
Rasa rindu itu seperti angin, seringkali menyelusup melewati celah celah kecil untuk memasuki hati yang sedang hampa. Terasa menyakitkan disaat kita sedang sendirian, berusaha tegar disaat kita dalam keramayan. Nyatanya saat rindu datang tanpa ampun, seperti tak ada kekuatan untuk bisa membendungnya, selalu terlintas dalam pikiran, menghantui ingatan.
Saat ini, Anna benar benar merasakannya. Bagaimana bisa begini? padahal dengan sekuat tenaga Anna menyangkal perasaannya dengan logikanya, membandingkan dirinya dengan Rainer yang benar benar berbeda. Merasa tidak pantas akan rasa rindu yang tak disadari kedatangannya.
Rainer benar benar berhasil mematri namanya dalam hati Anna dengan cara yang begitu berbeda.
Padahal setiap hari Anna bertemu dengan Rainer biarpun sikap Rainer sedikit lebih serius. Bahkan saat di restoran, ia berpapasan dengan Rainer, tapi kenapa seperti ada yang hilang.
Menanggapi perbedaan sikap ini, Anna hanya bisa menundukkan kepala dan berusaha menarik nafasnya, berharap rasa yang sedikit sesak ini hilang dari dadanya.
Rainer bukannya tidak menyadari apa yang terjadi pada Anna, ia hanya ingin memberikan ruang bagi Anna untuk menata hatinya, Rainer tak mau jika Anna merasa dia akan memaksa Anna. Rainer memang menginginkan Anna dan sudah mengklaim bahwa Anna adalah calon istrinya, tetapi Rainer pun menginginkan cinta itu tumbuh juga di hati Anna.
"Aku nggak ke kantor lagi gak apa apa kan? ditungguin papah di rumah soalnya," ujar Tania membuyarkan lamuman selewat Anna.
Setelah melewati makan siang bersama diisi dengan obrolan obrolan khas wanita. Kini mereka berada tetapi di parkiran dimana Tania memarkirkan mobilnya.
"Ieh, nggak apa apa Tania, makasih banget ya udah traktir kita," ucap Anna sambil memeluk hangat Tania bergantian dengan Ratih dan Melly, "Makasih ya mba, lain kali kita yang traktir deh," ucap Melly berbasa basi.
"Santai aja, nanti kita nongkrong bareng lagi ya," ucap Tania sambil masuk kedalam mobilnya.
Tania pun berlalu di ikuti oleh lambayan tangan Anna, Ratih dan Melly. Mereka benar benar tak menyangka ada orang kaya begitu baik dan rendah hati seperti Tania, padahal sudah jelas jika dia adalah anak dari pemilik perusahaan ya sudah pasti tajir melintir, tapi Tania tidak merasa keberatan duduk bersama mereka yang hanya pegawai rendahan ini.
***
__ADS_1
Disisi lain, Rainer pun telah berpisah dengan rekan kerja sekaligus sahabat lamanya Raka. Kini ia sudah kembali berkutat dengan pekerjaannya yang mulai menumpuk dan tak kunjung habis itu.
Dari hari kehari, Rainer seperti sudah tidak memiliki waktu untuk diri sendiri, karena sekarang proyek demi proyek berdatangan yang mengharuskan dia fokus dengan tanggung jawabnya itu. Hanya untuk menanggapi rumor dirinya dan Anna saja ia sudah tak memiliki tenaga, jadi ia biarkan saja rumor itu, toh memang ia ingin memberitahu semua orang jika Anna miliknya, agar para pria yang suka pada Anna tau diri dan tak akan berani mendekatinya.
Saking sibuknya Rainer, bahkan untuk bisa dengan santai menikmati chees cake dan kopi yang setiap pagi di antar oleh Anna saja tidak bisa. Kini Anna hanya mengantarkan pesanannya itu tanpa menunggui Rainer menghabiskan makanannya.
Rainer benar benar dikejar kejar date line yang antri untuk ia selesaikan. Berbeda dengan Anna yang belum bisa mengartikan rasa rindunya. Rainer benar benar memahami jika rasa rindu untuk berinteraksi dengan Anna begitu terasa mencengkram sanubarinya.
Saat ia berpapasan dengan Anna di restoran yang mereka singgahi bersama, dia benar benar ingin menatapnya lama, bukan tanpa alasan Rainer kesal pada Tania yang memilih duduk di lantai 2, Rainer merasa kesempatannya lebih lama bersama dengan Anna seperti dicuri darinya.
