
Aku menarik tubuh So sekuat tenaga hingga kurasakan urat-urat di leherku bermunculan. Kami tidak boleh tertangkap. Kami tidak boleh ketahuan! Tapi bagaimana caranya? Beberapa dari mereka telah mendaki dan menuju ke arah kami.
So berhasil naik ke atas dan langsung menubruk tubuhku. Kerudung yang terpasang di leherku mengembang menutupi bagian belakang kepala seiring aku terbaring ke tanah. Posisi ini membuatku berada di bawahnya sedang dia berada di atasku.
Aku mendesis, merasakan beratnya tubuh So yang menindihku. Apalagi dia memang berperawakan gempal.
"So, cepat menyingkir! Kita harus segera pergi!"
So mengangkat kedua lengannya sebagai tumpuan. Di waktu yang sama, sebuah cahaya menyorot ke arah kami. Aku menarik kerah So hingga tubuhnya ikut turun ke bawah.
"Lakukan push-up, cepat!" perintahku pada So.
"Hei, siapa di sana?" Apa yang kau lakukan?!" Seseorang bersuara dengan memakai dialek Inggris Amerika.
So langsung melakukan gerakan push-up di atas tubuhku yang membuat kami terlihat seperti sedang berhubungan badan. Pria yang sempat menyoroti kami langsung berbalik dengan cepat, bahkan buru-buru turun ke bawah mengajak temannya untuk pergi.
Aku tersenyum miring. Mereka pasti berpikir kami sedang berhubungan intim di semak-semak. Ya, ini pemandangan biasa yang tak sengaja kulihat ketika mendirikan tenda di sekitar dataran tinggi. Ide dadakan ini terbesit karena aku tahu orang barat memang tak suka mengusik kegiatan biologis yang dilakukan seseorang. Namun, akan berbeda jika hal tersebut dipergoki oleh kelompok ekstremis, mungkin hidup kami akan berakhir dipenggal.
Tunggu, kenapa aku tidak sadar kalau yang dulunya sering kulihat itu adalah bentuk pelecehan kepada pengungsi wanita? Selama ini aku terlalu polos dengan berpikir itu adalah tindakan suka sama suka antara mereka.
"So, aku tahu ke mana mereka membawa wanita-wanita itu! Ayo kita balik saja! Mereka pasti akan lebih waspada malam ini."
Kami keluar dari kamp pengungsian lalu mencari tempat untuk berkemah. Tak jauh dari lokasi, kami menemukan tempat perkemahan militer dengan kibaran bendera PBB. Ya, kami pun memilih mendirikan tenda di sekitar sana demi keamanan.
"Bukankah pria di sana itu Ayano?"
__ADS_1
Aku refleks memutar kepala saat seseorang menyebut namaku. Tak jauh dari tempatku berpijak, ada sekelompok pria berseragam yang melihat ke arahku, di antara mereka ada Yoshizawa. Sama seperti Yoshizawa, mereka adalah teman seangkatanku di pasukan bela-diri Jepang. Bahkan kami ditempatkan dalam satu pasukan di mana aku sempat menjadi pemimpin mereka.
Ternyata ini adalah kamp Pasukan Bela-diri Jepang yang dikirim khusus sebagai penjaga perdamaian PBB. Melihat Yoshizawa ditugaskan di tempat ini, entah kenapa hatiku sedikit tenang. Jangan bilang kalau aku tidak terusik saat kawan-kawan Yuna lebih mengenalinya dibanding aku. Jangan sangka aku tidak panas saat mengetahui pria itu selalu membawakan makanan untuk kekasihku. Ya, aku juga punya rasa cemburu, meski tidak kutunjukkan di depan Yuna.
"Yo, ternyata ini benar-benar Ayano-san!"
Tentu aku senang bertemu dengan mereka. Walau bagaimanapun kami pernah sama-sama berjuang di tempat tugas. Melewati segala rintangan dan menyusun strategi bersama. Dengan senyum mengembang, aku menghampiri mereka bermaksud untuk menyapa.
"Kenapa kita harus bertemu dengan si pecundang ini di sini!" Suara salah satu dari mereka menghentikan langkah ini sekaligus melenyapkan senyumku.
"Kau berlebihan dia bukan pecundang, hanya gila atensi!" tandas salah satunya diiringi tawa meledak mereka.
"Dia juga bermuka tebal. Kudengar dia masih memacari anak panglima setelah mempermalukan ayahnya di media pers."
Kuterima semua kalimat-kalimat cemoohan itu. Tidak ada rasa marah sedikitpun.
Aku bergeming. Memerhatikan mereka satu per satu. Mereka dulunya berada di bawah komandoku sebelum Yoshizawa mengambil alih. Bahkan saat masih dalam pelatihan, aku pernah membela mati-matian dari senior dan pelatih yang memperlakukan mereka seperti binatang. Lucunya, sekarang mereka berbalik menyerangku. Ini membuatku menyadari satu hal. Untuk mengungkap kebenaran yang tersembunyi, selalu ada harga mahal yang harus kita tukar.
