Sang Penakluk Bos Brengsek

Sang Penakluk Bos Brengsek
Bab 91. Tes Wawancara


__ADS_3

Hari yang telah ditunggu Anna kini telah tiba, hari ini adalah hari dimana tes seleksi akan dilaksanakan, Anna begitu berharap jika ia akan lolos menjadi staff dibagian perencanaan.


"Hari ini aku ke kantor berangkat sendiri ya," ucap Anna saat Rainer dan Anna sedang menyantap sarapan pagi mereka.


Mendengar penuturan Anna kemudian Rainer menghentikan sejenak kegiatannya mengunyah.


"Kenapa? kita kan satu tujuan," protes Rainer memandang wajah Anna.


"Iya, tapi aku merasa tak enak saja dengan yang lain, dan tak ingin jadi pusat perhatian orang karena pergi bareng sama pimpinan perusahaan kan."


"Nggak bisa, kita pergi bareng, kalo kamu nggak mau bareng ngga usah pergi seleksi," tegas Rainer.


Mendengar penolakan suaminya, apa boleh buat Anna tak bisa berkutik, dari pada dia tidak boleh seleksi kan, meskipun ada rasa dongkol saja di hati.


Saat ini benar benar Rainer tak melepaskan pengawasan pada Anna sedikitpun, bahkan beberapa hari setelah kepulangannya dari rumah mertuanya, kemanapun Anna pergi Rainer selalu mengantarnya, ke kampus Anna ditungguin sampai ia pulang, saat anna di rumah dan Rainer di kantor pun setiap satu jam sekali pasti Rainer akan menelpon atau video call.


Sepertinya saat ini Rainer dalam mode siaga, dan Anna mulai terbiasa dengan sikap Rainer yang seperti itu.


"Berangkat sekarang? sebentar lagi seleksinya akan dimulai," ajak Anna.


"Ok, ayo," jawab Rainer sambil menggandeng Anna keluar dari apartemen.


"Kamu yakin mau di perencanaan? jadi sekertaris ku saja, tidak usah seleksi," tawar Rainer lagi yang sudah kesekian kalinya.


"Enggak mau, aku ingin di perencanaan saja, kalo enggak lulus, lebih baik melamar ke perusahaan lain saja," ucap Anna dengan jawaban yang nyaris sama setiap Rainer menawarkan hal yang sama.


"Tidak bisa, kalo nggak lulus nggak usah kerja, diam saja dirumah," tegas Rainer sambil mencium tangan istrinya saat sudah berada di mobil.


Anna tak menanggapi ocehan suaminya yang tanpa henti itu, dia hanya duduk sambil menikmati perjalanannya sambil mendengarkan musik yang diputar oleh Rainer.


Setelah menempuh perjalanan beberapa menit menuju perusahaan, kini Anna dan Rainer telah sampai di parkiran PT Nalendra konstruksi, Anna lalu berpamitan pada Rainer untuk pergi duluan masuk ke gedung, ia berharap tak ada yang melihat jika Anna turun dari mobil pimpinan perusahaan.


"Aku duluan ya, sampai jumpa saat pulang kerja," ucap Rainer sambil mencium tangan suaminya.


Sayangnya Rainer tak begitu saja membukakan kunci mobil, ia masih duduk manis di kursinya.


"Be, tolong buka pintunya, sebentar lagi dimulai ini seleksinya," pinta Anna.

__ADS_1


Rainer hanya tersenyum dan mendekatkan wajahnya pada sang istri.


"Masa cuman cium tangan," ucapnya sambil menyunggingkan senyumnya.


"Memang harus apa lagi?" tanya Anna.


Rainer kemudian memegang tengkuk Anna dan menciumnya dengan lembut tepat di bibir Anna hanya sekilas.


"Buat semangat kamu, sukses ya," ucap Rainer sambil terkekeh mendapati istrinya yang bengong tak percaya jika Rainer sempat memikirkan ini.


"Lain kali harus kamu yang cium aku," gumamnya dan mencium pipi Anna kembali.


"Ok makasih suami aku," jawab Anna lalu keluar meninggalkan Rainer sendiri.


***


Beberapa jam yang lalu Anna telah melewati tes tertulis dan mendapatkan nilai yang memuaskan, kini ia sedang menunggu giliran untuk tes wawancara.


"Anna Azalea Rumi," panggil seseorang di balik pintu.


Mendengar namanya di sebut, kemudian Anna masuk ke dalam ruangan tersebut, Anna mendapati jika di dalam ada Lima orang yang tengah menempati tempat duduk yang menghadap tepat ke sebuah kursi Yang ada di tengah tengah yang diperuntukan setiap peserta ujian duduk untuk di wawancarai.


