Sang Penakluk Bos Brengsek

Sang Penakluk Bos Brengsek
Bab 99. Kekecewaan


__ADS_3

Pandangan rindu tak hentinya menyoroti tubuh yang sedang bersandar didepannya, padahal hanya menyentuh rambut Tania, tapi menggambarkan betapa Raka rindu pada seorang gadis yang telah memenuhi ruang dihatinya itu.


Rainer Tak henti berdecak heran, sebenarnya ada apa dengan Raka? apa mungkin dia dapat mimpi yang memperingati dirinya bahwa dia tak boleh menyentuh Tania? ataukah Raka mendapatkan ancaman?.


Di sisi Rainer, Anna kini sedang larut dengan setiap adegan yang disuguhkan dalam layar lebar didepannya, tak menghiraukan Rainer yang tak konsentrasi menatapnya dan tak pula menghiraukan Tania yang malah tertidur pulas.


"Filmnya bagus be, tapi Tania malah tidur," ucap Anna sambil menatap tak percaya pada Tania yang terduduk dengan nyaman dikursi tempanya duduk.


"Dia memang gitu, kalo ke bioskop tujuannya tidur, bukan mau nonton," ucap Rainer memeluk bahu Anna.


"Ayo pulang, kita tinggalkan saja mereka," ajak Rainar menggandeng Anna keluar dari barisan kursi yang kini sudah kosong karena semua orang telah keluar untuk meninggalkan kursi mereka.


"Hah? Tania sama siapa?" tanya Anna menarik kembali tangannya yang digenggam oleh Rainer.


"Itu dibelakangnya udah ada yang jemput kan," jawab Rainer menunjuk Raka yang masih betah duduk dibelakang Tania.


"Loh, pak Raka dateng juga? kirain ngga akan dateng," tanya Anna tak percaya sekaligus senang juga.


Pasalnya semenjak siang tadi, Tania memang terlihat kurang bersemangat, apalagi saat Anna menanyakan kabar dari Raka.


"Beneran ngga apa apa? Tania ngga akan marah?" tanya Anna ragu ragu.


"Biarin aja marah, ayo pulang, aku pengen bobo, udah ngantuk," ucap Rainer nakal sambil menaikkan turunkan alisnya.


"Ieh, apaan sih," jawab Anna sambil mencubit pinggang Rainer yang mesum itu.


"Ya udah, pa Raka, gak apa apa ditinggal kan? titip Tania ya," ucap Anna sambil melambaikan tangannya, dijawab dengan anggukan kepala.


Ditinggalkan Anna dan Rainer hanya berdua saja, Raka kemudian beranjak dari duduknya untuk berpindah pada kursi yang tepat berada di samping Tania.


Dapat Raka lihat ada bekas air mata di pipi Tania, terlintas dalam benak Raka apakah dia telah melakukan kesalahan hingga Tania bersedih saat sedang tertidur.


"Sayang..." panggil Rainer sambil menyingkap rambut yang menutupi wajah cantik Anna.


Tania menggerakkan tubuhnya cepat karena kaget, merasa terganggu dengan sentuhan Raka, secara refleks menghindari kontak fisik saat tahu rakalan yang ada didepan matanya.

__ADS_1


"Kenapa kamu disini? dimana Anna dan ka Rainer?" tanya Tania tergesa gesa berdiri dan mundur untuk menghindari Raka.


Raka tak memaksa, ia hanya menurunkan tangannya dengan perlahan, merasa kosong karena Tania menolak sentuhannya, apa benar dia keterlaluan karena seminggu ini menghindari dan tak memberi kabar pada Tania?, hanya itulah pertanyaan yang terus menggelayuti hati Raka.


"Mereka pulang duluan, karena sudah malam juga dan kamu tidur begitu pulas," ungkap Raka ikut m langkah mengikuti Tania yang berusaha menghindarinya.


"Oh, ya udah, aku pulang ya, dah," ucap Tania melangkah dengan cepat, berusaha menghindari Raka, tapi nyatanya langkahnya selalu bisa disusul oleh Raka.


"Aku antar pulang, kamu ngga bawa mobil kan?" Raka dengan sigap meraih tangan Tania menggandengnya dan menahan langkah Tania.


"Ngga usah, aku bisa naik taksi," tolak Tania sambil berusaha melepaskan genggaman Raka yang sulit dilepaskan itu.


Melihat sikap Tania yang seperti ini membuat Raka gemas sendiri, entah kenapa Raka selalu tergoda saat Tania sedang ngambek dan merajuk, terlihat begitu imut, Raka malah mengulum senyumnya, menahan hasrat yang tiba tiba membuncah, ingin rasanya merangkum wajah cantik yang sedang cemberut sinis itu.


Raka tak perduli Tania terus memberontak ingin melepaskan diri dari tangannya, Raka terus menarik tangan Tania tanpa ada niat sedikitpun untuk melepaskannya.


"Ngga ada bantahan aku anterin," tegas Raka sekali lagi yang membuat Tania mendengus kesal.


