Sang Penakluk Bos Brengsek

Sang Penakluk Bos Brengsek
Bab 49. Rencana tak terkira


__ADS_3

Tidak bisa dipungkiri, orang tua adalah sosok pertama yang memberikan cinta untuk kasih sayang tak terhingga untuk anaknya, memberikan cinta begitu besar, cinta yang tak kenal pudar meskipun anaknya sudah menua sekalipun. Bahkan tidak jarang seorang anak menjadikan barometer mencari jodoh yang memiliki kesamaan dengan orang tuanya.


Saat ini, Rainer sedang duduk menyandarkan tubuhnya di kursi santai dipinggir kolam renang kediaman keluarga Nalendra.


Setelah kejadian tadi siang, dimana Mamah Ros seperti membuat Anna mundur dalam perjuangan yang dilakukan Rainer dalam mendapatkan Anna, Mamah menyuruhnya pulang ke rumah untuk menginap.


Besok adalah tanggal merah dalam kalender, dan kebetulan tanggal merahnya jatuh pada hari Jum'at, yang artinya long week end untuk semua karyawan yang bekerja. Ini berita yang membahagiakan untuk semua orang yang terbiasa sibuk dengan pekerjaannya setiap hari di kantor. Jadi waktu liburnya bisa digunakan untuk sekedar bercengkrama dengan keluarga ataupun teman teman.


Sejak tadi mood Rainer belum kembali membaik, dia masih dihantui kekesalan yang teramat sangat, bukan kesal pada mamahnya, tapi entahlah, ada sesuatu yang membuatnya begitu kecewa.


Bahkan, hari ini Rainer tidak menemui Anna kembali selepas dia pulang kerja seperti biasanya.


Melihat Rainer hanya duduk diam tanpa melakukan apapun di luar sana, hanya bersandar dengan santai, sambil memandang beriak air yang diterpa oleh angin malam. Mamah Ros mendekati anak sulungnya itu dengan langkah yang begitu santai, sambil ditangannya membawa camilan untuk di nikmati sambil mengobrol dengan sang bujang yang sedang kesal itu, bisa dibilang patah hati. 🤭


"Sayang... kenapa sih, dari tadi cemberut terus?" tanya mamah sambil mendudukkan bokongnya pada kursi tepat disebelah Rainer dan meletakkan camilan yang dibawanya tadi.


Sekilas Rainer melirik kedatangan mamahnya itu kemudian kembali ke posisi sebelumnya menjadikan tangan kanannya sebagai bantalan dengan tubuh sedikit direbahkan.


"Ngga apa apa mah, Rain baik baik aja," jawab Rainer berusaha menetralkan perasaannya.


Sebenarnya Rainer kesal juga pada mamahnya, tapi apalah daya, Rainer begitu sayang pada mamahnya meskipun dia tidak menyangka jika mamahnya akan berbuat seperti itu pada Anna.


"Mamah bukan bermaksud buat kamu kesel sayang, Mamah pengen yang terbaik buat kamu," ucap mamah sambil mengelus kepala anak bujangnya yang sedang gundah gulana itu.


Dalam hati mamah Ros tidak bermaksud untuk melarang apa yang Rainer inginkan, tapi ini adalah salah satu jalan agar mamah Ros yakin pada Anna. Biarlah Rainer salah paham untuk saat ini, mamah ingin anaknya itu mendapatkan gadis yang juga mencintainya, bukan hanya Rainer saja yang mencintai Anna.


"Dengar sayang, mamah ingin kelak calon istri kamu juga mencintai kamu, bukan dengan paksaan seperti yang kamu lakukan pada Anna," tutur mamah.

__ADS_1


Mendengar apa yang dikatakan oleh Mamahnya itu, Rainer langsung menoleh pada Mamah Ros, memfokuskan matanya hanya pada wanita yang begitu ia sayangi ini, menatapnya dengan penuh pengharapan, mata itu seperti meminta pertolongan pada sang mamah, tetapi kenyataannya ialah, mayoritas kaum pria enggan menceritakan apa yang sedang ia rasakan, hanya diam dan berusaha mencari solusi sendiri dalam memecahkan masalahnya, terutama perihal cinta.


Melihat tatapan mata anaknya itu, seorang ibu tahu persis bagaimana anaknya, bahkan tanpa bicara pun, mamah tau betul bagaimana kini keadaan Rainer.


"Jika Anna tak menginginkan kamu, lepaskan dia Rain, jangan memaksakan perasaan yang tidak ia rasakan. Itu hanya akan membuatnya menderita, Rain, jika Anna menderita karena mengikuti apa kemauanmu, itu bukanlah cinta," ucap mamah.


Rainer tak menjawab penuturan dari mamahnya itu, entahlah, saat ini ia tak bisa menerima jika Anna belum juga menyambut cintanya. Rainer kira setelah kejadian kemarin, Anna sudah menerima cintanya.


