
*Ja**ngan* datang padaku jika kamu berniat untuk pergi kembali, saat kamu berhasil menyentuh hatiku, dipastikan aku akan merana dan sulit untuk melupakanmu - Anna Azalea Rumi
Begitu menyedihkannya gadis yang tak tahu apa apa ini, pertama kali mengenal cinta, dan sialnya mencintai orang yang begitu berpengalaman seperti Rainer.
Mengira bisa bertahan dengan perubahan yang Rainer lakukan, nyatanya dia merasa sepi diantara keramayan disekitarnya.
Sudah seminggu semenjak Rainer mengatakan jika dia menghentikan pekerjaan yang ditugaskan oleh Rainer pada dirinya, dan sudah seminggu pula Anna tak bertemu dengan Rainer.
Saat ini rasanya Anna ingin mengumpati dirinya sendiri, sebelumnya dia sendiri yang menginginkan ini semua, tak ingin diganggu oleh Rainer, tapi nyatanya Rainer selalu berhasil membuat Anna ingat padanya.
Apakah Anna berhasil masuk perangkap Rainer, dan saat ini ia dicampakkan oleh Rainer. Prasangka itu memang mengerikan.
Saat ini, Anna sedang termenung dalam kelasnya, memandang tak fokus pada mata kuliah yang sedang dia jalani malam ini.
"An, kenapa sih? lesu banget," tanya Irma sambil berbisik pada Anna.
Tak ada jawaban atau respon dari Anna, hingga mata kuliah telah usai dan dosen memberikan penutupan untuk kelas malam ini, sampai Anna tersentak, kesadarannya dipaksa ditarik oleh suara keras yang ditimbulkan oleh riuh mahasiswa yang menjawab salam dari sang dosen.
Irma menyentuh tangan Anna dan menariknya duduk kembali menghadap pada dirinya.
"Anna, kamu kenapa?, cerita sama aku, sekarang kamu kaya zombi, ngga ada semangatnya sedikitpun," ucap Irma khawatir.
"Nggak apa apa ko aku cuman lagi ngga enak badan aja," jawab Anna berusaha mengembangkan senyumnya berharap Irma tidak khawatir padanya.
"Yakin kamu, aku anterin pulang aja yu," ajak Irma.
"Nggak usah, aku bisa sendiri ko, lagian aku kan udah bawa sepeda aku lagi," ucapnya merasa miris pada dirinya sendiri.
Yah, sepeda Anna sudah dikembalikan oleh Rainer pada saat terakhir ia bertemu dengan Rainer. dan yang mengembalikannya bukanlah Rainer sendiri, ia menyuruh supirnya untuk mengembalikan pada Anna, begitu miris dan menyakitkan bagi Anna.
Anna melangkahkan kakinya meninggalkan Irma yang merasa khawatir pada dirinya. Dengan langkah gontai Anna mengambil sepedanya lalu lalu mengayuhnya secara perlahan.
Entah apa yang difikirkan Anna, tapi yang pasti saat ini Anna memang sedang tak bersemangat saja.
Dengan perlahan Anna mengayuh sepedanya, sambil merasakan hembusan malam yang sepi, tiba tiba ponselnya berdering.
[ Anna : "Assalamualaikum Bu." Ternyata ibunya Anna menelpon.]
[ Ibu :"Wa'alaikum salam, Anna kamu udah pulang kuliah?" tanya ibunya Anna.]
__ADS_1
[ Anna : "Ibu, Anna masih di jalan, nanti sampe kosan Anna langsung telpon ibu lagi ya."]
[ Ibu : "Ya udah, hati hati ya dijalan."] Lalu telpon pun terputus.
Anna kemudian bergegas menuju kosannya, dia berusaha menyadarkan dirinya, agar tidak terpuruk terus menerus, berusaha meyakinkan dirinya bahwa semuanya akan baik baik saja.
***
"Tuuut tuuut tuut."
Anna menghubungi ibunya tanpa curiga apapun, memang ia tak patut curiga, krena biasanya pun ibunya sering menelpon menanyakan keadaan Anna, ibu nya Anna begitu menghawatirkan anak gadisnya itu, karena ia hidup sendiri di kota, jauh dari jangkauan orang tuanya saat ini.
[ Ibu : " Assalamualaikum An," sapa ibu pada anak gadisnya]
[ Anna : "Alhamdulillah baik Bu, Anna sehat berkat doa ibu... Anna kangen ibu."] Tiba tiba sesak itu menyerang lagi, sepi kehidupannya yang sendiri ini benar benar terasa saat ini, padahal biasanya dia tidak pernah merasakannya, tapi sekarang kenapa Anna begitu merasa kesepian.
[ Ibu. : "Kamu ada masalah Anna? ayo cerita sama ibu," desak ibu mengintrogasi Anna, ibunya Anna menyadari ada perubahan dari cara bicara Anna yang biasanya ceria, sekarang seperti sedang putus asa."]
