
Tak mudah menjebol bendungan kekecewaan yang telah lama terbangun, meskipun Tania sudah berusaha mengikhlaskan dan mencoba untuk percaya lagi pada Raka, tapi nyatanya hati wanita itu bagaikan kaca, jika sudah retak tak akan pernah kembali seperti semula, meskipun sudah berusaha menyusunnya kembali, tapi bekasnya akan nampak terlihat dan mengganggu pantulan cahayanya kembali, dan tak akan pernah sama lagi.
Saat ini Tania hanya akan berusaha mengikhlaskan, tapi tak bisa melupakan, setiap mendengar janji manis yang dilontarkan dari mulut Raka, Tania selalu membuat pembatas kepercayaan pada diri Raka, tidak mau terlalu percaya akan janji yang diucapkan Raka.
Mencoba membahagiakan dan memenuhi keinginan orang tua, hanya itulah yang ia lakukan saat ini, cintanya pada Raka masih sama, bahkan tak berkurang sedikitpun. Perbedaannya hanyalah kepercayaannya saja yang kini tak sesempurna dulu.
Kini Anna dan Tania sedang sibuk melihat kebaya yang akan dikenakan oleh Tania untuk acara wisudanya yang akan digelar 3 hari mendatang.
Rencananya adalah, setelah dilangsungkannya wisuda, Tania pun akan melangsungkan pertunangan dengan Raka 3 hari setelah wisuda, tetapi nyatanya Tania lebih antusias mempersiapkan wisudanya dibandingkan dengan acara pertunangannya.
Yang begitu sibuk menyiapkan acara pertunangan mereka hanyalah orang tua tania dan orang tua Raka, sedangkan dia sendiri entahlah, mungkin saja jika dibatalkan sekalipun Tania tak peduli.
Sedangkan Raka, saat ini Tania tidak bisa membaca sedikitpun bagaimana perasaan Raka. meragukah Tania dengan perasaan Raka? mungkin saja.
"Kata mamah, Raka nanti mau nyusul sini ya?" tanya Anna memancing percakapan aktif dengan Tania.
Sejak keluar dari rumah, hingga mereka sampai di butik, Tania terus saja melamun, tak ada semangat untuk berbelanja hari ini sepertinya, padahal tadi saat dikamar, Tania banyak bicara, tapi sekarang Tania malah banyak melamun.
"Mungkin, lebih baik suruh ka Rainer saja yang jemput, jangan Raka, biar nanti kita jadi bisa nonton dulu kan," tawar Tania berharap Anna mengerti jika Tania sedang malas bertemu dengan Raka.
"Gitu ya, nanti coba aku telpon ya, siapa tau bisa," jawab Anna menyetujui.
"Tapi mamah udah telpon Raka suruh nemenin kamu lho Tan, gak apa apa emangnya?" tanya Anna ragu ragu.
"Gak apa apa lah, toh belum tentu dia dateng juga, dia sibuk An, nggak akan ada waktu buat aku," jawab Tania mendesah pasrah, pasalnya saat ini memang Raka begitu sibuk, bahkan mereka sudah sangat jarang bertemu, hanya sekali kali saja jika Raka mau, jika tidak Raka bahkan tak akan menemuinya, bahkan menelpon saja tidak.
__ADS_1
"Baiklah, sudah pilih bajunya, coba dulu donk Tan, aku pengen liat kamu pake kebaya itu pasti cantik," seru Anna antusias dengan pilihan Tania.
"Ok aku cobain ya, kamu juga pilih donk, emang kamu ngga akan Dateng ke wisuda aku apa?" gerutu Tania kesal pada Anna yang dari tadi sibuk memilihkan kebaya untuk Tania, tapi tak berniat mengambil untuk dirinya sendiri.
"Aku nanti aja sama suami aku, kan harus persetujuan dia juga," jawab Anna.
Mendengar penuturan yang dilontarkan oleh Anna, tiba tiba Tania tertegun, mencerna apa yang disampaikan Anna, berfikir dengan keras kenapa sekarang Anna begitu terlihat percaya pada Kakanya yang brengsek itu, bukankah ia tahu jika seorang Rainer adalah playboy kelas kakap yang tidak perlu diragukan lagi.
