
Cinta itu suatu kewarasan, menjunjung tinggi nilai dari suatu kepedulian. Mengusung suatu perubahan. Saat cinta hinggap di hati seorang insan, kewarasannya akan dipertanyakan, apakah dia akan menjadi orang yang berfikir, ataukah hanya sekedar mengikuti nafsunya saja.
Cinta yang sebenarnya akan bermuara pada kesadaran, sadar akan apa yang namanya pengorbanan, menginginkan kebahagiaan si dia yang dicintainya diatas kebahagiaan dirinya sendiri.
Saat cinta datang pada seorang yang belum pernah menyadari akan indahnya rasa cinta, seketika dia akan mengatakan "Nikmati cintamu, biarkan dia berlabuh ke tempat yang dia inginkan untuk menggapai indah mu bersama sama."
Saat ini, Rainer sedang merasakan indahnya mencintai, dan indahnya mengejar cinta seorang Anna. Menatapnya dengan penuh kekaguman dan berbagai pertanyaan yang terus berkecambuk di dalam Fikirannya. Bagaimana bisa dia begitu tertarik pada sosok gadis sederhana ini?, bagaimana bisa kewarasannya hilang saat ada pria yang mendekatinya?, bagaimana bisa seorang Anna yang usianya cukup jauh dibawahnya ini seperti memiliki sihir yang membuatnya selalu mengingatnya?.
***
Dalam keheningan lorong tanpa ada manusia yang berlalu lalang disana, Anna melangkahkan kakinya mengikuti Rainer yang tepat berada didepannya, entah akan dibawa kemana dia kali ini.
Saat ini masih menunjukkan pukul 4 sore, itu artinya para karyawan PT Nalendra Konstruksi masih asik berkutat dengan tumpukan pekerjaannya, yang mana akan berakhir sekitar 1 jam lagi saat jam kerja telah usai.
Tetapi, seorang Anna yang hanya cleaning service ini, sudah mengakhiri jam kerjanya demi menuruti keinginan sang pemimpin perusahaan yang belum tau akan dibawa kemana dia saat ini.
Rainer menunutun Anna menuju mobilnya, dan membukakan pintu untuk Anna, bahkan ia menghalangi kepala Anna agar tidak terhantuk ke dinding mobil yang cukup keras. Ya ampun, hari ini bos nya itu benar benar menunjukkan sisi romantisnya, terus menebarkan senyumnya untuk Anna, tidak menunjukkan kejahilannya lagi seperti biasanya.
Apakah Anna akan merasa tersanjung? tentu saja tersanjung, bahkan Anna membalas senyum yang terus di pamerkan Rainer padanya.
Setelah mereka duduk di dalam mobil dan Rainer mulai melajukan mobilnya, baru Anna mulai menyampaikan Pertanyaannya, "Maaf pa, kita mau kemana?" tanya Anna sambil melirik wajah Rainer yang sedang fokus berbelok dari parkiran menuju jalan raya.
"Temani aku sampai nanti waktumu kuliah ya An," pinta Rainer sambil menatap hangat mata Anna.
"Baik pa," jawab Anna.
Biasanya Anna akan merasa terpaksa menjawab permintaan Rainer, tapi entahlah, saat ini ia begitu sukarela menerima permintaan Rainer. Bukankah saat ini mereka seperti pasangan?.
__ADS_1
Setelah pertanyaan itu terlontar dari mulut Anna dan mendapatkan jawaban yang tak menunjukkan arah pertanyaan yang diinginkan Anna, mereka tak mengeluarkan kata kata lagi, hanya fokus dengan pemikirannya masing masing dan kini Anna merasa sungkan akan berbicara lagi, pada akhirnya mereka hanya diam menikmati kebersamaan yang tak biasa itu.
***
Setelah berkendara sekitar 15 menit di jalanan yang tak begitu lengang, Kini mereka duduk di kursi kayu memanjang di sebuah halaman cafe yang menyuguhkan pemandangan danau yang begitu cantik. Kilauan air yang bersinergi dengan sentuhan sinar matahari bersemburan kekuningan seperti sedang menari bersama hembusan angin yang menenangkan.
"Maaf pa, kenapa bapa mengajak saya kesini?" tanya Anna.
"Anna, bisakah kamu tidak memanggilku dengan panggilan bapa?, aku ini bukan bapa kamu," protes Rainer.
"Kepada yang lain kamu bisa memanggil dengan sebutan mas, bahkan pada Arman. Kenapa padaku terus memanggil bapa? bukankah aku sudah bilang kamu itu calon istriku?" lanjut Rainer dengan kesal.
