
Tanda berhasilnya suatu hubungan adalah bagaimana dia berhasil menjalin komunikasi yang baik yang didasari oleh kejujuran, dan saling pengertian satu sama lain, berusaha saling memahami satu sama lain, terlebih mereka bisa saling mengalah, bukan hanya satu pihak tapi dua belah pihak juga.
Kini Anna dan Rainer sedang belajar melakukannya, berusaha berkomunikasi dengan seharusnya, mencontoh kedua orang tua mereka, dan berharap rumah tangganya langgeng dan bahagia seperti rumah tangga yang orang tua mereka miliki, semua adalah proses belajar yang harus mereka jalani dalam meniti perjalanan rumah tangga baru mereka.
"Anda tahu pa? betapa saya takut memulai hubungan dengan anda, saya takut merasakan kesakitan karena dihianati, takut orang tua saya mengetahui bahwa saya tak bahagia dengan pilihan saya, dan saya takut anda hanya mempermainkan saya," tutur Anna merubah kembali cara bicaranya dengan Rainer dengan gaya bicara formal kembali.
"Tidak akan pernah sayang, pegang kata kataku. Pertama bertemu kamu memang awalnya aku hanya penasaran saja, kenapa kamu tak menyukai aku seperti yang lain, tapi setelah beberapa bulan kenal kamu, aku sadar bukan hanya perasaan ingin menaklukan kamu, tapi ada perasaan lain yang selalu menghantui, tanyakan saja pada Arman dan Tania, semenjak bertemu kamu, aku tak pernah lagi kencan dengan wanita manapun, aku sudah tak minta, apalagi saat disini dan disini hanya ada kamu, tidak ada yang lain," ucap Rainer sambil menunjuk dada dan kepalanya, lalu Rainer menggenggam tangan Anna dan menciumnya dengan penuh penghayatan.
"Aku bukan orang yang mudah jatuh cinta Anna, hanya kamu wanita yang membuat aku tak bisa tidur karena rindu, hanya kamu wanita yang membuat aku tak terima jika kamu dekat dengan pria lain," ucap Rainer sambil terus menggenggam tangan Anna dan menatap mata Anna dengan lekat.
Mendengar penuturan Rainer, entah kenapa ia seperti mendapatkan guyuran air dingin di kepalanya, begitu menenangkan dan membuat melayang, padahal belum tentu perkataan Rainer itu benar adanya, tapi entahlah Anna merasa percaya saja pada Rainer.
"Kamu janji nggak akan melakukan hal seperti tadi lagi?" tanya Anna meyakinkan sekali lagi tentang janji Rainer.
Lalu Rainer memeluk Anna dengan sayang sambil mengelus kepalanya.
"Maaf sayang, aku egois, mulai sekarang kita belajar memperbaiki diri, bantu aku ya agar bisa menjadi suami yang bisa buat kamu bahagia selamanya," ucap Rainer kemudian mengecup pipi Anna.
Anna kemudian menganggukkan kepalanya dan mulai masuk kedalam pelukan hangat suaminya.
"Dan jangan bicara formal lagi sama aku ya," lanjut Rainer. Sekali lagi Anna menganggukkan kepalanya dengan permintaan yang dilontarkan Rainer.
"Sayang, apa masih sakit?" tanya Rainer.
"Sedikit, kenapa memangnya?" tanya Anna memicingkan matanya.
"Mau coba lagi ngga?" tawar Rainer sambil terkekeh lalu mencium bibir Anna tanpa menunggu jawaban.
Mendapatkan serangan mendadak dari Rainer, tentu saja Anna kaget bukan kepalang, ia kemudian memukul mukul dada Rainer merasakan seperti kehabisan nafas karena aksi Rainer tanpa memberikan aba aba itu. Anna benar benar tak sempat mempersiapkan diri untuk sekedar mengambil nafas.
"Uhu uhu uhu..." Anna terbatuk karena tersedak.
"Hei...!!!, kamu mau bunuh aku?!" bentak Anna sambil mendorong dada suaminya.
__ADS_1
Rainer hanya terkekeh dengan gerutuan Anna, lalu Rainer meraih tubuh Anna dan memeluknya.
"Maaf sayang, aku sangat gemas padamu, sepertinya aku ingin mengulang yang kemarin," ucap Rainer mengulang permintaannya.
"Tidak bisa, aku sedang datang bulan," ucap Anna lalu membelakangi suaminya yang sedang protes.
"Apa? kenapa bisa? bukankah tadi tidak datang bulan?" tanya Rainer tak percaya.
"Memang tadi belum, setelah keluar rasanya lebih nyaman, dan tidak begitu terlalu sakit," ucap Anna.
"Baiklah, tetapi besok bisa kan? tanya Rainer.
"Tidak bisa," jawab Anna dengan santai.
"Apa? kenapa? tanya Rainer mulai kesal, pasalnya setelah mencium Anna dengan ganas barusan, tiba tiba keinginannya memuncak seketika, membuat pusing kepala.
