Sang Penakluk Bos Brengsek

Sang Penakluk Bos Brengsek
Bab 109. Hari terakhir Bekerja


__ADS_3

Berat memang jika mendapati apa yang menjadi cita cita yang baru saja di raih harus dilepas begitu saja. Menjadi seorang wanita karir yang kerja di kantoran seperti sekarang ini padahal ia baru memulainya meskipun menjadi seorang magang.


Saat ini bagi Anna tak ada yang lebih penting daripada keinginan suaminya.


Setelah beberapa hari meminta izin tak masuk kerja karena kondisinya yang tiba tiba drop, kini Anna masuk kembali dengan membawa surat pengunduran dirinya.


Meskipun perusahaan ini milik suaminya, tapi tetap saja etika dalam pekerjaan harus diterapkan.


"Jadi, pada akhirnya kamu menyerah saja memulai karir di perencanaan?," tanya manager menyayangkan keputusan Anna untuk berhenti dari pekerjaan barunya.


"Sepertinya iya pa, untuk sementara saya harus bad rest karena kehamilan saya ini," jawab Anna.


"Ya sudah, mau bagaimana lagi, terimaksih telah berusaha bekerja dengan baik selama kamu ada disini ya, dan selamat atas kehamilan pertama anda, semoga segalanya diberi kelancaran, " ucap manager perencanaan bernama pak Ilham itu sambil menjabat tangan Anna.


"Terimakasih pa, saya undur diri," ucap Anna.


Memang berat tapi ini sudah menjadi pilihan Anna, bukankah harus selalu ada yang dikorbankan demi mencapai sesuatu, apalagi pencapaian kali ini adalah demi kelangsungan hidup anaknya dan keharmonisan keluarga kecilnya, jadi Anna akan berusaha lapang dada.


Setelah keluar dari ruangan manager yang berada tepat di depan bilik bilik staff perencanaan, lalu Anna membereskan barang barangnya di bilik yang biasa ia tempat.


"Serius an kamu resign? kenapa? mendadak banget sih," tanya rekan yang lain yang merasa heran dengan pengunduran diri Anna. Padahal beberapa hari ini Anna tidak masuk karena sakit dan sekarang malah mengajukan pengunduran diri, bagi yang lain ini sangat mengejutkan.


"Iya, suami Anna mau Anna berhenti, karna takut terjadi sesuatu sama kehamilan Anna," jawab Anna sambil merapihkan barangnya.


"Apa? kamu udah nikah? dan sekarang sedang hamil? aku kira kamu belum nikah," timpal yang lainnya begitu mengejutkan.


Meskipun Anna baru kerja di perencanaan, tapi jangan lupa dulu dia juga adalah Office girl di perusahaan ini bukan, jadi tidak heran jika satupun tak menyangka jika ia sudah menikah.


Mendengar keterkejutan semua orang, tentu saja Anna merasa sedikit menyesal, harusnya ia menurut saja pada Rainer suaminya. Jika seperti ini, bukankah akan ada yang berfikir negatif pada dirinya.


"Iya mba, saya udah nikah sekitar 2 bulan lebih lah, hehe," jawab Anna nyengir kuda.

__ADS_1


"Ya ampun Anna, selamat ya kamu jangankan ngundang, bilang bilang juga engga, tapi semoga pernikahannya langgeng ya, dan kehamilannya lancar sampai persalinan," ucapan tulus mengalir dari rekan rekan yang lain, mengmyalami Anna satu persatu.


Anna begitu terharu. Bagaimana tidak, ternyata teman temannya begitu baik padanya padahal mereka belum tau jika Anna adalah istri pemimpin perusahaan ini.


Sedangkan Willy, hanya diam memperhatikan teman temannya berpamitan pada Anna. Entahlah mungkin pria muda itu merasa cintanya pupus sebelum bersemi.


"Tok tok," suara ketukan pintu menghentikan acara perpisahan Anna dan rekan kerjanya membuat semua orang menoleh pada sumber suara.


"Sudah selesai berbenahnya?" tanya Rainer mendekat ke bilik yang akan ditinggalkan Anna.


Melihat keberadaan sang pemimpin perusahaan tentu saja membuat keadaan canggung dan semua orang menunduk sopan dan dalam waktu yang sama merasa heran, bertanya pada siapa orang nomor satu di perusahaan itu.


"Oh iya, sedikit lagi," jawab Anna.


Lalu Rainer mendekat pada Anna dan membantu memasukan barang barangnya ke dalam kotak yang sudah disediakan.


"Terimakasih ya sudah membimbing istri saya selama ini," ucap Rainer tulis.


"Apa? Istri anda pa?" tanya salah satu staf sambil tergagap.


