
Mari kita menjelajah waktu lebih jauh sejenak, menuju masa-masa remajaku. Tepatnya, di masa aku mengenal Yuna dan berhasil memenangkan hatinya ....
.
.
.
Sakurai Yuna, satu-satunya gadis yang kucintai. Hubunganku dengannya telah terjalin selama delapan tahun. Kami berpacaran saat memasuki tahun terakhir sekolah. Namun sebelum itu, aku telah memendam perasaanku padanya selama dua tahun. Jika ditotal secara keseluruhan, sepuluh tahun dalam hidupku, telah kugunakan untuk mencintainya.
Masa remajaku tak seperti bocah lelaki pada umumnya. Aku tidak nyaman berkumpul dan berbagi cerita ke orang lain. Aku lebih suka menyendiri dan mengamati keadaan sekitar sekolah dari atap gedung. Dari kebiasaan itu, aku menuliskan beberapa hal yang kuanggap menarik ke dalam sebuah paragraf yang kemudian akan kutempelkan di papan pengumuman layaknya artikel koran.
Tak kusangka, banyak yang setia menunggu tulisanku untuk sekadar mengetahui apa yang terjadi di sekolah. Salah satu siswa yang setia membaca tulisanku itu adalah Yuna. Entah kenapa, perasaan suka itu tiba-tiba muncul sejak saat aku sering melihatnya mendatangi papan pengumuman hanya untuk membaca tulisanku yang tak bernama. Namun, aku sadar dia terlalu mustahil untuk kugapai. Mencintai dalam diam menjadi pilihanku saat itu.
Yuna adalah teman sekelasku. Bisa dikatakan dia sangat disorot di sekolah kami. Cantik, ramah, pintar dan punya jiwa sosial yang tinggi, siapapun pasti akan tertarik dengan karakter seperti itu. Satu-satunya keberuntunganku bisa dipandang olehnya adalah menjadi saingan terberatnya di dalam kelas. Ya, Yuna menguasai seluruh mata pelajaran yang membutuhkan perhitungan. Sementara aku menguasai pelajaran yang menggunakan banyak teori, termasuk pelajaran bahasa Inggris.
Setiap orang pernah diperbudaki oleh perasaannya sendiri. Hal itu juga berlaku pada diriku. Level akut cintaku adalah ketika aku mengetahui dia sangat ingin mengungguli nilai-nilai akademik yang kuperoleh, lalu aku dengan secara sukarela mengalah agar keinginannya bisa terwujud. Ya, misalkan pada ujian pelajaran bahasa inggris aku memiliki potensi untuk mendapatkan nilai 100, maka aku akan membuat jawaban salah di beberapa nomor. Begitu juga di beberapa pelajaran yang mudah kutaklukkan.
Memasuki tahun kedua persekolahan, aku bertekad menyatakan perasaanku padanya. Di atap gedung yang menjadi tempat favoritku, aku menuliskan surat cinta yang kutujukan padanya. Sialnya, aku tidak punya pengalaman menulis surat cinta. Aku mampu menulis narasi, deskripsi, bahkan argumentasi, tapi aku sangat bodoh untuk menuliskan kalimat-kalimat pujangga yang digunakan untuk merayu perempuan. Entah sudah berapa kertas yang kuremas dan kubuang begitu saja, lalu diganti dengan kertas dan tulisan baru.
Sedikit lagi. Hampir selesai. Di tengah keseriusanku menulis surat, tiba-tiba terdengar suara lantang seorang wanita yang tengah latihan pidato bahasa Inggris. Suaranya begitu memekik telinga hingga membuat konsentrasi menjadi buyar. Aku bahkan sampai lupa menulis kalimat penutup surat.
"Ladies and gentleman ...." Dia mengulang pidatonya sekali lagi. Kalo ini lebih nyaring hingga pita suaranya hampir meloncat keluar.
Argh, aku sudah tidak tahan lagi. Kukepal surat cinta itu membentuk gumpalan bola lalu kulempar ke arahnya. Gumpalan surat cinta tak bernama itu sungguh tepat mengenai dahinya. Namun, bencana seakan menerpa diriku begitu mengetahui gadis berisik itu adalah Yuna.
Yuna yang terkejut usai menerima lemparan dariku, lantas membuka gumpalan kertas itu dan membacanya.
"Dear Sakurai Yuna ...." Ia membaca kalimat pembuka suratku, "bu-bukankah surat cinta ini untukku?" gumamnya setengah kaget.
Aku kelabakan. Jantungku terpukul. Tidak, surat itu tak seharusnya sampai dengan cara seperti itu. Lebihnya lagi, aku belum menyelesaikan kalimat terakhir. Kucoba mengintip dari sela-sela kursi. Tampak kepalanya menoleh ke kiri dan kanan. Tentu dia tak menyadari keberadaanku di sini, karena aku bersembunyi di balik tumpukan kursi.