Saat mencoba kebayanya Tania terus berfikir, betapa beruntungnya Rainer Kakanya itu memiliki istri yang mau mempercayainya, bahkan tak membantah dan merasa keberatan diperlakukan posesif seperti apa yang telah dilakukan Rainer pada Anna.
Setelah kebaya melekat sempurna di tubuh Tania, ia kemudian keluar dari bilik tempat mencoba pakaian dan memperlihatkannya pada Anna.
"Cantik banget sih, udah cocok ini," gumam Anna begitu kagum pada kecantikan Tania yang mengenakan kebayanya.
"Ok," jawab Tania singkat.
Awalnya mamah Ros akan ikut bersama anak dan menantunya untuk memilih kebaya yang akan digunakan Tania pada saat wisuda nanti, tapi nyatanya mamah Ros dibutuhkan oleh papah Rudy untuk menemaninya di rumah, pasalnya papah Rudi hari ini sedang tidak bekerja dan jika papah Rudi sedang libur, ya sudah pasti suaminya itu tidak akan mengizinkan mamah Ros untuk kemana mana, meskipun itu pergi bersama anaknya sendiri. Dan Tania sudah memaklumi hal itu.
"Seneng ya punya istri kaya mamah, papah mau apa pun pasti diturutin sama mamah," celetuk Anna pada Tania saat mereka sedang duduk disebuah cafe menikmati makan siang mereka yang sudah terlewat beberapa jam itu.
"Hmmm begitulah, makanya kalo papah ngga ada, mamah suka keliatan galau, karena ya itu, terbiasa apa apa ada papah," jawab Tania sambil menyuapkan sesendok cake coklat kedalam mulutnya.
"Gitu ya, makanya mereka terlihat begitu bahagia," gumam Anna teringat jika suaminya pun seperti itu, apakah mungkin faktor keturunan kah, makanya sekarang Rainer begitu menempel pada dirinya.
"Anna, apa kamu bahagia nikah sama Kaka aku?" tanya Tania sambil menelisik wajah Anna yang langsung terlihat berbinar.
__ADS_1
"Menurut kamu?" tanya Anna kembali.
"Sekarnag kamu terlihat bahagia," jawab Tania mendesah berat lalu menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi yang ia tempati.
"Kenapa? sepertinya ada yang membuatmu kecewa," tanya Anna berusaha memahami kondisi hati adik iparnya itu.
"Memang iya, aku ngerasa nggak akan seberuntung kamu An," gumam Tania menerawang.
"Keberuntungan itu bisa kita usahakan Tania," jawab Anna dengan yakin.
"Cukup percaya saja pada Allah dan orang tua kita, maka segalanya akan baik baik saja," lanjut Anna kemudian menggenggam tangan Tania yang berada di meja, menyalurkan semangat untuk sang adik ipar yang sedang galau itu.
"Makanya, sekarang satu satunya yang aku bisa hanya pasrah saja, aku nggak berani ngebantah, semuanya aku serahin sama penilaian orang tua aku," jawab Tania.
"Pasti kamu bahagia Tania, jangan hawatir," jawab Anna penuh semangat.
Setelah lama bercakap cakap sambil duduk menikmati suasana cafe yang dilengkapi life musik itu, hingga sore pun menjelang.
"Sudah ada kabar dari kak Rainer kapan dia akan kesini?" tanya Tania sambil beranjak dari duduknya dan bersiap menuju ke bioskop.
"Sudah, katanya pilih saja dulu mau nonton film apa dan beli tiketnya, nanti dia akan menyusul," jawab Anna ikut berjalan disamping Tania menyusuri jalanan mall menuju gedung bioskop.
Kini tiket sudah ditangan, dan beberapa menit lagi filmnya akan dimulai tetapi Rainer belum juga datang.
"Kita tunggu di dalem aja deh, filmnya mau mulai sebentar lagi," ajak Anna.
__ADS_1
***