Dalam perjalanan pulang mereka, tak ada percakapan berarti yang tercipta, mereka hanya diam seribu bahasa, apalagi Tania, menolak komunikasi, bahkan kontak mata sekalipun, hingga sampai di rumah kediaman Nalendra.


Tania turun dari mobil Raka, lalu menutup pintu mobil dengan cara membanting dengan keras pintu mobil Raka yang tak berdosa itu, benar benar menyalurkan emosinya yang sudah mencokol selama seminggu itu.


Raka lalu turun dari mobil dengan tenang, mau marah pun percuma, hanya akan menambah runyam saja mood Tania yang sedang berantakan itu.


"Tunggu sayang," teriak Raka saat melihat Tania berlari meninggalkan dirinya masuk kedalam rumah.


Tanpa menghiraukan penghuni rumah yang saat ini hanya ada asisten rumah tangga itu, Raka berlari mengejar Tania masuk kedalam kamarnya.


"Tunggu sayang, maafin aku," kejar Raka meraih tubuh Tania yang bergetar menahan amarahnya.


Kini mereka berada di kamar Tania, tepat di depan ranjang, dimana Raka memaksa Tania untuk memeluknya yang tentu saja berusaha Tania lepaskan.


"Kita batalin aja pertunangan kita, kamu ngga pernah berusaha ngertiin perasaan aku," ucap Tania dengan amarah yang membuncah.


Mendengar perkataan Tania, tentu saja membuat Raka terpancing amarahnya, sudah sangat sulit meyakinkan Tania untuk menerimanya kembali, tapi kini dengan mudah Tania ingin membatalkannya, jangan pernah bermimpi.

__ADS_1


"Kamu akan jadi milik aku sayang, jangan mimpi untuk membatalkan pertunangan kita, kalo perlu kita akan langsung menikah," ancam Raka sambil membalikkan tubuh Tania menghadap pada dirinya.


"Aku ngga butuh laki laki yang egois dan nggak mampu buat aku tenang, kamu nggak bisa maksa aku," geram Tania menyalurkan amarahnya, matanya menyorot tak suka dengan apa yang dikatakan Raka.


Raka benar benar pria tempramen yang tak bisa menahan amarahnya, sedikit saja terpancing dia akan melakukan hal yang akhirnya akan membuahkan penyesalan.


"Nggak bisa, kamu cuma butuh aku, aku akan menghancurkan siapapun yang berani deketin kamu," ancam Raka mendorong Tania hingga Tania terjatuh diatas ranjangnya.


"Lepasin aku," bentak Tania sambil mendorong tubuh Raka yang berada di atasnya dengan kuat.


"Ngga akan, kamu milik aku, aku akan buat kamu ngga bisa batalin pertunangan kita," kembali Raka mengancam Tania sambil merangkum wajah Tania dengan erat hingga Tania tak bisa berkutik.


Kembali lagi Raka tak bisa menahan diri lagi, ia sudah rindu berat pada gadis pujaan hatinya, ditambah ketakutan karena Tania akan menolaknya lagi, percampuran antara rindu, ketakutan dan amarah menyatu menimbulkan nafsu yang membuat Raka menjadi hilang akal, melupakan jika kini Raka sedang berada di rumah keluarga Nalendra yang sudah pasti di dalamnya ada sang pemilik.


Tanpa disadari adegan Raka sedang diatas tubuh Tania, disaksikan oleh mamah Ros dan papah Rudi, yang tak sengaja melewati kamar Tania yang jelas pintunya terbuka lebar.


"Apa yang kalian lakukan?" suara rendah dan dingin sarat akan kemarahan itu, menggelegar tanpa ampun, membuat dua insan yang sedang diatas ranjang seketika menoleh mencari sumber suara.


"Papah," gumam Tania kemudian mendorong paksa tubuh Raka yang masih berada di atas Tania.


"Kalian sering melakukan ini?" tanya papah Rudi begitu kecewa pada anak gadisnya dan calon menantunya itu.


"Engga pah, ini ngga seperti apa yang papah lihat," jawab Tania berusaha meyakinkan sang papah yang sedang mengepalkan tangannya.


"Raka akan tanggung jawab om," jawab Raka tak disangka membuat Tania dan mamah Ros membulatkan mata, apa maksudnya itu.


"Bug," kini kepalan tangan papah Rudi melayang dengan mulus pada wajah tampan Raka, membuat ia tersungkur dengan naas ke lantai yang keras bukan pada ranjang yang empuk.


Tetapi nyatanya bukan penyesalan yang Raka rasakan, malah saat ini Raka seperti mendapat jalan keluar atas apa yang membuat dirinya ketakutan.


"Papah kecewa sama kamu Tania," ucap papah Rudi meninggalkan Tania dalam kamar tanpa menatap matanya, begitupun mamah Ros menatapnya dengan penuh kekecewaan dengan matanya yang berkaca-kaca.


Tania hanya diam mematung melihat kepergian kedua orang tuanya, dalam hidupnya papah Rudi tak pernah berkata seperti itu pada Tania, dan pandangan itu? Tania tak pernah mendapatkannya dari sang mamah, apa maksudnya?


***

__ADS_1


__ADS_2