Sejak tulisanku yang membongkar sisi gelap asrama perekrutan Pasukan Bela-diri Jepang, cap seperti pengkhianat, pecundang dan haus atensi telah diberikan padaku. Aku pun harus rela menerima kebencian dari mantan anggota pasukanku. Sepertinya orang-orang lebih menyukai budaya perundungan yang diwariskan turun-temurun dibanding memutus mata rantainya. Mereka memilih mempertahankan nama baik institusi yang sebenarnya sudah rusak, daripada melakukan perbaikan secara menyeluruh.
"Sudah, sudah, kalian keterlaluan! Apakah itu pantas dilakukan seorang prajurit?" Suara Yoshizawa menghentikan mereka sejenak.
"Apa kau lupa, gara-gara dia ... kita semua menjadi cemoohan pasukan lain! Tak ada yang mau bergabung dengan kita! Bertahun-tahun kita menjadi pasukan yang tersisihkan akibat ulahnya!" Salah satu dari mereka menyahut sambil menunjuk ke arahku.
"Kembali ke tenda kalian," kata Yoshizawa dengan tegas. Melihat pasukannya yang masih berdiam di tempat, ia pun berteriak dengan lantang. "Kembali ke tempat! Ini perintah!"
__ADS_1
"Siap!" jawab mereka serempak, kemudian meninggalkan aku dan Yoshizawa.
"Arigatou, Yoshizawa-san. Kau memang teman yang paling setia."
Yoshizawa mengajakku menepi. Kami berjalan di kegelapan, mendaki tanah tandus yang penuh bebatuan dan rumput liar. Tak ada yang bersuara dari kami. Namun, dulunya memanjat tebing adalah hobi kami berdua. Dia terus berjalan dan aku tetap mengekornya. Dia berhenti, berbalik ke arahku sambil melempar tatapan dingin.
"Ayano-san, tolong lepaskan Yuna!"
"Eh?" Aku tersentak.
"Jika tidak, aku akan merebut Yuna darimu!"
Aku terperanjat mendengar kata-kata itu keluar dari mulut Yoshizawa. Apa aku tidak salah dengar? Meski begitu, aku masih tertawa, seolah kata-katanya mengandung lelucon.
"Aku serius! Kau cerdas, kau pasti bisa menebak apa yang terjadi. Jangan menganggap aku sebagai kawanmu seperti dulu, karena aku hanya memandangmu sebagai lawanku saat ini."
Wajahku berubah menjadi serius. Namun, tak berlangsung lama. Aku kemudian tersenyum ringkih sambil mengantongi kedua tanganku. "Lakukan saja! Rebut Yuna dariku jika kau mampu!" tantangku penuh percaya diri seraya memutar badan.
"Menyerahlah dan lepaskan dia!"
Aku menengadah sembari mendenguskan napas kasar. Kami saling melempar tatapan dengan ekspresi serius yang tercetak di wajah masing-masing. "Yoshizawa-san, pertama ... kau terlalu berterus terang kepada lawanmu. Itu tidak baik untuk dirimu sendiri. Kedua ... kau pasti telah putus asa sampai harus meminta pada lawan menyerahkan apa yang dia miliki. Kalau boleh aku menilai, kau bukan negosiator yang baik."
Yoshizawa menatapku lamat-lamat. "Aku sedang tidak bernegosiasi denganmu. Ini sebuah ultimatum dari panglima yang harus kusampaikan padamu. Apa kau tidak sadar? Selama kau masih berhubungan dengan Yuna, selama itu juga kau telah meretakkan hubungan ayah dan anak. Pernahkah kau memosisikan diri menjadi Panglima? Atau mencoba berada di posisi Yuna?" Ia memandangku sambil menggeleng-geleng kepala dengan berirama. "Tidak! Kau hanya memikirkan dirimu sendiri. Kau hanya memercayai nalar dan penglihatanmu. Tidak salah kalau teman-teman menganggap kau orang yang paling egois. Karena Yuna terus berada di sisimu, lantas apa kau menganggap hubungan kalian baik-baik saja? Karena Yuna tak pernah membicarakannya padamu, apa kau pikir Yuna bahagia bisa terus menjalani hubungan denganmu? Tidak, dia tersiksa karena harus terus menentang ayahnya!"
Aku tertohok. Kalimat-kalimat yang diluncurkan Yoshizawa terdengar dingin dan mencekam. Hanya dengan melontarkan kata-kata itu, ia mampu mengintimidasi, menjadikan aku bisu dan dungu sehingga hanya bisa diam tanpa bisa menyanggah.
__ADS_1
"Tinggalkan Yuna! Hubungan kalian tak memiliki masa depan! Kurasa Yuna juga menyadari itu, hanya saja mungkin dia tidak tega untuk meninggalkanmu," ucapnya lagi.
.