Jantungku semakin berdebar tak karuan ketika dia berjalan menuju ke tumpukan kursi. Aku berdiri, berusaha menghindarinya. Namun yang ada malah aku menabrak sebuah kursi yang membuat kursi-kursi di atasnya terjatuh ke bawah dan menimpa kakiku.
"Auw, sakit, sakit, sakit!" jeritku kecil sambil memegang ujung sepatuku.
"Ayano-kun?"
Ah, sial! Dia memergokiku secara langsung. Aku sudah tidak punya cara untuk bersembunyi. Bahkan matanya langsung tertuju pada gumpalan-gumpalan kertas serupa yang berserakan bersama pulpen milikku. Dia mengambil salah satu dari gumpalan kertas itu, lalu membacanya. Ya, tentu saja isi dari inti surat itu sama seperti yang kulempar sebelumnya.
"Ayano-kun, apa ini darimu?" tanyanya pelan dengan ekspresi tak percaya.
Aku terbungkam. Kurasakan wajahku memerah bagai kepiting rebus. Dia mendekat ke arahku, tapi aku langsung berbalik menghindarinya. Dia berpindah cepat dan langsung menghadangku.
"Suki desu!" ucapnya tiba-tiba.
(Aku menyukaimu)
__ADS_1
"Eh?"
"Aku tahu kau selalu ke sini di jam istirahat. Aku juga tahu kau ke sini untuk menulis dan mempublikasikan tulisanmu di papan pengumuman. Lihat!" Dia menunjuk ke arah pintu sambil kembali berkata, "apa kau tidak sadar kenapa pintunya selalu tertutup setiap kau ingin keluar dari sini? Sejak aku melihat para junior banyak yang memberikan kau hadiah dan surat cinta, aku langsung menutup pintunya setiap kali kau datang ke sini," ucapnya dengan nada yang cepat dan bersemangat.
"Begitukah?" ucapku tersentak.
Dia mengangguk membenarkan.
"Kalau begitu ...." Kalimatku terhenti begitu saja. Perasaanku saat ini tak bisa terperikan.
"Kalau begitu bukankah kita saling ...." ucapnya dengan kalimat yang juga mengambang.
Musim semi seakan hadir di hati kami masing-masing. Hari itu, menjadi awal perjalanan hubungan kami.
Hingga tamat sekolah, untuk pertama kalinya Yuna mengajakku ke rumahnya. Memperkenalkan aku pada orangtuanya. Dengan perasaan takut berkecamuk, aku memberanikan diri berhadapan langsung dengan orangtuanya.
"Siapa namamu?" tanya ayah Yuna yang juga didampingi Yuna dan ibunya.
"A–ayano Kei," ucapku menunduk tanpa berani menatap matanya secara langsung.
"Apa pekerjaan orangtuamu?"
"Ayahku ... guru besar di universitas Keio fakultas hukum."
"Oh, profesor Ayano Kaneshiro?"
"Tentu tak ada yang tak mengenal beliau. Dia juga seorang ahli tata negara dan pakar hukum yang sering dimintai menjadi narasumber untuk mengkritisi kinerja pemerintah," ucapnya dengan tempo lambat, "lalu, sudah berapa lama kalian menjalin hubungan?" tanyanya lagi.
"Sudah setahun. Tapi, kami telah saling mengenal dari kelas satu."
"Lalu, apa rencanamu setelah tamat ini? Apa kau akan kuliah di tempat ayahmu mengajar?"
"Aku ... masih belum tahu," ucapku sambil meremas lutut.
Kulihat ayah Yuna mengernyitkan alisnya yang tajam. "Bagaimana caramu melindungi Yuna jika masa depanmu sendiri tak bisa kau tentukan."
Aku terdiam. Sungguh, aku belum punya jawaban atas pertanyaannya. Saat itu, aku tidak tahu seperti apa cita-cita yang kuinginkan. Aku hanya gemar menulis kejadian penting yang kualami dan kulihat.
"Bagaimana cara kau memastikan Yuna tetap aman bersamamu ke depan?" tanyanya lagi.
"Sebisa mungkin ... aku akan berhati-hati dengan memakai kondomm," jawabku dengan sedikit terbata-bata.
Jawabanku yang sangat apa adanya sontak membuat ayah dan ibu Yuna terbelalak, sebaliknya Yuna tampak menutup mulutnya menahan tawa. Sepertinya, aku salah menafsirkan pertanyaan ayah Yuna hingga membuatnya geram.
"Ayah, jangan khawatir, Kei-chan juga seorang atlit judo."
Dia menatapku dari atas ke bawah, lalu melempar sebuah pamflet ke atas meja. Aku melirik gambar seorang pria yang memakai seragam militer di pamflet tersebut.
