakang. Astaga, So malah tertinggal di belakangku.


"So, kenapa larimu tidak bisa lebih cepat!" ucapku sambil menunggunya. Ya, So memang sangat lamban dalam apa pun! Namun, kali ini aku memakluminya karena pakaian ini memang membuat kami kurang leluasa.


Aku menghampirinya dan langsung menarik tangannya supaya bisa lebih cepat. Namun, dia malah menampik tanganku. Mendadak, aku merasakan sesuatu yang aneh dan berbeda. Seseorang di hadapanku bukan So!


"Siapa kau?" tanyaku dengan suara kelam.


Dia hanya bergeming dengan kaki yang sedikit mundur ke belakang. Kupikir dia bagian dari pengungsi di tempat ini yang mungkin juga ingin mengambil bantuan di tempat itu.


"Keadaan kurang aman untuk saat ini, bersembunyilah di sini untuk sementara waktu! Jangan sampai tertangkap mereka jika tak mau jadi santapan. Berhati-hatilah!" ucapku dingin.


Aku tentu tak boleh terus berada di sini. Sebab, aku juga harus memastikan apakah misi So berhasil atau tidak. Oleh karena itu, kubalikkan badanku secara perlahan bersiap untuk pergi.


"Khai ...."


Suara pelan nan halus membuat kakiku mendadak urung melangkah. Aku membeku. Suara itu tak hanya membuat kakiku seakan tertancap ke tanah, tapi juga membuat jantung ini seolah jatuh dari rongganya. Tentu saja aku masih mengenal jelas suara ini!


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2