Melihat kediaman anaknya itu, Mamah Ros menyunggingkan senyum kepada anaknya yang menampakkan aura suram itu.


"Di luar sana, masih banyak wanita yang menginginkan kamu Rain," ucap mamah yang tidak membuat perasaan Rain lebih baik itu.


Dalam benak Rainer, kini ia sedang berkelana mengingat sosok gadis yang membuatnya terluka tadi siang itu, bayangan Anna seperti menempel dalam fikiram Rainer, benar benar sulit jika harus melupakannya. Padahal Rainer baru kenal dengan Anna tidak lebih dari 3 bulan, tapi nyatanya Anna menjadi wanita yang paling membekas dalam benak dan hati Rainer.


Bahkan untuk saat ini, Rainer dalam mode tidak memiliki ketertarikan pada wanita manapun selain Anna, sekarang dimatanya tidak ada lagi wanita cantik, seksi dan menggoda lagi seperti sebelumnya.


Sebenarnya mamah merasa bingung apa maksud dari memberi waktu, waktu untuk apa?. Tetapi Mamah tak berniat mengungkapkan kebingungannya pada Rainer. Biarlah Rainer merenungi apa yang akan dia lakukan selanjutnya, apakah akan berusaha melupakan Anna, atau akan tetap memperjuangkan cintanya, dan membuat Anna jatuh cinta padanya.


Sebenarnya, Rainer tidak peduli jika ia membutuhkan waktu cukup lama untuk meyakinkan Anna bisa percaya dan bisa mencintainya. Yang menjadi keraguan dari hati Rainer adalah, perkataan mamahnya bahwa Anna tidak akan bahagia. Apakah setimpal jika ia mendapatkan Anna tapi tidak dengan hatinya. Seketika ragu itu muncul kembali setelah kemarin ia berhasil meyakinkan dirinya bahwa Anna mulai mencintainya.


Dalam sudut ruangan tidak jauh dari keberadaan Rainer dan mamah Ros yang berada di pinggir kolam itu, terdapat dua manusia yang sedang memperhatikan interaksi dua orang yang mereka sayangi itu.


Yah, dia adalah Tania dan papah Rudi yang tadi sore baru pulang dari Singapura. Papah Rudi berhasil menyelesaikan pekerjaannya yang cukup memakan waktu lama itu dan berhasil mengejar pesawat agar bisa pulang lebih cepat. Ia sudah sangat rindu pada istrinya yang setiap hari merengek menyuruhnya untuk cepat pulang.


"Sepertinya ini akan menjadi kejutan yang luar bias untuk Kaka ya pah," ucap Tania sambil cekikikan pada papahnya.


"Hmmm... Kaka mu memang sekali sekali harus dikasih pelajaran, biar tahu rasa," timpal papah Rudi menyetujui rencana yang dibuat oleh istri dan anak bungsunya itu.

__ADS_1


Papah Rudi sudah mengetahui apa yang terjadi pada Rainer, Mamah dan Tania sudah menceritakan dengan detail yang mereka ketahui tentang Rainer, bahkan papah Rudi sangat mengenal Anna dengan baik, karena sebelum Rainer masuk ke perusahaan yang dulu ia pimpin itu, Anna sudah lebih lama bekerja di perusahaanya.


"Tapi kasihan Anna pah, dia enggak tau apa apa, malah ikut jadi korban," ucap Tania merasa bersalah pada Anna. Pasalnya, saat terlintas rencana ini, Anna tidak sedikitpun diberi tahu oleh Tania dan ibu bosnya itu.


"Biarkan saja, sekalian kita akan menguji, apakah Anna juga menyukai kakamu atau tidak, biarkan semua ini mengalir apa adanya yang biasa mereka lakukan, pasti semua akan baik baik saja," ucap Pak Rudi sambil duduk di sofa nyamannya menyandarkan punggungnya di sandaran sofa sambil mengangkat kakinya, begitu santai dan terlihat berwibawa.


Tania hanya duduk manis sambil menyandarkan kepalanya di bahu sang papah dan berkata, "Ini pasti akan seru pah," ucapnya begitu antusias.


"Hmmm... Kamu juga, persiapkan dirimu, bulan depan keluarga Raka akan melamar mu secara resmi," ucap papah begitu santai.


"Apa?!" kaget Tania refleks langsung menegakkan kepalanya dan menatap papahnya itu.


Yang ditatap hanya tersenyum kala melihat tingkah anak gadisnya yang terlihat tidak terima itu.


"Dasar, hatimu tidak sesuai dengan sikapmu sayang," gumam papah dalam hati.


***


Maafkan othor receh ini, udah up dua bab sama yang ini, tapi telat banget lolosnya. ditunggu ya...


Makasih banget buat para readers ku tersayang, bahagia aku liat kalian yang suka baca karya aku. Aku kan jadi semangat ini nulisnya.


Pokoknya makasih banget...


salam sayangku untuk kalian semua...


Happy reading 😊😉

__ADS_1


__ADS_2