
Malam indah ini begitu sunyi, menemani Anna dalam kegundahan hati, menyapa kalbu yang butuh pendengar. Hanya disini Anna berada, duduk bersimpuh memohon ketenangan hati, untuk menerima takdir apapun yang akan sang pencipta berikan padanya.
Semalaman Anna berfikir, apa yang harus Anna lakukan. Anna begitu bingung dan ragu.
Apakah ini jalan sang pencipta untuk mengobati hati Anna yang sedang patah ini, mungkinkah dengan menghadirkan pria lain, Anna tidak akan merasa terbebani lagi dengan perasaannya pada Rainer?. Entahlah, manusia hanya bisa menduga duga, tapi hanya tuhan saja yang tau jawabannya.
Kini Anna butuh solusi yang tepat sebelum mengambil keputusan. Kemudian Anna membuat panggilan pada Irma dan Ratih berharap mereka bisa memberikan solusi untuk membantu langkah Anna.
[Anna : "Assalamualaikum... udah pada tidur belum?" tanya Anna pada kedua sahabatnya.]
[ Ratih :" waalaikum salam, tumben banget nelpon bertiga gini, ada apa ?"]
[Anna :"Aku mau minta saran kalian"]
[Irma : "Saran apa? ko jadi deg degan gini."]
[Anna :"Bapa nanya sama aku, apakah aku keberatan engga jika calonnya bapak yang tentuin, kalo nggak keberatan dan nggak punya pacar, Minggu ini aku langsung ketemu sama calon aku dan langsung tunangan."] Suara Anna terdengar bergetar ditelinga kedua sahabatnya, dan terlintas bayangan Rainer di pelupuk matanya.
[ Ratih : "Kenapa mendadak banget sih? emang mau nikah cepet ya?" tanyanya begitu kaget]
[Anna : "Engga ngerti aku Rat, aku maunya beresin kuliah dulu," ungkap Anna]
[Irma : "Pertanyaannya, apa kamu rela An, dijodohin sama orang yang ngga kamu kenal?, kalo percaya sama pilihan orang tua kamu ya menurut aku ikutin aja, tapi kalo kamu punya pilihan lain, bilang dari sekarang, jangan sampai nanti kamu malah nggak bahagia, orang tua kamu juga nanti akan ikut nggak bahagia kan," ungkap Irma masuk akal.]
[ Anna : "Perempuan nggak bisa milih Ir, hanya laki laki yang punya hak memilih pasangannya, kalo perempuan hanya memiliki hak menerima atau tidak, dan sekarang ada yang memilih aku, yang beruntungnya orang tua aku juga setuju," ungkap Anna, saat mengatakan rentetan kalimat panjang itu, hati Anna terasa ngilu, jika saja Rainer tidak berubah seperti kemarin, pasti dia akan bilang dengan berani bahwa dia punya seseorang diluar sana, tapi sekarang, apa yang bisa Anna lakukan? bahkan saat ini Anna tak punya keberanian lagi untuk bertanya pada Rainer tentang kesungguhan dirinya.]
[ Ratih :"Menurut aku, ikutin aja keinginan orang tua kamu An, yakin aja kalo jodoh itu nggak akan tertular, buat orang tua kamu bahagia itu lebih penting An," ungkap Ratih dengan bijak.]
Irma dan Anna mengiyakan pernyataan dari Ratih. setelah obrolan panjang mereka bertiga di telpon, dan menemukan apa yang harus Anna lakukan, akhirnya sambungan mereka pun terputus.
Dan kini, Anna merasa sedikit lega berbicara dengan teman temannya. Benar kata Ratih, jodoh itu sudah ditentukan oleh sang maha pencipta, kewajiban Anna saat ini adalah membahagiakan orang tuanya dan mengabulkan apa keinginan orang tuanya, bukankah ridho Allah adalah ridho orang tua juga bukan.
***
Pagi harinya.
Angin dingin masih terasa menusuk nusuk pada kulit, tetapi keluarga Anna sudah sibuk berkutat dengan kegiatan mereka, dimana ayu sudah siap dengan seragam sekolahnya akan memulai aktifitasnya untuk bersekolah di SMP Negri tidak jauh dari rumahnya menunggu sarapan yang sedang disiapkan oleh ibu. Sedangkan ibu sedang berkutat di dapur, menyiapkan sarapan untuk keluarga ini, ditemani Anna dan bapa yang sedang asik menghangatkan diri di depan tungku perapian sambil memasak air.
Ditemani kopi dan camilan sederhana, mereka mengobrol santai saja.
__ADS_1
"Bapa... sepertinya Anna setuju dengan apa yang bapa bilang kemarin," ucap Anna memulai percakapan mereka.
"Beneran An?" ucap bapak berbinar mendengar persetujuan Anna.
"Bapak yakin kamu nggak akan kecewa sama pilihan bapak," lanjut bapak dengan yakin.
Anna hanya bisa tersenyum melihat kebahagiaan bapa, padahal hanya menyetujui permintaan bapanya, tapi bapanya Anna terlihat begitu bahagia, apalagi jika Anna jadi menikah dengan pria pilihan bapaknya, sudah dipastikan mungkin saja bapak Anna lebih senang lagi bukan.