"Ya karena datang bulannya belum selesai, bisa jadi Minggu depan baru selesai," jawab Anna, sepertinya terbersit akal untuk membalas kejahilan suaminya itu sekarang.
"Tidak mungkin, masa seminggu sih?" tanya Rainer tak percaya sambil memicingkan matanya.
Saat sedang datang bulan mood dan tingkat emosional Anna memang sering terganggu.
"Baiklah, aku akan membuatmu senang agar datang bulannya cepat pergi," ucap Rainer konyol, dikira dia sedang mengusir tamu tak diundang 😂😂😂
"Aku ngantuk, aku ingin tidur," ucap Anna sambil merebahkan tubuhnya dengan nyaman.
"Tunggu sayang, aku sudah buatkan susu untukmu, ayo diminum dulu," cegah Rainer lalu menyodorkan susu hangat yang sebelumnya telah ia buat.
"Terima kasih," Anna merasa terharu dengan perhatian Rainer ini, ia lalu meraih susu yang disodorkan oleh Rainer, kemudian menghabiskan susunya sampai tak tersisa.
Malam ini Rainer tidur sambil memeluk tubuh Anna dengan sayang meskipun ia tidur dengan susah payah, tetapi perasaan bahagia dan dengan tekat bahwa dia akan berusaha membahagiakan istrinya dengan cara apapun.
***
__ADS_1
Pagi harinya, Anna sudah bangun terlebih dulu dari Rainer, ia kemudian menyiapkan semua kebutuhan suaminya, dari mulai pakaian, air mandi, sampai sarapannya pun telah ia siapkan di meja makan, tak lupa Anna pun telah bersiap siap juga, pasalnya hari ini Anna akan ke kantor untuk mengundurkan diri dan akan mempersiapkan diri untuk ikut seleksi masuk ke divisi lain sesuai dengan pendidikan yang ditempuhnya saat ini.
"Babe... bangun, sudah jam 6 pagi, ayo kita bersiap," ucap Anna membangunkan suaminya yang masih asik dengan mimpinya itu.
Semalam Rainer agak sulit tertidur, entahlah setelah malam pertama, tubuh Rainer seperti menagih untuk disalurkan hasratnya, apalagi semalaman ia memeluk Anna tapi dia tak bisa melakukan apa apa, sangat membuat tersiksa.
"Hmmm," gumam Rainer lalu membuka matanya perlahan, melihat istrinya sudah cantik, wangi dan rapih, lalu Rainer menarik istrinya itu masuk kedalam pelukannya lalu menarik selimut dan membungkus mereka berdua.
Tentu saja Anna terpekik kaget dengan aksi Rainer, lalu Anna mencubit pinggang Rainer dengan gemas.
"Ish, dasar jahil, ayo bangun nanti kita terlambat," ucap Anna sambil menggoyangkan tubuh Rainer yang berhasil menguncinya.
"Lima menit lagi sayang, aku sangat mengantuk," jawab Rainer, kemudian ia mengecup bibir Anna yang polos tanpa pewarna itu.
"Ya sudah lepaskan aku, kalo begitu aku akan berangkat duluan agar tidak terlambat," ucap Anna.
Sontak Rainer membuka matanya, "Mau kemana?" tanya Rainer.
"Mau ke kantor, hari ini aku ingin mengundurkan diri dari bagian cleaning service, dan akan bersiap untuk ikut seleksi di divisi perencanaan," jawab Anna dengan mata yang berbinar.
Sebelumnya Anna telah memikirkan masak masak, divisi mana yang akan dia lamar dan dia ikuti seleksinya, tak apa misalnya dia harus magang dulu, yang penting dia harus bisa memulai pekerjaannya yang lebih baik bukan hanya melihat seberapa besar gajihnya, tetapi setidaknya dia ingin menghargai pendidikannya, dan tentu saja ia tak ingin membuat Rainer malu karena punya istri seorang cleaning service bukan.
"Tidak bisa, kamu akan jadi sekertaris ku saja, tidak boleh di bagian lain," ucap Rainer tidak terduga.
Anna kira perkataan Rainer yang ingin Anna jadi sekertarisnya itu hanya candaan, ternyata Rainer serius dengan perkataannya.
"Tidak mau be, aku tak ingin ada kecemburuan sosial, biarkan aku belajar meniti karirku sendiri tanpa bantuan mu," sanggah Anna menolak keinginan Rainer.
"Jika tak mau, tidak usah bekerja," ucap Rainer sambil beranjak dari tidurnya dan langsing masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Mendengar perkataan suaminya, Anna hanya bisa mematung tak percaya, apakah ini akhirnya? setelah menikah dia tak akan bisa melakukan apa apa? setelah menikah dia hanya akan menjadi ibu rumah tangga? padahal Anna ingin berkarir dulu sebelum nantinya dia akan fokus dirumah setelah dia mempunyai anak.
***
__ADS_1
Happy reading 😊😉