"Iya, istri saya dan sekarang Anna sedang mengandung anak saya, jadi mohon doa nya," jawab Rainer sambil merangkul bahunya dan tersenyum bahagia.


Semua orang terkaget dengan kenyataan yang baru mereka ketahui, terkecuali Willy. Ia hanya terdiam di bilik nya tanpa berniat bergabung dengan yang lain.


"Ya sudah, saya traktir satu divisi ini dalam rangka perpisahan dengan staff baru," ajak Rainer membuat seisi ruangan riuh karna senang akan di traktir oleh Rainer. Sampai sampai pak Ilham yang sedang diruangan keluar dari ruangannya ingin tahu apa yang membuat staffnya riuh.


"Eh ternyata ada pak Rainer, mau jemput istrinya pa," ucap pak Ilham.


"Loh, bapa sudah tahu kalo Anna ini istrinya pak Rainer?" tanya karyawan yang lain.


"Ya jelas, semua kepala divisi dan manager tahu semua," jawabnya.

__ADS_1


"Oooh."


"Ya sudah, jadwalkan hari ini pak Ilham, kita buat syukuran untuk istri saya yang sudah tidak kerja di bawah divisi anda," ucap Rainer begitu bahagia.


Apa katanya? syukuran, keliatan banget dia tidak rela jika Anna bekerja tidak dengan dirinya.


Anna tidak mau ambil pusing dengan permainan kata yang dilakukan suaminya, ia hanya mengangguk menyetujui apapun keinginan sang suami, Anna ngga mau dosa jika membantah keinginan suami bukan.


Setelah selesai dengan urusannya di ruangan perencanaan, kemudian Anna dan Rainer naik ke lantai dimana ruangan Rainer berasal. Rainer tak ingin Anna kelelahan jika pulang dulu, nanti sore harus balik lagi untuk menghadiri acara perpisahan dirinya yang akan diadakan kecil kecilan di restoran Korea di dekat kantornya.


"Mau tidur dulu? aku temani," ajak Rainer menarik Anna menuju ruangan istirahat yang ia miliki.


Di dalam ruangan tertutup itu terdapat sebuah kasur yang masih bisa digunakan untuk dua orang, sekedar untuk merebahkan diri, melepas penat setelah menyelesaikan bertumpuk tumpuk dokumen.


Sangat jelas terlihat dari wajah Anna, jika istrinya itu sedang sangat kelelahan dan mengantuk, sungguh keputusan tepat meminta Anna berhenti bekerja. Efek kehamilan pertama ini sepertinya membuat tubuh Anna cepat kelelahan.


"Enggak usah ditemenin, kamu mau kerja lagi silahkan," tolak Anna tak ingin membuat pekerjaan suaminya terganggu karena dirinya.


"Oh, ya sudah, masuk sana," ucap Rainer mempersilahkan Anna untuk merebahkan diri di ruang istirahatnya, kemudian ia mengambil gagang telpon yang ada di mejanya.


"Masuk ke ruangan saya," ucap Rainer dalam sambungan telponnya bersama Arman.


Tak lama dari itu, kemudian Arman masuk menghadap pada atasannya lalu mendengar dan mencatat rentetan titah yang di sampaikan oleh Rainer.


Beberapa menit berlalu setelah Anna merebahkan diri di kasur empuk ini setelah melepas lapisan pertama pakaiannya, dan kini ia hanya mengenakan Kaos bertangan pendek dan celana pendek yang sering ia gunakan untuk dalaman selain pembungkus utama yang lain dan berusaha memejamkan mata, membungkus tubuhnya dengan badcover yang ada.


Sebelum alam mimpi membuai tidur Anna, tiba tiba tangan besar telah memeluk tubuh Anna dengan sempurna, mengecup leher Anna dengan lembut menghasilkan gelenyar gelenyar kegelian yang disebabkan oleh jambang yang tumbuh di pipi dan dagunya, memberikan kenyamanan yang tak akan bisa orang lain berikan untuk diri Anna saat ini.


"Mana bisa aku biarin istri aku tidur sendiri, kasian lah ngga ditemenin kan," ucap Rainer makin merapatkan tubuhnya pada Anna.


Alasan konyol memang, tapi itulah Rainer tak akan melewatkan kesempatan selalu menempel pada sang istri apalagi kini dia sedang ada di wilayah kekuasaannya.

__ADS_1


Sepertinya tidur siang kali ini akan sangat menyenangkan bagi Rainer. Semoga saja Rainer tak berkeinginan untuk mencoba sensasi baru melakukan kegiatan yang bikin gerah di ruangan kerjanya seperti adegan adegan yang sering di lakukan di cerita cerita novel romantis ya.


__ADS_2