__ADS_1
"Seorang pria yang mendekati putriku, harus punya tekad dan keberanian yang kuat. Berani menghadapi segala risiko yang ada di hadapannya. Bukan hanya sekadar tampil gagah, tapi bisa melindungi putriku. Jika kau serius padanya, aku menantangmu untuk masuk ke sekolah angkatan darat Bela-diri Jepang!"
Tanpa berpikir panjang, aku langsung menerima tantangannya. Dengan semangat berkobar untuk memiliki Yuna seutuhnya, kutaklukkan kamp angkatan darat. Aku pun berusaha menjadi calon prajurit unggul agar bisa mendapat pengakuan dari ayah Yuna.
Semua berubah sejak aku keluar dari pasukan Bela-diri angkatan darat. Buah dari tulisanku yang viral, ayah Yuna menjadi bulan-bulanan media karena dianggap paling bertanggung jawab atas apa yang terjadi di asrama Bela-diri Jepang selama ini. Mahasiswa pun mendesaknya untuk mundur dari jabatan.
Ayah Yuna enggan berbicara denganku lagi. Bahkan, ketika aku mengantar Yuna pulang ke rumah, ibunya mendorongku keluar pagar sambil membawa masuk anaknya. Mereka memperlakukanku layaknya seorang kriminal yang baru keluar dari penjara.
Aku tidak menyerah membuktikan pada mereka kalau aku layak untuk Yuna. Aku menerima beasiswa dari media ternama Jepang untuk berkuliah di Harvard dengan mengambil jurusan yang berhubungan dengan profesi jurnalistik. Kami harus kembali dipisahkan dan menjalin hubungan jarak jauh selama tiga tahun setengah. Meski begitu, kami selalu bisa melewatinya. Tahun demi tahun, hingga saat ini.
***
Aku menutup kilasan balik masa laluku bersama Yuna. Tak terasa sudah sejam aku berdiri termangu di ujung tebing sambil memandang kosong ke depan. Ya, hanya aku seorang diri. Yoshizawa telah lama pergi setelah meracuni pikiranku dengan kalimatnya yang terus terngiang di kepalaku. Dia juga berhasil membuatku goyah, setelah bertahun-tahun mencoba berdiri tegap agar bisa kokoh menjadi sandaran satu-satunya yang dimiliki Yuna.
Tentu aku tahu ayah Yuna kehilangan rasa respek padaku sejak artikel yang kutulis viral di publik. Tentu aku tahu orangtua Yuna berhenti mendukung hubungan kami usai aku melepas seragam kebanggaan dari tubuhku. Tentu aku tahu jalan untuk bersatu dengan Yuna akan semakin sulit. Aku lebih dulu menyadari itu semua. Namun, aku berusaha menafikan itu semua.
Ya, benar, akulah makhluk teregois itu!
Aku kembali ke tenda dengan membawa segumpal perasaan yang berkecamuk. Aku langsung berbaring dan membelakangi So. Tubuhku mendadak lemah dan tak bersemangat. Serasa tenggelam dan sulit bernapas karena terbawa arus hubungan yang rumit ini
"Hei, kau ke mana saja?" tanya So.
Aku tak menjawab. Bahkan mengabaikan ponselku yang sedari tadi membunyikan pemberitahuan pesan masuk. Kututup kepala ini dengan tas ransel untuk meredam suara Yoshizawa yang masih berkelabat dan terasa terus memperolok diriku.
Apakah aku harus melepaskan Yuna? Takdir ini terlalu jahat untuk kami berdua!
Tak terasa pagi telah menyambut. So membangunkan diriku yang masih terlelap. Rencananya hari ini kami akan kembali menyusuri kamp pengungsian. Sayangnya, aku masih larut dan tenggelam dalam dilematis. So mungkin mengira aku tak enak badan karena belum juga bangun, jadi dia memutuskan untuk pergi sendiri untuk meliput suasana pagi di kamp pengungsian.
Sekitar satu jam kemudian, So datang kembali dan membangunkan aku yang masih dalam posisi tidur.
"Ayano-san, Ayano-san!"
"Ayano-san!" So duduk mendekat ke arahku sambil menggoyangkan pundakku.
"Hum ...." Aku berdeham malas dengan mata yang terpejam kuat.
"Ayano-san, aku melihatnya! Aku melihatnya!"
"Baguslah, jangan lupa direkam atau setidaknya ambil gambar sebagai bukti," ucapku dengan suara menahan kantuk.
"Bukan ... ini bukan soal itu. Maksud aku ... aku melihat wanita itu! Wanita yang kau bawa ke tempat pengungsian hingga kalian tersesat. Aduh ... aku lupa namanya. Tapi, aku yakin itu benar-benar dia!"
Ucapan So berhasil membuat mataku terbuka lebar seketika.
.
.
__ADS_1
.