"Hari ini ada meeting dengan PT Karya Nusa jam 3 sore, sepertinya kita akan menghabiskan malam bersama lagi Rain," ucap Arman sambil menghela nafas dengan begitu berat.
Arman pun kini tidak kalah sibuk dengan Rainer, bahkan lebih sibuk lagi. Menjadi sekertaris sekaligus asisten seorang Rainer memang sangat menguras tenaga, belum lagi ia harus membantu mengkoordinir perusahaan Rainer yang lain.
Arman sejenak berfikir untuk mencari solusi, "Baik, aku coba telpon Jihan, siapa tau dia mau memundurkan waktunya." Arman kemudian melangkahkan kakinya menuju meja kerjanya yang terdapat di luar ruangan Rainer.
Sejenak Rainer menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi yang didudukinya, sambil menarik paksa dasi yang dikenakannya, ia begitu lelah, sudah dari pagi berkutat dengan berkas berkas yang menggunung, bahkan Rainer sudah meeting dengan klien dan beberapa divisi yang akan menangani proyek yang sedang ia kerjakan ini.
Hanya tadi ada waktu luang makan siang bersama dengan rekanan sekaligus temannya, berharap bisa ditemani juga oleh Anna, tapi harapannya kandas karena kejahilan sang adik.
"Rain, Jihan bisa mengundurkan waktu meeting kita hari ini menjadi jam 7 malam, bagaiman?" ucap Arman sambil membuka pintunya tanpa mengetuk terlebih dahulu.
"Benarkah?, bagus, waktunya masih lama, aku ingin keluar sejenak, persiapkan berkas yang diperlukan, jam 6.30 malam nanti aku akan kembali," titah Rainer sambil membuka dasi yang telah ia tarik paksa tadi dan membuka jas mahalnya, kini ia hanya memakai kemeja berwarna nafi yang begitu kontras dengan kulit bersihnya, dan melinting lengan bajunya hingga seperempat yang menampakkan urat liat yang membungkus otot kerasnya, yang terlihat begitu seksi dipandang mata.
__ADS_1
Rainer kemudian melangkahkan kakinya keluar ruangan yang sudah membuat ia terpenjara karena pekerjaannya selama seminggu ini. Bergegas menuju dimana biasanya Anna berada.
Saat Rainer masuk ke ruang pantri, disana hanya ada Melly yang sedang mencuci piring dan gelas yang telah para karyawan gunakan tadi pada saat makan siang.
"Kemana Anna?" tanya Rainer dengan nada datarnya.
"Iya pa, Anna sedang di lantai 5 pa, sedang mengantarkan kopi untuk pak Damar," jawab Melly jujur.
Mata Rainer membulat dengan sempurna, Ia kira setelah mengetahui jika Anna akan menjadi miliknya, Damar akan mundur secara sukarela, ternyata dia masih usaha.
Kemudian Rainer menarik ponselnya yang ia simpan di saku celananya, dan tanpa berfikir panjang ia langsung menekan nomor Anna dan menghubunginya.
[Rainer : "Kamu di mana?"] tanya Rainer dengan sedikit emosi. Rainer memang tipe pria cemburuan dan posesif jika menyangkut wanita yang dia sukai, apalagi Anna sudah dia klaim sebagai calon istrinya, dia tak akan memberi celah sedikitpun kepada pria manapun terutama Damar.
[Anna : "Iya...? saya di lantai 5 pak baru selesai mengantarkan kopi pak Damar."] Perasaan Anna kali ini sedikit berbeda saat menerima telpon Rainer, selain merasa kaget karena Rainer telpon setelah sekian lama ia tak menghubungi. Biasanya Anna mengabaikannya jika Rainer telpon, tapi kali ini, saat tahu jika orang yang menelpon adalah Rainer, seketika ada letupan letupan yang terjadi, menimbulkan kegelian pada perutnya, dan mengakibatkan sanyum yang terkembang diwajah cantik yang beberapa hari ini terasa sedikit murung itu.
["Rainer : "Jangan lama lama, saya tunggu di Pantri sekarang"] tegas Rainer tak bisa dibantah. Panggilan pun terputus sepihak, tanpa mengatakan kata penutup atau apalah namanya.
"Kenapa dia? ko tiba tiba marah?." gumam Anna dalam hati.
****
Semoga bucin mu membuatku bahagia bang Rainer 🤗🤗
__ADS_1
Happy reading 😉😉