"Hah? maaf pa, sejak kapan saya jadi calon istri bapa? bahkan bapa tidak tau saya, dan tidak tau keluarga saya, bagaimana bisa bapak memutuskan hal seperti itu sendiri?" tanya Anna. Entahlah, apakah Anna merasa senang atau merasa tersinggung dengan pertanyaan Rainer, yang pasti keputusan sepihaknya ini terdengar seperti main main.
"Setiap apa yang aku katakan apalagi berhubungan dengan masa depan tak pernah aku lontarkan sembarangan Anna," ungkap Rainer sambil mencondongkan tubuhnya menatap lekat mata Anna yang juga membalas tatapan yang Rainer berikan.
Anna menelisik mata Rainer, mencari kebohongan dan keraguan saat ia mengatakannya, tapi mata itu memancarkan keyakinan yang benar benar tak bisa dibantah, begitu tajam dan menusuk, tanpa berkedip sekalipun saat mengatakannya.
"Rainer..!" panggil seorang wanita cantik yang berada tepat di pintu masuk cafe.
Sontak Rainer dan Anna mengalihkan pandangannya mengikuti arah suara yang terdengar memanggil nama Rainer.
Seketika mata Rainer membulat dengan sempurna melihat gadis bertubuh tinggi semampai dengan rambut yang digerai indah yang memakai sweeter merah dan rok pendek sepaha dengan perlahan mendekat padanya, diikuti seorang pria muda dan gadis yang terus menggandeng tangan sang pria, dan mulai mencari tempat duduknya sendiri, meninggalkan Karin dengan kesenangannya bersama Rainer.
"Karin?."
Gadis cantik itu tanpa sungkan duduk di sebelah Rainer dan merangkul tangan Rainer dengan begitu mesra, membuat gerakan Rainer menjadi kaku. Ia berusaha menghindari Karin yang terus menempel padanya itu, sambil melirik pada Anna.
__ADS_1
Sedangkan Anna hanya bereaksi datar saja melihat apa yang dilakukan oleh wanita cantik itu pada bosnya yang baru saja mengatakan pada Anna bahwa Anna adalah calon istrinya.
Apakah Anna kecewa? Tentu saja ia kecewa, tapi bukankah tidak bijak jika dia langsung marah melihat keadaan ini?. Toh Anna belum menyetujui pernyataan yang dilontarkan oleh Rainer bukan.
Dalam hati memang Anna sedang mengumpati dirinya, kenapa dia sempat terbuai dengan apa yang dilakukan bosnya itu, sedangkan Irma sudah mengatakan jika Anna harus hati hati dengan bos tampannya itu.
"Hentikan Karin, ini tempat umum," ucap Rainer berusaha melepaskan tangannya dari Karin.
Wah wah wah, dia lupa kalau dia pernah berciuman dengan seorang gadis di restoran saat pertama kali Anna menemani makan siangnya, bahkan ia melakukannya tepat didepan mata Anna.
"Hei, kita sudah lama tidak bertemu, kau bilang kita akan menghabiskan liburan kita bersama," ucap Karin sambil mengendurkan pegangan tangannya.
Seketika mata Rainer membulat sempurna, begitu kaget dengan mulut ember perempuan di dekatnya ini. Rainer lalu melirik Anna dengan gelagapan, tetapi yang di lihat oleh Rainer bukan wajah marah Anna, malah senyum manis yang disuguhkan Anna, terlihat biasa saja tak ada ekspresi yang berlebihan pada wajah cantiknya itu.
"What?, Anna tidak cemburu melihat aku ditempeli wanita lain?." Ada sedikit rasa kecewa melihat reaksi Anna. Tetapi bukankah sering kali mata selalu salah mengartikan apa yang dilihatnya?.
"Maaf pa, sudah jam 5 sore, sepertinya saya harus bergegas, bolehkah saya pergi duluan? saya akan ke kampus," seru Anna menghentikan aksi tarik menarik antara Rainer dan Karin.
Mendengar perkataan Anna yang tanpa getaran kemarahan sedikitpun tersirat didalamnya, seketika rasa kesal melanda diri Rainer.
Dengan kasar Rainer menghempaskan tangan Karin yang terus menggenggam tangannya dan berdiri tanpa aba aba. Anna begitu kaget melihat reaksi Rainer, dan merasa kasihan juga kepada gadis yang juga kaget dengan apa yang dilakukan Rainer.
"Sayang, kenapa?" tanya Karin dengan heran.
"Aku akan mengantar Anna," ucapnya begitu datar tersirat kemarahan didalamnya mengalirkan rasa dingin menyelusup ke leher Anna.
Tanpa aba aba, Rainer menarik lengan Anna meninggalkan Karin yang melongo menatap kepergian Rainer dan gadis mungil yang diseretnya itu.
__ADS_1
"Siapa dia?" tanya Karin sambil menatap kepergian Rainer tanpa niatan ingin mengejarnya.
Happy reading 😊😂