"Kalo menurut Bapak Anna akan bahagia dengan pilihan Bapak, Anna akan nurut sama bapak dan ibu," lirih Anna.
Tanpa disadari, gadis remaja yang sedang memperhatikan interaksi kakak dan bapaknya itu tertunduk sedih dengan persetujuan Kakanya itu.
Sungguh perasaan yang rumit, bukan salah manusia merasakan, bukankah cinta memang datang pada siapa saja yang ia kehendaki.
"Ayo sarapan dulu," ajak ibu sambil menata peralatan makan yang akan digunakan untuk sarapan keluarga sederhana ini.
Tak menunggu lama, mereka sudah duduk di bale bale yang ada di dapur yang tidak terlalu besar itu, dan memulai sarapan mereka dengan suka cita.
"Nanti malam, sepertinya keluarga calon kamu akan berkunjung An, cuman mampir aja biar kamu nggak kaget," ucap bapa.
.
"Kok cepet banget pa? baru juga Anna bilang setuju kan," protes Anna.
"Ya sudah, nanti kamu bantuin ibu ke pasar ya, kita masak istimewa hari ini, sambil bapak reunian juga," ucap ibu sangat senang.
"Emangnya siapa sih? Anna udah kenal ya Bu?"
tanya Anna penasaran.
"Ya pasti kenal lah, malah kamu pasti senang aja ketemu calon kamu An, ibu yakin banget."
Anna benar benar tidak bisa menebak siapa orang yang dimaksud oleh bapak dan ibunya, dari dulu Anna memang tidak terlalu memperhatikan laki laki. Prinsip dia tetap sama, nggak mau jagain jodoh orang alias nggak mau pacaran. Mungkin langkah orang tuanya tepat untuk menjodohkan Anna, tapi mungkin saja tidak, bisa jadi ini adalah awal dari Lika liku perjalanan cinta anak gadisnya bukan.
***
Malam yang dinanti pun telah tiba, Anna dan keluarganya sudah menyiapkan jamuan untuk tamu bapanya Anna yang telah dinanti nanti. Ini memang bukan acara resmi, ini hanya makan malam biasa, hanya pertemuan biasa saja, tapi antusias bapak dan ibu begitu berbeda.
"Assalamualaikum," terdengar salam yang diucapkan dari balik pintu depan.
__ADS_1
Seketika anggota keluarga Anna menoleh ke arah suara dan langsung menyambut salam yang telah dilontarkan itu.
"Waalaikum salam," jawab ibu sambil membukakan pintu.
"Akhirnya yang ditunggu dateng juga, ayo masuk masuk," ajak ibu begitu bahagia.
Anna yang berada tepat di belakang ibu begitu kaget melihat siapa pria yang berada dihadapannya, pria itu tersenyum begitu lepas seperti ia sedang melepaskan kerinduan yang telah lama tersimpan.
"Kang Firman," ucap Anna sambil membulatkan matanya.
Yah, dia adalah Firman, anak dari sahabat bapak yang telah pindah ke kota. Kabarnya Firman berkuliah di ibu kota, dan kini telah menjadi manager di salah satu perusahaan di kota yang Anna tinggali.
Firman adalah pria yang sangat dekat dengan Anna dan ayu. Bahkan usianya hanya terpaut satu tahun lebih tua dari Anna.
***
Sementara itu, di Perusahaan tempat Anna bekerja, Ratih sedang asik berbincang dengan Tania, dan bsedang membocorkan obrolan tadi malam dengan Anna.
"Tan, aku mau tanya, sebenernya pak Rainer bagaimana sama Anna?" tanya Ratih penasaran.
Yang ditanya malah cekikikan tidak jelas menanggapi pertanyaan Ratih sambil menyeruput es kopi yang dibelinya sebelum ia ke kantor Kakanya itu.
"Ya udah jelas kan, ka Rainer udah bucin akut sama Anna," ucap Tania dengan yakin.
"Gitu ya, tapi sepertinya pak Rainer akan patah hati sekarang deh," ungkap Ratih.
Mendengar penuturan Ratih, Tania sedikit heran dan memicingkan matanya.
"Nggak ngerti, maksudnya apa?" tanya Tania penasaran.
"Sekarang Anna lagi pulang kampung, dan katanya Minggu depan dia akan tunangan sama laki laki pilihan bapaknya," tutur Ratih.
Seketika wajah Tania langsung pucat, merasa kaget dengan informasi yang diberikan oleh Ratih, sudah dibayangkan oleh Tania apa yang akan dihancurkan oleh Rainer jika dia tau gadis yang sudah di klaim olehnya itu telah dipinang oleh pria lain.
"Ya ampun, bakal jadi bencana kalo Ka Rainer tau," ucap Tania.
"Makasih buat infonya ya, aku harus kasih tau mamah cepat cepet," ucap Tania sambil berjalan meninggalkan Ratih sendirian.
***
__ADS_1
Gak apa apa ya dipanjangin dikit ceritanya, tambahin konflik deh biar seru, kalo dikasih langsung nikah kan nanti cepet tamat. ππ
Happy readingππ