"Silahkan duduk Anna," titah salah satu orang yang duduk disana.


"Baik terimakasih," ucap Anna lalu siap menempati tempat duduk yang seperti persidangan itu.


"Sudah siap Anna."


Anna mengangguk dengan yakin.


"Sebelum kita mulai wawancara ini, silahkan perkenalkan diri anda," ucap salah satu pewawancara yang duduk tepat menghadap Anna.


Sekilas Anna mengedarkan pandangannya pada lima orang yang sedang menatapnya, termasuk sang suami.


Rainer menatapnya dengan tajam dan sedikit menyunggingkan senyumnya, memperhatikan sang istri yang terlihat gugup itu.


Melihat senyum Rainer, tiba tiba rasa gugup makin menyerang diri Anna, entahlah, sepertinya justru Anna lebih khawatir dengan penilaian Rainer yang jelas jelas memaksa dirinya menjadi sekertaris pribadi Rainer dibandingkan menjadi staf di divisi lain.

__ADS_1


"Ahem."


Anna berdehem sejenak demi menetralkan rasa gugupnya, kemudian menarik nafasnya dalam lalu menghembuskan nafasnya secara perlahan, dan segera memulai kalimat yang akan ia lontarkan.


"Selamat siang Bapak dan Ibu pewawancara yang saya hormati, perkenalkan nama saya Anna Azalea Rumi, sebelumnya saya adalah karyawan perusahaan ini tetapi saya berada di divisi cleaning service. saat ini saya masih menempuh pendidikan sarjana saya, dan saat ini saya masih di semester 5."


"Kenapa anda ingin mengikuti seleksi menjadi staf di perusahaan, yang kami tahu jika kamu belum menyelesaikan sarjana kamu, kamu akan memulainya sebagai karyawan magang dan sudah jelas bukan gajinya akan lebih kecil dibandingkan menjadi cleaning service," tanya ibu Maya salah satu yang mewawancarai Anna.


"Saya merasa ingin lebih berkembang saja bu, setidaknya jika nanti saat saya sudah melewati tahap sebagai magang, saya akan lebih banyak belajar dan akan lebih matang saat nanti saya menjadi karyawan resmi," jawab Anna dengan mantap.


Semua orang yang ada di ruangan wawancara itu menganggukan kepalanya merasa puas dengan jawaban anna termasuk Rainar.


"Dan untuk masalah gajih yang lebih kecil dari gajih saya sebelumnya sebagai cleaning service, saya kira saya sudah menerimanya, dan sudah memperhitungkannya dengan matang," lanjut Anna.


Kini memang Anna sudah memantapkan diri, sebelumnya memang menjadi masalah saat mengetahui jika gaji magang lebih kecil dari gajih cleaning service, apalagi kewajiban Anna untuk melunasi tunggakannya ke kampus pun sudah ia penuhi, jadi bisa dibilang bebannya soal keuangan tidak terlalu membuatnya terhimpit untuk saat ini.


"Selanjutnya saya ingin bertanya pada anda nona Anna," intruksi Rainer membuat semua orang menoleh padanya termasuk Anna sendiri.


"Ini akan menentukan anda diterima atau tidak di perusahaan kami," lanjut Rainer.


Entah kenapa pernyataan Rainer membuat Anna curiga dan begitu khawatir.


"Baik pa," jawab Anna dengan ragu.


"Status anda saat ini bagaimana?" tanya Rainer.


Mendengar pertanyaan ambigu itu semua orang saling tatap satu sama lain merasa heran, status apa maksudnya yang pimpinan perusahaannya itu tanyakan, tapi satu orang pun tak ada yang berani bertanya apa maksud dari sang pimpinan ini.


"Status saya saat ini sebagai mahasiswa pa," jawab Anna sekenanya.


Rainer pun mendengus sebal mendapati jawaban Anna yang menurutnya cari aman itu.


"Saya tahu anda adalah mahasiswi semester 5, maksud saya apakah anda masih singgel atau sudah menikah, atau sudah jadi janda," kesal Rainer terdengar menggerutu.


"Ingat, jawaban anda menentukan apakah anda akan diterima atau tidak, fikirkan matang matang," ancam Rainer membuat Anna meneguk salivanya susah payah.


***

__ADS_1


Apakah jawaban Anna akan membuatnya dikurung di ruangan Rainer seharian tanpa air setetes pun ?


Happy reading 😊😉😉


__ADS_2