[ Anna : "Engga Bu, Anna baik baik aja, Anna cuman kangen ibu aja," sangkal Anna tak ingin membuat ibunya khawatir.]
[ Ibu : "An, bisa engga kamu cuti kerja sama kuliah, Seminggu aja," tanya ibu ragu ragu.]
[ Ibu : " Enggak, ibu cuman kangen aja sama kamu An, udah lama banget kan kamu engga pulang," jawab ibu.]
[ Anna : "Ya udah, Anna besok urusin dulu ya," jawab Anna.]
Setelah mengutarakan apa yang akan Anna lakukan pada ibunya, kemudian Anna memutus telpon dengan ibunya.
Anna berfikir, mungkinkah ini salah satu cara agar Anna memberi waktu pada dirinya untuk menenangkan diri di kampung halamannya. Berusaha melupakan kesakitan. yang ia rasakan selama satu Minggu ini karena perubahan yang terjadi pada Rainer.
***
Keesokan harinya
Kini ia berada di ruangan HRD, tepatnya berhadapan dengan Damar, meminta izin untuk cuti selama satu Minggu.
"Maaf Pak, saya mau izin cuti selama seminggu, saya mau pulang kampung dulu," ucap Anna.
Lalu Rainer melihat kalender yang berada di mejanya, memastikan apakah ada tanggal khusus di waktu yang Anna minta untuk cuti.
__ADS_1
"Apa ada masalah Anna? sepertinya kamu mendadak sekali minta cuti," tanya damar.
"Enggak Pa, ibu saya menyuruh saya pulang saja, tapi pastinya ada apa saya kurang tau, dan saya juga sudah sangat lama tidak pulang," jelas Anna.
"Baiklah, tidak masalah, nanti kamu bisa kembali bekerja sesuai tanggal yang kamu inginkan ya, apa mau saya antar An?" tanya Damar sedikit perhatian. Meskipun Damar tau Anna sudah nyaris jadi milik Rainer tapi bukankah jika jodoh kita kan tidak tahu, hanya berharap saja tidak masalah bukan.
Lalu Anna menggelengkan kepalanya, "Tidak usah pa, saya akan pulang naik kereta, biar perjalanannya lebih cepat," ucap Anna.
"Baiklah, kalau ada yang kamu butuhkan kabari saya ya, saya akan membantu sebisa mungkin, dan satu lagi salam untuk keluarga kamu ya," pungkas Damar menutup percakapan mereka.
Anna hanya menganggukkan kepala, lalu undur diri dari ruangan HRD tersebut. Ia keluar dengan hati yang lega, beruntung Damar tidak mempersulit perizinannya.
Anna melangkahkan kakinya ke tempat seharusnya ia berada untuk melanjutkan pekerjaannya hari ini, dimana ini adalah hari terakhir dia untuk bekerja sebelum ia mengambil cuti di hari esok.
Tak disangka, saat ia memasuki lift untuk turun ke lantai 3, ternyata di dalam lift terdapat 2 orang yang sudah hampir seminggu ini menghilang dari pandangannya. Mereka adalah Rainer dan sang asisten pribadi Rainer yaitu Arman.
Beberapa detik sempat Anna terpaku melihat keberadaan Rainer yang berdiri tepat dihadapannya. Saat ini, Rainer tampak baik baik saja, tak seperti dirinya. Wajah Rainer tampak berseri seri, meskipun ia tak tersenyum sedikitpun, apakah Rainer tak merindukan Anna sedikitpun? berbanding terbalik dengan keadaan Anna sekarang yang terlihat tak bersemangat dan murung.
"Hai Anna, sudah lama tak bertemu ya," sapa Arman.
Kebekuan Anna seketika mencair saat mendengar sapaan dari Arman.
"Hah? ... oh iya pa, a-pa kabar?" Anna balik menyapa dengan gugup masih dengan kekagetannya.
"Baik Anna, terimakasih," jawab Arman sambil tersenyum.
Sedangkan Rainer hanya diam tak bereaksi apapun, bahkan ia seperti tak ingin melakukan interaksi dengan Anna, bahkan melakukan kontak mata saja mungkin tak mau, sebenarnya apa yang terjadi? Anna seperti dirundung kebingungan hingga ia tidak mengetahui apa yang harus ia lakukan untuk menghilangkan kebingungannya saat ini.
Rainer hanya memandang kearah depan, bahkan saat Anna melewatinya untuk berdiri di belakangnya pun, Rainer tak bereaksi sedikitpun.
Rasa nyeri di hati Anna kembali lagi, yang soalnya adalah Anna tak tahu apa yang harus dilakukan agar nyeri itu bisa terobati.
"Tolong Anna ya Allah ."
***
Sabar Anna, nikmati nyerinya. Kamu harus tahu, menangis dan mengadu pada yang maha kuasa adalah hal yang ternikmat yang bisa dilakukan saat sedang dirundung kepiluan.
Happy reading 😊
__ADS_1